Penugasan di medan perang adalah hal biasa. Namun, menghadapi pengkhianatan di dalam barak asrama dinasnya sendiri adalah pertempuran yang tak pernah ia duga.
Ketika ia memergoki lettingnya sendiri menelantarkan dan menyakiti seorang wanita di sudut pangkalan militer akibat hasutan keluarga, naluri pelindungnya bangkit. Dalam sebuah tindakan nekat demi menyelamatkan kehormatan sang wanita, ia mengambil alih takdir itu. Ia membawanya pergi, melindunginya di garis depan hidupnya, dan menikahinya.
Di bawah naungan seragam lorengnya, ia memulai misi paling rahasia dalam hidupnya.. Menyembuhkan luka batin gadis itu, namun, ia harus menghadapi dendam dari rekan satu lettingnya, dan mencintainya setulus hati tanpa syarat.
Sebab di garis depan hatinya, keselamatan wanita itu adalah perintah mutlak haram untuk gagal.
KONFLIK.. SKIP bagi yang tidak sanggup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Mengamankan kamu.
Bang Oscar mengompres puncak kepala dan perut bawahnya dengan es batu. Sekujur tubuhnya terasa tegang mengingat kejadian tadi.
'Bukan Abang tidak mampu atau tidak mau mendekatimu, Pitta. Batin ini lebih dari sekedar mau, ingin memelukmu, ingin punya anak sama kamu. Abang hanya memberi jeda pada hatimu agar semua berada di waktu yang tepat.'
"Butuh es batu lagi, Danton??" Tanya Prada Syafi'i.
"Cukup.. Bisa masuk angin saya nanti." Kata Bang Oscar masih terus memercing kesakitan. Bayang wajah cantik Pitta, siluet tubuhnya yang anggun membuat tubuhnya terus menegang menyiksanya.
Beberapa menit kemudian Bang Samuel tiba di mess. "Kenapa Dantonmu, Syaf???"
"Siap.. Ijin, tidak tau Ndan. Tadi tiba-tiba Danton hubungi saya dan minta di carikan es batu. Saat saya datang, Danton sudah bersandar seperti ini." Laporan Prada Syafi'i.
"Mabok, Kang???" Tanya Bang Samuel sambil menyentuh kening sahabatnya yang nampak keringat dingin.
Tapi saat itu Bang Samuel tidak merasakan sahabatnya demam. Ia tidak bisa menebak apa yang terjadi pada Danton galak di hadapannya itu.
"Ngomong-ngomong, kalau kau sudah nganggur.. Ikut aku cari istriku..!!!"
"Kenapa saya harus terlibat??? Itu urusan rumah tanggamu." Kata Bang Oscar malas.
"Karena kau lebih cermat mencarinya. Kau lebih punya akses pelacakan karena kau juga lulusan Intel. Dia itu pasti lari sama laki-laki, dia juga bawa surat tanah yang aku belikan untuk ibuku di Jawa, dia bawa kabur uangku. Aku tidak sangka kelakuan istriku seperti itu." Ujar Bang Samuel seolah meluapkan rasa geramnya.
"Kau yakin sertifikat tanahmu di bawa istrimu??? Apa dia bawa kartu ATM mu???" Selidik Bang Oscar tenang sambil memejamkan mata hingga es di kepalanya meleleh di sela pelipis.
"Kartu ATM di bawa ibuku karena dia boros. Tapi dia bawa uang cash, lima ratus ribu rupiah dan surat tanah itu." Jawab Bang Samuel.
Seringai senyum geram Bang Oscar tersungging tipis. Ia membuka matanya dan meletakan es batu berbalut kain handuk di atas baskom.
"Banyak juga ya uang yang dia bawa. Cukup tuh buat beli tanah." Kata Bang Oscar. "Tanah satu ember untuk menutup t*i kucing."
Mendengar jawaban itu, Bang Samuel mulai tersinggung karena sahabatnya terkesan meremehkan dirinya. Ia tau Oscar memang pria yang dingin, tapi ucapnya kali ini seakan menjatuhkan posisinya sebagai kepala rumah tangga.
