Bismarck telah tenggelam. Pertempuran di Laut Atlantik berakhir dengan kehancuran. Kapal perang kebanggaan Kriegsmarine itu karam, membawa seluruh kru dan sang laksamana ke dasar lautan. Di tengah kegelapan, suara misterius menggema. "Bangunlah… Tebuslah dosamu yang telah merenggut ribuan nyawa. Ini adalah hukumanmu." Ketika kesadarannya kembali, sang laksamana terbangun di tempat asing. Pintu kamar terbuka, dan seorang gadis kecil berdiri terpaku. Barang yang dibawanya terjatuh, lalu ia berlari dan memeluknya erat. "Ana! Ibu kira kau tidak akan bangun lagi!" Saat melihat bayangan di cermin, napasnya tertahan. Yang ia lihat bukan lagi seorang pria gagah yang pernah memimpin armada, melainkan seorang gadis kecil. Saat itulah ia menyadari bahwa dirinya telah bereinkarnasi. Namun kali ini, bukan sebagai seorang laksamana, melainkan sebagai seorang anak kecil di dunia yang sepenuhnya asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akihisa Arishima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hasil Eksperimen
Setelah selesai makan siang, Anastasia, August, dan pelayan mereka, Hana, melanjutkan perjalanan ke rumah Cindy, seorang alkemis berbakat sekaligus teman masa kecil Hana. Dua bulan lalu, Anastasia memesan beberapa bahan alkimia dari Cindy, dan hari ini adalah waktunya untuk mengambil pesanan tersebut.
Saat mereka tiba, Hana mengetuk pintu rumahnya Cindy beberapa kali. Namun, tidak ada jawaban.
Anastasia menghela napas, lalu mengangkat tangan dan menyentuh dagunya. "Jangan-jangan dia tidak ada di rumah?"
Hana menggeleng pelan. "Tidak mungkin, Nona. Cindy itu pemalas—kalau sudah fokus pada sesuatu, dia jarang sekali keluar."
Ia melirik ke arah jendela di samping pintu, lalu melangkah mendekatinya.
"Saya coba lihat dari jendela," lanjutnya.
Kemudian, ia mencondongkan tubuhnya dan mengintip ke dalam.
Mata Hana sedikit membelalak saat melihat Cindy tertidur pulas di kursi ruang tamu, kepalanya tertutup oleh sebuah buku tebal.
"Astaga… Dia ada di dalam. Tapi… tidur?" ucap Hana, menggelengkan kepalanya pelan.
Anastasia mengangkat bahu. "Yah… mungkin dia kelelahan setelah menyelesaikan pekerjaannya."
Di atas meja, terdapat sebuah gambar sederhana dengan nama Hana tertulis di sampingnya. Hana langsung mengenali maksudnya. Itu adalah pesan untuknya, sebuah petunjuk tentang cara membuka pintu. Kertas itu berada di meja dekat dengan tempat Cindy tertidur lelap.
Gambar itu menunjukkan sebuah lonceng, tali, tangan menggenggam, dan pintu yang terbuka.
"Lonceng, tali, tangan, dan pintu terbuka… Hmm… Hana berpikir keras.
Tarik tali lonceng, lalu buka pintunya?" batin Hana, mencoba menafsirkan petunjuk itu.
Ia pun mengikuti instruksi tersirat dalam gambar. Tangannya meraih tali lonceng di samping pintu dan menariknya perlahan.
Klik!
Terdengar bunyi khas—tanda bahwa mekanisme kunci telah terbuka.
Dengan hati-hati, Hana mendorong pintu, dan ternyata berhasil membukanya. Mereka bertiga pun melangkah masuk, hanya untuk disambut oleh pemandangan ruangan yang berantakan—tabung reaksi, botol ramuan, dan kertas catatan berserakan di setiap sudut.
Hana melangkah mendekati Cindy dan menggoyangkan bahunya perlahan.
"Cindy? Bangun, kami datang mengunjungimu," ucapnya lembut, terus menggoyang tubuh Cindy agar terjaga.
