Suatu kehormatan, seorang gadis muda belia memilih menikah dengan seorang dokter duda tua, daripada menjual harga diri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sifa kangen bapak
Setelah mandi, Sifa mengganti baju yang diberikan oleh Wahidah
"Wah, bajunya cantik sekali" Sifa muter muter didepan cermin rias yang harganya tidak murah pastinya
Sifa duduk dibibir ranjang "Kasurnya juga empuk sekali" Tangan Sifa mengusap usap kasur yang empuknya kayak awan diatas sana
Wahidah sengaja mengajak Sifa masuk kekamar, yang dulu biasa Ilham gunakan jika Ilham menginap disini.
Tak sengaja, Sifa melihat album foto, diatas meja kecil tempat lampu tidur.
Diambillah album tersebut
Sifa membuka foto foto lama tapi masih terawat "Oh, ini pasti ibu dan bapaknya bapak. Apa ibu dan bapaknya bapak seorang guru?"
Sifa membuka lembar foto berikutnya
"Wah benar, ibunya bapak masih mengajar. Eh, kok muridnya pakaiannya bebas. Oh, dosen. Berarti ibunya bapak seorang dosen?"
Sifa terus membuka lembar demi lembar
"Wah, poto bapak waktu masih muda hihi.. Bibirnya tebal. Eh sekarang juga tebal" Sifa cengar cengir mengomentari dokter Ilhamnya
"Wah, wajah bapak agak tua an, mungkin usia 40 an kali ya, ah tau ah"
Sifa kembali membuka album foto berikutnya, yang berukuran 10 R
"Wiiiih bapaaaak, tampan sekaliiii"
Sifa langsung glundung glundung ditempat tidur, memeluk foto ini yang ia suka. Selain itu Sifa tidak tertarik
"Bapaaaak, aku kangen bapak"
"Jika aku minta foto ini, untuk dicetak lagi, terus diperbesar segede gaban, kira kira boleh nggak ya? Aku suka foto yang ini paaaakkk"
Akhirnya, Sifa tertidur berselimutkan foto Ilham
-
Sementara
Ilham bangun tidur dengan kagetnya, mendengar bunyi ponsel panggilan darurat dari rumah sakit
Ilham bangun dan lanjut mandi, setelah mandi ia langsung menunaikan ibadahnya dan barjalan turun menuju meja makan
"Mbok, hari ini masak apa?"
Mbok siti langsung mendekat "Ini tuan kopinya, dan ini roti bakarnya"
Ilham mengernyitkan dahi
"Nggak bikin nasi kayak kemarin ya mbok?"
"Ehehe nggak tuan, simbok lupa bumbunya hehe"
"Aneh, benar kata kakak, simbok itu hanya bisa bikin kopi doang. Terus yang bikin kue sama nasi enak seperti kemarin siapa? tanya ah, penasaran aku"
"Mbok, nggak bikin kue kayak kemarin?"
"Nggak tuan, pikiran simbok lagi ngebleng wan ehehe, makanya, lupa semua bumbu bumbunya"
Simbok cengar cengir menyebalkan
"Aneh, kemarin pandai, masa hari ini langsung lupa. Ya sudah mbok, kopinya nggak aku minum, minum simbok saja ya? jangan sampai dibuang. Mubazir"
"Baik wan" Mbok siti, langsung mengusap dadanya yang sudah dag dig dug deeeeer
Ilham langsung menancap gas mobilnya menuju rumah sakit dengan perut kosong, berharap mendapat camilan yang biasa ia santap diruang kerjanya
-
Pagi pagi sekali Sifa bangun tidur. dan langsung mencari keberadaan dapur.
"Wah, rumahnya bu Wahidah juga nggak kalah bagus, Sebelas duabelas kayak rumah bapak. Seneng ya, rumahnya kayak istana semua"
Sifa terus berjalan kebelakang
"Wah, ini dia dapurnya, cantik sekali, saya suka"
Sifa sudah melihat punggung wanita paruhbaya yang sedang sibuk meracik bumbu
"Selamat pagi buk?" Sapa Sifa yang menduga ibu ini ART disini, soalnya dari postur tubuhnya sangat berbeda dengan Wahidah, ini agak gemuk dan pendek
ART itu menoleh "Eh non, non istrinya tuan dokter Ilham ya non?" ART menyapanya dengan tersenyum
"Iya buk, kalau ibuk?"
"Kalau saya Asisten rumah tangga disini non, non mau dibuatkan apa? biar simbok bikinkan?"
