"Ketika kebenaran dibungkam paksa, ketika keadilan dipaksa untuk diam, beberapa orang terpaksa beraksi. "
Cinta rahasia Xiao Fei dengan Yu, aktor papan atas yang dipuja, berakhir dengan tragis. Publik meratapi "kematian karena overdosis" yang menyayat hati, namun duka Fei berubah menjadi teror murni saat sebuah kiriman video anonim tiba. Di dalamnya, Yu bukan hanya dibunuh—ia disiksa, dilecehkan secara keji, dan dikorbankan dalam sebuah ritual mengerikan oleh sekelompok individu bertopeng. Kematian Yu bukanlah akhir, melainkan awal dari neraka yang nyata.
Didorong oleh cinta dan dahaga akan kebenaran, Fei harus meninggalkan identitasnya yang aman dan menyusup ke dalam dunia glamor industri hiburan yang beracun. Akhirnya Xiao Fei dengan beberapa orang yang bertemu secara tak sengaja mengambil peran utama sebagai penegak keadilan. Mampukah aksi mereka menunjukkan keadilan yang kini berubah menjadi Keheningan Keadilan. Silence of Justice akan menuntun kita pada aksi mereka. Berhasilkah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black _Pen2024, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Motif Kejam
"Tuan Z," bisik Fernandez, suaranya serak karena berhari-hari tanpa tidur, namun dipenuhi dengan kegeraman yang sama. "Produser film papan atas, pemilik 'Perusahaan Berlian Hitam.' Dan kini, kita tahu dia adalah titik koneksi antara industri hiburan dan jaringan korupsi tingkat tinggi."
Meylie mengangguk, matanya tak lepas dari foto itu. "Dia adalah Operator Utama yang disebutkan dalam pesan-pesan Chen. Lapisan tengah yang mengelola logistik kejahatan ini."
Sejak mereka berhasil mengakses "THE DEEP STATE" milik Yu, pondok itu telah berubah menjadi pusat komando operasi mereka. Dinding-dinding kayu kini dipenuhi dengan peta pikiran yang rumit, menghubungkan nama-nama, tanggal, dan transaksi yang mengerikan. Aroma kopi dan kertas memenuhi udara, bercampur dengan ketegangan yang tak terhindarkan.
"Perusahaan Berlian Hitam," Meylie mengulang nama itu, merasakan firasat dingin. "Nama yang ironis. Berlian hitam—indah di luar, tapi mengandung kegelapan di dalamnya."
Fernandez menghela napas, mengusap wajahnya yang lelah. "Yu telah mengumpulkan bukti yang sangat rinci tentang perusahaan ini. Transaksi ilegal, pencucian uang, kontrak budak. Ini adalah pusat operasi keuangan mereka. Tapi masalahnya, Tuan Z sangat berhati-hati. Jejak digitalnya nyaris tidak ada. Dia menggunakan lapisan-lapisan perusahaan cangkang, proxy, dan akun-akun offshore yang sangat sulit dilacak."
"Tapi tidak ada yang sempurna," Meylie membalas, tekadnya mengeras. "Pasti ada celah."
Fernandez mengangguk. "Itu yang akan kita cari. Saya akan menggunakan koneksi lama saya di dunia media. Saya punya beberapa teman lama yang masih bekerja di media investigasi, meskipun mereka sekarang lebih berhati-hati. Mereka mungkin punya arsip lama, gosip-gosip yang tidak pernah terpublikasi, atau bahkan data yang mereka simpan karena takut."
Meylie mengamati Fernandez. Pria itu, meskipun trauma, adalah aset yang tak ternilai. Pengalamannya di dunia investigasi, ditambah dengan keahlian digitalnya, adalah kombinasi yang mematikan. "Hati-hati, Fernandez. Mereka tahu kau adalah saksi. Mereka akan mengawasimu."
"Saya tahu," Fernandez membalas, tatapannya serius. "Tapi saya tidak bisa mundur sekarang. Yu... dia mempertaruhkan segalanya. Dan Anda... Anda telah menembus ketakutan saya. Kita harus menyelesaikan ini."
