sejak lahir, dia tak sempurna.
ibunya ditinggalkan pergi oleh sang ayah, saat ia masih dalam kandungan.
sang ibu mengandung seorang diri, karena bapaknya pergi mencari nafkah dan biaya persalinan sang ibu.
sampai ia lahir ayahnya tak menghendakinya dan datang membawa madu untuk ibunya.
sejak lahir penduduk desa mengatakannya pembawa petaka, karena ia lahir tak sempurna. kini ia hidup berdua bersama sang ibu.
sementara sang ayah pergi dengan wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Kutukan
Matahari di Kolorai selalu terbit lebih dulu daripada di tempat lain di Indonesia. Jam lima pagi, langit sudah oranye menyala.
Tapi pagi itu, gubuk Sari masih gelap. Minyak tanahnya sudah habis sejak jam dua malam. Bayi Bintang tertidur di dada Sari, napasnya kecil-kecil, cepat. Tangannya yang terkepal masih menggenggam daster Sari. Sari sendiri tidak tidur sama sekali. Matanya bengkak karena menangis, tubuhnya masih berdarah, tapi ia tidak bisa melepaskan pelukannya.
Di luar, hujan badai sudah reda. Hanya menyisakan tanah becek dan daun-daun lontar yang berserakan.
Sari tahu, cepat atau lambat, seseorang akan datang. Di desa ini, asap yang tidak keluar dari dapur seseorang di pagi hari adalah berita besar.
Dan benar saja. Jam enam lewat sedikit, terdengar suara sandal jepit menyeret tanah becek.
"Sari! Sari! Kau tidak ke ladang? Garam Mama Leni sudah menunggu!" Itu suara Mama Leni, dukun beranak yang semalam tidak mendengar teriakan Sari karena hujan.
Sari tidak menjawab. Ia terlalu lemas untuk berteriak.
Mama Leni yang penasaran mendorong pintu gubuk Sari yang memang tidak pernah dikunci. Pintu bambu itu berderit.
"Sari? Kau sakit? Ya Tuhan..."
Mama Leni mematung di depan pintu. Matanya melihat Sari yang pucat, tikar yang penuh darah kering, dan gumpalan kain di dada Sari yang bergerak-gerak.
"Kau... kau sudah melahirkan? Sendirian? Astaga Sari!"
Mama Leni berlari mendekat. Ia adalah perempuan berumur lima puluh tahun dengan tangan kasar karena bertahun-tahun membantu lahiran. Ia dengan cepat memeriksa Sari, menyelimuti tubuhnya dengan kain sarung, lalu mengintip bayi di dalam gendongan Sari.
Senyum lega Mama Leni yang awalnya mengembang karena bayi dan ibu selamat, tiba-tiba membeku.
Matanya melihat kaki kiri Bintang yang bengkok dan terpelintir ke dalam. Matanya melihat tangan kanan yang terkepal rapat tidak bisa dibuka.
Tangannya yang hendak menyentuh bayi itu tertahan di udara.
"Ya Tuhan... Sari..." bisik Mama Leni, suaranya pelan, tapi nadanya berubah. Bukan lagi khawatir, tapi ngeri.
Sari yang melihat perubahan itu langsung memeluk Bintang lebih erat, seperti induk kucing melindungi anaknya dari anjing.
"Jangan bilang siapa-siapa dulu, Mama Leni... tolong," isak Sari. "Dia sehat, Mama. Dia nangisnya kencang tadi malam. Dia hanya... berbeda."
Mama Leni tidak menjawab. Ia mundur selangkah. Di Kolorai, bayi yang lahir berbeda selalu dikaitkan dengan hal mistis. Dengan kutukan. Dengan dosa orang tuanya.
"Sari, ini... ini harus dilihat Pak Kepala Desa," kata Mama Leni akhirnya. "Dan harus didoakan di gereja. Ini tidak biasa."
"Jangan!" Sari mulai panik. "Jangan bawa Pak Kepala Desa, Ma! Dia anakku! Dia bukan kutukan!"
Tapi Mama Leni sudah terlanjur takut. Ia keluar dari gubuk Sari dengan tergesa-gesa, hampir terjatuh karena tanah becek. Ia berlari ke arah sumur umum, tempat para perempuan sudah mulai berkumpul mengambil air pagi.
Sari tahu apa yang akan terjadi. Ia memeluk Bintang, membisikkan di telinganya yang kecil, "Jangan takut ya, Nak. Ada Ibu."
Tidak sampai setengah jam, gubuk Sari yang biasanya sepi, dikepung.
Bukan dikepung dengan rasa ingin membantu. Tapi dikepung dengan tatapan.
Sekitar sepuluh perempuan datang, dipimpin Mama Ursi yang paling keras mulutnya di desa, dan Pak Kepala Desa Kolorai, Pak Paulus, seorang laki-laki tua dengan tongkat kayu. Mereka tidak masuk ke dalam gubuk. Mereka berdiri di luar, menjaga jarak, seolah gubuk Sari adalah sumber penyakit.
