Shanna Viarsa Darmawan melakukan kesalahan besar dengan menyerahkan kehormatannya pada Rivan Andrea Wiratama. Kepercayaannya yang begitu besar setelah tiga tahun berpacaran berakhir dengan pengkhianatan. Rivan meninggalkannya begitu saja, memaksa Shanna menanggung segalanya seorang diri. Namun, di balik luka itu, takdir justru mempertemukannya dengan Damian Alexander Wiratama—paman Rivan, adik kandung dari ibu Rivan, Mega Wiratama.
Di tengah keputusasaan, Damian menjadi satu-satunya harapan Shanna untuk menyelamatkan hidupnya. Tapi apa yang akan ia temui? Uluran tangan, atau justru penolakan yang semakin menghancurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black moonlight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perselisihan Pertama
Shanna bangun lebih pagi dari biasanya. Hari ini, ia bertekad untuk kembali ke rutinitasnya: kuliah. Meskipun Damian sudah menyarankan agar ia mengambil cuti, Shanna tetap bersikeras. Lagipula, ia sudah memasuki semester lima—hanya sedikit lagi sebelum lulus. Ia merasa tidak ingin membuang waktu lebih banyak, apalagi nanti saat melahirkan, ia pasti akan mengambil cuti.
Setelah bersiap, Shanna menuju meja makan. Bi Narti, asisten rumah tangga mereka, sudah menyiapkan sarapan dengan teliti. Seperti biasa, menu yang tersaji telah dikonsultasikan dengan ahli gizi yang khusus Damian pekerjakan.
"Pagi, Bi," sapa Shanna ramah.
"Pagi, Nyonya," balas Bi Narti dengan senyum hangat.
"Wah, kelihatannya enak," komentar Shanna sambil menatap makanan di meja.
"Tentu saja, sudah disesuaikan dengan selera Nyonya. Semoga cocok di lidah."
"Terima kasih, Bi." Shanna mengambil tempat duduknya. "Oh ya, Damian sudah turun?"
"Belum, Nyonya. Biasanya jam segini Tuan masih bersiap-siap. Tapi dari tadi sudah bangun, lari dulu katanya."
"Oh, begitu. Memang gaya hidupnya sangat sehat," gumam Shanna.
"Begitulah Tuan," Bi Narti terkekeh pelan.
Tak lama kemudian, orang yang mereka bicarakan pun muncul. Damian sudah berpakaian formal, tampak rapi dan siap untuk berangkat kerja. Matanya sekilas melirik ke arah Shanna yang duduk di meja makan.
"Pagi," sapa Damian singkat saat ia duduk di meja makan.
"Pagi, Mas," balas Shanna.
"Pagi, Tuan," sambut Bi Narti.
Seperti biasa, ekspresi Damian terlihat dingin. Pakaian serba hitamnya semakin menambah kesan misterius dan tak terbaca.
"Mau aku ambilin, Mas?" tawar Shanna dengan lembut.
"Enggak, biar saya saja," jawab Damian sambil mulai mengambil lauk ke piringnya.
Namun, gerakannya terhenti sesaat ketika ia memperhatikan Shanna yang terlihat rapi. Matanya mengamati pakaian yang dikenakan istrinya dengan penuh arti.
"Mau ke mana?" tanyanya sambil melanjutkan aktivitasnya menata makanan di piring.
"Kuliah."
Damian mendongak. "Kamu masih mau lanjut kuliah? Saya sudah bilang, lebih baik kamu cuti saja, Shanna."
"Tanggung, Mas. Nanti kalau kelamaan malah makin sulit. Aku cuma mau cuti pas melahirkan saja," jawab Shanna dengan tenang.
Damian meletakkan sendok dan garpunya, lalu menatap Shanna tajam. "Jadi, kamu mau membantah saya?"
Shanna menelan ludah. Ia bisa merasakan perubahan atmosfer di ruangan itu.
"Tapi, Mas… Aku tetap mau lanjut kuliah. Kan Mas sendiri yang janji kalau aku bisa meneruskan pendidikan meskipun kita menikah," ucapnya hati-hati.
"Tapi tidak sekarang, Shanna," tegas Damian.
"Mas—"
"Cukup," potong Damian dengan suara yang lebih dingin. "Saya tidak suka dibantah. Selesai sarapan, kamu balik ke kamar dan istirahat. Atau terserah mau ke mana, yang penting tetap di rumah."
Shanna menatap Damian dengan kecewa. Ia pikir Damian akan memahami ambisinya, terlebih lagi dia tahu betapa pentingnya pendidikan bagi Shanna. Ia selalu menjadi mahasiswa berprestasi, selalu punya mimpi yang besar—dan Damian sendiri yang pernah berkata bahwa pernikahan mereka tidak akan menghalangi itu.
Tapi nyatanya?
"Aku sudah kenyang," ucap Shanna lirih. Ia bangkit dari kursinya, meninggalkan sarapannya yang masih tersisa, lalu berjalan cepat menuju kamar.
