Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.
Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.
karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.
Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.
Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.
Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?
Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 : Mahar Darah di Atas Batu Sandaran Adat
"Hukum rimba kami mengajarkan, darah tidak boleh ditumpahkan karena amarah, tapi darah boleh diteteskan jika itu demi menyambung nyawa seorang bapak."
Genta mengalihkan pandangannya pada Prasetio.
"Jika anak kota ini mau menorehkan tangannya di Batu Sandaran Adat, maka kami Orang Rimba menjadi saksinya. Kami yang menanggung janji sukunya di dalam hutan. Kalau dia ikhlas, rimba takkan murka, dan obat pasak bumi sakral itu wajib Datuk serahkan!"
Datuk Hitam mengangguk pelan, menyetujui ucapan Genta dengan senyum penuh kearifan.
Gabungan antara hukum adat dusun dan ketegasan janji Suku Anak Dalam kini bertumpu sepenuhnya pada keberanian jiwa Prasetio.
Pandi menahan napasnya, menatap Prasetio yang masih bersimpuh di lumpur.
Seluruh mata warga kini tertuju pada pria kota itu.
Prasetio mendongak.
Wajahnya yang tercoreng lumpur menatap Batu Sandaran Adat, lalu beralih menatap mata tajam Datuk Merah dan ketenangan bijak Genta.
Tidak ada sedikit pun ragu di bola matanya.
Ketakutan yang sempat melingkupi jiwanya kini hilang, berganti menjadi keberanian seorang anak yang rela mengorbankan apa saja demi napas ayahnya.
"Saya terima mahar ini, Datuk," ucap Prasetio dengan suara bulat, tanpa ragu.
Lalu ia melepaskan kaos yang sudah robek dan kotor, memperlihatkan dada nya yang telanjang.
Langkah kakinya yang mantap menginjak lumpur basah menuju Batu Sandaran Adat.
Prasetio menerima pisau kecil berukir kepala naga dari tangan Datuk Merah.
Tanpa mengedipkan mata, ia menekan bilah tajam itu ke telapak tangan kanannya dan menariknya perlahan.
Srrrt...
Darah segar berwarna merah pekat merembes keluar dari telapak tangannya.
Prasetio menempelkan telapak tangannya yang berdarah tepat di atas takik Batu Sandaran Adat.
Seketika itu pula, sebuah penglihatan batin yang aneh terjadi.
Darah yang meresap ke dalam celah batu mendadak bergetar halus.
Lewat ketajaman batin dan mata hati yang dimilikinya, Datuk Merah dan Datuk Hitam melihat gumpalan darah itu perlahan merekah.
Di dalam pendaran darah tersebut, bayangan masa lalu mendadak kasat mata di rongga mata batin kedua tetua adat itu.
Tampak samar namun jelas: sosok Pak Burhan tiga puluh tahun silam.
Sosok Burhanuddin muda yang masih gagah, mengenakan kemeja safari lusuh, dengan raut wajah panik dan penuh penyesalan sedang menggulung selembar peta kain tua—peta perbatasan rimba—di bawah rintik hujan malam.
Datuk Merah terperanjat hebat!
Ia melangkah mundur satu tapak dengan napas memburu.
Bola matanya melotot menatap gumpalan darah di batu, lalu beralih menatap tajam ke arah garis wajah Prasetio.
"Garis muka ini... alur darah ini..." desis Datuk Merah dengan suara serak yang bergetar.
"Pria tua yang lumpuh di sudung rimba itu... dia Burhanuddin! Pemuda kota yang tiga puluh tahun lalu mengambil peta batas rimba kita!"
Suasana di halaman Balai Adat seketika hening mencekam.
Para warga saling pandang dalam kebingungan, sementara Prasetio dan Pandi terpaku kaku.
Datuk Merah mengepalkan tangannya, membusungkan dada dengan mata menyala.
Suaranya menggelegar keras memotong angin malam, terdengar begitu murka.
"Kau anak dari orang yang pernah membawa celaka bagi tanah ini!" bentak Datuk Merah seraya menunjuk Prasetio.
"Orang tua yang dulu merusak ketenteraman hutan kita, kini mengutus anaknya meminta obat sakral dari dusun yang pernah dia lukai?!"
Prasetio tertunduk dalam, air matanya menetes menyatu dengan tanah lumpur.
Namun sebelum kepanikan warga memuncak, Datuk Hitam melangkah maju dengan tenang.
Gerakannya lembut, raut wajahnya memancarkan ketenangan dan welas asih seorang tetua sejati.
Ia memegang bahu Datuk Merah yang sedang memuncak amarahnya.
"Sabar, Datuk Merah... Tarik napas mu perlahan, pandanglah dengan mata batinmu yang lebih dalam," ucap Datuk Hitam dengan nada suara yang begitu sejuk, memberikan ketenangan.
Datuk Hitam menunjuk gumpalan darah di Batu Sandaran Adat.
"Lihatlah kembali cahaya darah itu. Apakah kau tidak melihat apa yang dilihat oleh leluhur? Burhanuddin masa muda memang pernah tersesat oleh keangkuhan kota. Tapi bayangan darah anaknya malam ini... tidak membawa benih ketamakan itu. Darah anak ini murni. Dia rela menggores tangannya sendiri, bukan demi harta, tapi demi menebus napas ayahnya."
Datuk Merah terdiam.
Walau wajah dan bicaranya kasar serta terkesan keras kepala, sebenarnya di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Datuk Merah adalah sosok penjaga adat yang sangat jujur dan berhati mulia.
Ia hanya sangat mencintai tanah dusunnya dan takut warga kembali dibodohi oleh orang luar.
Kedua Datuk yang sangat dihormati itu kemudian berbalik membelakangi warga, berdiri berdampingan di dekat tangga Balai Adat untuk bermusyawarah secara tertutup di bawah naungan angin malam.
