NovelToon NovelToon
Di Jodohkan Dengan Dokter Spesialis Dingin

Di Jodohkan Dengan Dokter Spesialis Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Perjodohan
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

-
Aini Zahra Wijaya, seorang dokter muda yang baru lulus, memulai masa koasnya di rumah sakit megah milik keluarga besar Wigunadi. Berharap fokus mengabdi, takdir justru mempertemukannya dengan Dr. Ivandra Arya Wigunadi—spesialis bedah saraf yang jenius, dikenal paling dingin, dan tak tersentuh.
-
Meski Ainu berusaha keras menghindari pria kejam itu, sebuah rahasia keluarga dan ikatan takdir memaksa mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Di balik dinding rumah sakit yang dingin, hubungan penuh ketegangan, batasan, dan emosi yang terpendam pun dimulai.
_

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 23

****

Sinar fajar menembus celah gorden tebal, membiarkan pendar cahaya keemasan menyapu permukaan ranjang king size yang berantakan.

Ivandra perlahan membuka kelopak matanya. Efek obat herbal yang semalam membakar aliran darahnya kini telah menguap sepenuhnya, menyisakan denyut pusing yang samar di pelipis. Namun, saat kesadarannya terkumpul utuh, Ivandra tersentak hebat begitu menyadari kondisi dirinya dan Aini yang sama-sama masih telanjang bulat di balik selimut tebal yang tersibak sebagian.

Memori peristiwa semalam berputar liar di dalam kepalanya. Bayangan tentang bagaimana ia mengabaikan penolakan Aini, membiarkan gairah liarnya mendominasi, hingga rintihan perih Aini yang bergema sepanjang malam, menghantam kesadaran Ivandra bagai hantaman gada berat.

Pandangan Ivandra bergulir ke bawah. Di atas kain seprai putih yang tersibak, terpatri noda darah segar yang mengering—bukti bisu atas apa yang telah terjadi.

Deg.

Di detik berikutnya, suara rintihan halus memecah keheningan kamar.

"S-sakit... Mas... panas... perih..."

Ivandra membeku. Aini merintih mengigau dalam ketidaksadarannya. Wajah ayu istrinya tampak pucat pasi, peluh dingin membasahi pelipis, dan napasnya memburu kencang patah-patah. Aini mengalami demam tinggi akibat syok emosional dan kelelahan fisik yang luar biasa.

Tanpa membuang waktu, Ivandra bergegas memeriksa kondisi medis istrinya. Pria itu menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuh Aini untuk melakukan pemeriksaan fisik secara rinci. Begitu kain itu tersibak sepenuhnya, Ivandra terkejut bukan main. Napasnya tercekat di tenggorokan.

Di atas kulit mulus dan molek milik Aini—tubuh indah yang dulu selalu tertutup rapat oleh pakaian melambai dan hijab yang rapi—kini bertaburan luka lebam berwarna ungu kemerahan. Bekas cengkeraman jemarinya dan kecupan panas semalam berjejak jelas di leher, bahu, dada, hingga paha dalam istrinya.

Di satu sisi, nurani maskulin Ivandra yang paling dalam sejujurnya masih terpukau melihat keindahan bentuk tubuh molek istrinya yang kini terhampar polos tanpa sehelai benang pun di depan matanya. Namun, rasa terpukau itu seketika sirna digantikan oleh rasa ngeri dan penyesalan yang membakar saat pandangan medisnya tertuju ke area intim Aini. Area vital itu tampak membengkak parah dan kemerahan akibat penyatuan bertubi-tubi tanpa jeda semalam.

"Astaga... Aini..." bisik Ivandra dengan suara parau yang bergetar hebat. Tangannya yang biasa menggenggam skalpel operasi tanpa getaran kini gemetaran kencang saat menyentuh kulit Aini yang membara.

