Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Mobil Rolls-Royce Baskara membelah malam menuju kediaman utama keluarga Surya.
Pikirannya masih tertuju pada perban di tangan Swari dan bagaimana wanita itu pingsan di pelukannya tadi siang. Namun, panggilan mendesak dari sang mama, Ibu Widya Surya, membuatnya harus menunda waktu istirahatnya.
Begitu melangkah masuk ke ruang keluarga yang mewah, Baskara mendapati mamanya sedang menyesap teh sambil menatap beberapa map di atas meja marmer.
"Ada apa, Ma? Kenapa mendadak sekali menyuruh Bas datang?" tanya Baskara sambil melonggarkan kancing kemeja atasnya.
Widya menatap putra tunggalnya itu dengan tatapan penuh selidik.
"Mama sudah menemukan wanita yang akan menikah dengan kamu, Bas. Sudah waktunya kamu menikah. Perusahaan butuh stabilitas, dan Mama butuh cucu untuk meneruskan warisan keluarga."
Baskara mendengus pelan, ia duduk di hadapan mamanya dengan sikap acuh tak acuh.
"Mama tahu aku tidak tertarik dengan pernikahan yang diatur."
"Ini pilihan Mama, Bas. Dan Mama tidak menerima penolakan kali ini. Ada dua kandidat yang Mama pertimbangkan matang-matang."
Widya menyodorkan dua buah foto ke arah Baskara.
"Swari Aruna dan Bella Rianti."
Mendengar nama pertama disebut, jantung Baskara berdegup satu kali lebih kencang, namun wajahnya tetap sedingin es.
Ia menatap foto Swari yang tampak anggun dengan latar belakang pemandangan Kanada, lalu beralih ke foto Bella Rianti, seorang model sekaligus putri dari rekan bisnis ayahnya.
"Swari Aruna dan Bella Rianti?" Baskara mengulang nama itu, suaranya rendah.
"Bella adalah pilihan yang paling logis untuk bisnis kita. Tapi Swari, ada sesuatu dari latar belakangnya yang menarik perhatian Mama, meskipun dia sempat menghilang enam tahun lalu dan dia sudah mempunyai anak," jelas Widya sambil mengernyitkan kening, menunggu reaksi putranya.
Baskara mengambil foto Swari yang sedang mengenakan toga wisuda.
Tatapan wanita itu di dalam foto tampak jauh lebih dewasa dan tangguh dibandingkan saat ia temukan di jembatan enam tahun lalu.
"Aku pilih Swari," ucap Baskara tegas tanpa keraguan sedikit pun.
Widya Surya mengangkat alisnya, sedikit terkejut dengan kecepatan putranya mengambil keputusan.
"Kamu yakin, Bas? Swari punya masa lalu yang misterius. Dia menghilang selama enam tahun dan kembali dengan dua anak kembar. Kita bahkan tidak tahu siapa ayah dari anak-anak itu. Secara status sosial, Bella jauh lebih menguntungkan bagi keluarga Surya."
Baskara menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang sulit diartikan.
"Justru karena itu, Ma. Swari adalah misteri yang belum selesai aku pecahkan. Soal anak-anaknya, itu bukan masalah bagiku."
"Baiklah kalau itu keputusanmu,"
Widya menghela napas, setengah lega namun juga khawatir.
"Mama akan segera mengatur pertemuan keluarga dengan kakaknya, Ratri. Tapi ingat Bas, pernikahan ini harus berhasil. Mama tidak mau ada skandal."
Baskara tersenyum tipis dan meninggalkan rumah orang tuanya.
Ia kembali melajukan mobilnya menuju ke apartemennya.
Keesokan paginya, suasana di kediaman baru Swari di Panorama Indah terasa begitu hidup.
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui jendela besar, menyinari wajah Alex dan Alexandria yang sudah rapi mengenakan seragam sekolah baru mereka.
Ratri datang lebih awal untuk menjemput si kembar.
Ia tampak bersemangat, seolah sedang mengantar anaknya sendiri.
"Ayo, jagoan dan tuan putri Budhe, sudah siap berangkat?"
Swari berlutut di depan kedua anaknya, merapikan kerah baju Alex dan mengelus rambut Alexandria.
"Belajar yang giat ya, Sayang. Jangan nakal sama guru, dan jangan lupa bekalnya dimakan. Oke?"