Cindy mengerjap beberapa kali, matanya masih terasa berat. Butuh beberapa detik baginya untuk benar-benar sadar. Ia menatap sekeliling dengan ekspresi bingung sebelum akhirnya menyadari siapa yang berdiri di depannya.
"Oh… Kalian…? Apa sekarang sudah siang?" gumamnya sembari merenggangkan kedua tangan ke atas, menguap kecil di sela-sela kantuknya yang belum sepenuhnya hilang.
"Kamu ini… Sudah lupa dengan pesanan Nona Anastasia? Dan Tuan August bahkan datang mengun—" Hana mendengus kesal, tetapi ucapannya terpotong.
GGRRUUUUKKK~
Tiba-tiba, suara raungan aneh yang cukup keras terdengar di ruangan itu. Semua orang terdiam, saling melirik sebelum akhirnya menyadari sumber suara tersebut—perut Cindy.
Hana menatapnya dengan ekspresi datar. "Serius? Dari tadi kamu tidur, bukan bekerja?"
Wajah Cindy langsung memerah. Ia tertawa kecil, mencoba menutupi rasa malunya.
"Iyahahaha… Maaf, aku ketiduran. Tapi tenang, pesanan Nona Anastasia sudah selesai sejak tadi pagi kok," ujarnya sambil menggaruk kepalanya dengan canggung.
"Aku terlalu fokus bekerja semalaman sampai lupa makan. Begitu selesai, aku langsung tumbang… hehehe."
Hana memijat pelipisnya, berusaha menahan diri. "Astaga, Cindy… Kamu ini benar-benar…"
Ia menghela napas, mencoba menenangkan diri sebelum melangkah ke dapur. "Baiklah, aku akan membuatkan sesuatu. Kau punya bahan makanan, kan?" tanyanya sambil menoleh ke Cindy.
Cindy mengedip beberapa kali, lalu tertawa kikuk. "Uh… Itu… Aku tidak tahu, hehe…"
"Hadeh, kau ini…" Hana menggelengkan kepala, sedikit kesal, lalu segera menuju dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dimasak. Namun, saat membuka lemari dan rak penyimpanan, yang ia temukan hanyalah botol kosong, rempah-rempah, dan bahan alkimia yang sama sekali tidak bisa dimakan.
Ia menghela napas. "Astaga... tidak ada makanan sama sekali di sini…" gumamnya, sebelum kembali ke ruang tamu.
Hana menoleh ke Anastasia dan August, lalu membungkuk sedikit. "Nona, Tuan, bolehkah aku keluar sebentar untuk membeli makanan untuk Cindy? Dia pasti belum sempat berbelanja karena sibuk menyelesaikan pesanan Anda."
Anastasia dan August saling berpandangan sejenak sebelum mengangguk.
"Tentu," kata Anastasia. "Gunakan saja uang pemberian dari ayah dan belikan makanan yang bisa mengenyangkan. Pastikan juga dia makan dengan gizi yang benar."
Hana ragu sejenak. "Tapi… Nona, apakah itu tidak masalah? Bukannya uang ini untuk membayar pesanan Anda?"
Anastasia tersenyum kecil. "Tidak apa, aku akan memberitahunya nanti."
Mendengar itu, Hana tersenyum lega. "Baik, saya akan segera kembali."
Dengan langkah cepat, ia keluar rumah untuk membeli makanan. Sementara itu, Cindy hanya bisa duduk di kursinya, mengusap perutnya yang kembali berbunyi pelan.
"Hehe… Maaf membuat kalian repot…" katanya dengan nada menyesal.
Anastasia mengangkat bahu. "Tidak masalah. Kau sudah bekerja keras untukku. Anggap saja ini balasan kecil."
Cindy tersenyum lemah. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya. Ia tidak menyangka Anastasia, August dan Hana begitu perhatian padanya. Sekarang, ia hanya perlu menunggu makanan datang—dan berharap perutnya bisa bertahan sedikit lebih lama.
Setelah beberapa saat, Hana kembali dengan beberapa kantung makanan. Begitu kantung itu dibuka, uap panas langsung mengepul, menyebarkan aroma sedap yang menggoda. Mata Cindy berbinar begitu melihatnya, dan tanpa ragu, ia mulai melahap makanannya dengan lahap—seolah lupa bahwa beberapa menit lalu ia hampir pingsan karena kelaparan.