Rasa gengsi, keangkuhan, dan harga diri tinggi yang selama ini menjulang bagai benteng es dalam diri dr. Ivandra Arya Wigunadi runtuh tak berbekas seketika.

Ivandra meraih ponselnya di atas nakas dengan jemari gemetaran, menghubungi sekretaris Departemen Bedah Saraf.

"Halo, Dokter Ivandra?" suara di seberang telepon terdengar terkejut.

"Batalkan seluruh jadwal operasi dan visite saya hari ini," tegas Ivandra tanpa jeda. Suaranya rendah, namun sarat akan kepanikan yang tak bisa disembunyikan.

"T-tapi Dokter, ada dua jadwal kraniotomi evaluasi pagi ini—"

"Alihkan ke Dokter Rendy. Saya ada urusan darurat keluarga yang tidak bisa ditinggalkan. Sekarang," potong Ivandra cepat sebelum mematikan sambungan secara sepihak.

Pria itu bergegas bangun, mengambil tas medis darurat yang selalu ia simpan di ruang kerja, lalu menyiapkan tiang infus, cairan ringer laktat, serta obat analgesik dan antipiretik dosis tinggi. Ivandra membalut tubuhnya sendiri dengan celana kaus santai, lalu kembali ke tepi ranjang.

Dengan sangat hati-hati dan cekatan sebagai seorang dokter, Ivandra memasangkan IV cannula di punggung tangan mungil Aini, menghubungkannya dengan selang infus untuk mengatasi dehidrasi dan penurunan kondisi fisik istrinya.

Setelah cairan infus mengalir, Ivandra melangkah ke kamar mandi untuk mengambil baskom berisi air hangat dan selembar handuk halus. Ia kembali duduk di tepi ranjang, menyeka tubuh Aini dengan teramat lembut. Dengan kepanikan murni seorang suami yang didera dosa mendalam, Ivandra membasuh peluh di wajah, leher, hingga mengompres lebam-lebam di kulit mulus istrinya. Setiap kali jemarinya menyentuh area lebam ungu tersebut, dadanya terasa dihantam sembilu tajam.

"M-Mas... perih... jangan..." gatau Aini lagi, matanya masih terpejam rapat dalam cengkeraman demam.

Hati Ivandra mencelos. Ia menggenggam tangan dingin Aini yang terpasang infus, menempelkannya ke pipinya sendiri. "Aini... Maafkan saya... saya mohon, maafkan saya..."

Usapan hangat dan cairan obat dari infus perlahan-lahan menurunkan suhu tubuh Aini. Kelopak matanya yang berbulu lentik bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka perlahan. Manik matanya yang jernih tampak redup, terbingkai rasa lelah, pening, dan luka mendalam.

Begitu menyadari keberadaan Ivandra yang duduk di sampingnya serta selang infus yang tertancap di tangannya, Aini tersentak pelan. Refleks, ia berusaha menarik tubuhnya mundur dan makin mengencangkan gulungan selimut di dadanya.

Aini memalingkan wajahnya ke arah jendela, enggan menatap manik mata pria di sampingnya.

"Aini..." panggil Ivandra lembut, suara berbaritonnya kini terdengar sangat serak dan rendah. "Bagaimana perasaanmu? Mana yang masih terasa sangat sakit? Infusnya sudah masuk, obatnya akan segera bekerja."

"Jangan sentuh saya, Dokter Ivandra," potong Aini. Suaranya terdengar sangat pelan dan serak, namun dinginnya kata-kata itu sanggup membekukan udara di dalam kamar.

Ivandra tertegun di tempatnya. Panggilan "Dokter Ivandra" yang kembali terucap dari bibir Aini terasa jauh lebih merajam daripada bentakan keras.

"Aini, saya tahu saya bersalah..." Ivandra memajukan tubuhnya, menatap profil samping wajah Aini dengan pendar mata yang sarat akan permohonan tulus. "Semalam saya di luar kendaliku... Teh herbal dari Mama... saya tidak tahu kalau Mama memasukkan ramuan pemicu gairah itu. Tapi saya tahu itu bukan alasan untuk membenarkan perlakuanku padamu. saya sungguh menyesal, Aini. Tolong, tatap saya..."