"Datuk Merah," panggil Datuk Hitam pelan.
"Adat kita mengajarkan jangan dendam di atas batu, menanam kebaikan di atas tanah. Penyakit lumpuh dan penderitaan parah yang dialami Burhanuddin selama bertahun-tahun itu sudah jadi hukum karma mutlak atas perbuatan dan kekhilafannya di masa lalu. Hukum alam dan rimba sudah menunaikan balasannya secara tunai."
Datuk Hitam menghentikan ucapannya sejenak, menatap lekat ke dalam mata Datuk Merah dengan pendar spiritual yang dalam.
"Namun pandanglah sekali lagi dengan kedalaman batinmu, Datuk..." lanjut Datuk Hitam dengan nada lembut.
"Kulihat Burhanuddin hari ini benar-benar sudah bertobat dan sangat pasrah atas apa yang diterimanya. Hatinya sudah meleburkan keangkuhan masa lalu, dan jiwanya kini sudah bersih."
Datuk Hitam menepuk bahu Datuk Merah perlahan.
"Membalas dendam tidak harus dengan perbuatan yang sama, Datuk. Bukankah kemuliaan adat kita justru ada pada keberanian untuk memaafkan? "Ujar Datuk Hitam lembut.
"Jika orang yang berdosa sudah bersimpuh pasrah, dan anaknya menumpahkan darah di Batu Sandaran Adat... bukankah itu sudah membuktikan ketulusannya, membukakan pintu maaf adalah jalan yang paling diridhoi oleh bumi dan langit rimba?" Lanjut Datuk Hitam lagi.
Datuk Merah menghembuskan napas berat dari hidungnya.
Ia menatap ke arah Prasetio yang masih bersimpuh pasrah, lalu menatap Genta dan Meranting—pemuda Suku Anak Dalam—yang berdiri tegak mengawal sumpah tersebut.
"Aku tidak benci pada anak itu, Datuk Hitam," bisik Datuk Merah dengan nada tegas namun tak lagi segarang tadi.
"Aku hanya ingin memastikan dia tidak mengulangi kesalahan ayahnya. Bicara keras dan tegas adalah caraku menguji seberapa tebal ketulusan hatinya. Jika dia gemetar dan lari, berarti dia penipu. Tapi jika dia bertahan di lumpur itu... berarti darah penebusan ini memang jujur."
Datuk Merah lalu berbalik kembali menghadap warga dan Prasetio.
Dengan langkah tegap dan wajah yang tetap berwibawa keras, ia menatap Prasetio yang masih menantikan nasib ayahnya.
Datuk Merah melangkah mendekati Prasetio yang masih berlutut dengan telapak tangan berdarah.
Tatapan mata tetua adat itu masih tajam bagai sembilu, namun keangkuhan yang tadinya meluap kini berganti menjadi ketegasan yang penuh wibawa kehormatan.
"Anak muda," suara Datuk Merah menggema di halaman Balai Adat.
"Darahmu telah diterima oleh Batu Sandaran Adat, dan sumpahmu telah disaksikan oleh bumi dusun serta langit rimba. Kesalahan ayahmu di masa lalu adalah beban sejarah kami, tapi ketulusan hatimu malam ini adalah jawaban dari leluhur."
Datuk Merah memberi isyarat tangan.
Seorang pemuda dusun bergegas membawa sebuah kotak kayu hitam berukir benang emas yang memancarkan aroma wangi rempah tua.
Datuk Merah mengambil kotak tersebut, lalu menyerahkannya langsung ke hadapan Prasetio.
"Di dalam kotak ini ada serbuk akar Pasak Bumi sakral dan daun Kalimunting," ucap Datuk Merah pelan.
"Ramuan ini bukan obat biasa. Ini adalah penawar yang diracik dari kebaikan rimba. Seduh dengan air hangat, dan balurkan sebagian lagi ke kening serta dada ayahmu."
Prasetio menerima kotak kayu itu dengan kedua tangannya yang gemetar.
Ia mengusapkan kotak obat itu ke dahinya, menunduk dalam-dalam hingga tanah.
"Terima kasih, Datuk... Terima kasih banyak..." bisik Prasetio dengan suara bergetar menahan tangis.
"Demi Allah, saya janji akan menjaga kehormatan tanah ini seumur hidup saya."
Datuk Hitam tersenyum sejuk, menepuk bahu Prasetio yang basah oleh peluh.
"Bangkitlah, Nak. Perjuanganmu belum selesai. Malam kian larut, dan napas ayahmu di sudung rimba sedang menantikan penawar ini. Pergilah sebelum fajar menyingsing."
"Ayo, Pras!" seru Pandi seraya merangkul bahu Prasetio dan membantunya berdiri.
"Kita tidak punya banyak waktu lagi!"
Genta dan Meranting mengangguk mantap.
Kedua pemuda Suku Anak Dalam itu langsung mengambil posisi di depan, menancapkan tombak mereka ke tanah sejenak sebelum berbalik memimpin jalan.
"Ikut langkah kami, anak kota," kata Genta tegas.
"Obat sudah di tangan, tapi jalur rimba malam ini tidak akan mudah. Kita harus berlari melintasi lebatnya hutan sebelum embun pagi membasahi akar."
Prasetio menggenggam erat kotak obat kayu itu di dadanya, seolah kotak itu adalah jantungnya sendiri.
Tanpa memperdulikan rasa perih di telapak tangannya yang baru saja sengaja di sayat, ia melangkah cepat mengikuti Pandi, Genta, dan Meranting meninggalkan halaman Balai Adat Dusun Pinggiran.
Mereka berjalan cepat menembus kegelapan rimba Jambi yang gelap.
Bersambung
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