NovelToon NovelToon
Pendekar Sang Penakluk

Pendekar Sang Penakluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Bima Samudra, pemuda tampan dan jenius yang hidup terisolasi di puncak Gunung Lawu bersama seorang guru cantik dan tujuh kakak seperguruan yang luar biasa cantik. Di era modern yang penuh kebisingan, Bima justru ditempa dalam kesunyian, menguasai bela diri kuno dan ilmu pengobatan warisan leluhur. Mereka semua menyayanginya lebih dari nyawa mereka sendiri. Hingga sebuah takdir memanggil ketujuh kakaknya untuk turun gunung kembali ke hiruk-pikuk kota. Dan dari sinilah, rahasia besar tentang jati diri Bima yang sesungguhnya mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: PERTEMUAN KEMBALI DENGAN KAKAK SEPERGURUAN

Setelah sampai di dalam restoran padang mewah di Jalan Slamet Riyadi itu, Bima Samudra langsung duduk dengan tenang di sebuah meja makan di sudut ruangan yang telah disiapkan dengan cepat oleh pelayan yang masih gemetar karena takut.

Bima memesan teh jahe hangat dan beberapa makanan mewah khas Solo, ada sate buntel, tengkleng, dan nasi liwet. Sambil makan dengan santai, Bima terus menggunakan indra pendengaran dewa nya yang sangat tajam untuk mencari informasi tentang keberadaan Organisasi Tujuh Bidadari dari percakapan orang-orang di sekitar restoran.

Saat sedang duduk santai menikmati teh jahe nya yang hangat, tiba-tiba tubuh Bima sedikit bergetar.

Bima merasakan sebuah aura yang sangat dia kenal, aura yang lembut, hangat, dan sangat dia rindukan sejak kecil di Gunung Lawu. Aura itu berada tepat di lantai atas restoran ini.

Seketika Bima pun tersenyum tipis dengan bahagia, matanya berbinar.

"Ternyata ada di sini... Dunia ini memang sungguh sempit dan penuh jodoh," gumam Bima sambil tersenyum penuh arti.

Sementara itu, di lantai atas, di sebuah ruangan VIP yang mewah dan tertutup, ada seorang wanita cantik yang sedang memimpin rapat penting. Wanita itu sangat cantik, berkulit putih bersih seperti salju, dengan postur tubuh yang sangat indah dan anggun. Dia mengenakan blazer putih yang elegan. Dialah Sinta Maharani, kakak seperguruan pertama Bima.

Saat sedang fokus berbicara tentang perkembangan bisnis di depan para manajer, tiba-tiba langkahnya terhenti. Dia merasakan sesuatu.

Tiba-tiba wanita itu mendengar sebuah suara yang sangat dia kenal, suara yang langsung masuk ke dalam benaknya melalui telepati jiwa.

"Kak Sinta... apakah Kakak tidak merindukan ku, sehingga Kakak tidak mau menemui ku di bawah...?"

Iya, suara itu adalah suara Bima Samudra yang mengirimkan pesan telepati langsung kepada wanita itu, yang tak lain adalah salah satu dari tujuh kakak seperguruannya yang paling menyayanginya.

"Haaaaa..."

Sinta terkejut setengah mati, wajahnya yang tadinya tegas dan dingin seketika berubah pucat dan matanya langsung berkaca-kaca. Tangannya yang memegang berkas sampai gemetar.

"Benarkah itu kamu, Bima...? Bima...?" bisiknya dengan suara bergetar.

Tanpa mempedulikan rapat penting yang masih berlangsung, wanita cantik itu langsung berlari keluar dari ruangan rapat, mencari sumber suara telepati itu dengan panik.

Orang-orang yang ada di dalam ruangan rapat itu pun bingung setengah mati melihat tingkah laku pemimpin mereka yang biasanya sangat tenang, dingin, dan profesional itu tiba-tiba berlari seperti anak kecil yang kehilangan mainan.

Setelah turun ke lantai bawah dengan menggunakan tangga darurat karena tidak sabar menunggu lift, dia melihat seorang pria yang duduk dengan sangat santai di sudut ruangan, meminum teh. Sosok itu, punggung itu, senyuman itu, sangat dia kenal, bahkan dalam mimpinya sekalipun.

"Bimaaaaa...!" teriak Sinta dengan suara yang pecah karena menahan tangis.