"Oke, Mama!" seru mereka serempak.
Swari mencium kening kedua buah hatinya dengan penuh kasih, memberikan kekuatan yang ia sendiri butuhkan untuk menghadapi hari ini.
Setelah mobil Ratri menjauh, Swari segera masuk kembali ke dalam untuk bersiap.
Ia memilih setelan blazer berwarna biru dongker yang memberikan kesan profesional sekaligus misterius.
Tangannya yang masih terbalut perban tipis ia tutupi dengan lengan kemejanya.
Ia teringat janji Baskara yang akan menjemput jam delapan pagi.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan di pintu terdengar tepat waktu dan ia langsung menarik nafas panjang.
Ia membuka pintu dengan wajah yang sudah disiapkan untuk berdebat dengan Baskara.
Namun, senyum formal di wajahnya seketika luntur. Tubuhnya membeku di ambang pintu.
"Lama tidak jumpa, 'Adik Kecilku'," sebuah suara yang sangat ia benci menyapa dengan nada yang licin.
Di hadapannya berdiri Dimas. Pria itu tampak jauh lebih tua, namun sorot mata obsesif yang sama masih ada di sana.
Ia mengenakan kemeja formal dengan kacamata hitam yang kini ia turunkan ke hidung untuk menatap Swari dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"M-Mas Dimas? Bagaimana kamu tahu aku ada di sini?" suara Swari bergetar, trauma lama tentang penolakan di hari pemakaman Pradutha kembali mencuat.
Dimas tersenyum miring, senyum yang membuat bulu kuduk Swari meremang.
"Jakarta ini sempit bagi orang yang punya koneksi, Swari. Enam tahun menghilang, dan tiba-tiba kamu kembali sebagai wanita karir yang sukses? Menarik. Tapi yang lebih menarik lagi..."
Dimas melangkah maju satu tindak, memaksa Swari mundur ke dalam rumah.
"Aku dengar kamu membawa 'oleh-oleh' dua anak kembar dari luar negeri. Siapa ayahnya, Swari? Apa kamu bertemu pria yang lebih kaya dariku di sana, atau anak itu adalah hasil dari 'kejadian' malam itu?"
"Keluar dari rumahku, Mas Dimas! Sekarang juga!"
"Kenapa terburu-buru? Aku datang sebagai keluarga, Swari. Aku hanya ingin memastikan adik iparku baik-baik saja," Dimas mencoba meraih tangan Swari, namun wanita itu segera menepisnya dengan kasar.
Tepat saat ketegangan memuncak, sebuah mobil hitam mewah berhenti dengan deru mesin yang sangat halus di depan pagar.
Pintu belakang terbuka, dan Baskara turun dengan aura yang seolah bisa membekukan udara di sekitarnya.
Mata Baskara langsung tertuju pada pria asing yang sedang mengintimidasi Swari di ambang pintu. Baskara melangkah lebar, melewati gerbang tanpa ragu, dan berdiri di antara Swari dan Dimas.
"Siapa kamu?" tanya Baskara dengan nada suara yang begitu rendah hingga terdengar seperti ancaman nyata.
Dimas menatap Baskara dari atas ke bawah, mencoba mengukur kekuatan pria di depannya.
"Aku keluarga adik kecilku, Dan kamu sendiri... sopir barunya?"
Baskara tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru melingkarkan lengannya di pinggang Swari, menarik wanita itu mendekat ke tubuhnya dengan posesif.
"Aku adalah calon suaminya. Dan di rumah ini, tidak ada tempat untuk pengganggu sepertimu. Keluar sekarang sebelum aku memanggil tim keamananku untuk menyeretmu keluar dengan cara yang tidak sopan."
Dimas tertegun, matanya menatap tajam ke arah tangan Baskara yang melingkar di pinggang Swari.
Sementara Swari, meski terkejut dengan klaim "calon suami" itu, entah kenapa merasa jauh lebih aman berada di bawah lindungan Baskara daripada harus berhadapan sendirian dengan masa lalunya yang kelam.
Dimas langsung keluar dari rumah Swari saat mendengar ancaman dari Baskara.
"T-terima kasih, Tuan Baskara. Tapi aku tidak tertarik menjadi calon istrimu" ucap Swari yang kemudian keluar dari rumahnya dan mengunci pintu.
kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor