NovelToon NovelToon
Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sibee

Gara gara terlibat balapan liar berujung skandal di ibu kota, Arkananta Dewangga Tuan muda berusia 25 tahun yang tampan, angku, dan gila hormat. Harus menerima hukuman paling gila dalam hidupnya. Sang ayah membekukan fasilitas mewahnya dan membuangnya ke sebuah desa terpencil. Perintahnya mutlak: "Jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa hidup mandiri."

Di Desa Sukmawarna, semua uang dan keangkuhan Arkan tidak berlaku, alih-alih hidup manja. ia harus menghadapi di siplin ketat dari Pak Barkah, yang tidak mempan di sogok. Dirumah pedesaan yang sederhana itu, Arkan di paksa turun ke ladang berlumpur jika tidak ingin kelaparan dan tidur di teras bersama nyamuk kebun.

Di tengah siksaan fisik dan kejutan budaya yang menguras emosi, takdir mempertemukannya dengan Nayla Rahmadania, gadis desa lulusan sarjana yang mandiri dan begitu tegas.

sanggupkah sang tuan muda bertahan melewati ujian berat ini, ataukah ia memilih menyerah dan memilih cara untuk kabur kembali ke kemewahan kota?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Aturan di Rumah Mbah Harjo

Nayla melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Arkan dengan pandangan menantang yang berani. Sementara Arkan, yang selama dua puluh lima tahun hidupnya selalu ditakuti, dihormati, dan dipuja sebagai pewaris tunggal Dewangga Group, mendadak kehilangan kata-kata. Rahangnya mengeras menahan dongkol yang luar biasa. Jiwa arogannya bergejolak hebat mendapati seorang gadis desa berani mengibarkan bendera perang di depannya.

"Kamu..." Arkan menunjuk wajah Nayla dengan jari telunjuknya yang bersih tanpa cela. Ia melangkah maju satu langkah besar, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma wangi parfum mahal Arkan berbenturan dengan aroma segar bedak dingin yang dipakai Nayla. "Kamu tahu sedang bicara dengan siapa? Berani sekali kamu lancang begitu?"

Nayla sama sekali tidak bergeming atau mundur setapak pun. Ia justru mendongakkan wajahnya yang manis, menatap langsung ke dalam manik mata cokelat gelap Arkan yang sedang memancarkan amarah membara. "Saya tahu betul. Kamu Arkananta Dewangga, kan? Anak kota manja yang dikirim paksa oleh ayahnya ke Desa Sukmawarna karena suka bikin onar di Jakarta. Mbah Harjo sudah menceritakan semuanya kepada kami sebelum kamu menapakkan kaki di sini."

Skakmat.

Kata 'dikirim paksa' itu benar-benar menancap telak dan merobek harga diri Arkan yang setinggi langit. Wajah tampannya seketika memerah menahan malu sekaligus murka karena aibnya diketahui oleh orang asing.

Baru saja Arkan ingin membuka mulut untuk membalas ucapan tajam gadis itu dengan ancaman khasnya, sebuah suara berat, serak, dan penuh wibawa mendadak memotong dari arah pintu masuk belakang dapur.

"Ada apa ini? Siang-siang begini sudah ada ribut-ribut di dapur?"

Seorang pria paruh baya bertubuh kekar, tegap, dengan kulit sawo matang yang terbakar matahari melangkah masuk ke dalam area dapur yang sejuk. Pria itu mengenakan kaus oblong abu-abu sederhana yang sudah agak pudar warnanya dan celana kain longgar yang bagian bawahnya sedikit terkena noda tanah kering. Di pundaknya yang lebar, bertengger sebuah cangkul besi yang tampak tajam. Dialah Pak Barkah, suami dari Bude Lastri sekaligus menantu dari Mbah Harjo yang sangat disegani.

Nayla yang semula memasang wajah ketus, seketika mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih lembut dan penuh hormat. "Eh, Pak Barkah. Ini, Nayla baru saja mau mengantarkan rantang lauk dari Ibu untuk Mbah Harjo dan keluarga di sini. Tapi saat di dapur, malah ketemu... tamu kota ini." Nayla melirik Arkan sekilas dengan sudut matanya yang sinis.

Pak Barkah menurunkan cangkulnya dengan perlahan, menyandarkannya di sudut dinding luar dapur. Setelah itu, ia membalikkan badan dan menatap Arkan dengan pandangan menilai yang sangat tajam dan mendalam. Tatapan Pak Barkah adalah tipe tatapan pria dewasa pedesaan yang sudah banyak makan asam garam kehidupan, membuat Arkan secara tidak sadar menelan ludahnya sendiri. Keangkuhan Arkan mendadak sedikit menciut di depan aura tegas pria kekar berwajah jujur ini.

"Oh, jadi kamu Arkan? Anak dari Bramantyo?" tanya Pak Barkah dengan nada suara datar namun berbobot. Pria paruh baya itu mengulurkan tangannya yang besar, kasar, dan dipenuhi kapalan akibat puluhan tahun bekerja di ladang. "Saya Barkah. Suami dari Lastri, anak perempuan Mbah Harjo pemilik rumah ini. Di rumah pedesaan yang sederhana ini, saya yang bertanggung jawab atas segala kebersihan, keamanan, dan aturan harian."

Arkan menatap telapak tangan Pak Barkah yang sedikit kotor terkena sisa-sisa tanah ladang dengan dahi berkerut ragu. Namun, melihat tatapan mata Pak Barkah yang mengintimidasi dan tak kenal takut, Arkan terpaksa mengulurkan tangannya dan menjabat tangan kasar itu sekilas demi kesopanan. "Arkan," jawabnya singkat tanpa ekspresi.