Begitu melihatnya, Sinta langsung berlari sekencang-kencangnya dan langsung memeluk Bima dengan sangat erat dari belakang, tanpa peduli dilihat oleh ratusan orang yang ada di restoran itu. Air matanya langsung mengalir deras membasahi bahu Bima.

"Bima, kemana saja kamu selama ini...? Aku sangat merindukan mu, kami semua sangat merindukan mu... Kenapa kamu tidak menemui Kakak dari tadi...?" kata Sinta sambil terisak di dalam pelukan Bima.

"Kak Sinta, tadi aku sebenarnya sudah kesini dari tadi pagi, tapi karena pakaian ku yang masih seperti orang zaman kerajaan Mataram kuno, jadi aku langsung diusir oleh satpam di depan dengan kasar," jelas Bima dengan wajah yang dibuat-buat mengeluh dan manja seperti adik kecil, agar kakaknya merasa kasihan.

Mendengar itu, Sinta yang tadinya menangis haru seketika berubah menjadi emosi yang meluap-luap, matanya yang indah kini memancarkan amarah yang dingin.

Sementara Bima terus melanjutkan ceritanya dengan nada memanas-manasi kakak seperguruannya itu dengan sengaja.

"Jadi aku terpaksa pergi jauh dulu mencari uang untuk membeli pakaian baru seperti orang kota, agar bisa masuk ke restoran Kakak sendiri. Peraturan di dunia bawah ini sangat menyedihkan, Kak, hanya karena pakaian, orang dinilai hina," tambah Bima yang membuat emosi Sinta yang sudah tinggi jadi meledak seketika.

"Siapa tadi yang berani mengusir adik ku dari restorannya sendiri...!?" bentak Sinta dengan suara yang sangat keras dan berwibawa, sambil mengeluarkan sedikit aura penekannya yang membuat semua orang di dalam restoran itu seketika merasa sesak napas dan lutut mereka lemas.

Sementara dua orang satpam yang tadi mengusir Bima dengan kasar, sudah mati rasa dan pucat pasi karena ketakutan, tubuh mereka gemetar hebat sampai tidak bisa berdiri.

Orang-orang yang tadi menertawakan Bima di dalam restoran juga sudah ketakutan setengah mati, mereka baru tahu bahwa Sinta Maharani adalah salah satu petinggi dan pendiri dari Organisasi Tujuh Bidadari, organisasi wanita paling berpengaruh dan paling ditakuti di Kota Solo, yang bisa membuat bisnis seseorang bangkrut hanya dengan satu telepon saja. Mereka tak menyangka pria berpenampilan aneh yang mereka tertawakan tadi pagi ternyata adalah adik kesayangan dari petinggi organisasi itu.

Perlahan-lahan, dengan langkah yang anggun namun penuh amarah, Sinta berjalan menuju para penjaga yang tadi mengusir Bima.

"Sejak kapan restoran milik keluarga kita ini membuat aturan untuk membatasi dan memilih-milih orang untuk makan di sini...? Selagi mereka datang dengan sopan dan membayar dengan jujur, mereka berhak makan di sini dengan nyaman...!" kata Sinta dengan dingin.

Setelah berkata demikian, Sinta menendang dengan keras ke arah betis para penjaga itu hingga mereka terjatuh dan meringis kesakitan, bukan tendangan yang mematikan, namun cukup untuk memberi pelajaran.

Mereka hanya bisa pasrah menerima nasib, menundukkan kepala.

Tapi saat Sinta ingin kembali menghajar para penjaga itu karena masih belum puas, Bima dengan cepat menghentikannya. Bima langsung berjalan ke sisi Sinta sambil memegang tangannya dengan lembut.

"Kak Sinta, sudah, Kak, tak perlu membunuh atau melukai mereka terlalu parah, itu sangat tidak pantas dan tidak sepadan untuk tangan Kakak yang begitu mulus dan cantik ini menjadi kotor karena mereka," kata Bima dengan suara lembut.

Mendengar rayuan manis dari adiknya itu, Sinta yang tadinya sangat marah seketika jadi tersipu malu, pipinya memerah, tapi dia berusaha menahannya agar tetap terlihat galak di depan orang-orang.