"Benarkah kau melahirkan anak cacat, Sari?" teriak Mama Ursi dari luar, tanpa basa-basi. "Mama Leni bilang kakinya bengkok!"
"Lihat! Itu karena bapaknya tidak ada! Anak tanpa bapak, lahirnya juga tidak sempurna!" sahut yang lain.
"Itu tanda! Tuhan menghukum dia karena hamil di luar nikah yang sah! Johan kan belum bayar belis secara adat!"
Setiap kata itu seperti lemparan batu yang menghantam dada Sari. Sari yang masih pucat karena kehabisan darah, mencoba duduk bersandar di dinding bambu. Ia membuka sedikit kain yang menutupi Bintang.
"Bukan kutukan! Dia anakku! Dia normal! Lihat wajahnya cantik!" Sari menangis, menunjukkan wajah Bintang yang memang cantik.
Tapi orang-orang hanya fokus ke kakinya. Seorang ibu bahkan menutup mata anak kecilnya yang ia bawa.
Pak Paulus mengangkat tongkatnya. "Sari, dengar Bapak. Bapak mengerti kau sedih. Tapi di adat kita, anak seperti ini harus dibawa ke Waingapu, ke rumah sakit besar. Atau... atau kita harus lakukan ritual tolak bala di pantai. Supaya desanya tidak kena sial. Musim ikan sudah sepi karena kelakuanmu."
"Tidak! Anak saya tidak kena sial! Anak saya tidak akan dibawa ke mana-mana!" Sari berteriak untuk pertama kalinya dengan sekuat tenaga. Suaranya serak. "Yang membawa sial itu suami saya yang hilang! Bukan anak saya!"
Ia menangis sejadi-jadinya. Bintang yang mendengar ibunya menangis, ikut menangis keras. Tangis bayi cacat itu melengking di pagi Kolorai yang sepi, membuat beberapa perempuan bergidik.
"Dasar keras kepala! Sama seperti ibumu dulu!" bentak Mama Ursi. "Kau mau desa kita kena tulah laut?"
Mereka masih bertengkar di depan gubuk, ketika tiba-tiba dari kejauhan, dari arah jalan tanah menuju dermaga, terdengar suara motor. Suara motor trail yang sangat jarang masuk ke Kolorai karena jalannya hancur.
Semua orang menoleh.
Debu tanah merah beterbangan. Sebuah motor trail berhenti di depan kerumunan. Pengendaranya adalah seorang laki-laki muda, memakai jaket hitam, helm masih terpasang, membawa tas ransel besar di punggung. Wajahnya tertutup masker debu, hanya matanya yang terlihat.
Ia turun dari motor, melepas helmnya perlahan.
Rambutnya agak panjang, kulitnya tidak sehitam orang Kolorai, dan di pipi kirinya ada bekas luka kecil.
Sari yang melihat dari dalam gubuk melalui celah bambu, napasnya langsung tercekat. Tangannya yang memeluk Bintang langsung dingin.
Matanya membelalak. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara keluar.
Laki-laki itu... laki-laki itu adalah Johan.
Suaminya yang hilang delapan bulan. Bapak dari bayi yang ada di pelukannya. Yang katanya merantau ke Kupang dan tidak pernah kembali.
Johan berdiri di sana, hidup, sehat, bahkan terlihat lebih gemuk dari dulu. Ia menatap kerumunan yang menatapnya balik dengan kaget. Lalu matanya beralih ke gubuk Sari. Ke Sari yang pucat dan berdarah di dalam, menggendong bayi.
Johan tidak tersenyum. Wajahnya tegang.
Dan di belakang motor Johan, ada satu hal lagi yang membuat Sari semakin membeku.
Ada seorang perempuan lain yang turun dari motor itu. Perempuan muda, cantik, memakai celana jeans bersih, menggendong bayi juga. Bayi yang terlihat sehat, gemuk, memakai selimut bagus.
Perempuan itu menggandeng lengan Johan dengan mesra.
Johan akhirnya membuka suara, suaranya pelan tapi semua orang di kerumunan itu mendengar jelas.
"Sari... maaf aku baru pulang. Aku... aku bisa jelaskan."
Di dalam gubuk, Bintang menangis semakin kencang, seolah ia tahu, saat ia baru lahir, bapak kandungnya baru saja pulang, tapi bukan untuknya.
Sari memeluk Bintang dengan tubuh gemetar. Di depan matanya, suaminya yang hilang kini kembali, membawa istri baru dan anak baru yang sempurna.
Apa yang akan dilakukan Sari? Apa yang akan dikatakan Johan tentang bayi cacatnya?
Dan apakah desa akan semakin percaya bahwa Bintang adalah anak kutukan?