Selama beberapa hari berikutnya, Fernandez bekerja tanpa henti, terhubung ke dunia luar melalui koneksi internet satelit yang aman yang ia pasang di pondok. Ia menghubungi mantan rekan kerja, jurnalis yang ia kenal, dan bahkan beberapa sumber gelap yang ia miliki dari masa lalu. Ia tidak langsung menyebutkan nama Tuan Z atau Perusahaan Berlian Hitam. Ia memulai dengan pertanyaan-pertanyaan umum tentang tren industri, tentang "aktor-aktor yang tiba-tiba menghilang," atau "skandal yang dibungkam."
"Halo, ini Fernandez," ia berbicara dengan suara rendah di telepon burner yang terenkripsi. "Maaf mengganggu. Saya hanya ingin bertanya tentang beberapa tren pasar lama. Ingat kasus aktor muda yang tiba-tiba karirnya meredup? Apa yang Anda dengar tentang itu?"
Respons yang ia dapatkan bervariasi. Beberapa teman lamanya tampak terkejut mendengar suaranya, beberapa terdengar takut, dan beberapa lagi tampak lega karena ada seseorang yang akhirnya berani bertanya. Namun, sebagian besar informasi yang mereka berikan sangat samar, penuh dengan gosip yang tidak berdasar atau cerita yang telah dibungkam.
"Semua orang takut, Meylie," Fernandez berkata suatu malam, frustrasi. "Mereka telah berhasil menciptakan budaya ketakutan. Tidak ada yang berani berbicara secara terbuka tentang Tuan Z atau perusahaan-perusahaan yang terkait dengannya."
"Itu artinya kita berada di jalur yang benar," Meylie membalas, mencoba menyemangati. "Jika mereka begitu takut, itu berarti ada sesuatu yang besar yang mereka sembunyikan."
Mereka kembali ke data "THE DEEP STATE" milik Yu. Meylie mulai menganalisis dokumen-dokumen yang berkaitan dengan Tuan Z secara lebih mendalam. Ia menemukan bahwa Tuan Z adalah seorang produser yang selalu beroperasi di belakang layar. Ia jarang muncul di depan publik, jarang memberikan wawancara, dan selalu memiliki tim pengacara dan PR yang sangat agresif untuk melindungi citranya. Kekuasaannya tidak berasal dari popularitas, melainkan dari koneksi dan uang.
"Dia adalah pemain sejati," Meylie bergumam, menunjuk ke sebuah diagram organisasi yang Yu buat. "Dia mengendalikan benang-benang di balik panggung."
Konflik utama mereka adalah kesulitan melacak transaksi Tuan Z. Fernandez mencoba menembus server keuangan beberapa perusahaan cangkang yang terhubung dengan Perusahaan Berlian Hitam, tetapi setiap kali ia melakukannya, ia menemukan lapisan-lapisan enkripsi yang sangat canggih, atau bahkan jebakan digital yang dirancang untuk menghapus jejak jika ada upaya peretasan.
"Ini bukan pekerjaan satu orang, Meylie," Fernandez menghela napas, matanya merah karena kelelahan. "Dia punya tim ahli IT yang setara dengan kita, atau bahkan lebih baik. Mereka membersihkan jejaknya dengan sangat efisien."
Meylie merasakan frustrasi yang mendalam. Mereka memiliki "daftar hitam" Yu, yang jelas-jelas menunjuk pada Tuan Z, tetapi mereka kesulitan mendapatkan bukti yang tidak terbantahkan yang bisa menghubungkannya secara langsung dengan transaksi ilegal terbaru atau, yang lebih penting, dengan pembunuhan Yu.
"Kita perlu pendekatan yang berbeda," Meylie berkata, otaknya bekerja keras. "Jika kita tidak bisa melacak jejak digitalnya, kita harus mencari jejak fisiknya. Kebiasaan. Lokasi. Orang-orang yang berinteraksi dengannya secara langsung."