"Kau belum pernah menikah, kau belum tau susahnya mendidik perempuan liar yang sudah membohongimu. Dia tidak peraw*n, tidak hormat dengan orang tuamu, boros, yang jelas dia membawa pergi hartamu." Ucap Bang Samuel tegas dan jelas. "Kau paham soal keyakinan kita. Ibu adalah orang yang harus di hormati dan wajib di muliakan. Ibu tidak bahagia, maka hidupmu tidak akan bahagia. Surga ada di bawah telapak kaki ibu. Sampai aku bertemu dengannya, biar ku hajar biar dia tau aturan, aku akan menyuruhnya mencium kaki ibuku karena sudah mengecewakan beliau."
Bang Oscar tertawa geli, tapi raut wajah itu jelas menampakan kekesalan yang terpendam.
"Jangan sampai aku mengenal gadis itu, sebab kalau sampai itu terjadi.. Kau sendiri yang balik ku hajar." Ancam Bang Oscar dengan senyum nya.
Tatap mata Bang Samuel berubah gelisah, lirik mata jarcall satu Jaguar itu sudah menampakan taringnya. Ia pun menarik diri.
Setelah Bang Samuel pergi, Bang Oscar kembali membanting punggung pada sandaran kursi di terasnya. "Kompres saya lagi, donk..!!" Perintahnya dengan nada rendah.
***
Di minggu pagi ini, ia kembali datang ke kontrakannya, kontrakan yang lumayan jauh dari pantauan anggota Batalyon, ia hanya datang untuk beristirahat agar weekend nya bisa lebih tenang.
"Assalamu'alaikum." Sapa Bang Oscar sambil meletakan tas kecil berisi makanan kemudian melepas jaket dan meletakan asal.
"Wa'alaikumsalam." Pitta keluar dari kamar dengan dress mode kelelawar. Ia langsung mengambil jaket itu lalu menggantungnya di sisi lemari hias.
Bang Oscar seakan sudah paham, dari jaman sekolah, Pitta lebih suka mengenakan pakaian yang longgar, bahkan hampir tidak memperlihatkan lekuk tubuh. Hanya satu kali tanpa sengaja ia pernah melihatnya, dan itu membuatnya tidak bisa melupakan bayang Pitta hingga saat ini.
"Sarapan dulu, sudah jam delapan. Masuk angin kamu nanti." Bang Oscar membuka tas berisi nasi ikan cakalang.
Pitta melirik makanan tersebut, sebenarnya ia bukan penyuka ikan. Jika ada menu tahu dan tempe, maka ia akan lebih memilih opti kedua itu.
"Coba dulu, disini dekat pesisir. Kalau ada makanan yang lebih baik pasti saya bawakan." Kata Bang Oscar kemudian menyuapi Pitta dengan telaten.
Tanpa berani melawan, Pitta tetap makan dari suapan tangan pria yang banyak orang bilang sangat bersumbu pendek itu. Hanya wajahnya saja yang cemberut menunjukan bahwa dirinya sedang menggalakan aksi demontrasi.
Tapi setelah mencoba beberapa suapan, ternyata rasanya tidak buruk, nasi ikan cakalang itu cocok di lidahnya. Dengan lahap ia menghabiskan nasi itu dari suapan tangan Bang Oscar.
"Alhamdulillah, makan yang banyak..!! Malu saya kalau punya istri badannya hanya sebesar kelingking." Ujar Bang Oscar lalu menyantap nasinya sendiri.
"Bang, sampai kapan kita terus begini?? Pitta juga nggak mungkin sembunyi disini terus, kaan. Bang Sam pasti cari Pitta." Kata Pitta.
"Biar saja dia cari kamu. Kamu dan dia sudah selesai. Kalau dia berani dekati kamu, berarti memang dia sudah siap berurusan dengan saya." Jawab Bang Oscar. Dalam beberapa hitungan saja, nasi tersebut sudah pindah ke perut pria dengan tinggi badan seratus delapan puluh enam centimeter itu. Ia bergegas membuang semua bungkus makanan lalu mencuci tangan dengan cepat dan kembali lagi ke ruang tamu.
Raut wajah Pitta nampak tegang. "Bang.. Tidak usah lawan Bang Samuel, ya..!!!"
Bang Oscar menyulut rokoknya, ia membuka kaca jendela samping rumah kontrakannya. "Seluruh akunmu di ponsel sudah saya amankan. Bisa tidak.. Tugasmu hanya rebahan, makan camilan sambil nonton TV, lihat video di ponsel sambil ngadem di kamar. Urusan Samuel biar saya yang handle."
.
.
.
.
ditunggu lanjutanya mba
ditunggu lanjutannya mba Nara
lanjut mba Nara👍