Xiao Luo membeli sebuah rumah tua bergaya kuno yang sudah terbengkalai. Ia terpaksa membeli rumah itu karena harganya yang murah.
Selain rumah bobrok yang tak terawat, rumah itu memiliki halaman yang luas. Entah kenapa tidak ada yang mau membeli rumah itu. Mungkin karena rumor yang beredar diluar tentang rumah itu berhantu.
Entah itu keberuntungan atau justru kesialan, Xiao Luo jatuh ke dalam sumur.
Ia pikir hidupnya sudah berakhir, namun ternyata ia muncul di dunia yang berbeda.
Sumur itu seperti lorong waktu yang menghubungkan dua dunia. Xiao Luo bisa pergi ke dua dunia itu dengan mudah melewati sumur tua itu.
Apakah Xiao Luo bisa terus seperti itu atau justru terjebak di dunia lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN DI BALIK PAGAR BAMBU
Kehangatan yang tercipta di halaman rumah Keluarga Shen terasa begitu kontras dengan reputasi kejam pulau pengasingan tersebut. Di bawah terik matahari sore, tawa renyah sesekali terdengar, terutama ketika Shen Yu Jin—yang kini sudah kembali tenang dalam dekapan Xiao Luo—mulai menguap lebar, mengundang gemas semua orang.
Bagi Xiao Luo, momen-momen seperti ini adalah pelarian yang sempurna dari penatnya dunia modern. Ia merasa telah menjadi bagian dari keluarga itu, meski keterikatannya hanya sebatas dimensi waktu dan sebuah sumur tua.
Namun, kedamaian di tempat terisolasi itu tidak pernah bertahan lama. Di kejauhan, di balik barisan bukit terjal dan lebatnya vegetasi hutan yang jarang dijamah manusia, sepasang mata mengawasi dengan tatapan tajam.
Shen Munchen—yang baru saja menyelesaikan penyamarannya sebagai buruh kasar dalam armada pengiriman logistik—berdiri tegak di balik rimbunnya semak belukar.
Napasnya sedikit memburu setelah perjalanan panjang mendaki perbukitan seorang diri, mendahului para penjaga dan rombongan buruh lainnya. Ia sengaja bergerak senyap demi memastikan kondisi keluarganya sebelum menunjukkan diri.
Semula, hatinya dipenuhi oleh rasa khawatir yang teramat sangat. Ia membayangkan keluarganya hidup menderita dalam rantai pengasingan, kelaparan, dan ketakutan.
Namun, pemandangan yang tersaji di hadapannya saat ini sukses membuatnya terpaku di tempat.
Rumah itu... batin Shen Munchen tertegun.
Pagar bambu yang rapi mengelilingi pekarangan. Ada meja kayu sederhana di teras, tumpukan barang yang tertata, serta sosok gadis asing berambut pendek dengan pakaian model aneh yang tengah menggendong putranya dengan penuh kelembutan.
Ia tidak bisa melihat wajah Xiao Luo dengan jelas. Suasana di sana sama sekali tidak mencerminkan kengerian sebuah pulau pembuangan. Tempat itu tampak hidup, hangat, dan... aman.
Dahi Shen Munchen mengerut dalam. Insting militernya sebagai seorang jenderal besar langsung siaga. Di tengah tempat buangan di mana para tahanan menderita, dari mana datangnya gadis asing tersebut? Dan bagaimana bisa ada atmosfer senyaman itu di tanah yang seharusnya penuh keputusasaan?
"Siapa sebenarnya gadis itu...?" gumam Shen Munchen pelan, suaranya hampir tenggelam dihempas angin laut yang berhembus dari arah pesisir.
Tangannya secara refleks mencengkeram hulu pedang tersembunyi di balik jubah kusamnya. Di satu sisi, ia merasa lega melihat keluarganya baik-baik saja.
Namun di sisi lain, kehadiran variabel baru yang tidak dikenal—seperti Xiao Luo—membuatnya harus ekstra waspada. Segala kemungkinan harus ia perhitungkan, mengingat intrik istana bisa menjangkau ke mana saja, bahkan ke ujung dunia sekalipun.
Kemudian ia melihat ke sekeliling. Ia tidak bisa menemukan wajah sang istri. Apa dia ada di dalam rumah? rasa cemas kembali menghampirinya.
Sementara itu, di dekat sumur tua, Xiao Luo yang sedang menepuk-nepuk punggung Shen Yu Jin mendadak merasakan bulu kuduknya meremang. Ia menghentikan langkahnya sejenak, lalu menoleh pelan ke arah barisan hutan di lereng bukit.
"Ada apa, Nona Xiao?" tanya Tuan Xin menyadari perubahan sikap gadis itu.
Xiao Luo menggeleng pelan, meski matanya masih menyipit menatap pepohonan lebat di kejauhan. Ia merasa seolah ada sepasang mata tajam yang sedang mengawasinya dari balik bayang-bayang.
"Ah... tidak apa-apa," jawab Xiao Luo tersenyum tipis, mencoba mengabaikan firasat aneh di dadanya. "Mungkin hanya angin."
Namun, ia keliru. Jarak antara dunia mereka kini semakin menipis, dan pertemuan antara sang jenderal yang bangkit dari bayang-bayang dengan gadis pembuka dimensi itu sudah di ambang mata—sebuah pertemuan yang akan mengubah jalan takdir mereka selamanya.
Dengan dada yang bergemuruh dan langkah kaki yang terasa berat, Shen Munchen keluar dari balik ketebalan rimbunnya hutan.
Langkahnya pelan, tersendat oleh rasa gugup yang tak pernah ia rasakan sebelumnya—bahkan ketika ia harus berhadapan dengan ribuan prajurit Kerajaan Barat di medan perang.