Begitu sampai di dalam, ia mengunci pintu dan membiarkan air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
Ya, ia tahu. Menikah dengan Damian berarti lebih sering merasa seperti tawanan daripada seorang istri. Tapi… menjadi wanita yang berpendidikan tinggi adalah mimpinya. Kenapa semua kacau hanya karena satu hal. Satu hal yang menghancurkan hidupnya.
Ya ! Bayi ini
Damian menarik napas panjang saat melihat Shanna berlalu pergi. Ia tahu istrinya marah. Namun, dalam pikirannya, ini semua demi kebaikan Shanna.
Damian tidak hanya khawatir dengan kesehatannya, tetapi juga dengan stigma yang berkembang liar di luar sana. Setidaknya, membiarkan skandal mereka mereda dulu akan jauh lebih baik.
Tanpa mengubah ekspresi dinginnya, Damian melanjutkan sarapannya.
"Bi, antarkan susu hamil dan vitamin Shanna ke kamarnya. Pastikan dia meminumnya," ucapnya tanpa menoleh.
"Baik, Tuan," jawab Bi Narti segera.
Setelah selesai dengan sarapannya, Damian menatap meja makan yang kini terasa kosong. Dalam hati, ia mengakui bahwa seharusnya tadi ia tidak bersikap terlalu keras. Harusnya ia tidak merusak suasana hingga membuat Shanna kehilangan selera makan.
Namun, seperti biasa, Damian terlalu terbiasa dengan caranya sendiri—meski ia tahu, kali ini, mungkin ia telah melukai perasaan istrinya.
Begitu sampai di kantor, Damian langsung disambut oleh Willy yang sudah menunggunya di lobi.
"Welcome back, Bos! Gimana cuti menikahnya? Menyenangkan?" tanya Willy dengan nada menggoda.
Damian hanya mengangkat bahu tanpa ekspresi.
Melihat reaksi itu, Willy menaikkan alisnya. "Muka lo ditekun gitu kenapa, Bos?" tanyanya lagi saat mereka memasuki lift.
"Shanna marah sama gue," jawab Damian singkat.
"Lah! Pengantin baru udah marahan aja?" Willy terkekeh, tetapi ekspresinya berubah penasaran.
Damian menghela napas, lalu mengusap tengkuknya. Ini pertama kalinya ia harus menghadapi perasaan perempuan dengan lebih serius.
"Jujur, gue bingung, Wil. Gue enggak ngerti harus ngapain," ujarnya dengan nada yang terdengar lebih jujur dari biasanya.
Willy menahan senyum, jelas menikmati momen langka di mana Damian Wiratama, pria yang biasanya penuh percaya diri, tampak kebingungan soal perasaan wanita.
"Kita bicara di ruangan saya saja," ujar Damian. Nada suaranya mendadak berubah begitu pintu lift terbuka dan beberapa karyawan melintas, memberi salam hormat.
"Baik, Pak," sahut Willy, langsung menyesuaikan diri.
Mereka berjalan berdampingan menuju ruangan Damian. Begitu sampai, Damian langsung menjatuhkan dirinya ke sofa dengan napas berat.
Willy meliriknya sambil menyilangkan tangan. "Baru dateng, Dam. Belum ada setengah jam, tapi energi lo udah abis aja?" godanya.
Damian mengusap wajahnya, lalu menghela napas panjang. "Kenapa ya, cewek tuh susah dimengerti? Maksud gue tuh baik, tapi kenapa dia enggak lihat ke situ?" keluhnya dengan nada frustrasi.
"Emangnya ada masalah apa? Coba cerita, siapa tahu gue bisa kasih solusi. Secara, gue lebih pro urusan cewek dibanding lo, Dam," goda Willy sambil duduk di seberang Damian.
Damian menghela napas, lalu bangkit dari posisi rebahnya dan duduk lebih serius. "Jadi gini..." ujarnya, bersiap menjelaskan.
"Cepetan, ngapa? Lo malah bikin gue jantungan," ucap Willy tak sabar.
"Bentar, gue lagi mikir dari mana dulu ceritanya," Damian mengusap wajahnya, tampak sedikit frustrasi.
"Udahlah, gue mah capek. Lu cerita sama pohon toge aja sana," Willy mendengus kesal.
"Yee, marah lu," Damian menatapnya heran.
"Ya udah, cepet ngomong," desak Willy lagi.
"Simple sih, Wil. Cuman masalah kuliah. Gue sama Shanna nggak sepaham dalam hal ini."
"Emangnya kenapa?" Willy semakin penasaran.
"Ya kan Shanna lagi hamil muda Wil, pertama gue khawatir dia kecapean kedua gue gak mau dia tertekan kalau ada yang gunjingin dia. Gue yakin asumsi liar udah nyebar diluaran sana. Itu gak baik buat dia sama kandungannya." Jelas Damian.