"Kali ini, berkat kebaikan hati dan kemurahan hati dari adik ku, Bima, kalian aku lepaskan. Jika bukan karena Bima yang memohon untuk kalian, aku pasti akan memecat kalian dan memastikan kalian tidak akan pernah bisa bekerja lagi di seluruh Kota Solo ini beserta semua keluarga kalian," kata Sinta dengan tegas.

Merasa telah diampuni dan diberi kesempatan kedua, para penjaga itu langsung berlutut dan berterima kasih dengan tulus kepada Bima.

"Terima kasih banyak atas kemurahan hati Tuan Muda Bima, terima kasih banyak, Tuan Muda... Maafkan kami yang buta..."

"Sudah, bangunlah. Lain kali jangan pernah lagi merendahkan orang lain hanya karena penampilannya. Selagi dia adalah manusia yang datang dengan baik, kita ini sama. Hanya sedikit keberuntungan saja yang kita dapatkan lebih dulu, tidak sepantasnya kita merendahkan orang lain yang kurang beruntung," kata Bima dengan bijak sambil berlalu pergi kembali ke dalam restoran dengan menggandeng tangan Sinta yang halus, yang membuat Sinta merasa gugup dan jantungnya berdebar kencang, karena sudah lama sekali dia tidak digandeng seperti itu oleh adiknya.

Kini Sinta membawa Bima masuk ke dalam ruangan privat VIP yang paling mewah di lantai tiga, ruangan yang tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang.

Sesampainya di dalam ruangan yang sepi dan harum itu, Sinta kembali tidak bisa menahan rindunya, dia langsung membenamkan dirinya kembali ke dalam pelukan Bima yang hangat dan kokoh, memeluknya dengan sangat erat.

"Bima, kemana saja kamu selama ini...? Kami semua sangat mengkhawatirkan mu setiap hari, setiap malam. Meski Guru Ratu Ayu Kirana bilang kamu pasti akan baik-baik saja dan akan kembali, kami tetap saja sangat khawatir dan tidak bisa tidur nyenyak," kata Sinta dengan suara yang masih terisak.

Mendengar itu, Bima merasa sangat hangat dan terharu di dalam hatinya, karena dia tahu ketujuh kakak seperguruannya itu memang sangat menyayangi dan memanjakannya sejak kecil di Gunung Lawu. Tapi di sisi lain, dia juga merasa sangat bersalah dan tidak enak hati, karena selama dia berada di dunia kultivasi kuno, dia malah bersenang-senang dan menikahi tujuh orang istri yang cantik. Jika kakak-kakak seperguruannya yang sangat pencemburu itu tahu, dia bisa habis dihajar dan diceramahi selama tujuh hari tujuh malam oleh mereka semua. Jadi untuk sementara, Bima memutuskan untuk menunggu waktu yang paling tepat untuk menjelaskan semuanya dengan jujur.

"Maafkan aku, Kak Sinta, yang telah membuat kalian semua khawatir dan cemas selama ini," kata Bima dengan suara yang lembut dan penuh penyesalan sambil mengelus punggung kakaknya.

"Sekarang ceritakan kepada Kakak, kemana saja kamu selama ini menghilang...?"

"Nanti saja, Kak, ceritanya akan sangat panjang. Nanti setelah kita berkumpul bersama dengan kakak-kakak yang lainnya, baru aku ceritakan semuanya sekaligus. Jika aku cerita sekarang kepada Kak Sinta, nanti jika bertemu yang lain, aku harus bercerita lagi dari awal, aku akan kehabisan suara," jawab Bima.

Melihat ekspresi Bima yang memelas dan manja seperti anak kecil itu, Sinta pun tak berdaya dan luluh.

"Yah sudah, kalau begitu sekarang kita langsung kembali saja ke markas besar Organisasi Tujuh Bidadari di pusat kota. Kakak-kakak mu yang lain pasti akan sangat terkejut dan bahagia melihat mu sudah pulang," kata Sinta.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Bima dan Sinta pun turun dari lantai atas sambil bergandengan tangan dengan mesra, tanpa menghiraukan tatapan kaget dan iri dari semua orang, para pelayan dan pengunjung yang melihat mereka.

Bima dan Sinta masuk ke dalam sebuah mobil sport mewah berwarna merah Ferrari milik Sinta. Sinta melajukan mobilnya dengan sangat cepat dan dengan teknik mengemudi yang sangat mahir dan agresif di jalanan Kota Solo yang padat. Dia sudah tidak sabar ingin segera menyampaikan kabar gembira tentang kedatangan Bima kepada saudara-saudarinya yang lain di markas.