Fernandez mengangguk, idenya mulai terbentuk. Ia mulai menghubungi sumber-sumbernya lagi, kali ini dengan pertanyaan yang lebih spesifik tentang Tuan Z. Bukan tentang kejahatannya, tetapi tentang kehidupan pribadinya.
"Apa kebiasaannya? Di mana dia menghabiskan waktu luangnya? Siapa saja yang dekat dengannya? Apakah dia punya hobi atau tempat favorit?" Fernandez bertanya pada salah satu mantan rekannya, berpura-pura sedang menulis profil mendalam tentang "sosok misterius di balik industri."
Informasi mulai berdatangan, sedikit demi sedikit. Tuan Z adalah seorang kolektor seni yang fanatik, memiliki galeri pribadi yang sangat eksklusif. Dia juga dikenal sebagai pecinta anggur langka. Dia jarang bepergian ke luar negeri, lebih suka melakukan bisnisnya di dalam negeri, namun memiliki beberapa properti mewah di lokasi terpencil.
"Dia sangat menjaga privasinya," salah satu sumber berkata. "Dia tidak suka keramaian. Pertemuan-pertemuannya selalu tertutup, sangat rahasia. Dia sering menggunakan jet pribadi untuk pergi ke propertinya di luar kota."
Meylie mulai melihat pola. Tuan Z adalah seorang pengendali. Dia tidak ingin terlihat, tetapi dia ingin mengendalikan segalanya. Mekanisme kejahatan korporat ini adalah tentang menciptakan ilusi transparansi sambil menyembunyikan kekejaman di baliknya. Uang dan kekuasaan bekerja di tingkat elit ini dengan cara yang tidak terlihat oleh mata telanjang. Mereka menggunakan hukum, media, dan bahkan sistem keuangan untuk melindungi diri mereka sendiri.
Perkembangan karakter Meylie semakin mendalam. Ia tidak lagi hanya seorang wanita yang berduka mencari keadilan untuk kekasihnya. Ia telah menjadi seorang ahli strategi, seorang analis, yang memahami bagaimana benang-benang kekuasaan ditarik di tingkat elit. Ia melihat bagaimana uang bisa membungkam kebenaran, bagaimana koneksi bisa melindungi kejahatan, dan bagaimana citra publik bisa menjadi topeng yang sempurna.
"Mereka adalah arsitek kebohongan," Meylie bergumam, menunjuk ke diagram di dinding. "Mereka membangun seluruh sistem untuk melindungi diri mereka sendiri."
Ia menyadari bahwa untuk menjatuhkan Tuan Z, mereka harus menemukan titik lemahnya, sesuatu yang tidak bisa ia lindungi dengan uang atau koneksi. Sesuatu yang bersifat fisik, yang bisa mereka sentuh.
Fernandez, yang terus menggali melalui arsip media lama dan basis data properti publik, tiba-tiba berseru. "Meylie, lihat ini!"
Ia menunjuk ke layar laptopnya. "Dua tahun lalu, ada sebuah laporan kecil tentang pembangunan resor mewah di sebuah pulau pribadi di luar kota. Proyek itu tiba-tiba dihentikan karena 'masalah lingkungan', tapi kemudian dilanjutkan di bawah nama perusahaan cangkang yang berbeda. Dan pemiliknya... adalah salah satu dari perusahaan cangkang Tuan Z."
Meylie mendekat, matanya menyipit. "Sebuah resor terpencil di pulau pribadi?"
"Ya. Laporannya sangat samar. Tidak ada banyak detail. Tapi ada beberapa foto satelit lama. Tempat itu sangat terisolasi. Dan ada desas-desus bahwa Tuan Z sering menggunakan tempat itu untuk 'pertemuan tertutup' dengan rekan-rekannya." Fernandez menunjuk ke sebuah artikel lama yang menyebutkan "pesta-pesta eksklusif" di lokasi yang tidak disebutkan namanya.
"Pesta-pesta eksklusif," Meylie mengulang, merasakan firasat dingin menjalar di punggungnya. Ia teringat Yu yang pernah menyebutkan "ritual aneh" yang dilakukan para petinggi.
