NovelToon NovelToon
Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:840
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.


Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kangkung Untuk Opa

Lima tahun berlalu seperti air sungai yang mengalir tanpa terburu-buru.

Embun Pulang Prasetia berdiri di depan cermin di kamarnya, mengenakan gaun biru muda dengan sulaman benang kuning di bagian leher, hasil jahitan Eyang Rukmini yang bersikeras bahwa anak enam tahun harus punya baju yang pantas untuk bertemu seseorang yang penting. Rambutnya yang hitam tebal dikepang dua oleh Andien, ujungnya diikat pita putih. Di tangan kanannya, ia memeluk erat sebuah pot kecil dari tanah liat.

"Bunda," katanya, memutar badan. "Kangkungnya masih hidup, kan?"

Andien berjongkok di depannya, merapikan kerah gaun itu. "Masih, Sayang. Lihat, daunnya hijau."

"Aku siram tiap pagi, sebelum matahari naik."

"Bunda tahu. Kamu belajar dari Ayah."

"Ayah belajar dari Bunda." Embun mengoreksi dengan keseriusan seorang guru kecil. "Dan Bunda belajar dari Eyang."

Andien tertawa dan mengecup keningnya. "Betul. Itu rantai kangkung paling panjang di dunia."

Di ambang pintu, Carlo bersandar pada kusen dengan kemeja putih lengan digulung dan senyum yang tak lagi berusaha disembunyikan. Rambutnya mulai diselingi satu-dua helai putih di pelipis, tetapi wajahnya terlihat lebih muda daripada lima tahun lalu, seperti seseorang yang berhenti membawa beban yang bukan miliknya.

"Mobil sudah siap," katanya. "Eyang Rukmini juga."

"Eyang ikut?" Embun terbelalak.

"Eyang bilang tidak mau ketinggalan. Katanya, kalau ada yang harus menjaga kalian semua, itu dia."

---

Rumah Pulang kini punya tiga cabang. Di Menteng, di kota kabupaten dekat rumah sakit besar, dan satu lagi di pesisir selatan, tak jauh dari penginapan tua milik Pak Jamal, tempat keluarga nelayan yang menemani kerabat berobat bisa menginap dan makan tanpa bertanya apa pun. Andien mengelolanya dengan tim dua puluh orang, sebagian di antaranya bekas penghuni yang memilih tinggal dan membantu.

Laras mengepalai klinik di sayap kiri Menteng, yang kini bernama Klinik Pulang dan melayani siapa pun tanpa memandang kemampuan membayar. Dua tahun lalu ia menikah dengan seorang dokter anak bernama Adi, pria pendiam berkacamata yang meminangnya dengan sebuah kartu bertuliskan tangan, *aku tidak akan berbohong padamu, bahkan soal hal-hal kecil.* Laras menyimpan kartu itu di dompetnya sampai sekarang.

Raka menjabat kepala audit internal Prasetia Group, dan bulan lalu, dengan mata berkaca-kaca, menerima penghargaan karyawan teladan dari Carlo di depan seluruh dewan. Pak Darto, yang kini berusia tujuh puluhan, masih menyiram kebun Menteng setiap pagi dan mengaku tidak pernah tidur senyenyak ini seumur hidup.

Dan di pesisir selatan, Pak Jamal akhirnya berhenti melaut dan membuka warung ikan bakar dengan papan bertuliskan *Teman yang Baik*. Tak seorang pun menanyakan asal-usul nama itu.

---

Lembaga pemasyarakatan itu tak banyak berubah. Tembok abu-abu, kawat berduri berkarat, bau karbol dan keringat. Hanya satu hal yang berbeda: di halaman depan, sebuah papan kecil kini menggantung, bertuliskan program pelatihan berkebun untuk warga binaan, sumbangan Yayasan Rumah Pulang.

Embun menggenggam tangan Carlo erat-erat saat melewati gerbang besi. Matanya yang besar menatap segala sesuatu dengan rasa ingin tahu seorang anak yang tak pernah diajari takut pada tempat-tempat yang menakutkan.

"Ayah," bisiknya. "Opa jahat ya?"

Carlo berjongkok di depannya, sehingga mata mereka sejajar. "Kenapa kamu tanya begitu?"

"Karena Eyang Laras bilang Opa melakukan hal yang salah. Dan Bunda bilang kita harus bersikap baik padanya, tapi bukan karena dia tidak salah."