Sementara Sinta fokus mengemudi dengan serius, Bima juga fokus menatap ke arah wajah cantik Sinta dari samping, menatapnya tanpa berkedip.

Melihat tatapan nakal dan berani dari adiknya itu dari ekor matanya, Sinta jadi salah tingkah dan wajahnya memerah.

"Apakah kamu tidak lelah menatap Kakak terus sedari tadi, Bima...? Awas nanti mata mu sakit," kata Sinta dengan gugup.

Tanpa sadar dan tanpa berpikir, Bima menjawab dengan jujur,

"Jika menatap keindahan seindah Kakak seperti ini, mana mungkin aku bisa merasa lelah, Kak. Mata ku justru menjadi segar kembali."

"Dasar adik nakal, mulut mu makin pintar saja merayu Kakak," kata Sinta yang wajahnya sudah memerah seperti buah tomat karena malu, namun di dalam hatinya dia merasa sangat senang dan berbunga-bunga.

Takut Sinta akan benar-benar marah dan menabrak mobil, Bima segera mengalihkan topik pembicaraan dengan cepat.

"Kak Sinta, apakah Guru Ratu Ayu Kirana juga ada di markas Organisasi Tujuh Bidadari sekarang...?"

"Setelah aku kembali dari Air Terjun Tujuh Warna, aku tidak menemukan Guru di tempat awal kami berpisah, hanya ada pesan tugu batu di sana agar aku mencari kalian di Organisasi Tujuh Bidadari," kata Bima.

Sinta menghela napas pelan, wajahnya menjadi sedikit sendu.

"Guru Ratu Ayu Kirana memang pernah menemui kami di markas sekitar dua bulan yang lalu, tapi hanya sebentar saja. Guru berpesan kepada kami semua untuk menunggu mu kembali dan merawat mu baik-baik jika kamu sudah pulang. Guru sangat menyayangi mu, Bima. Padahal kamu sudah besar dan sudah menjadi laki-laki yang gagah, Guru tetap saja menyuruh kami merawat mu sebaik mungkin, memandikan mu, menyuapi mu, seperti dulu waktu kecil," kata Sinta sambil tersenyum.

"Dan Guru bilang, jangan khawatir, kamu pasti akan kembali dengan selamat. Tapi kepergian mu yang begitu lama tanpa kabar yang jelas kemana, tentu membuat kami semua sangat khawatir setengah mati."

"Setelah berkata begitu, Guru langsung pergi lagi dengan terburu-buru. Dia tidak memberi tahu kami dia mau pergi kemana, tapi dia bilang, jika memang berjodoh, pasti akan bertemu lagi suatu saat nanti. Jadi dia mempercayakan mu sepenuhnya kepada kami, ketujuh kakak mu," jelas Sinta dengan wajah yang sedikit memerah karena mengingat pesan Guru yang agak berlebihan itu.

Bima mendengarkan dengan sangat baik sambil berpikir keras di dalam benaknya.

"Apa yang sebenarnya Guru lakukan, kenapa dia berpesan akan bertemu jika berjodoh...? Apakah Guru sedang dalam bahaya atau sedang mengejar sesuatu yang penting...?" pikir Bima dengan cemas.

Seolah-olah bisa membaca pikiran adiknya, Sinta pun berkata dengan lembut,

"Sudah, Bima, tidak perlu terlalu khawatir memikirkan Guru. Kita semua tahu kehebatan Guru Ratu Ayu Kirana. Di dunia modern ini, bahkan di seluruh Nusantara, sangat sedikit orang yang mampu melukai Guru. Guru adalah wanita terkuat yang pernah Kakak kenal."

"Kakak benar," jawab Bima.

"Kakak sepertinya sangat meremehkan adik mu ini. Adik mu ini bukan lagi anak kecil yang dulu suka menangis minta digendong di Gunung Lawu. Adik mu ini sekarang sudah tumbuh menjadi seorang laki-laki yang perkasa dan dewasa," jelas Bima dengan senyum nakalnya yang khas, sambil sedikit membusungkan dadanya.