"Resor itu sekarang sudah selesai dibangun," Fernandez melanjutkan, melacak data satelit terbaru. "Kecil, mewah, dan sangat terisolasi. Ideal untuk kegiatan yang tidak ingin diketahui publik."
Ini dia. Petunjuk penting yang mereka cari. Sebuah lokasi fisik yang terpencil, yang digunakan Tuan Z untuk pertemuan rahasia. Tempat di mana ia mungkin melakukan kejahatan-kejahatan yang paling gelap, jauh dari mata publik.
"Pulau pribadi," Meylie berbisik, matanya berkilat. "Tempat yang sempurna untuk menyembunyikan sesuatu yang mengerikan."
Fernandez mengangguk, tatapannya serius. "Ini adalah titik masuk kita, Meylie. Jika kita ingin menemukan bukti fisik yang tidak bisa dihapus, kita harus pergi ke sana. Ini mungkin tempat di mana 'Operator Utama' bertemu dengan 'The Senator'."
Meylie menatap kembali foto Tuan Z di layar, mata dingin pria itu seolah menantangnya. Ia kini memahami mekanisme kejahatan korporat di tingkat elit. Ini bukan hanya tentang uang, tetapi tentang kekuasaan mutlak, tentang bagaimana mereka bisa beroperasi di atas hukum. Dan Tuan Z, dengan resor terpencilnya, adalah pintu gerbang menuju inti kegelapan itu.
"Kita akan pergi ke sana," Meylie berkata, suaranya mantap, penuh tekad yang tak tergoyahkan. "Kita akan menemukan apa yang dia sembunyikan."
Malam itu, pondok itu terasa lebih dingin, namun juga lebih penuh dengan harapan. Mereka telah menemukan jejak dana kotor, dan jejak itu kini mengarah ke sebuah pulau terpencil, tempat Tuan Z sering mengadakan "pertemuan tertutup" dengan rekan-rekannya. Perburuan ini baru saja mendapatkan lokasi yang paling krusial. Dan Meylie, siap untuk melangkah lebih jauh ke dalam sarang serigala.
Meskipun mereka telah menemukan lokasi dan mengidentifikasi Tuan Z sebagai Operator Utama, ada satu hal yang terus mengganjal pikiran Meylie: motif kejam yang sebenarnya. Yu tidak hanya dibungkam. Ia disiksa, dilecehkan, dan organnya diambil. Itu bukan hanya pembunuhan. Itu adalah sesuatu yang lebih gelap.
"Fernandez," Meylie memulai, menunjuk ke file video "THE LAST RITUAL" yang masih belum mereka buka di folder "THE DEEP STATE." "Kita harus melihat ini lagi. Video penyiksaan Yu."
Fernandez tersentak, wajahnya memucat. "Meylie, apa kau yakin? Itu... itu terlalu mengerikan."
"Aku harus," Meylie membalas, suaranya dipenuhi tekad yang dingin. "Kita punya bukti tentang Tuan Z, tentang dananya, tentang jaringannya. Tapi kita perlu memahami mengapa mereka melakukan itu pada Yu. Mengapa harus dengan cara seperti itu."
Fernandez menghela napas panjang, mengangguk pasrah. Ia tahu Meylie tidak akan mundur. Ia juga tahu, di lubuk hatinya, ia perlu pemahaman yang sama.
Dengan berat hati, Fernandez memasang headphone ke laptop dan memutar ulang video penyiksaan Yu. Kali ini, mereka tidak lagi melihatnya sebagai korban yang tidak berdaya, tetapi sebagai sebuah teka-teki, sebuah dokumen forensik yang harus dianalisis setiap detiknya. Fernandez mengaktifkan perangkat lunak analisis video, memperlambat adegan, memperbesar detail, dan membersihkan distorsi audio.
Meylie memejamkan mata sesaat, mengambil napas dalam-dalam, mempersiapkan dirinya untuk kengerian yang akan datang. Xiao Fei di dalam dirinya merintih, namun Ling yang dingin memaksanya untuk tetap kuat.