"Ah tidak usah buk. Oh iya, namaku Sifa, panggil saja Sifa buk"
"Wah, nggak berani simbok non. Simbok takut dipecat non, sudah kurang ajar sama istri tuan dokter"
"Pecat? biasanya para tetanggaku memanggilku neng buk"
"Tapi simbok nggak berani non, mending biar lebih enak, simbok panggil non, mbak aja ya?terus, non panggil saya simbok, jangan ibuk. Jadi simbok aman non"
"Oh gitu, ya udah. Simbok hari ini masak apa sih ? Sifa bantuin ya mbok?"
"Jangan non, ntar simbok kalau dibantuin, makan gaji buta dong. Tuh kan, simbok enaknya panggil mbak Sifa non lagi. Non aja ya? simbok berasa ikut ujian nasional non, kalau disuruh panggil nama baru. Soalnya susah susah, bikin simbok stres kehabisan waktu"
"Ahaha , aku yang malu mbok, berasa kayak anak sultan"
"Istri sultan kali non" Cengirnya
"Mbok, kalau Sifa disini bengong, jari Sifa kaku semua mbok. Biar Sifa bantuin ya mbok? please "
"Ya sudah, tapi kalau simbok ditegur nyonya, simbok dibelain ya non. Simbok nggak mau dipecat. Ntar sapi sapi simbok nggak nambah nambah dikampung"
"Ahaha, pacar simbok namanya sape'i atau sapi hewan?"
"Hus, ya sapi hewan lah non. Simbok mana laku dikampung "
"Kalau nggak laku di discount mbok, separuh harga"
"Ahaha non bisa aja"
"Mbok, Sifa ingin bikin samoza isi ayam ya mbok, Sifa ingin ngasih samoza ini untuk bapak" Sifa mulai sibuk bikin samoza
"Oh, non mau pulang, ngasih samoza kebapaknya non?"
"Sifa ingin kerumah sakit mbok, pasti bapak nggak ada camilan, kasihan bapak, pasti adanya teh manis doang"
Simbok mulai bingung dengan percakapan mereka
"Bapak non sakit?"
Sifa juga mulai pusing dapat pertanyaan yang sedikit slenco (Tidak nyambung)
"Mbok, bapak itu pak dokter Ilham"
"Oh, dari tadi non nyebut bapak bapak itu nyebut suami non sendiri? tuan dokter Ilham?"
Sifa manggut manggut
"Ya Tuhan nooon, kukira bapak itu bapaknya non hadeeewwww, simbok jadi jaka sembung bawa golok, nggak nyambung goblok goblok"
"Ahaha, nggak apa apa mbok, simbok kunilai 9 deh, tahun depan naik kelas, nggak bertelor"
Ahaha
"Wah, ramai banget didapur nih, baunya juga gurih. Masak apa ini?" Tanya Wahidah mengagetkan
"Ah ini nyonya, katanya non Sifa pingin bikin samoza, dan ingin mengantarkannya kebapak dokter Ilham" Goda simbok sambil menyenggol lengan kecil Sifa, Sifa malu malu tidak berani menatap Wahidah
"Maaf bu, kalau saya lancang membuat sesuatu tanpa ijin ibu"
"Cieeee, istri baru Ilham perhatian rupanya " Goda Wahidah
"Ah ibu, teh manisnya bapak pasti nggak ada temannya bu kasihan "
"Ilhamnya juga pasti nggak ada temannya. Apa kau ingin kesana mengantarkan, apa ini?" Wahidah fokus gorengan segitiga yang masih digoreng
"Samoza" -Sifa
"Oh, yang dari tadi dibicarakan ya? uh baunya, bikin perutku berdering kayak hapenya pak Sayono ahaha" Wahidah tertawa ngakak, Sifa tambah merona malu
"Bikin khusus untuk Ilham saja? Kita kita nggak dibikinin?"
"Sifa bikin 20 biji bu, untuk bapak 5 saja" Sifa tersenyum malu
"Panggilnya jangan ibu terus dong, panggilnya kak, kayak Ilham panggil "
"I iya kak"
"Ah masih kaku, minta ajarin Ilham ya ? latihan"
"Kalau begitu, Sifa mau mandi dulu, permisi ek kak"
"Iya"
Sifa akhirnya lega bisa masuk kamar, dan jauh dari godaan Wahidah yang bikin wajah Sifa kesiram jus buah naga merah segrobak
Bersambung.....
kangen sama cerita lama...
kangen pengen baca lagi...
sakjane ki aku kangen karro karrya mu thor...😩
gak buat karya lagi kah🤔
kata *samoza* jadi kelingan sama novel ini🙈
klw suami di dunia nyata kayak bgtu.. ummmm senangx