"Bagus kalau begitu," Pak Barkah melepaskan jabatannya, lalu menepuk pundak Arkan dengan cukup keras hingga pria kota itu sedikit terhuyung ke depan. "Mumpung ada Nayla di sini, kalian bisa langsung berkenalan dengan baik. Nayla ini sarjana lulusan kota kabupaten terdekat. Dia anak yang cerdas dan paling paham seluk-beluk serta potensi di Desa Sukmawarna ini."

Arkan mendengus pelan sambil membetulkan posisi kemeja mahalnya yang kusut akibat tepukan Pak Barkah. "Saya tidak butuh berkenalan dengan dia. Saya hanya butuh air minum dan istirahat," potong Arkan ketus.

Pak Barkah tidak tersinggung dengan kepongahan Arkan. Beliau justru melangkah menuju kendi tanah liat, menuangkan air putih jernih ke dalam sebuah gelas beling polos, lalu menyodorkannya kepada Arkan. "Minum dulu. Biar kepalamu yang panas itu dingin."

Arkan yang memang sudah sangat kehausan tidak bisa menolak lagi. Ia menerima gelas itu dan meminumnya hingga tandas. Rasa dingin dan segar yang alami dari air kendi itu langsung membasahi tenggorokannya yang kering, memberikan sedikit rasa nyaman yang tak terduga.

Setelah Arkan meletakkan gelasnya, Pak Barkah kembali bersedekap dada di depan meja dapur. "Bramantyo, ayahmu, menelpon saya tadi pagi sebelum kamu sampai. Dia menitipkan pesan penting. Di rumah ini, tidak ada yang namanya perlakuan khusus untuk Tuan Muda dari kota."

Arkan langsung menatap Pak Barkah dengan tajam. "Maksud Anda apa?"

"Maksud saya, aturan di rumah ini sangat sederhana," jawab Pak Barkah dengan senyuman tipis yang membuat Arkan merasa tidak enak hati. "Mulai besok pagi, kamu harus ikut saya bekerja ke ladang. Kamu harus belajar bagaimana cara memeras keringat di atas tanah jika ingin mendapatkan sesuap nasi. Di desa ini, kami tidak mengenal uang digital atau kartu kredit mewahmu yang sudah diblokir itu."

"Apa?! Ke ladang?!" Arkan berteriak dengan nada suara yang naik dua oktav. Wajahnya dipenuhi ekspresi horor seolah-olah baru saja disuruh masuk ke dalam sarang singa. "Saya tidak pernah menyentuh tanah lumpur seumur hidup saya! Ayah saya mengirim saya ke sini hanya untuk menenangkan diri, bukan untuk menjadi kuli ladang!"

Nayla yang masih berdiri di sudut dapur menahan tawanya melihat wajah panik sang Tuan Muda. Ia bergumam pelan namun cukup keras untuk didengar Arkan, "Manja sekali."

Arkan menghujamkan tatapan membunuh ke arah Nayla. "Diam kamu! Jangan ikut campur!" bentaknya kesal.

"Arkananta!" suara Pak Barkah mendadak meninggi dan terdengar menggelegar di dalam dapur, membuat Arkan seketika bungkam dan menoleh kembali ke arah pria paruh baya itu. Tatapan Pak Barkah kini benar-benar dingin tanpa kompromi. "Jaga bicaramu di depan anak gadis orang. Di Desa Sukmawarna, kesopanan adalah hal nomor satu."

Pak Barkah melangkah satu langkah lebih dekat ke arah Arkan, membuat bayangan tubuh kekarnya menutupi tubuh Arkan. "Aturannya mudah, Tuan Muda. Kamu ikuti kata-kata saya dan ikut bekerja besok pagi, atau kamu silakan keluar dari rumah ini, tidur di teras bersama nyamuk kebun, dan kelaparan tanpa sebutir nasi pun. Pilih mana?"

Arkan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi tubuhnya hingga buku-buku jarinya memutih bersih. Kamar yang pengat dan sempit, kasur kapuk yang keras, tidak ada pelayan pribadi, tidak ada uang di dompet, dan sekarang dia diancam akan diusir dan kelaparan oleh seorang pria desa. Ini adalah titik terendah dan mimpi buruk paling gila yang pernah dialami oleh seorang Arkananta Dewangga.

Di sudut dapur, Nayla diam-diam tersenyum puas melihat keangkuhan sang Tuan Muda kota mulai terpatahkan oleh ketegasan Pak Barkah. Namun, senyuman puas di wajah manis Nayla itu tidak bertahan lama saat Pak Barkah tiba-tiba menoleh ke arahnya.

"Nayla, besok pagi sepulangmu dari balai desa, tolong hantarkan bekal makan siang ke ladang timur, ya? Sekalian kamu tunjukkan jalan pulang pada Arkan nanti siang, karena saya harus melanjutkan pekerjaan sampai sore," ujar Pak Barkah santai. Nayla tertegun, senyumnya langsung lenyap digantikan oleh wajah cemberut yang masam. "Tapi, Pak Barkah—"

"Tidak ada tapi-tapi. Rumah kalian kan searah jalur ladang," potong Pak Barkah mutlak sambil meraih kembali cangkulnya. Beliau kemudian menatap Arkan yang masih berdiri mematung menahan amarah yang membara di dalam dadanya. "Bagaimana, Arkan? Mau bersiap untuk makan malam di dalam rumah bersama keluarga saya nanti, atau mau mulai mencari tempat tidur yang nyaman di bawah pohon mangga luar sana?"

Arkan menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam detak jantungnya yang berpacu cepat karena emosi yang meluap-luap. Ia menatap Pak Barkah dan Nayla bergantian dengan tatapan penuh dendam yang membara, menyadari bahwa ia benar-benar telah terjebak di dunia nyata yang kejam ini.

1
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian Author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya Author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!