Video itu kembali menampilkan kengerian yang tak terlukiskan. Yu, terikat, hancur, namun masih ada percikan kehidupan dalam napasnya yang dangkal. Noda darah dan cairan kental lainnya. Sosok-sosok berjubah hitam dengan topeng putih.
Mereka memfokuskan pada suara-suara. Bisikan-bisikan yang terdistorsi, tawa rendah, dan kemudian, interogasi.
"Di mana daftar itu?" suara elektronik itu terdengar jelas melalui headphone. "Siapa lagi yang tahu?" "Kau pikir kau bisa mengancam kami, dasar aktor bodoh?"
Yu hanya merespons dengan erangan.
"Berikan kami kodenya! Katakan di mana file utamanya!" suara lain yang lebih otoritatif, terdengar lebih tua dan serak, memerintah.
Meylie dan Fernandez mencatat setiap pertanyaan, setiap kata. Ini semua tentang "daftar hitam" dan "file utama." Motif pembungkaman.
Namun, kemudian interogasi itu berubah. Setelah Yu menolak untuk berbicara, atau mungkin tidak bisa lagi berbicara, pertanyaannya beralih.
"Apakah kau mengerti tentang keabadian?" suara otoritatif itu bertanya, nadanya dingin dan filosofis. "Apakah kau tahu harga untuk kehidupan yang kekal?"
Meylie merasakan bulu kuduknya berdiri. Ini bukan tentang daftar hitam lagi.
"Darahmu akan menjadi persembahan yang sempurna," suara itu melanjutkan, disusul tawa rendah dari sosok lain. "Dan jiwamu akan menjadi bagian dari kami."
Fernandez mem-pause video. Wajahnya pucat pasi. "Keabadian? Persembahan? Meylie, ini... ini gila."
"Sekte," Meylie berbisik, matanya terpaku pada simbol gagak mata satu yang samar-samar terlihat di latar belakang video. "Ritual aneh. Yu pernah menyebutkannya. Sung He juga. Nyonya Xu menyebutnya 'halusinasi'."
Mereka memutar ulang bagian itu. Interogasi yang berubah dari mencari informasi menjadi semacam ceramah tentang spiritualitas gelap, tentang "kekuatan vital" dan "kebangkitan."
Kemudian, adegan pelecehan brutal. Dan setelah itu, pengambilan organ vital.
Meylie merasakan isi perutnya bergejolak lagi, namun ia menahannya. Kali ini, ia melihatnya dengan mata yang berbeda. Bukan hanya kekejaman, tetapi sebuah tujuan yang mengerikan. Pisau bedah yang presisi. Gerakan yang terlatih. Mereka tahu persis apa yang mereka cari.
"Mereka bukan hanya ingin membunuh Yu," Meylie berkata, suaranya serak, penuh jijik. "Mereka ingin membungkamnya, ya. Tapi mereka juga ingin mengambil sesuatu darinya. Untuk ritual mereka. Untuk kepercayaan gila mereka tentang keabadian."
Fernandez mengangguk, matanya terpaku pada layar. "Organ vital... mereka percaya itu adalah kunci untuk keabadian. Yu... dia adalah persembahan mereka."
Realitas itu menghantam Meylie dengan kekuatan yang menghancurkan. Bukan hanya korupsi, bukan hanya kekuasaan. Ini adalah kegilaan. Sekte yang dipimpin oleh para elit yang percaya bahwa mereka bisa mencapai keabadian melalui pengorbanan manusia. Yu, kekasihnya, telah menjadi korban dari kepercayaan sesat ini.
Emosi Meylie memuncak. Horor, jijik, dan amarah yang tak tertahankan. Ia mengepalkan tangannya, kuku-kukunya menusuk telapak tangannya. Air mata yang selama ini ia tahan kini mengalir deras, namun bukan air mata kesedihan yang pasif. Ini adalah air mata amarah yang membakar.
"Ini tidak manusiawi," bisiknya, suaranya bergetar. "Mereka lebih buruk dari binatang."
