NovelToon NovelToon
Kembali Menemukan Cinta

Kembali Menemukan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: bammoon

**"Bagaimana jika seseorang yang ingin kau sembuhkan justru menjadi alasan hatimu sendiri terluka?"**

Setiap orang memiliki masa lalu yang ingin dilupakan. Namun, tidak semua orang mampu melepaskan kenangan yang pernah membuatnya bahagia.

Begitu pula dengan seorang lelaki yang masih terjebak dalam penyesalan masa lalunya. Di balik sikap dingin dan tatapan kosongnya, tersimpan sebuah kisah cinta yang belum selesai. Ia terus menunggu seseorang yang entah akan kembali atau tidak, seolah waktu berhenti sejak hari ketika ia kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.

Hingga suatu hari, seorang murid baru datang ke sekolahnya.

Gadis pendiam yang awalnya hanya ingin menjalani kehidupan sekolah dengan tenang itu tanpa sengaja menaruh rasa penasaran pada sosok lelaki yang selalu terlihat menyendiri.

"Aku datang karena pena dengan kisahmu. Namun tanpa sadar, aku justru ingin menjadi bagian dari kisah yang baru dalam hidupmu"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bammoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berdamai

POV Pak Damar

Sementara itu, Pak Damar masih menunggu di dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari gerbang sekolah. Sesekali dia melirik jam tangannya, kemudian memperhatikan para siswa yang mulai berkurang di halaman sekolah.

Sudah cukup lama sejak bel pulang berbunyi, tetapi Hikari belum juga terlihat. Biasanya gadis itu akan langsung menuju mobil setelah keluar dari gerbang sekolah, kecuali jika memiliki kegiatan tambahan.

Pak Damar mencoba menghubungi ponsel Hikari, tetapi panggilannya tidak dijawab. Dia kembali meletakkan ponselnya di samping kemudi dan menunggu beberapa menit lagi.

Ketika halaman sekolah mulai sepi, barulah Pak Damar memutuskan turun dari mobil. Dia merasa perlu memastikan apakah Hikari masih memiliki kegiatan di dalam sekolah. Bagaimanapun, tugasnya adalah mengantar dan menjemput gadis itu sesuai perintah keluarga.

Setelah meminta izin kepada satpam, Pak Damar berjalan menuju ruang guru. Dia bertemu seorang guru perempuan yang kebetulan masih berada di sana.

"Permisi, Bu. Saya ingin menanyakan siswi bernama Hikari. Apa masih ada kegiatan sekolah? Soalnya sampai sekarang dia belum keluar."

Guru tersebut menjelaskan bahwa kegiatan belajar sudah selesai. Namun, dia bersedia membantu memastikan apakah Hikari masih berada di kelas.

Pak Damar mengikuti guru tersebut menuju koridor kelas. Mereka sempat memeriksa beberapa ruangan, tetapi tidak menemukan Hikari. Pak Damar hanya sesekali melihat ponselnya, barangkali gadis itu sudah menghubunginya.

Ketika mereka hendak kembali menuju ruang guru, perhatian Pak Damar tiba-tiba tertuju pada seorang siswa laki-laki yang berjalan dari arah belakang sekolah.

Laki-laki itu sedang menggendong seorang gadis.

Pak Damar memperhatikan mereka sejenak sebelum akhirnya mengenali wajah Hikari.

"Non Hikari?"

Dia segera menghampiri keduanya. Tatapannya sempat tertuju pada keadaan Hikari yang terlihat lemas dengan mata sembap.

"Non kenapa?" tanyanya.

Hikari hanya menunduk, sementara Keiran menjelaskan bahwa dirinya menemukan gadis itu di gudang belakang sekolah dalam keadaan terikat.

Guru yang mendengar penjelasan tersebut langsung terkejut dan meminta Keiran membawa Hikari ke UKS. Pak Damar mengikuti mereka tanpa banyak bertanya. Dia memahami bahwa kejadian tersebut bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele, tetapi dia juga tidak ingin membuat keadaan semakin rumit.