Mendengar kata perkasa yang diucapkan Bima dengan penekanan, yang ada di dalam pikiran Sinta yang sudah dewasa adalah hal-hal yang agak jauh dan romantis. Tanpa sadar, dia melirik dan menatap Bima dari atas sampai bawah, melihat tubuh Bima yang kini memang jauh lebih tinggi, lebih gagah, dan lebih berotot dari sebelumnya.

Hingga dia tersadar dari lamunannya karena suara Bima yang menggodanya.

"Bagaimana, Kak Sinta, apakah Kakak sudah bisa melihat dengan jelas keperkasaan adik mu ini...?"

Sinta tersadar dengan sangat malu, wajahnya merah padam, dia langsung berteriak kecil sambil tetap fokus menyetir,

"Dasar adik tidak tahu malu...! Memang kamu pikir apa yang sedang Kakak pikirkan...! Kakak hanya memastikan keadaan mu baik-baik saja dan tidak terluka, tidak lebih...!" elak Sinta dengan gugup.

"Aku hanya bertanya saja dengan tulus, Kak, kenapa jadi marah begitu...? Wanita memang aneh dan sulit dimengerti," gumam Bima dalam hati sambil tersenyum jahil melihat kakaknya yang salah tingkah.

Mobil sport merah itu pun melaju semakin kencang membelah jalanan Kota Solo, membawa mereka berdua kembali menuju sebuah takdir baru di markas Organisasi Tujuh Bidadari.

BERSAMBUNG

1
Night Watcher
bosen....
kelamaan, berapa bab yg ada cuma rencana mulu. banyakan drama gak jadi² ke padepokan.🤦
Night Watcher
berarti, kemanapun bima pergi, mereka selalu ikut dong?🤭🤭🤭
Night Watcher
bima masa ikut disebut?🤭🤭
Night Watcher
ternyata masih terjebak di jaman kerajaan. 😇😇🤭🤦
Night Watcher
padahal yg cerita tadi intan & amel, berarti penjaga gerbangnya intan & amel ya? 🤭🤭
Night Watcher
padahal dr sejak awal bertemu bima, intan bercerita "adiknya sedang sakit parah".
sekarang setelah sembuh berubah jadi kakaknya..
priwe mbok thor?
fareva: Halo kak Night Watcher, terima kasih banyak sudah sangat jeli, ini mata pembaca Lv20 memang beda 🙏

Untuk ini saya luruskan biar tidak bingung ke depannya ya:

1. Nama yang benar adalah "Amelia Sri Anggrek" itu adalah nama draft lama sebelum revisi besar. Jadi sekarang semua sudah saya ganti konsisten menjadi Amelia.

2. Statusnya Amelia adalah "Adik" dari Intania. Intania itu Kakak Tertua sekaligus Ketua Perguruan Anggrek Putih di Ngargoyoso, dan Amelia adalah adik kandung kesayangannya yang sakit racun dingin itu.

Terima kasih sudah diingatkan, Sehat selalu kak!
total 1 replies
Night Watcher
yg benar namanya "amelia" atau "sari anggrek"?
terus setatusnya "adik" atau "kakaknya" intan?
fareva: Wah terima kasih koreksinya kak, jeli banget.

Yang benar Amelia ya kak. Sari Anggrek itu nama lama sebelum revisi, jadi ada beberapa bab awal yang kelewat belum keganti.

Dan Amelia itu statusnya adiknya Intania, bukan kakaknya.

Sudah saya catat, akan saya bereskan biar konsisten ke depan. Thanks kak!
total 1 replies
Night Watcher
ternyata yg bisa hidup di alam ini hanya satu pria, sisanya wanita semua... 😂😂😂😂🤭
Night Watcher
gak s4 pamit / ketemu sama bu guru ya pas mau turun gunung? atau aku yg kelewat bacanya?
fareva: Kakak tidak kelewat baca kok, memang sengaja tidak saya tulis pamitnya.

Perpisahan Bima Samudra dengan Gurunya, Ratu Ayu Kirana, di puncak Gunung Lawu itu bukan perpisahan biasa. Itu akan jadi salah satu misteri besar dan kunci utama di Babak IV nanti, kenapa Guru meninggalkan pesan "Jika berjodoh pasti bertemu lagi".

Jadi bukan dilupakan, tapi memang sengaja saya simpan untuk plot twist besarnya. Tungguin ya, nanti akan dijelaskan kenapa Guru harus pergi diam-diam.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!