Hana hanya bisa menghela napas melihat temannya itu. "Pelan-pelan makannya, Cindy. Tidak akan ada yang merebut makananmu."
Cindy hanya mengacungkan jempol tanpa berhenti mengunyah.
Setelah selesai makan, ia menyandarkan tubuhnya di kursi dan mengusap perutnya dengan puas. "Phuaaah~ Akhirnya kenyang! Terima kasih, Hana! Aku merasa hidup kembali!"
"Syukurlah," Anastasia menimpali. "Jadi, bagaimana dengan pesananku?"
Mendengar itu, Cindy langsung menegakkan tubuhnya dan mengangguk antusias. "Oh, benar! Eksperimen untuk bahan yang Nona minta baru saja selesai tadi pagi."
Ia bangkit dari kursinya dan berjalan ke meja kerjanya yang berantakan, menggeser beberapa botol dan kertas catatan sebelum akhirnya menemukan apa yang dicarinya—sebuah kantung ukuran sedang berisi bubuk halus berwarna abu-abu kebiruan. Dengan hati-hati, Cindy membawanya dan menyerahkannya kepada Anastasia.
"Ini dia, smokeless powder yang kau minta. Formulanya sudah kuperbaiki, jadi efek pembakarannya lebih stabil."
Anastasia menerima kantung itu dengan penuh minat, menimbangnya di tangannya. "Ah… ini cukup bagus. Jadi... berapa harganya?"
Cindy tersenyum kecil sebelum mulai menjelaskan, "Jadi begini, bahan-bahan yang kugunakan tidak murah. Sesuai dengan panduan yang Nona berikan, aku harus mencampur nitroselulosa, nitrogliserin, dan beberapa bahan lain untuk meningkatkan kestabilan serta daya ledaknya."
"Beberapa percobaan bahkan gagal karena ketidakseimbangan antara bahan. Yah, itu cukup sulit, apalagi ini pertama kalinya aku membuatnya."
Cindy menghela napas ringan sebelum melanjutkan, "Setelah kuhitung-hitung, total biayanya sekitar… dua koin emas per kantung."
"Baiklah," ucap Anastasia, lalu melirik ke arah Hana. "Hana, tolong berikan dua koin emas kepadanya."
Menuruti perintah Anastasia, Hana mengeluarkan kantong uang dan menyerahkan dua koin emas kepada Cindy. "Ini uangnya. Dua koin emas."
Cindy menerimanya dengan senang hati. "Terima kasih atas bisnisnya~" ujarnya dengan nada bercanda.
Namun sebelum mereka pergi, Anastasia kembali menatap Cindy dengan penuh pertimbangan. "Kalau begitu, aku ingin memesan lagi. Kali ini, buatkan aku tiga kantung untuk ke depannya."
Cindy mengangkat alis, lalu tersenyum penuh percaya diri. "Tiga kantung? Hm, tantangan yang menarik!"
Ia menyilangkan tangan dan berpikir sejenak. Tiga kantung berarti enam koin emas…
Wajahnya berbinar, membayangkan uang yang akan ia dapatkan. Dengan jumlah itu, ia bisa membeli bahan eksperimen lain, atau mungkin makanan enak agar tidak kelaparan seperti tadi.
Dengan semangat, Cindy mengangguk. "Baiklah! Beri aku waktu sekitar empat minggu, dan aku akan menyiapkannya." Pikirannya kembali melayang ke enam koin emas yang akan ia terima nanti, membayangkan semua bahan eksperimen dan makanan enak yang bisa dibelinya.
Anastasia tersenyum puas. "Baik, aku akan kembali nanti untuk mengambilnya. Jangan sampai ketiduran lagi, ya."
Cindy tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya. "Hehe… Aku usahakan!"
Setelah urusan selesai, mereka berpamitan dan meninggalkan rumah Cindy. Dengan pesanan di tangan, mereka berjalan pulang menuju rumah, sementara Cindy kembali ke meja kerjanya, siap untuk eksperimen berikutnya.