Setelah Hikari mendapatkan pemeriksaan, pihak sekolah mulai mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, karena waktu sudah cukup sore dan kegiatan sekolah telah berakhir, pihak sekolah memutuskan untuk melanjutkan pemeriksaan kejadian tersebut keesokan harinya.

Ketiga siswi yang diduga membawa Hikari ke gudang belakang sekolah akan dipanggil untuk dimintai keterangan. Pihak sekolah juga berencana menghubungi orang tua mereka masing-masing, begitu pula dengan orang tua Hikari, setelah mendapatkan penjelasan mengenai kejadian yang sebenarnya.

Pak Damar tetap berada di sekolah sampai Hikari diperbolehkan pulang. Dia tidak banyak ikut campur karena memahami posisinya sebagai pekerja keluarga Hikari. Terlebih, kedua orang tua gadis itu dikenal memiliki sikap tegas dan tidak menyukai urusan yang berlarut-larut.

Setelah pemeriksaan selesai dan pihak sekolah memastikan Hikari dapat pulang, Pak Damar segera mengantarnya kembali ke rumah. Sepanjang perjalanan, Hikari tidak banyak berbicara. Gadis itu hanya memandang keluar jendela, sementara Pak Damar memilih tidak menanyakan kejadian tersebut lebih jauh.

Keesokan harinya...

Hikari kembali datang ke sekolah seperti biasa. Meskipun kejadian kemarin masih membekas dalam ingatannya, dia tetap mengikuti kegiatan belajar. Namun, menjelang siang, seorang guru datang ke kelas dan memintanya menuju ruang guru.

Rupanya, pihak sekolah akan meminta keterangan dari Hikari mengenai kejadian kemarin. Ketiga siswi yang diduga terlibat juga telah dipanggil untuk memberikan penjelasan.

Pemeriksaan berlangsung secara bergantian. Hikari menceritakan apa yang dialaminya, mulai dari ketiga siswi tersebut yang mengajaknya ke gudang dengan alasan ingin membicarakan Keiran, hingga dirinya ditinggalkan dalam keadaan terikat.

Setelah mendengarkan keterangan Hikari, pihak sekolah kemudian memanggil ketiga siswi tersebut. Awalnya, mereka terlihat ragu memberikan penjelasan. Namun, setelah mendapatkan beberapa pertanyaan dari guru, ketiganya akhirnya mengakui perbuatan mereka.

Pihak sekolah pun memutuskan memanggil orang tua ketiga siswi tersebut, termasuk ibu Hikari, untuk datang pada hari yang sama agar permasalahan itu dapat diselesaikan bersama.

Sambil menunggu kedatangan para orang tua, Hikari diminta beristirahat di ruang yang telah disediakan. Dia hanya duduk diam, tidak menunjukkan keinginan untuk membicarakan kejadian tersebut lebih jauh.

Tidak lama kemudian, orang tua ketiga siswi itu mulai berdatangan. Ibu Hikari juga tiba beberapa saat setelahnya. Barulah pihak sekolah mengadakan pertemuan bersama untuk membahas kejadian yang menimpa Hikari.

Wanita tersebut masuk ke ruang pertemuan dengan penampilan rapi dan ekspresi wajah yang tetap tenang. Dia langsung mengambil tempat duduk setelah dipersilakan oleh salah seorang guru.

Sepanjang pembicaraan berlangsung, Hikari hanya duduk diam di samping ibunya. Dia mendengarkan penjelasan pihak sekolah mengenai kejadian yang menimpanya, termasuk bagaimana ketiga siswi tersebut membawanya ke gudang belakang sekolah.

Namun, ibunya sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan yang berarti. Wanita itu hanya mendengarkan sambil sesekali mengangguk.

