NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Di Pabrik Sawit

Cinta Terlarang Di Pabrik Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cinta Terlarang
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Siska Delvi

Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Excel dan Oli

Jam sembilan malam, pabrik Dharmasraya tidak pernah benar-benar tidur.

Mesin boiler masih berdengung keras, lampu-lampu sorot di area loading ramp masih menyala terang, dan suara truk yang bongkar buah masih terdengar. Tapi ruang administrasi sudah sepi. AC sudah dimatikan, hanya lampu meja Nadia yang masih menyala.

Di depan laptop, Nadia dan Mbak Sari duduk bersebelahan. Di depan mereka ada tumpukan buku timbangan manual setebal kamus, isinya tulisan tangan sopir dan operator yang kadang tidak bisa dibaca.

"Bu Nadia, ini tulisan apa? Angka 8 atau angka 6? Tulisan si Joni ini seperti cakar ayam," keluh Mbak Sari sambil garuk kepala. Rambut pendeknya sudah berantakan karena stres.

Nadia menyipitkan mata. "Ini 8, Mbak. Lihat, ada ekornya di atas. Kalau 6 ekornya di bawah."

Mereka berdua tertawa kecil, lelah.

Sudah tiga jam mereka coba pindahkan data manual itu ke Excel. Ide Nadia kemarin di rapat memang disetujui Pak Hendra, tapi pengerjaannya ternyata tidak mudah. Data lima tahun harus diinput ulang biar sistem otomatisnya bisa jalan.

"Bu Nadia, jujur saja ya. Saya sudah kerja di timbangan lima tahun, tidak pernah ada admin yang mau begadang begini untuk urusan timbangan. Biasanya admin cuma minta data jadi, terus mereka ketik di ruangan ber-AC," kata Mbak Sari pelan.

Nadia senyum sambil terus ketik. "Aku bukan admin yang pinter AC, Mbak. Kalau aku ndak lihat langsung, aku ndak paham. Lagian ini kan ideku, masa Mbak yang aku suruh kerja sendirian."

Pintu ruang administrasi terbuka. Pak Bambang masuk bawa dua bungkus gorengan dan tiga gelas kopi hitam dalam plastik.

"Wah, masih hidup kalian berdua?" sapa Pak Bambang dengan suara keras khas mandor. "Saya kira sudah pingsan."

Mbak Sari langsung ambil gorengan. "Pak Bambang! Dari mana? Kantin sudah tutup jam delapan."

"Dari pos satpam. Saya minta tolong istri satpam gorengin. Kasihan lihat kalian masih melek. Ini kopi, biar ndak ngantuk. Tapi kopinya pahit, ndak ada gula, seperti hidup saya," canda Pak Bambang.

Nadia tertawa. Pertama kalinya ia tertawa lepas sejak ditinggal Rizki.

Pak Bambang duduk di kursi sebelah, buka buku catatannya yang penuh oli.

"Bu Nadia, saya bawakan data rendemen dari tahun 2021. Ini data yang tidak pernah masuk ke administrasi karena dulu adminnya malas turun ke lapangan. Mungkin bisa bantu sistem Excel kamu," kata Pak Bambang sambil sodorkan buku yang kotor oleh oli.

Nadia terima buku itu dengan dua tangan. Buku itu bau oli, kotor, tapi isinya berharga. Data asli dari lapangan.

"Terima kasih banyak, Pak Bambang. Ini sangat membantu," kata Nadia tulus.

Pak Bambang mengangguk. "Sama-sama, Bu. Saya sudah 15 tahun di pabrik ini. Baru kali ini ada admin yang mau pegang buku kotor seperti ini. Biasanya mereka jijik."

Mereka bertiga lanjut kerja. Pak Bambang bantu bacakan angka-angka yang tulisannya jelek, Mbak Sari yang hafal nama-nama sopir, dan Nadia yang jago Excel bikin rumus VLOOKUP dan SUMIF otomatis.

Jam setengah sebelas malam, pintu ruang administrasi terbuka lagi. Pelan.

Arif masuk. Tidak pakai seragam, cuma kaos oblong putih dan celana training. Di tangannya ada kantong plastik berisi tiga kotak nasi bungkus.

"Saya lihat lampu masih nyala," kata Arif datar, seolah kebetulan lewat.

Mbak Sari dan Pak Bambang langsung saling lirik. Senyum-senyum.

