NovelToon NovelToon
Manuskrip Vyonich

Manuskrip Vyonich

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sci-Fi / Cinta Terlarang / Epik Petualangan / Persahabatan / Romansa
Popularitas:303
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad Rifa'i

Arka Fadhlan, seorang pakar kriptografi, menemukan potongan manuskrip kuno yang disebut Vyonich, teks misterius yang diyakini berasal dari peradaban yang telah lama menghilang. Berbagai pihak mulai memburunya—dari akademisi yang ingin mengungkap sejarah hingga organisasi rahasia yang percaya bahwa manuskrip itu menyimpan rahasia luar biasa.

Saat Arka mulai memecahkan kode dalam manuskrip, ia menemukan pola yang mengarah ke lokasi tersembunyi di berbagai penjuru dunia. Dibantu oleh Kiara, seorang arkeolog eksentrik, mereka memulai perjalanan berbahaya melintasi reruntuhan kuno dan menghadapi bahaya tak terduga.

Namun, semakin dalam mereka menggali, semakin banyak rahasia yang terungkap—termasuk kebenaran mengejutkan tentang asal-usul manusia dan kemungkinan adanya kekuatan yang telah lama terlupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Rifa'i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KOTA ORBIS YANG TERLUPAKAN

Cahaya biru redup menyelimuti lorong batu yang baru saja mereka masuki.

Arka, Kiara, Ezra, dan Dr. Helena berjalan dengan hati-hati, merasakan aura misterius yang mengelilingi mereka.

Di balik pintu batu raksasa itu, terbentang sebuah kota kuno yang tersembunyi di perut bumi.

Kota Orbis.

Dinding-dindingnya berkilauan seperti kristal, mencerminkan cahaya biru yang berasal dari bola-bola energi yang melayang di udara. Bangunan-bangunan batu berdiri kokoh, meskipun terlihat tua dan berlumut.

Namun, yang paling mencolok adalah sebuah menara besar di tengah kota, yang puncaknya tampak seolah menembus kegelapan langit-langit gua.

"Ini… luar biasa," gumam Ezra, suaranya penuh kekaguman.

Dr. Helena, meskipun masih lemah, menatap sekeliling dengan mata berbinar. "Legenda itu benar… Kota Orbis memang nyata."

Kiara melangkah maju, tangannya menyentuh sebuah ukiran pada salah satu dinding.

"Tapi kenapa tempat ini kosong?" tanyanya pelan. "Di mana penduduknya?"

Tak ada tanda kehidupan.

Tak ada suara selain desiran angin lemah yang menyapu reruntuhan kota.

Seolah-olah tempat ini telah lama ditinggalkan.

Atau sesuatu telah terjadi di sini.

JEJAK MASA LALU

Mereka melangkah lebih dalam ke kota, mengikuti jalur batu yang kini ditumbuhi lumut dan tanaman liar.

Di sepanjang jalan, mereka melihat patung-patung misterius yang berdiri di sisi jalan.

Wajah-wajahnya tampak damai, namun ada sesuatu yang mengganggu, sebagian besar patung itu tampak hancur atau rusak.

Dr. Helena berhenti di depan salah satu patung dan menyentuhnya.

"Batu ini… tidak hancur karena usia," katanya lirih. "Ini seperti… akibat serangan."

Arka menyipitkan mata.

Jika benar ada pertempuran di sini, siapa yang menyerang?

Ezra, yang berjalan sedikit lebih jauh, tiba-tiba berjongkok dan mengangkat sesuatu dari tanah.

"Lihat ini."

Ia menunjukkan pecahan logam kecil, berkarat tapi masih memiliki ukiran aneh.

Dr. Helena mengambilnya dan meneliti dengan cermat. "Ini bukan logam biasa… Ini dari bahan yang sama dengan artefak Orbis."

Kiara menatap sekeliling dengan waspada. "Aku tidak suka ini. Ada sesuatu yang tidak beres di sini."