Carlo menahan senyum, kagum pada kejujuran anak itu. "Dengar, Sayang. Opa Bram melakukan hal yang salah, dan dia dihukum untuk itu. Tapi dia juga manusia yang pernah belajar, walau terlambat. Dan kita datang bukan untuk menghakiminya."

"Kita datang untuk apa?"

"Untuk memberi tahu dia bahwa dunia masih berjalan. Bahwa ada seorang anak kecil yang namanya Embun, yang menanam kangkung, yang tidak tahu apa-apa soal kebencian."

Embun mengangguk pelan, mencerna. "Seperti surat Eyang Kakung ke Ayah?"

"Persis seperti itu."

---

Ruang kunjungan itu sama dinginnya dengan dulu. Satu perbedaan: tak ada kaca pembatas, hanya meja kayu panjang yang digores nama-nama.

Bram sudah menunggu di ujung meja. Rambutnya benar-benar putih sekarang, wajahnya lebih kurus, punggungnya sedikit bungkuk. Tetapi saat melihat anak kecil bergaun biru itu masuk menggandeng tangan Carlo, ia berdiri begitu cepat sampai kursinya hampir terguling.

"Carlo," bisiknya.

"Om."

Bram menatap Embun. Anak kecil itu membalas tatapannya dengan sorot yang jujur dan tak gentar, memeluk pot tanah liat di dadanya.

"Kamu," kata Bram, suaranya serak, "pasti Embun."

"Iya." Embun menaikkan dagunya sedikit. "Aku enam tahun. Namaku Embun Pulang Prasetia. Opa itu Opa Bram?"

"Itu... benar."

"Kata Ayah, Opa pernah melakukan kesalahan besar."

Hening menyergap ruangan. Petugas di sudut menegang, tetapi Bram hanya tersenyum samar dan tua, senyum seseorang yang sudah lama berhenti membela diri.

"Benar sekali, Nak."

"Opa sedih?"

Bram terdiam lama. Matanya yang keriput berkaca-kaca.

"Setiap hari," katanya jujur. "Bukan karena aku di sini. Tapi karena aku terlambat. Ada satu hal yang seharusnya kulakukan, dan aku tidak melakukannya. Dan karena itu seseorang yang kusayangi tidak ada lagi."

Embun menatapnya lama, kepala sedikit miring, seperti sedang menimbang sesuatu yang berat untuk ukuran kepalanya. Lalu ia melangkah maju, dengan langkah-langkah kecil, dan meletakkan pot tanah liat itu di meja di depan Bram.

"Ini buat Opa."

Bram menunduk. Di dalam pot kecil itu, tumbuh sebatang kangkung muda dengan daun hijau segar, batangnya tegak, tanah di bawahnya basah dan hitam.

"Kangkung," bisik Bram.

"Aku tanam sendiri. Dari biji yang Bunda kasih. Aku siram tiap pagi, sebelum matahari naik, soalnya kalau sore airnya menguap." Embun menjelaskan dengan serius. "Kata Bunda, kangkung itu tidak cantik, tapi kuat. Kalau dipotong, tumbuh lagi."

Bram tak bisa menjawab. Jemarinya yang gemetar menyentuh tepi pot itu, ujung-ujungnya menyentuh daun hijau yang halus.

"Opa bisa tanam di halaman penjara," lanjut Embun. "Kata Pak Penjaga, ada kebun kecil di belakang. Kalau Opa lupa menyiram, kangkungnya mati. Tapi kalau Opa ingat, dia hidup. Dan nanti Opa bisa makan."

"Embun..." Carlo memulai, tetapi suaranya tersangkut.

"Aku tidak bilang Opa tidak salah." Embun menatap Bram lurus. "Aku cuma bilang, kangkungnya butuh disiram. Itu saja."

Air mata Bram jatuh tanpa suara, membasahi punggung tangannya yang keriput. Ia menunduk, bahunya bergetar, dan untuk beberapa saat tak ada yang berkata apa-apa. Petugas di sudut memalingkan wajah. Andien, yang berdiri di belakang bersama Bu Rukmini, menutup mulut dengan telapak tangan.

"Terima kasih," Bram akhirnya berbisik. "Aku akan menyiramnya. Setiap pagi."

"Sebelum matahari naik," Embun mengingatkan.

"Sebelum matahari naik."