Orang tua ketiga siswi tersebut beberapa kali menyampaikan permintaan maaf. Mereka berjanji akan menegur anak-anak mereka agar kejadian serupa tidak terulang. Ketiga siswi itu pun akhirnya meminta maaf secara langsung kepada Hikari.

Hikari hanya mendengarkan tanpa memberikan tanggapan panjang.

"Saya rasa masalah ini tidak perlu diperpanjang," ucap ibunya setelah ketiga orang tua tersebut menyampaikan permintaan maaf. "Mungkin anak-anak hanya melakukan kesalahan karena belum bisa mengendalikan sikap mereka. Kalau memang sudah meminta maaf, sebaiknya berdamai saja."

Hikari perlahan menoleh ke arah ibunya.

Dia tidak mengatakan apa pun. Hanya saja, ada sedikit perubahan pada tatapannya ketika mendengar betapa mudah ibunya menyelesaikan persoalan tersebut.

Bagi ibunya, kejadian itu mungkin hanyalah masalah kecil yang tidak perlu menghabiskan terlalu banyak waktu. Namun, bagi Hikari, apa yang dialaminya kemarin bukan sesuatu yang bisa begitu saja dilupakan.

Pihak sekolah tetap menjelaskan bahwa ketiga siswi tersebut akan mendapatkan sanksi sesuai peraturan. Ibu Hikari hanya mengangguk menyetujui, kemudian melirik jam di pergelangan tangannya.

"Kalau begitu, saya rasa semuanya sudah selesai. Saya masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan."

Wanita itu berdiri, merapikan tasnya, kemudian menoleh sekilas kepada Hikari.

"Nanti pulang bersama Pak Damar."

Hikari mengangguk kecil.

"Iya, Ma."

Setelah itu, ibunya langsung meninggalkan ruangan tanpa menanyakan bagaimana keadaan Hikari ataupun apa yang dirasakannya setelah kejadian kemarin.

Hikari kembali menunduk. Dia sudah terbiasa dengan sikap ibunya yang selalu menyelesaikan segala sesuatu secara singkat. Namun, kali ini dia tidak bisa mengabaikan rasa kecewa yang perlahan muncul dalam hatinya.

Dia tidak membutuhkan pembelaan yang berlebihan. Dia hanya ingin ibunya bertanya apakah dirinya baik-baik saja.

Sayangnya, pertanyaan sederhana itu tidak pernah terdengar.

Setelah pertemuan berakhir, Hikari keluar dari ruangan bersama wali kelasnya. Guru tersebut sempat menanyakan apakah dia ingin beristirahat terlebih dahulu sebelum kembali mengikuti pelajaran, tetapi Hikari menolak dengan sopan.

Dia merasa sudah cukup baik untuk kembali ke kelas.

Sementara itu, Pak Damar yang sejak pagi mengantarnya ke sekolah tidak mengetahui secara langsung bagaimana pertemuan tersebut berlangsung. Dia hanya menerima pesan singkat dari ibu Hikari yang memintanya tetap menjemput gadis itu sesuai jadwal pulang sekolah.

Pak Damar tidak menanyakan hasil pertemuan karena merasa hal tersebut bukan urusannya untuk dicampuri.

Hikari sendiri kembali berjalan menyusuri koridor menuju kelasnya. Wajahnya terlihat biasa saja, seolah tidak terjadi apa pun. Namun, sepanjang perjalanan, pikirannya masih dipenuhi ucapan ibunya.

Berdamai saja.

Hikari mengembuskan napas pelan.

Dia tidak membenci ibunya karena keputusan tersebut. Dia hanya merasa sedikit kecewa karena sekali lagi, ibunya lebih memilih menyelesaikan masalah secepat mungkin daripada mendengarkan apa yang sebenarnya ingin dia katakan.

Namun, Hikari tidak berniat mempermasalahkannya.

Bagaimanapun, dia sudah cukup terbiasa dengan keadaan seperti itu.

1
Paw_chan🐾
wah
Im Human
lanjut penasaran banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!