NovelToon NovelToon
Di Balik Harga Kebanggaan

Di Balik Harga Kebanggaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:189
Nilai: 5
Nama Author: edwin setiawan

Arini meninggalkan suaminya yang tulus, Dimas, karena terbuai janji kemewahan dari Rian. Namun Rian ternyata hanya menipunya lalu pergi begitu saja, membuat Arini jatuh miskin sendirian. Saat ia menyadari kesalahannya dan berharap kembali pada Dimas, ia terlambat — Dimas sudah bahagia dengan wanita lain. Arini akhirnya belajar: ketulusan jauh lebih berharga daripada kemewahan semu, dan penyesalan selalu datang di akhir cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Terpanjang di Trotoar Kota

Suara tut-tut-tut dingin dari sambungan telepon yang terputus bergema di telinga Arini bagaikan lonceng kematian bagi sisa-sisa harapannya. Ia memegang ponsel berlayar retak itu dengan jemari yang gemetar hebat, menempelkannya ke dada yang berombak naik-turun oleh isak tangis yang pecah tak tertahankan.

"Mas Dimas... Mas... tolong aku..." rintih Arini lirih di tengah bisingnya arus kendaraan sore hari yang memadati trotoar kawasan Permata Hijau.

Namun, tidak ada jawaban. Tidak ada lagi suara hangat dan penuh perhatian dari pria yang dulu selalu bersedia menerjang hujan deras demi membawakannya sebungkus makanan hangat. Tidak ada lagi tangan kasar berkapalan yang siap merengkuh dan menenangkan jiwanya saat ia terpuruk. Dimas telah benar-benar menutup pintu hidupnya rapat-rapat, meninggalkan Arini berdiri seorang diri di atas puing-puing keangkuhannya sendiri.

Gerimis kecil mulai turun kembali, menampar wajah Arini dan membasahi gaun hitam mewahnya yang kini tampak kusam bertanah bekas duduk di lantai koridor tadi. Di sampingnya, tergeletak dua buah koper kain berukuran sedang—satu-satunya barang pribadi yang sempat ia jejalkan terburu-buru sebelum petugas keamanan apartemen mengganti kunci akses dan mengusirnya keluar.

Beberapa pejalan kaki yang melintas di trotoar menatapnya dengan pandangan aneh dan prihatin. Seorang wanita cantik bergaun mahal, duduk bersimpuh di atas koper di tepi jalan raya sambil menangis histeris di bawah guyuran gerimis, adalah pemandangan yang amat kontras sekaligus tragis.

Dengan sisa-sisa tenaga dan rasa malu yang tersisa, Arini mencoba menghubungi Siska, teman arisan mewahnya yang dulu paling sering memujinya saat ia memamerkan foto-foto di apartemen.

Panggilan tersambung pada nada ketiga.

"Halo, Sis..." bisik Arini dengan suara serak menahan tangis. "Sis, tolong aku... aku lagi di daerah Permata Hijau. Aku... aku ada masalah sedikit sama Rian, dan sekarang aku butuh tempat menumpang menginap semalam saja..."

“Hah? Masalah sama Rian?” suara Siska di ujung telepon terdengar melengking heran, namun tak ada sedikit pun nada keprihatinan di dalamnya. “Aduh, Arini... kamu belum tahu ya? Berita soal Rian Pratama itu sudah heboh di semua grup arisan dan media sosial! Dia kan buron kasus penipuan investasi bodong! Perusahaannya disita bank, dan katanya banyak wanita penjamin yang ikut dikejar-kejar polisi!”

Jantung Arini bagaikan berhenti berdetak seketika. "S-Siska... tapi aku tidak tahu apa-apa, Sis! Aku cuma—"

“Aduh, maaf ya, Rin,” potong Siska cepat dengan nada dingin dan jijik yang amat nyata. “Rumahku lagi penuh, suamiku juga melarang aku berhubungan sama orang-orang yang terseret kasus Rian. Jangan cari aku lagi ya, takutnya nanti rumahku ikut didatangi penagih utang atau polisi. Dah!”