Aini tetap memalingkan wajahnya. Sebuah tetes air mata bening lolos menetes menyusuri pipinya yang pucat, meresap ke dalam bantal.

"Apakah teh dari Mama juga yang menyuruh Anda untuk mengabaikan jeritan saya semalam, Mas?" tanya Aini lirih. Setiap kata yang keluar dari bibirnya sarat akan luka emosional yang amat dalam. "Saya sudah memohon... Saya mengingatkan Anda soal perjanjian kita... Tapi Anda bilang persetan dengan kontrak itu."

Ivandra membisu. Tenggorokannya serasa tersekat batu besar. Kata-kata kasar yang dulu ia lontarkan dalam kepungan gairah kini kembali menampar dirinya tanpa ampun.

"Aini, demi Allah... saya tidak bermaksud menyakitimu sampai seperti ini—"

"Cukup, Mas," sela Aini pelan, menahan napasnya yang terasa berat. Ia mengusap air matanya dengan ujung selimut tanpa sedikit pun menoleh pada Ivandra. "Kontrak yang Anda susun sendiri sudah hancur. Anda sendiri yang meruntuhkan batasan yang selama ini saya jaga."

Aini menarik napas panjang, menata suaranya agar tak bergetar. "Tolong tinggalkan saya sendiri di kamar ini. Saya butuh istirahat."

Ivandra mengepalkan tangannya di atas pangkuan hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa bersalah yang mendalam bercampur ketakutan akan kehilangan Aini meremas dadanya begitu sesak. Pria angkuh itu kini tak memiliki daya sedikit pun di hadapan luka dan lebam yang ia torehkan pada tubuh dan hati istrinya.

"Baik... Aku akan di luar," tutur Ivandra dengan nada suara yang teramat serak dan kalah. "Jika cairan infus itu habis atau kamu butuh sesuatu... panggil aku, Aini."

Ivandra bangkit perlahan dari tepi ranjang. Langkah kakinya terasa amat berat saat berjalan menuju pintu kamar. Sebelum melangkah keluar, ia sempat menoleh sekilas, menatap figur mungil istrinya yang membelakanginya dalam keheningan yang menyayat hati.

Pintu kamar tertutup dengan bunyi klik yang halus. Aini memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan air matanya tumpah dalam diam di balik selimut tebal, menyadari bahwa pernikahan rahasia mereka kini telah memasuki babak baru yang teramat rumit, menyakitkan, dan penuh trauma.

Bersambung.

1
Anonim
kocak
Yensi Juniarti
lah kelanjutannya kepiye Bu ibuuuuuu 😭😭😭
jangan gantung rasa penasaran saya... saya masih ngebayangin gimana cerita si Aini sama dokter 2 pintu itu di rumah sakit selama masa kehamilannya Aini 🥺🥺🥺
Shuttttttttttt
fackyuuuu TAMAT?
zamiyatin nafifah
looo kak kok uda tamat aja pdhaal suka dengan crtnya
imel
apa sih jangan touch.. memang artinya sentuh tapi kurang enak bacanya. maaf
Anonim
CRAZY UP THOR
Anonim
crazy up thor
Anonim
up thor
Shuttttttttttt
pls crazy up thooor
Anonim
crazy up
Anonim
crazy up thor
Ai Nurlaela Jm
karyamu kereen Thor
Anonim
crazy up thor
Anonim
crazy up
Putry Chan
dokter pria itu serem deh bikin merinding jangan sampai ketemu lagi
mampir ya ke novel ku
Putry Chan
Aini Mungkin kmu sedikit ceroboh
Putry Chan
maaf gak sengaja kau pikir aku buta 🙄
Putry Chan
semangat Aini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!