Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.
Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.
"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."
Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.
Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.
Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?
Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 15
Hujan semalam bikin halaman rumah papan jadi kolam. Ayam-ayam Bapak mati dua ekor, kelelep.
Aku tidak tidur semalaman. Masih pakai gamis putih berlumpur kuburan ibu yang ujungnya sudah kering, jadi keras. Lumpur merahnya jadi kerak. Bau tanah dan bau setrikaan ibu jadi satu.
Flashdisk merah sama kertas kecil tulisan ibu masih di saku. Aku tidak berani taruh di mana-mana. Takut Bapak nemu.
CCTV kancing di kerah ku sudah mati. Baterainya habis jam 3 subuh tadi.
Mami Asih dari jam 5 subuh sudah di dapur. Masak bubur merah putih buat tahlilan. Mami masih pakai daster coklat yang kemarin dia pakai buat lap lumpur gamis ku. Mami tidak pulang ke Sampit.
"Mami, kenapa tidak pulang?" aku tanya dari pintu kamar kecil.
Mami lagi ngaduk bubur, tidak lihat aku.
"Kos pink pudar kita digerebek Satpol PP jam 2 pagi tadi," Mami bilang pelan, kayak ngomong sama buburnya. "Mami dapat telepon dari anak kf."
Jantung ku berhenti.
"Terus?"
"Anak-anak aman. Tapi kamar kita dibongkar. Tulisan lipstik merah 4 nama di dinding itu... dihapus sama yang punya kos. Katanya takut bawa sial. Dia cat putih semua."
4 nama itu bukti satu-satunya. Aku tulis pakai lipstik merah ku sendiri di Sampit. Tiap malam sebelum tidur sama tamu.
Nama-nama yang bikin aku diusir dari pondok karna difitnah.
Sekarang dindingnya sudah dicat putih. Hilang.
"Tapi..." Mami matiin kompor. Baru lihat aku. "Flashdisk merah itu masih ada kan, Laila?"
Aku angguk cepat. Pegang saku ku yang keras karena lumpur kering.
"Itu yang penting. Dinding bisa dicat putih. Tapi isi flashdisk itu tidak bisa dihapus. Itu rekaman kamu selama kamu menjebak para munafik itu.
Mami jalan ke aku. Mami pegang gamis putih berlumpur ku.
"Jangan dicuci. Pakai ini nanti jam 10 tahlilan. Biar semua lihat."
Jam 10.00. Surau kayu penuh.
Ibu-ibu pakai mukena, bapak-bapak pakai peci. Di tengah surau, nasi berkat ditata. Di depan, foto ibu ku yang kecil, foto yang sobek pinggirnya.
Aku duduk paling belakang, dekat pintu kayu yang becek. Pakai gamis putih berlumpur itu. Kerak lumpur merahnya kelihatan jelas dari jauh. Ibu-ibu yang datang langsung bisik-bisik lihat gamis ku.
"Eh itu Laila ya? Anaknya almarhumah? Kok gamisnya kotor begitu?"
"Katanya baru pulang dari pondok... diusir..."
"Kasihan, ibunya meninggal pas dia tidak ada..."
Aku tunduk. Kertas kecil tulisan ibu aku remas di dalam saku.
Bapak duduk di depan, jadi imam tahlil. Suaranya masih parau habis nangis semalaman di tikar pandan.
Baru 10 menit Yasin dibaca, pintu surau kayu dibuka paksa dari luar.
Bukan angin.
Tiga orang masuk. Pakai baju koko putih bersih, peci putih bersih, sepatu tidak kena lumpur sama sekali padahal halaman becek.
Yang paling depan aku kenal. Sampai mati pun aku kenal.
Ustadz Mahmud. Pimpinan pondok tempat aku diusir dibilang fitnah dan stres.
Di belakangnya, dua santri senior yang dulu yang nyeret aku keluar dari asrama putri pas malam yang lagi hujan.cuma pakai kerudung berantakan.
Satu surau kayu yang tadi baca Yasin, langsung diam. Semua lihat pintu.
Ustadz Mahmud lihat Bapak di depan. Senyum.
"Pak Haji, kami turut berduka. Kami dari pondok... dengar Ibunya laila meninggal. Kami datang mau tahlil juga. Sekalian... mau jemput santriwati kita yang kemarin pulang tanpa izin."
Dia tidak lihat Bapak. Dia lihat aku. Di pojok belakang. Pakai gamis putih berlumpur.
"Laila," Ustadz Mahmud manggil. Suaranya lembut, kayak dulu pas ngajar di kelas. "Kenapa pakai baju kotor begitu di surau? Kan malu-maluin pondok. Sini, ikut Ustadz balik ke pondok. Ibu kamu sudah tidak ada, pondok yang akan jaga kamu."
Bapak yang di depan langsung berdiri. Kaget.
"Ustadz ini lagi tahlilan ibunya Laila ,lagian bukan nya Laila sudah diusir dipondok karna berulah , katanya..."
Ustadz Mahmud ketawa kecil.
"Siapa bilang diusir, Pak Haji? Laila itu sakit. Stres. Suka halusinasi. Kami mau bawa dia berobat, tapi dia malah kabur gak balik balik lagi kepondok, Makanya kami yang tau Laila sedang di kampung karna ibunya meninggal jadi kami tau keberadaan silaila,maka dari itu kami mau jemput Laila lagi buat balik ke pondok.
Satu surau lihat aku.
Flashdisk merah di saku ku yang kena kerak lumpur itu tiba-tiba panas lagi. Sepanas kompor Mami Asih tadi pagi.
Mami Asih yang dari tadi di dapur rumah, denger suara Ustadz Mahmud. Mami lari ke surau kayu. Masih pakai daster coklat. Tidak pakai kerudung.
Mami berdiri di luar pintu surau, hadang Ustadz Mahmud.
"Ustadz, ini tahlilan almarhumah. Bukan waktunya jemput-jemput santriwati."
Ustadz Mahmud lihat Mami Asih dari atas sampai bawah. Daster coklat.
"Maaf, Ibu siapa? Kok pakai daster gak ikut tahlilan sama ibu ibu didalam?"
Mami Asih senyum. Senyum yang biasa Mami pakai kalau ada tamu di kos pink pudar minta diskon.
"Saya Mami Asih, Ustadz. Yang ngerawat Alia eh, Laila selama dia pergi dari pondok Yang ngasih dia makan pas pondok Ustadz bilang dia memfitnah dan usir dia tengah di malam."
Ustadz Mahmud mukanya langsung merah.
Aku di pojok belakang, berdiri dan keluar tangan ku masuk ke saku gamis putih berlumpur. Aku pegang flashdisk merah itu kuat-kuat.
Di dalam flashdisk itu ada video beberapa menit. Video yang aku rekam pakai CCTV dihotel melati waktu itu dan foto foto aib kyai Rahman.
Kalau aku colok flashdisk ini sekarang di laptop semua akan melihat dan satu kampung Kuala Pembuang akan lihat kenapa aku diusir.
Tapi kalau aku colok, gamis putih berlumpur kuburan ibu yang ibu setrika jam 3 subuh terakhir ini, akan jadi saksi kalau anaknya bukan cuma santriwati yang diusir.
Tapi anaknya adalah Alia.
Jam 10.15. Tahlilan berhenti total.
Bapak lihat aku. Ustadz Mahmud lihat aku. Mami Asih lihat aku. Satu surau kayu lihat aku dan gamis putih berlumpur ku.
Dan di saku ku, flashdisk merah itu makin panas, seakan mau meledak.