Sebulan menjelang pernikahan, Dera harus menelan kenyataan pahit saat Vivian, kakak kandungnya sendiri, mengaku hamil anak Galih, calon suaminya.
Lebih menyakitkan lagi, kedua orang tua mereka justru merestui pernikahan Galih dan Vivian, sementara Dera harus merelakan semua persiapan pernikahan yang dibayar dari hasil kerja kerasnya.
Hancur dan dikhianati keluarganya sendiri, Dera memilih pergi ke Jakarta untuk memulai hidup yang baru.
Tak disangka, pertemuannya dengan seorang miliarder tampan mengubah takdirnya. Pria itu bukan hanya menawarkan cinta, tetapi juga sebuah pernikahan yang akan membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal.
Namun, mampukah Dera menemukan kebahagiaan, atau justru terjebak dalam permainan cinta sang miliarder?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Vivian duduk di tepi tempat tidur ketika notifikasi itu masuk. Ia membuka pesan dengan santai, mengira hanya spam atau iklan. Namun begitu foto itu muncul di layar, wajahnya langsung berubah.
Di dalam foto, Dera berdiri di samping seorang pria berjas gelap. Lengan pria itu melingkar di bahu adiknya. Senyum Dera terlihat kaku, tapi yang lebih membuat Vivian memanas adalah wajah pria itu sangat tampan, percaya diri, dan jelas berasal dari kalangan atas. Jam tangan mewah di pergelangan tangannya tampak berkilau.
“Sial!” umpat Vivian, suaranya naik. Wajahnya memanas karena amarah. “Siapa pria yang bersama Dera? Dia sangat tampan, dan seperti lebih kaya dari Galih!”
Ia bangkit berdiri dari tempat tidur. Ponselnya digenggam erat hingga buku-buku jarinya memutih. Vivian mulai mondar-mandir di dalam kamar, langkahnya cepat dan tidak beraturan. Tirai digeser kasar, lampu dinyalakan lebih terang, seolah cahaya bisa membuat foto itu menghilang.
Di dalam kepalanya, bayangan kemenangannya yang selama ini ia nikmati tiba-tiba retak. Dera seharusnya tetap menjadi yang kalah. Dera yang kabur dengan air mata. Dera yang hanya pantas menerima pesan-pesan mengejek. Bukan Dera yang berdiri di samping pria yang bahkan Galih tidak akan mampu menandingi.
“Tidak mungkin…” gumamnya, napasnya memburu. “Dia cuma adik yang selalu kalah. Kok bisa?”
Vivian membuka foto itu lagi dan lagi. Ia memperbesar wajah pria itu, mencoba mencari petunjuk. Tidak ada nama. Tidak ada keterangan. Hanya foto yang dikirim tanpa basa-basi, seolah sengaja untuk menamparnya.
Ia mengepalkan tangan. Rasa tidak terima menggerogoti dadanya. Selama ini ia merasa unggul karena memiliki Galih, karena orang tua berpihak padanya, karena Dera pergi dengan status pengecut. Sekarang, dalam satu malam, adiknya muncul dengan seseorang yang jelas berada di level jauh lebih tinggi.
“Aku harus mencari tahu pria itu,” gumam Vivian dengan nada dingin. Matanya menyipit. “Siapa dia. Dari mana. Kenapa bisa dekat dengan Dera.”
Ia duduk kembali di tepi tempat tidurnya, jari-jarinya bergerak cepat mengetik di mesin pencari dan media sosialnya.
Di luar kamar, suara televisi dari ruang keluarga terdengar samar. Vivian tidak keluar. Malam ini, amarahnya hanya milik sendiri dan ia bertekad untuk menemukan celah, apa pun caranya. Dera tidak boleh lebih dari dirinya.
Vivian terus mondar-mandir di kamar dengan ponsel masih digenggam erat. Jari-jarinya gemetar karena amarah yang belum redakan. Ia membuka ulang foto itu, memperbesar wajah pria di samping Dera, lalu menyimpan gambar tersebut ke galeri. Setiap detail ia cermati.
“Siapa dia sebenarnya?” bisiknya geram.
Ia duduk di depan meja rias, menyalakan laptop, dan mulai mencari. Ia mengetik berbagai kata kunci, pengusaha Jakarta, mobil mewah, pria konglomerat. Hasil pencarian memunculkan beberapa nama, namun satu nama membuatnya berhenti total.
Mario Pratama.
Foto-foto resmi dari acara bisnis langsung memenuhi layar. Pria yang sama. Pemilik Pratama Group. Miliarder muda yang namanya sering muncul di berita ekonomi. Vivian membeku sejenak, lalu wajahnya semakin memerah.
“Lebih kaya dari Galih, jauh lebih kaya,” gumamnya pahit.
Rasa iri yang selama ini ia pendam terhadap Dera kini meledak lebih besar. Adiknya yang pengecut itu mendapatkan laki-laki yang lebib dari segalanya.