Klik.

Sambungan terputus secara sepihak. Arini menatap layar ponselnya yang kembali gelap dengan tatapan tak percaya. Teman-teman yang dulu mengelilinginya saat ia memegang kartu kredit dan memakai tas bermerek, kini menghilang bagaikan asap disapu angin begitu melihatnya jatuh miskin.

Di dalam kegelapan malam yang kian pekat dan hujan yang kian deras, Arini menyadari sebuah kebenaran yang amat pahit: kemewahan semu yang ia banggakan ternyata tidak pernah memberinya teman sejati. Ia telah membuang emas murni demi menggenggam kaca beracun yang kini melukai tangannya sendiri.

Malam semakin larut. Tanpa tujuan dan tanpa arah, Arini menyeret dua kopernya menyusuri trotoar jalanan kota yang basah. Roda koper yang berderit keras menampar aspal seolah menertawakan penderitaannya. Kakinya yang mengenakan sepatu hak tinggi terasa amat pegal dan lecet, memaksanya melepaskan sepatu mahal itu dan berjalan berkaki ayam menembus genangan air hujan yang kotor.

Lapar yang hebat mulai menyerang perutnya. Ia belum memakan apa pun sejak pagi. Arini merogoh tas tangannya, mencari sisa uang tunai yang mungkin tersisa. Di dalam dompet mewahnya yang dulu dipenuhi lembaran uang kertas merah dan kartu kredit, kini hanya tersisa dua lembar uang lima puluh ribuan dan beberapa keping uang logam. Kartu kredit platinum atas namanya sudah diblokir total oleh pihak bank.

Arini menghentikan langkahnya di depan sebuah warung makan kecil di pinggir jalan yang sepi. Aroma nasi hangat dan gorengan menusuk hidungnya, membuat air liurnya menetes. Dengan rasa malu yang mencabik-cabik harga dirinya, wanita yang dulu selalu menghina makanan jalanan itu melangkah ragu mendekati etalase kaca warung.

"Mbak... mau pesan apa?" tanya penjual warung, seorang wanita paruh baya berdaster sederhana.

"N-nasi bungkus satu, Bu..." bisik Arini lirih, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Pake telur dadar saja..."

Penjual warung itu membungkuskan nasi dengan cekatan, lalu menyerahkannya kepada Arini. Arini menyerahkan selembar uang lima puluh ribu rupiah dengan tangan gemetar. Saat menerima kembalian dan sebungkus nasi hangat berbalut kertas cokelat itu, Arini melangkah ke sudut bangku kayu di luar warung.

Ia membuka bungkus nasi itu dengan jari-jarinya yang kotor oleh air hujan dan debu jalanan. Saat suapan pertama masuk ke dalam mulutnya, air mata Arini tumpah tak terbendung lagi, bercampur dengan kuah sayur dan rasa penyesalan yang membakar dada.

Ia teringat pada Dimas.

Ia teringat pada malam di mana Dimas pulang dengan tubuh basah kuyup, membawa sebungkus martabak hangat yang dibelinya dari sisa keringat terakhirnya. Malam di mana dengan kejam dan angkuh ia menepis tangan suaminya hingga makanan itu jatuh menimpa tanah kotor.

Kini, takdir membalasnya dengan cara yang amat telak: ia harus memakan nasi bungkus di tepi jalan dalam kehujanan, tanpa ada lagi suami yang mengusap kepalanya atau mengkhawatirkan keadaannya.

"Mas Dimas..." ratap Arini di antara isak tangisnya di sudut bangku kayu yang dingin. "Maafkan aku... maafkan aku..."

Namun permohonan maaf itu terlambat. Suara rintik hujan malam itu menyerap seluruh ratapannya, tenggelam dalam riuk gemuruh kota yang tak pernah peduli pada penyesalan seorang wanita yang telah membuang kehormatan dan kesetiannya demi ilusi duniawi.

1
Shankara Senja
yah..itumah bukan istiqomah....tp lari dari kenyataan,arini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!