Dave merupakan CEO di perusahaan properti. ia dikenal sabagai bos yang arogan. Setiap penjualan yang tidak mencapai target, ia tidak ragu untuk memecatnya. Sudah banyak karyawan yang menjadi korbannya.
Disisi lain, ada seorang wanita pekerja keras, lembut dan baik hati. Namanya Emma. Ia seorang kurir pengantar pizza.
Emma tinggal bersama dua adiknya yang masih sekolah di SD. Ibunya sudah lama meninggal. Tepatnya saat melahirkan adiknya yang terakhir. Ayahnya adalah seorang penjudi yang selalu kalah. Hutangnya sangat banyak.
Emma memilih tinggal di sebuah apartemen dengan harga sewa yang terjangkau. Ia akan bekerja kerasa untuk memenuhi kebutuhan hidup dan ia tak peduli pada ayahnya.
Perusahaan properti, perkembangannya selalu menurun. Ayahnya Dave, langsung ambil alih pimpinan. Ia menegur keras kearoganan Dave.
Sebagai pembelajaran hidup, ayahnya membuat Dave bekerja ditempat pamannya dan disitulah ia mendapat pelajaran hidup dari Emma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 10
Sore telah tiba. Dave langsung duduk dikursi panjang dekat dapur—tempat duduk khusus kurir menunggu pizza selesai dibuat. Ia merasa kelelahan di pekerjaan barunya ini. Sebelumnya, ia bekerja di ruangan yang nyaman. Tugasnya simpel hanya duduk manis dan membaca berkas dimeja. Tidak heran kalau ia sekarang merasa keletihan yang luar biasa.
Sementara Emma yang sudah terbiasa dengan pekerjaan ini, ia tampak biasa saja. Bahkan ia masih sempat ikut membantu membersihkan dapur.
"Kerja begitu aja, sudah lelah," ucap Emma yang sedang menyapu didekat Dave. "Tidak sebanding dengan sikap sombongmu," lanjutnya.
"Ini juga kan salahmu," balas Dave. "Kalau kamu tidak terburu-buru, aku tidak akan kelelahan seperti ini. Apa salahnya bekerja dengan santai ?" Lanjutnya.
"Lagi, lagi, kamu menyalahkanku."
"Memang kenyataannya."
Emma menghentikan aktivitasnya. Ia lalu menatap tajam Dave. "Hari ini, hariku benar-benar diuji oleh dirimu. Aku yakin ayahmu pasti sangat menyesal pernah menjadikanmu CEO. Kalau dia lihat sikapmu sekarang, aku bisa pastikan kamu tidak mungkin diberikan jabatan itu lagi," ucap Emma.
Dave tak menganggap serius apa yang dikatakan rekannya itu. "Terserah kamu mau bilang apa. Itu kan menurutmu. Aku tetap yakin, mungkin dua atau tiga hari lagi akan segera meninggalkan pekerjaan rendahan ini dan kembali ke ruanganku yang nyaman," ucapnya. Bayangan ruang kantornya yang dingin dan sejuk terputar di otaknya.
"Pekerjaan rendahan ?" Emma mulai marah. Ia lalu mendekat ke depan Dave sambil membawa sapunya. Pria itu tampak menarik tubuhnya ke belakang, was-was Emma akan melakukan tindakan bahaya.
"Jangan pernah bilang pekerjaan ini pekerjaan rendahan," ucap Emma dengan tatapan tajam. Karena perempuan itu berdiri didepan Dave, ia pun tampak mengintimidasi. "Jangan selalu sombong kalau sedang diatas. Nanti kamu pasti menyesal, aku yakin," lanjutnya.
"Oke, oke aku paham. Sekarang menjauhlah dari depanku," jawab Dave. Emma pun perlahan melangkah ke belakang.
"Lebih baik sekarang aku bilang ke Paman Hudson agar aku bisa kembali ke pekerjaan lamaku," kata Dave sambil berdiri. "Bagaimana kalau kita taruhan ? Kita buktikan perkataan siapa yang benar," lanjutnya.
"Oke," jawab Emma dengan bertolak pinggang. "Aku yakin kamu bakal menyesal."
"Jangan terlalu percaya diri dulu." Dave berjalan menuju ruangan Pak Hudson dilantai dua, meninggalkan Emma yang masih terselimuti kekesalan di dirinya.
...----------------...
"Kebetulan kamu kesini. Padahal paman ingin memanggilmu tadi," kata Pak Hudson duduk di belakang meja.
"Memangnya ada apa paman ?" Dave menutup pintu lalu menghampiri meja Pak Hudson.
"Nanti paman akan jelasin," jawab Pak Hudson. "Kamu datang bertemu paman ada keperluan apa ?"
"Begini paman." Dave duduk di kursi depan meja. "Aku boleh minta paman lakukan sesuatu ?" lanjutnya.
"Melakukan apa ?"
"Aku ingin paman bilang ke ayah kalau aku disini sangat menderita dan satu-satunya cara agar aku tidak menderita adalah bekerja di jabatan lamaku. Tolong paman minta ke ayah untuk kembalikan jabatanku," kata Dave serius.