Vivian berdiri lagi, menarik napas kasar. Ia membuka aplikasi pesan dan mengetik balasan untuk Dera, lalu menghapusnya. Ia butuh pendekatan yang lebih licik. Ia butuh informasi.
Tok
Tok
Tok
Pintu kamar diketuk. Suara Galih terdengar dari luar. “Sayang, kamu belum tidur? Aku tunggu di bawah.”
Vivian mengeratkan rahang. “Sebentar!” jawabnya ketus.
Ia tidak ingin Galih tahu. Tidak sekarang. Kalau Galih melihat foto itu, rasa tidak terima seperti dirinya pasti akan muncul, dan Vivian tidak mau menambah masalah di rumah. Yang ia inginkan hanya satu: menghancurkan ketenangan Dera lagi.
Ia menyimpan nomor yang sempat ia temukan dari pencarian, lalu menatap bayangannya sendiri di cermin. Matanya tajam, penuh dendam.
“Kamu pikir bisa bahagia di Jakarta, Dera?” bisiknya dingin. “Aku belum selesai denganmu.”
Malam itu, Vivian terus mencari, mencatat, dan merencanakan sesuatu untuk sang adik. Di Bandung yang tenang, amarah seorang kakak yang tidak terima melihat adiknya bangkit kembali menyala semakin besar dan ia bertekad untuk memadamkan api itu dengan cara apa pun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dera masih membeku di kursinya, Keringat dingin belum sepenuhnya kering di pelipisnya. Trauma yang sempat meledak masih menyisakan di dadanya, membuat tangan dan kakinya terasa kebas.
Mario tidak langsung berbicara. Ia hanya menuangkan air putih ke gelas Dera, lalu mendorongnya pelan.
“Minum dulu, biar tenang” katanya lembut, penuh perhatian.
Dera tidak bergerak. Matanya masih kosong menatap layar ponselnya.
Pelayan datang membawa hidangan. Bau steak dan pasta menguar, tapi Dera sama sekali tidak merasa lapar. Mario mengangguk pada pelayan, lalu menatap Dera lagi.
“Makan sedikit saja,” ujarnya. “Nanti kamu sakit"
Dera akhirnya menggerakkan tangannya, mengambil garpu dengan gerakan kaku. Ia menusuk makanannya tanpa semangat, hanya untuk menyibukkan diri.
Suasana di meja mereka terasa tegang, meski restoran di sekeliling ramai dengan tawa dan percakapan orang lain.
Mario makan dengan tenang, tapi matanya sesekali mengawasi Dera. Setelah beberapa menit, ia berbicara lagi, suaranya lebih rendah.
“Aku tidak suka melihatmu lemah seperti ini. Kamu harus kuat, kamu harus melawannya"
Dera mengangkat wajahnya. Suaranya serak saat menjawab, “Kamu tidak seharusnya mengirim foto itu. Sekarang dia pasti semakin marah.”
“Biarkan saja dia marah. Kamu tidak perlu takut” jawab Mario datar. "Kalau kau terus diam, yang ada dia semakin senang"
Dera terdiam. Kalimat itu sederhana, tapi terasa berat. Ia terbiasa menghadapi serangan Vivian sendirian. Terbiasa menangis diam-diam. Terbiasa menelan semua kata kasar tanpa membalas. Tiba-tiba ada seseorang yang ikut masuk ke medan itu, dan itu membuatnya tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Mereka melanjutkan makan dalam keheningan yang tidak terlalu canggung, tapi juga tidak nyaman. Dera hanya menghabiskan sedikit makanannya. Mario tidak memaksa. Ketika tagihan datang, ia membayar tanpa basa-basi.
Saat berdiri, Mario menatap Dera sebentar. “Aku antar pulang sekarang.”
Dera mengangguk pelan. Langkahnya masih sedikit goyah saat keluar dari restoran. Udara malam Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya. Di dalam mobil nanti, Mario mencoba menghibur Dera. Tapi untuk saat ini, ia hanya ingin sampai di kosan dan mengunci diri dari dunia luar termasuk dari kakaknya yang jelas belum selesai menyakitinya.
"Besok kamu harus menemui Gio lagi. Kamu harus tetap berkonsultasi dengannya" ucap Mario.
"Aku tidak bisa" tolak Dera. Biaya ke psikolog lumayan mahal, dia tidak sanggup jika harus terus menerus kesana.
"Biar aku yang menanggung semua biayanya" ucap Mario seakan tahu apa yang Dera pikirkan.
sayangi dan cintai dirimu sndiri dera....
krna istrimu jg org tuanya sifatnya pda buruk & g waras smua....
dan satu"nya org yg waras dan normal di keluarga istrimu.... cuma dera....
bikin dera pintar dikit apa thor..bikin gemes aja sama pola pikir deraa