Rasa takut akan kehilangan dan trauma atas pengkhianatan istana membuat setiap jengkal jalannya menuju pekarangan itu dipenuhi desakan emosi yang membuncah.
Hanya beberapa meter tersisa sebelum ia benar-benar tiba di depan pagar bambu yang baru saja selesai dibangun. Dari balik pakaian kusam dan tumpukan debu pelabuhan yang mengotori wajahnya, matanya terkunci pada sosok wanita paruh baya yang paling ia hormati.
"Ibu...!" panggil Shen Munchen dengan suara serak, berat menahan gejolak di dada.
Nyonya Shen terperanjat pelan dan seketika menoleh. Wajah pria di depan pagar itu memang terpoles noda kotoran, pakaiannya kusam ala buruh kasar, dan perawakannya tertutup penyamaran yang rapat. Namun, ikatan batin seorang ibu tidak pernah bisa dikelabui. Tatapan mata itu, postur tubuh tegak yang familiar, dan getaran suara sang putra adalah hal yang terpatri abadi di ingatan Nyonya Shen.
"Munchen... kau kah itu, Nak?" seru Nyonya Shen. Suaranya bergetar hebat, disusul jemarinya yang mulai gemetar menahan haru.
Di sekelilingnya, suasana seketika hening sebelum akhirnya Shen Tingting yang berada tak jauh dari sana membelalakkan mata.
"Kak Munchen!" pekik Shen Tingting dengan pancaran binar bahagia yang meluap-luap.
"Jangan berteriak," potong Shen Munchen cepat dengan nada berbisik namun penuh penekanan, mengedarkan pandangan siaga ke arah sekeliling pulau untuk memastikan tidak ada pasang mata penjaga yang curiga.
Seketika Shen Tingting membungkam mulutnya sendiri rapat-rapat menggunakan kedua tangan. Air matanya merebak dan jatuh melintasi pipinya tanpa bisa dibendung—bukan lagi tangisan duka atas penderitaan di tanah pengasingan, melainkan lelehan kebahagiaan murni atas kembalinya sang pelindung utama keluarga mereka.
Keluarga Xin yang menyaksikan peristiwa itu tak sanggup menyembunyikan rasa haru. Kehangatan penyatuan kembali keluarga yang terkoyak oleh takdir itu menyentuh bagian terdalam hati mereka.
Sadar bahwa bahaya bisa mengintai jika mereka terus berdiri di ruang terbuka, Tuan Xin bergegas mengambil kendali.
"Jenderal... mari, masuklah ke dalam rumah terlebih dahulu. Di luar terlalu berisiko," ajak Tuan Xin seraya membuka celah pagar dan menggiring mereka masuk ke area yang lebih terlindung.
Rombongan kecil itu melangkah masuk dengan terburu namun penuh rasa syukur. Hanya Xiao Luo yang sengaja tertinggal beberapa langkah di belakang. Gadis itu berjalan santai sembari terus menepuk-nepuk lembut punggung Shen Yu Jin yang terkekeh kecil dalam pelukannya.
Sambil memperhatikan punggung Shen Munchen yang tegap dari belakang, Xiao Luo menunduk sedikit ke arah bayi mungil itu lalu berbisik sangat lirih, "Ternyata ayahmu cukup tampan juga, ya..."
Xiao Luo mengira gumaman jahilnya itu hanya akan tenggelam oleh desir angin laut. Namun, ia lupa bahwa pria di depannya bukanlah rakyat biasa.
Sebagai seorang jenderal dengan ilmu bela diri tingkat tinggi, indra pendengaran Shen Munchen terasah luar biasa tajam.
Langkah Shen Munchen terhenti seketika. Ia memutar tubuhnya ke belakang, mengarahkan pandangannya tepat ke arah gadis berambut pendek tersebut.
Namun, begitu sepasang matanya menangkap paras Xiao Luo secara utuh di bawah paparan sinar matahari sore, manik mata Shen Munchen seketika membelalak lebar. Tatapannya membeku, diselimuti syok berat yang membuat napasnya tertahan di tenggorokan.
Wajah itu...
Bagaimana mungkin? Wajah di hadapannya adalah milik Xin Nian—istrinya tercinta!
Namun, kebingungan langsung menghantam pikirannya. Xin Nian sangat mencintai dan membanggakan rambut panjangnya yang indah; tak pernah terbayangkan sedikit pun wanita itu akan memotongnya hingga seleher seperti gadis di depannya ini.
Ditambah lagi, pakaian yang dikenakan sangat aneh, dan tatapan matanya... tatapan gadis ini sama sekali tidak memancarkan ketundukan atau kelembutan khas Xin Nian, melainkan binar percaya diri dan kebebasan yang asing.
Insting waspada sang jenderal langsung mengambil alih. Tatapan hangat yang tadinya ditujukan pada keluarganya mendadak luntur, berganti menjadi sorot mata dingin yang menusuk tulang.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Shen Munchen dengan nada rendah, penuh intimidasi dan tekanan aura prajurit.
Sebelum Xiao Luo sempat mencerna perubahan sikap itu, Shen Munchen menambahkan dengan kalimat tegas tanpa keraguan, "Kau bukan istriku!"
Xiao Luo mengerutkan keningnya dalam-dalam. Rasa heran bercampur geli seketika mewarnai raut wajahnya. Ia berkacak pinggang sebelah dengan satu tangan—sementara tangan satunya tetap mendekap erat Shen Yu Jin—lalu menjawab polos tanpa rasa takut, "Ha...? Siapa juga yang bilang kalau aku ini istrimu?"