**Surat Terakhir Bapak**
*Ada rahasia yang dikubur bersama Bapak. Dan ada yang sudah lama menunggu untuk digali.*
Tiga hari setelah pemakaman Hartono, keluarganya berkumpul untuk mendengar surat wasiat. Harta dibagi rapi, seperti sifat Bapak yang selalu teliti. Tapi di balik segel lilin merah, ada satu pengakuan yang meruntuhkan segalanya: Bapak punya anak lain, seorang pemuda bernama Dimas.
Laras, sulung yang dua belas tahun lari ke Jakarta, harus menghadapi kenyataan bahwa kecurigaannya dulu benar. Bima, yang menjaga toko dan keluarga seorang diri, tak sanggup menerima orang asing berwajah Bapak. Sekar, si bungsu, kehilangan sosok ayah yang ia kira ia kenal. Dan Ibu, yang paling tenang di antara semuanya, ternyata sudah tahu sejak awal.
Ketika satu per satu kebenaran terbuka, mereka sadar luka terbesar bukan pada apa yang Bapak sembunyikan, tapi pada siapa saja yang ikut diam selama dua puluh tiga tahun.
*Surat Terakhir Bapak* adalah kisah tentang pengkhianatan, pengampunan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachman Santoso, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanah Di Wonosobo
Pak Surya melepas kacamatanya dan memijat pangkal hidung. Tangannya masih gemetar.
"Saya minta maaf," katanya akhirnya. "Saya diminta membacakan wasiat itu persis seperti yang tertulis. Tapi ada satu dokumen lagi di dalam map ini, dan pesan Pak Hartono jelas: dokumen itu hanya boleh dibuka setelah surat dari Bu Ratna dibaca."
"Surat dari Bulik?" Laras mengerutkan kening. "Bapak tahu soal surat itu?"
"Beliau yang menyuruh Bu Ratna menulisnya. Mereka sempat bertemu beberapa bulan sebelum Bu Ratna wafat." Pak Surya mengeluarkan selembar dokumen berstempel dari dasar map. "Pak Hartono ingin kebenarannya terbuka berurutan: suratnya dulu, surat Bu Ratna kedua, baru ini. Katanya, kalau urutannya terbalik, kalian tidak akan sanggup menerimanya."
Ia menyodorkan dokumen itu ke tengah meja. Tak seorang pun menyentuhnya, kecuali Bima, yang mengambilnya dengan dua jari seolah takut kertas itu menggigit.
"Akta hibah," bacanya pelan. "Tanah kebun dua hektare di Wonosobo. Dihibahkan kepada ..." Ia berhenti. Rahangnya mengeras.
"Kepada siapa?" desak Laras.
"Dimas Prasetyo dan Sekar Prasetyo. Masing-masing separuh." Bima menatap Pak Surya. "Ditandatangani delapan bulan lalu."
Hening. Sekar, yang berdiri kaku di dekat jendela, menutup mulutnya.
"Itu tanah tempat mereka dilahirkan," kata Pak Surya lirih. "Atau tepatnya, dekat sekali dengan rumah bidan tempat itu. Pak Hartono membelinya dua puluh dua tahun lalu, diam-diam, dan membiayai pajaknya sendiri tiap tahun. Beliau bilang itu satu-satunya hal yang bisa ia berikan kepada kedua anak itu tanpa membuat siapa pun malu."
"Tanpa membuat siapa pun malu," ulang Ibu getir. "Dia selalu begitu. Memperbaiki sesuatu dari belakang, tanpa pernah mengakuinya di depan."
Dimas masih berdiri di ujung ruangan, bahunya kaku. "Saya tidak minta tanah," katanya serak. "Saya tidak pernah ..."
"Bukan soal minta atau tidak, Nak," kata Ibu. Untuk pertama kalinya sejak Dimas datang, suaranya lembut. "Itu hakmu."
Dimas membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Tak ada kata yang cukup.
---
Sekar keluar lewat pintu belakang tanpa pamit.
Laras menunggu sepuluh detik, cukup untuk memastikan tidak ada yang mencegahnya, lalu menyusul. Udara di luar dingin dan lembap. Halaman belakang itu sempit, hanya selapis rumput basah, jemuran kosong, dan pohon jambu air yang dulu sering mereka panjat. Sekar duduk di akar yang menonjol, kerudungnya terlepas, bahunya naik-turun.
Laras duduk di sampingnya tanpa bicara.
"Aku marah banget sama Ibu," kata Sekar akhirnya. Suaranya parau. "Tapi aku juga ... aku nggak tahu, Mbak. Aku takut kalau marah, nanti aku nggak punya siapa-siapa."
"Kamu punya aku."
"Kamu di Jakarta dua belas tahun."
Kalimat itu menancap. Laras tidak membantah, karena Sekar benar.
"Iya," katanya pelan. "Dan itu salahku. Mbak menjauh karena Mbak lihat sesuatu dan nggak berani nanya. Mbak pikir dengan pergi, Mbak bisa pura-pura nggak ada masalah. Padahal yang ditinggal itu kamu."
