assalamu'alaikum...
haii..salam kenal, ini karya perdanaku.
Seorang perawat dengan wajah ayu khas gadis Jawa. Cantik dengan kepala tertutup jilbab.
Dia harus tinggal jauh dari keluarga, karena sebuah pekerjaan.
Siapa sangka di kota itu ia menemukan cintanya.
Cinta yang ia harapkan akan menetap untuk selamanya di hatinya.
Cinta yang bisa menutup kesedihan, akibat cinta-cinta terdahulu yang hanya singgah sementara.
Akankah harapannya tewujud, ataukah cinta itu sama dengan cinta-cinta nya yang dahulu.
Ikuti ceritanya.." Cinta Untuk Perawat Cantik ".
simak yaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qidi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bima,, Masih Ada Harapan
selamat membaca 📚😍😍
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Di ruangan Bima di rumah sakit.
Walaupun tidak bekerja di rumah sakit itu, tapi Bima memiliki ruangan pribadi. Bagaimanapun juga dia termasuk anak dari salah satu pendiri rumah sakit.
"Jadi critanya kamu ditolak nich? ".
" Kamu nanya apa ngledek sih Sin ".
Saat ini Bima tengah curhat dengan sahabatnya, dr. Sinta. Tentunya itu diluar jam kerja.
" Santai napa Bim. Bener nich kamu ditolak? coba crita dari awal ".
.......Dengan tidak bersemangat Bima menceritakan dari awal hingga akhir pertemuannya dengan Raya....... .
" Apa dia gak crita apa-apa sama kamu ? ".Tanya Bima pada dr. Sinta.
Karena mereka berdua sangat dekat mungkin saja Raya cerita ke dr. Sinta sebelumnya.
" Gak.. ", dr. Sinta mengangkat kedua bahunya.
" Aku beberapa hari ini kan ada seminar, jadi gak sempat ngobrol-ngobrol sama dia. Ketemu juga cuma say hello aja ". Lanjut dr. Sinta menjelaskan.
Bima membaringkan tubuhnya di sofa. Lengan kekar itu ia gunakan untuk menutup matanya yang terpejam.
" Kamu tau siapa yang nglamar dia ? ".
" Gak ", Bima menggelengkan kepalanya. Namun sedetik kemudian...
" Tapi aku curiga pada satu nama... ", ucapan Bima menggantung, membuat sahabatnya itu penasaran.
" Siapa?? ".
" Dr. Jo ".
" Hah.. Johan ?? ".
Bima mengangguk seraya bangun dari baringnya.
" Kenapa dr. Johan?? ".
" Ck.. ternyata kamu tidak begitu dekat dengan Raya. Masak tidak tau cerita tentang dr. Jo ".
Dr. Sinta menatap tajam Bima. Merasa tidak Terima dengan ucapan sahabatnya yang sedang patah hati itu.
" Cepat cerita!!! ". Sambil menarik-narik lengan jas yang dipakai Bima.
"Iya.. iya.. chh kenapa kamu jadi gak sabaran gini ".
Singkat cerita....
Bima telah menceritakan apa yang ia ketahui tentang dr. Johan yang telah lama menaruh hati pada Raya.
" Ooo... jadi dosen yang Raya ceritain waktu itu, dr. Jo ". Dr. Sinta manggut-manggut. Dah kayak pajangan di dashboard mobil aja 😁.
" Dari mana kamu tau smua itu?? ".
" Sin, kalo orang dah cinta itu pasti cari tau apapun tentang orang yang dicintainya,, ya gak ". Bima menaik turunkan alisnya.
Dr. Sinta mencebikan bibirnya.
" Tapi kan dr. Jo gak lagi di Indonesia ".
" Ahh.. Sin.. Sin.. apa sih yang kamu tau. Kamu yang kerja di sini, tapi aku yang lebih tau info tentang rumah sakit ini ". Kesal Bima.
" Maksudnya...?? ".
pletakkk
" Biiiimmmmm,, sakit tau !! ", dr. Sinta memekik sambil memegangi dahinya yang jadi korban jari Bima.
" Katanya ikut seminar...emang gak ketemu sama dr. Jo? ". Orang yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya.
" Aku liat dia 2 hari yang lalu di bandara. Aku baru datang, dan dia sepertinya baru selesai boarding pass ". Kembali Bima merebahkan diri di sofa yang ia duduki.
" Dan setelah aku cari tau, dia juga ikut seminar beberapa hari ini. Berarti dia ada disini akhir-akhir ini kan ". Imbuh Bima.
Dr. Sinta menghela nafas, sembari berdiri dari duduknya.
" Ya udah,, itu berarti dia bukan jodohmu. Semoga kamu dapat ganti yang lebih baek ".
Sambil membenarkan lipatan jas putih dan menggantungkan disalah satu tangannya, dr. Sinta kembali berucap...
" Oia, kapan dia nikah? ". Bima mengabaikan pertanyaan yang ia sendiri juga tidak tahu jawabannya.
" Sin, janur kuning belum melengkung ".
Melayang lah 1 bantal sofa ke wajah tampan Bima. Orang yang jadi korban lemparan bantal hanya terkekeh.