Fernandez memegang bahunya, mencoba menenangkan. "Aku tahu, Meylie. Aku tahu ini sulit. Tapi kita harus tetap fokus. Yu... dia akan ingin kita mengungkap ini."
Meylie menutup matanya sejenak, mengambil napas dalam-dalam. Ia harus memisahkan emosi pribadinya dari kebutuhan strategis untuk menjatuhkan Tuan Z. Duka dan amarahnya adalah bahan bakar, tetapi bukan pengemudi. Logika dan strategi harus mengambil alih kemudi.
Ia membuka matanya, tatapannya kini lebih dingin dan lebih tajam dari sebelumnya. "Suara itu, Fernandez. Suara yang otoritatif itu. Yang memberi perintah."
Fernandez mengangguk. "Ya. Itu terdengar seperti suara pemimpin."
"Kita punya rekaman wawancara lama Tuan Z, kan?" Meylie bertanya, mengingat kembali arsip media yang Fernandez kumpulkan. "Dan beberapa klip suaranya dari acara industri."
"Ya, ada beberapa," Fernandez membalas, mulai mencari file-file audio Tuan Z. "Tapi suaranya di video penyiksaan itu terdistorsi secara elektronik."
"Aku tahu," Meylie membalas. "Tapi kita bisa menganalisis frekuensinya. Aksesnya. Pola bicaranya. Yu pernah bilang, 'Suara adalah sidik jari jiwa.' Dia punya kemampuan unik untuk mengenali orang dari suara mereka, bahkan yang terdistorsi."
Mereka mulai bekerja lagi, membandingkan suara otoritatif dari video penyiksaan dengan klip suara Tuan Z. Fernandez menggunakan perangkat lunak analisis suara yang canggih, memvisualisasikan gelombang frekuensi, mengidentifikasi aksen, intonasi, dan pola bicara.
Setelah beberapa jam yang melelahkan, Fernandez menatap layar dengan mata membelalak. "Meylie... ini. Gelombang frekuensi ini... pola bicaranya... aksennya... ini sangat cocok. Dengan distorsi yang kita filter, ini hampir pasti..."
Ia menunjuk ke layar, di mana dua gelombang suara, satu dari video dan satu dari wawancara Tuan Z, tumpang tindih dengan akurasi yang mengerikan.
"Tuan Z," Meylie berbisik, suaranya dipenuhi amarah yang dingin. "Dia ada di sana. Dia yang memberi perintah. Dia yang bertanggung jawab atas penderitaan Yu. Setidaknya, salah satu suaranya."
Fernandez mengangguk, wajahnya pucat. "Dia bukan hanya Operator Utama. Dia terlibat langsung dalam penyiksaan dan pembunuhan Yu. Dia adalah monster."
Meylie menatap foto Tuan Z di layar, mata dingin pria itu kini terasa seperti mata iblis yang sesungguhnya. Ia bertanggung jawab. Ia adalah target yang harus dirobohkan.
"Dia harus membayar," Meylie berkata, suaranya mantap, penuh tekad yang tak tergoyahkan. "Untuk Yu. Untuk semua korban. Dan untuk kegilaan ritualistik ini."
Mereka telah mengidentifikasi motif kejam yang sebenarnya: pembungkaman politik/korupsi yang diselingi dengan ritual sekte yang gila. Dan Tuan Z, Operator Utama, adalah salah satu pelaku utama di balik kekejian itu. Pulau pribadi Tuan Z, tempat pertemuan tertutupnya, kini bukan hanya lokasi untuk melacak dana kotor, tetapi juga sarang iblis tempat ritual-ritual keji itu mungkin dilakukan.
Meylie, sang Ling, kini memegang bukti tak terbantahkan yang menghubungkan Tuan Z langsung dengan kematian Yu. Perburuan ini telah memasuki babak yang paling berbahaya, namun ia merasa lebih siap dari sebelumnya. Ia akan menghadapi Tuan Z, dan ia akan memastikan keadilan untuk kekasihnya.