---

Mereka sudah hendak pergi ketika pintu di ujung ruangan terbuka dan seorang pemuda berseragam sipil masuk dengan langkah canggung. Usianya dua puluhan, kurus, rambut hitam dipotong rapi, wajahnya mirip Bram dalam tulang pipi dan rahang, tetapi tanpa sorot dingin yang dulu menghantui ruang makan Menteng.

Bima.

Andien merasakan Carlo menegang di sampingnya. Tetapi pemuda itu berhenti dua langkah dari mereka dan membungkuk dalam-dalam.

"Pak Carlo. Bu Andien."

"Bima," kata Carlo pelan.

"Saya... saya hanya mau menjenguk Ayah. Saya tidak tahu kalian akan di sini." Ia menunduk. "Saya tidak mau mengganggu."

"Kamu tidak mengganggu." Carlo menatapnya lama, dan Andien melihat sesuatu di wajah suaminya melunak. "Kudengar kamu lulus bulan lalu."

"Iya, Pak. Teknik sipil." Bima tersenyum kecil, canggung. "Dari dana pendidikan yang... yang Pak Carlo selamatkan."

"Itu dana dari kakekku untuk kamu. Aku hanya memastikan tidak ada yang menyentuhnya."

"Itu yang membuat saya bisa tidur nyenyak." Bima mengangkat wajah, dan matanya basah. "Saya tidak akan pernah bisa membalas apa yang..."

"Tidak perlu membalas." Carlo mengulurkan tangan kanan. "Tapi ada satu hal."

"Apa saja."

"Rumah Pulang cabang pesisir butuh insinyur untuk membangun sayap baru. Dua puluh kamar, dapur umum lebih besar. Gajinya tidak banyak. Tapi atasanmu nanti seorang perempuan yang pernah menariknya dari api."

Bima menatap tangan yang terulur itu, lalu menatap Andien, yang tersenyum lembut dan mengangguk. Dengan jari yang gemetar, ia menyambut tangan Carlo.

"Saya terima," bisiknya.

Di belakang mereka, Embun menarik ujung kebaya ibunya. "Bunda, siapa dia?"

"Dia keluarga, Sayang."

"Keluarga yang mana?"

"Keluarga yang lupa jalan pulang," jawab Andien lembut, "tapi sekarang sudah ketemu."

---

Sore harinya, di halaman Rumah Pulang cabang Menteng, matahari condong ke barat dan memulaskan jingga di atas atap genteng. Embun berlarian di kebun bersama anak-anak penghuni, menyiram tanaman dengan ember kecil, tertawa saat air menciprat ke baju seseorang.

Andien duduk di bale-bale kayu di bawah pohon beringin dengan secangkir wedang jahe. Carlo duduk di sampingnya, bahu mereka bersentuhan, tak ada jarak satu rentang tangan di antara keduanya.

"Mas ingat malam pertama kita bertemu?"

"Hujan. Dan kamu bilang *Mas, dengar saya?*"

"Dan Mas bilang jangan panggil siapa pun."

"Aku salah." Carlo tersenyum. "Seharusnya aku bilang, *tolong panggil semua orang. Aku mau sekali bertemu mereka.*"

Andien tertawa, bersandar di bahunya. Dari kebun, terdengar tawa Embun yang nyaring, dan di kejauhan, azan magrib mulai berkumandang dari surau kecil di ujung jalan.

Di sudut halaman, Bu Rukmini duduk di kursi rotan dengan secangkir teh, menyaksikan semuanya dengan mata berbinar. Ia tidak berkata apa-apa. Hanya mengangkat cangkirnya sedikit ke arah langit yang mulai ungu, seperti memberi salam kepada seseorang yang tak terlihat.

*Mas Suparman,* pikirnya. *Lihat. Anak kita sudah menemukan jalan pulangnya.*

Di sudut lain halaman, di bawah lampu taman yang menyala satu per satu, papan kayu di gerbang bergoyang pelan tertiup angin, huruf-huruf cokelat tuanya berkilat dalam cahaya senja.

**RUMAH PULANG**

*Singgah untuk keluarga yang menemani.*

Dan di atas semuanya, langit berubah dari jingga menjadi ungu, dan dari ungu menjadi biru malam, seperti gerbang yang tak pernah benar-benar tertutup.

---

*Bersambung ke Bab 35...*

1
Renjana
menunggu😊
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya
Renjana
bagus ni
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!