" Maksudmu apa, hah ?? ". Bentak Dr. Sinta. Takut kalau sahabatnya itu hilang kewarasannya dan nekat.
" Maksudku, masih ada kemungkinan kalo dia jodohku. Kan kita gak tau apa yang terjadi semenit kedepan. Masih ada kesempatan untuk doa ku terkabulkan ". Bima membela diri dengan santainya. Dan kembali mendapatkan tatapan tajam dari lawan bicaranya.
" Memang apa doa mu? ".
Saking penasarannya, tanpa aba-aba pertanyaan bernada ketus pun keluar dari mulut dokter wanita itu.
" Kalo dia bukan jodohku, maka jodohkanlah ia padaku, aamiin ". Bima senyum-senyum.
" Dasar... doa apa itu ".
" Dah lah.. Lama-lama deket kamu jadi ikut stres aku Bim ".
Dr. Sinta pun keluar dari ruangan dengan buru-buru. Seperti benar-benar akan tertular penyakitnya Bima.
Bima kembali memejamkan matanya. Merenungi bagaimana nasib cintanya.
°°°°
Di lain tempat...
Keluarga Rayhan tengah bersiap-siap menuju rumah orangtua Raya. Mereka hanya berempat. Ayah, mama, Rayhan dan Raka. Adik perempuan Rayhan tidak bisa ikut karena harus sekolah. Sedangkan kakak laki-laki nya tidak jadi ikut karena ada urusan mendadak.
Pertemuan dua keluarga telah terlaksana.
Setelah acara lamaran itu, keluarga Rayhan langsung bertolak ke Surabaya. Tapi tidak dengan Rayhan dan Raka. Mereka berdua masih harus mengurus kafe dan bengkel yang ada di Jogja.
Raya sendiri tidak ikut dalam acara tersebut. Semua sudah dipasrahkan pada keluarga di Jogja.
°°°°
Keesokan hari di rumah sakit...
"Ray, puasa gak? ".
" Gak dok, knapa? ".
" Makan yuuk,, diruangan aja.. aku barusan dah pesen makanan kok ".
Raya hanya mengangguk sembari membereskan meja kerja di ruangan tersebut. Tak lupa senyum manisnya turut menghiasi wajah bahagia itu.
Yaa.. Raya kini tengah bahagia.
Kenapa? kan udah ada yang serius nglamar 😍.
" Oh iya Ray, aku boleh nanya gak? ".Tanya dr. Sinta hati-hati.
" Gak boleh! ".
Dr. Sinta mengerutkan keningnya.
" Ya boleh lah dok, kok pake ijin segala. Itu juga dari tadi dah nanya kan ". Ekspresi sang dokter membuat Raya terkekeh.
" Soalnya ini agak pribadi sih, Ray ".
" Gak papa dok, tanya aja.. kalo saya bisa nanti saya jawab ". Jawab Raya mantap.
" Gak usah formal-formal Ray ! ".Raya mengacungkan jempol kanannya.
Tok tok tok..
Obrolan mereka terhenti karena OB datang membawa makanan yang tadi dipesan dr. Sinta.
" Hmm.. aku denger kamu udah ada yang nglamar ya? ".
Menetralkan suara sebelum melanjutkan pertanyaannya.
" Denger dari siapa dok "?.
" Biasa... ".
" Mas Bima? ".
" Iyap, betul sekali. Dia crita banyak kemaren. Curhat gitu ".
Raya membulatkan mulutnya membentuk huruf O, sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
Mereka mulai menikmati makanan yang ada dihadapan mereka.
" Jadi... itu bener Ray? ".
" Iya dok, beberapa hari yang lalu ".
" Gimana ceritanya? apa seperti yang kamu harapkan? ".
Rasa penasaran dr. Sinta sudah tidak dapat ditahan lagi.
" Seperti yang saya katakan dulu dok.................. ".
Raya pun menceritakan semuanya. Tapi tetap tidak menyebut nama orang yang melamarnya. Walaupun dr. Sinta merayu seperti apa juga tidak akan menggoyahkan Raya untuk mengatakan identitas calon suaminya itu.
" Nanti dokter juga akan tau ".
Raya terkekeh melihat ekspresi tidak puas dari orang yang ada didepannya.
Dr. Sinta hanya manggut-manggut. Sebenarnya masih banyak pertanyaan menumpuk dikepalanya, tapi ia urungkan untuk bertanya. Nanti-nanti saja, masih ada waktu. Takut malah akan membuat Raya tidak nyaman. Begitu kira-kira yang ada dipikirannya.
°°°°
Di Jogja....
Ada seseorang yang sedang galau. Mondar-mandir sambil sesekali memandang ponsel yang ia genggam. Uring-uringan sendiri. Marah-marah gak jelas, entah pada siapa kemarahan itu ditujukan.
Sang adik hanya bisa menatapnya dengan malas.
Siapa dia.....
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
tunggu cerita selanjutnya yaaa
makasih atas dukungannya apapun itu
maaf kalo ceritanya datar-datar aja
maaf juga kalo masih banyak typo
tetap jaga kesehatan
jangan lupa ibadah
salam hangat Qidi 😍😍
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