"Wah, Pak Arif! Pas sekali! Kami lapar!" seru Mbak Sari heboh, langsung ambil nasi bungkus.

Arif letakkan nasi bungkus di meja Nadia. "Makan dulu. Kerja terus tidak akan selesai kalau perut kosong. Itu pesan dari Manager Hendra."

Nadia menatap Arif. "Manager Hendra titip?"

Arif tidak jawab, hanya angkat alis. Semua orang tahu itu bohong. Manager Hendra sudah tidur jam sembilan.

Mereka makan lesehan di lantai ruang administrasi, pakai koran sebagai alas. Nasi bungkus ayam goreng, sambal, dan lalapan. Sederhana, tapi nikmat karena lapar.

"Bu Nadia, coba cerita, kenapa mau kerja di pabrik sawit? Padahal lulusan akuntansi kan bisa kerja di bank, di kantor yang wangi," tanya Pak Bambang sambil makan.

Nadia diam sejenak.

"Dulu saya pikir kerja di bank itu enak, Pak. Rapi, bersih. Tapi setelah lulus, saya lihat teman-teman saya yang kerja di bank, mereka cuma hitung uang orang lain. Di sini, saya hitung buah yang ditanam petani, yang diperas jadi minyak, yang nanti jadi minyak goreng untuk orang banyak. Saya merasa kerja saya nyata, Pak. Tidak cuma angka di komputer," jawab Nadia.

Pak Bambang dan Mbak Sari mengangguk paham.

Arif yang makan di pojok, menatap Nadia lama. Tidak ada senyum miring, tidak ada godaan. Hanya tatapan bangga.

Jam dua belas malam, sistem Excel selesai 50 persen.

"Besok lanjut lagi ya, Bu Nadia. Saya sudah ngantuk. Anak saya besok sekolah pagi," kata Mbak Sari sambil menguap.

"Iya, Mbak. Terima kasih banyak ya hari ini."

Pak Bambang berdiri, tepuk bahu Arif. "Pak Arif, saya duluan ya. Titip anak-anak ini. Jangan digoda," canda Pak Bambang, lalu tertawa keras dan keluar.

Tinggal Nadia dan Arif di ruang administrasi yang sepi. Lampu sudah dimatikan sebagian.

Arif bantu bereskan sisa nasi bungkus.

"Nas, kamu hebat hari ini," kata Arif pelan, tanpa menatap Nadia, sibuk lipat koran bekas alas makan.

Nadia menatap Arif. "Biasa saja, Pak. Mbak Sari dan Pak Bambang yang lebih hebat."

"Tidak. Kamu yang hebat. Kamu bisa bikin Bu Lastri yang judes itu mau titip martabak untuk kamu," kata Arif.

Nadia kaget. "Martabak?"

Arif tunjuk ke meja Bu Lastri. Di sana ada kotak martabak manis yang masih hangat, dengan tulisan di atasnya pakai spidol: "Untuk Nadia, jangan dimakan Mbak Sari semua. - Bu Lastri"

Nadia tertawa, matanya berkaca-kaca. Terharu.

"Lihat, Nad. Di pabrik ini, kalau kamu kerja tulus, orang akan lihat. Tidak perlu pakai sepatu mengkilap atau parfum mahal untuk dihargai," kata Arif pelan.

Kata-kata itu menyentuh hati Nadia.

Arif melangkah ke pintu, hendak keluar.

"Arif," panggil Nadia pelan.

Arif menoleh.

"Terima kasih untuk nasi bungkusnya," kata Nadia.

Arif tersenyum miring.

"Sama-sama, Nad. Besok jangan telat. Jam tujuh sistem timbangan harus sudah dicoba."

Pintu tertutup. Arif pergi.

Nadia duduk sendirian di ruang administrasi yang sepi, di depan laptop yang layarnya menampilkan rumus Excel yang baru jadi, di sebelah kotak martabak dari Bu Lastri dan bungkus gorengan dari Pak Bambang.

Untuk pertama kalinya sejak datang ke Dharmasraya, Nadia merasa punya keluarga baru. Bukan keluarga yang atur warna undangan, tapi keluarga yang kasih gorengan jam sebelas malam.

Keluarga yang bau oli, tapi hangat.

Bersambung

1
𝐀⃝🥀Weny
semoga kalian berjodoh🤲 tambah up lagi dong thor 😊
𝐀⃝🥀Weny: 😊😊😊😊😊
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!