Arka merasakan hal yang sama.

Tempat ini memang luar biasa, tetapi terasa… terlalu sunyi.

Seolah-olah sesuatu sedang mengawasi mereka.

Dan saat itulah…

Mereka mendengar suara langkah kaki.

BAYANGAN YANG TERSEMBUNYI

Ezra langsung mengangkat pistolnya, sementara Kiara menarik belatinya.

"Siapa di sana?!" Arka berseru.

Langkah kaki itu terdengar dari balik reruntuhan, cepat tapi tak terburu-buru.

Lalu, dari balik bayangan, muncul sosok berjubah hitam dengan wajah tertutup topeng perak.

Sama seperti wanita yang bersama Aldrich.

Kiara menggertakkan giginya. "Ordo Lux Veritatis."

Sosok itu berhenti beberapa meter di depan mereka, lalu berbicara dengan suara tenang namun mengancam.

"Kalian tidak seharusnya ada di sini."

Ezra menodongkan pistolnya. "Kalau begitu, kenapa kalian ada di sini?"

Orang itu tidak menjawab. Sebagai gantinya, ia mengangkat tangannya—dan dalam sekejap, bola energi biru mulai berkumpul di telapak tangannya.

Arka terkejut. "Mereka bisa menggunakan energi Orbis?!"

Dr. Helena mundur selangkah. "Tidak mungkin… Itu berarti mereka sudah memahami teknologi Orbis lebih jauh dari yang kita duga."

Sebelum mereka bisa bereaksi lebih jauh.

Bola energi itu ditembakkan ke arah mereka!

BZZZZZT!

Cahaya biru meledak di udara, memaksa mereka untuk berpencar.

Kiara melompat ke samping dan menghunus belatinya, berusaha menyerang.

Ezra menembak dua kali, tapi orang itu bergerak cepat, menghindar dengan mudah.

Arka meraih pecahan logam yang mereka temukan tadi dan menatapnya.

Ia merasa ada sesuatu yang aneh…

Seolah-olah benda itu bereaksi terhadap energi di sekelilingnya.

Lalu, tanpa berpikir panjang, ia mengangkat pecahan logam itu di depan tubuhnya Dan saat bola energi berikutnya ditembakkan ke arahnya.

Pecahan logam itu menyerap serangan tersebut!

"Apa?!" sosok berjubah hitam itu terkejut.

Dr. Helena melihatnya dengan mata terbelalak. "Arka! Logam itu… bisa menetralkan energi Orbis!"

Arka menatap pecahan di tangannya.

Jika logam ini adalah kunci untuk melawan kekuatan Orbis…

Mungkin inilah alasan sebenarnya mengapa Ordo Lux Veritatis mengincar Kota Orbis.

Mereka tidak hanya ingin mengendalikan teknologi ini… Mereka ingin memastikan tak ada yang bisa melawannya.

Arka menatap sosok berjubah hitam itu dengan mata tajam.

"Kita tidak akan membiarkan kalian mengambil kota ini."

Orang itu mendengus. "Kita lihat saja nanti."

Lalu, ia menghilang dalam kilatan cahaya biru.

RAHASIA YANG TERUNGKAP

Setelah kepergiannya, mereka berdiri di tengah jalanan kota kuno itu, masih terengah-engah.

"Kita harus segera menemukan sumber utama energi Orbis," kata Dr. Helena. "Jika Ordo Lux Veritatis bisa menggunakannya, mereka bisa menghancurkan dunia luar."

Kiara mengangguk. "Menara itu."

Ia menunjuk ke menara besar di tengah kota.

"Kalau ada sesuatu yang penting, pasti ada di sana."

Arka mengepalkan tangannya, memandang menara itu dengan tekad bulat.

Mereka telah menemukan Kota Orbis.

Namun pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Diana Dwiari
berasa nonton film lara croft
Ahmad Rifa'i: terima kasih kak sudah mampir ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!