Pak Hudson tertawa. "Ha...ha..ha...itu sama saja kamu meminta paman untuk berbohong," ucapnya. "Paman tidak mau Dave. lagian juga kamu bakal disini selama satu bulan."
"Serius paman ? Satu bulan," sahut Dave. Ia tampak tidak percaya dengan tanggapan pamannya.
"Iya Dave," jawab Pak Hudson. "Itulah kesepakatan yang paman dan ayahmu setujui. Kalau kamu tidak percaya, telpon saja ayahmu," lanjutnya.
Pupus sudah keoptimisan Dave. Ia sangat tidak percaya kalau akan lama bekerja ditempat pamannya. Ia pun sangat kecewa berat telah mau datang ke sini.
"Kenapa paman tidak bilang dari awal ?" tanya Dave.
"Karena kamu tidak bertanya, makanya paman tidak memberitahumu," jawab Pak Hudson.
Dave terdiam dan tampak sangat kecewa. Kali ini ia benar-benar menyesal telah mau datang ke toko pamannya ini. Seharusnya sejak awal ia menolak keinginan ayahnya. Tapi nasi telah menjadi bubur, ia sudah terlanjur sampai ditempat ini. Rekeningnya sudah diblokir ayahnya, dengan uang cashnya yang terbatas belum tentu cukup untuk modal kembali ke rumah karena jarak kota ini sangat jauh.
"Tenang aja Dave, tidak usah kecewa," ucap Pak Hudson. Ia lalu menyodorkan amplop yang cukup tebal ke atas meja. "Ayahmu telah menyiapkan kamu uang dan koper berisi pakaianmu, sudah dikirim kesini. Selama kamu disini, ayahmu telah menyewakan apartemen. Nanti kamu tanya ke Emma dimana letaknya. Apartemen kalian dekat," jelasnya.
Dave menatap ke amplop diatas meja lalu memandang koper pakaian berwarna biru di samping meja. Raut wajah kecewanya tidak bisa ia sembunyikan.
Pria itu terdiam cukup lama sambil menyesali dirinya didalam hati.
"Ada yang mau kamu katakan lagi ?" tanya Pak Hudson.
"Tidak ada paman," jawab Dave. Ia lalu bangkit dari duduknya. "Aku mau keluar," lanjutnya.
"Jangan lupa, bawa amplop ini dan kopermu."
Dave mengambil amplop diatas meja dan koper di samping meja. Tak ada satu kata pun yang ia ucapkan untuk menanggapi pamannya. Ia memilih langsung berjalan meninggalkan ruangan.
"Semoga harimu menyenangkan Dave. Tetap semangat," kata Pak Hudson dengan suara yang cukup keras. Dave tak tertarik menanggapinya. Keponakannya itu, menutup pintu lalu hilang dari pandangannya.
...----------------...
Dave meletakan koper disampingnya dan amplop ke atas matanya. Ia duduk bersandar dikursi panjang dekat dapur sambil menutup matanya. Ia masih sangat kecewa. Satu bulan, ia tidak menyangka akan menghabiskan waktunya disini selama itu.
"Gimana hasilnya Pak CEO ?" tanya Emma sambil menyilangkan tangannya didepan dada. Ia baru saja keluar dari ruang karyawan dan siap untuk pulang. Firasatnya mengatakan kalau Dave mendapatkan hasil buruk. Ia sangat bahagia apabila kenyataannya memang seperti itu.
Dave mengambil amplop uang yang menutupi matanya. "Kamu menang," jawabnya tidak semangat.
"Benarkan apa yang aku katakan," ucap Emma. "Orang sombong pasti akan menyesal akhirnya," lanjutnya.
"Ya, aku mengaku, aku telah salah."
Emma tak mau banyak menanggapi Dave. Ia lalu berjalan keluar untuk menuju halte bus.
"Hei, kamu mau kemana ?" tanya Dave yang membuat Emma langsung menghentikan langkah.
"Aku mau pulang," jawab Emma.
"Aku ikut." Dave bangkit dari duduknya. Ia masukkan amplop kedalam saku celana, lalu menghampiri Emma dengan membawa kopernya.
"Ikut kemana ?" Emma tampak bingung. "Aku mau pulang ke rumahku, kenapa kamu mau ikut ?" lanjutnya.
"Apartemenku tidak jauh dari apartemenmu," jawab Dave. "aku memintamu menunjukan dimana tempatnya ?"
"Tidak mau, aku sibuk." Emma bergegas melangkah. Namun Dave, seketika menarik salah satu tangannya. Ia pun terhenti lagi.
"Tolonglah Emma. Aku sedang kecewa ini. Satu kali aja bantu aku," kata Dave dengan raut wajah kecewanya yang tak bisa ia sembunyikan.
Emma menatap lekat-lekat wajah Dave. Ia mulai tak tega setelah melihat raut kecewa pria itu. Ia pun dengan hati yang lapang mau pulang bersama dengan Dave.
"baiklah, ayo cepat," kata Emma sambil menarik tangannya dari genggaman Dave. Ia lalu melanjutkan kembali langkahnya. Dave pun mengikuti dari belakangnya. Setelah itu mereka menunggu di halte bus.