Sekar menoleh. Matanya sembab, tetapi untuk pertama kalinya ada sesuatu yang mengeras di sana, bukan kemarahan, melainkan keputusan.
"Mbak, aku mau ngomong sama dia."
"Dimas?"
"Aku nggak tahu mau ngomong apa. Tapi kalau aku masuk dan nggak ngomong, aku bakal lari lagi. Aku nggak mau jadi orang yang lari." Ia mengusap pipinya kasar. "Mbak temani, tapi jangan ikut campur."
Laras tersenyum tipis, pahit sekaligus bangga. "Siap."
Mereka berdiri, dan Laras mengulurkan tangan. Sekar menggenggamnya, erat sampai nyeri, dan mereka berjalan kembali ke pintu dapur.
---
Mereka berhenti di ambang.
Dari ruang tamu terdengar suara Bima, rendah dan tegang, tak seperti nada yang Laras kenal. Laras memberi isyarat pada Sekar untuk diam, lalu mereka menyimak dari balik pintu setengah terbuka.
"Pak Surya, tanah itu ... sudah jelas atas nama Bapak sebelum dihibahkan?"
"Jelas, Mas Bima. Sertifikat dan akta hibahnya sah. Tapi ada yang janggal." Suara notaris itu pelan, hati-hati. "Sebulan lalu saya dihubungi sebuah perusahaan properti. Mereka bertanya soal status tanah di Wonosobo itu. Mereka bilang sudah ada kesepakatan awal dengan pihak keluarga."
Hening.
"Pihak keluarga siapa?" tanya Ibu.
Laras tidak melihat wajah Bima dari tempatnya berdiri, tetapi ia melihat punggung adiknya menegang, bahunya naik, seakan bersiap menerima pukulan.
"Mas Bima?" panggil Ibu, sangat pelan.
"Aku ..." Bima menelan ludah. "Aku nggak tahu itu tanah yang itu, Bu."
"Bima."
"Bapak memberiku surat kuasa tahun lalu. Untuk mengurus aset toko dan beberapa tanah. Ada orang dari perusahaan properti datang ke toko, menawarkan harga bagus untuk tanah kebun di Wonosobo. Aku cek berkasnya, atas nama Bapak. Aku pikir tanah itu bagian dari aset yang boleh dikelola." Suaranya naik, pecah. "Aku nggak tahu itu bukan lagi punya Bapak! Aku nggak tahu itu punya mereka!"
"Sudah sampai mana kesepakatannya?" tanya Pak Surya tajam.
Bima tidak langsung menjawab. Ia menunduk, dan Laras melihat tangannya mengepal di atas lutut sampai ruas jarinya memutih.
"Aku tanda tangan perjanjian jual-beli kemarin," bisiknya. "Pas Bapak masih ... baru tiga hari dimakamkan. Aku butuh uang buat melunasi utang toko, dan mereka bilang harganya naik kalau lewat hari ini."
Sekar mencengkeram lengan Laras sampai kukunya menancap. Di ruang tamu, tak seorang pun bersuara.
Lalu Dimas, yang sejak tadi diam di ujung ruangan, berbicara untuk pertama kalinya. Suaranya tenang, nyaris dingin.
"Perusahaan apa namanya?"
Bima mengangkat wajah, bingung. "Apa?"
"Perusahaan properti itu." Dimas menatapnya lurus. "Siapa nama perusahaannya?"
"Sentosa ... Sentosa Karya Land."
Wajah Dimas berubah. Hanya sekejap, tetapi Laras sempat menangkapnya: bukan kemarahan, bukan kaget, melainkan sesuatu yang lebih berbahaya. Pengenalan.
"Kenapa?" tanya Laras, melangkah masuk dari ambang pintu sebelum sempat berpikir. "Kamu kenal perusahaan itu?"
Dimas menoleh perlahan padanya, lalu pada Sekar yang menyusul di belakang Laras, lalu pada Ibu yang tiba-tiba tampak sangat tua.
"Ibu saya bilang sesuatu sebelum meninggal," katanya pelan. "Dia bilang kalau suatu hari ada orang dari Sentosa Karya datang menawar tanah kami, jangan percaya tawarannya, apa pun yang mereka janjikan."
"Kenapa?" tanya Ibu, nyaris tanpa suara.
Dimas menarik napas, dan dalam diamnya Laras mendengar sesuatu yang jauh lebih besar dari tanah dua hektare.
"Karena pemilik perusahaan itu," katanya, "adalah orang yang dulu membuat Ibu saya lari dari Wonosobo."
Sebelum ada yang sempat bertanya lebih jauh, Pak Surya berdiri dengan wajah seputih kapur, menjatuhkan map cokelat dari pangkuannya, dan menatap Ibu dengan sorot mata orang yang baru menyadari ia terlambat satu langkah.