NovelToon NovelToon
Aturan Nomor 1 Jangan Jatuh Cinta Dengan Dosen

Aturan Nomor 1 Jangan Jatuh Cinta Dengan Dosen

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ziziyuuu

Aturan Nomor 1: Jangan pernah jatuh cinta dengan dosen sendiri.
Aturan yang dibuat Kila sendiri, dan kemudian dia langgar di detik berikutnya.
Kehidupan kampus Kila yang tadinya membosankan, berubah total setelah dosen baru itu masuk.
Tiba-tiba penuh dengan hal-hal mendebarkan. Bimbingan yang bikin jantung mau copot, jemputan mobil hitam di gerbang kampus, sampai makan malam canggung di mana dia dipanggil "calon mantu".

Dosen baru itu adalah Pak Rhaegar. Dosen dingin kayak kulkas, dan... orang yang paling Kila hindari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ziziyuuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Kila tidak tidur semalam. Sama sekali.

Bukan karena tugas kuliah yang menumpuk. Bukan karena kebanyakan kopi. Tapi karena satu kontak baru di WhatsApp-nya yang muncul begitu saja semalam setelah telepon singkat itu: Pak Rhaegar.

Tanpa foto profil. Tanpa bio. Tanpa last seen. Misterius, dingin, persis seperti orangnya di dunia nyata.

Kila sudah mengetik 10 kali di chat dan menghapusnya lagi sepanjang malam sampai jam 2 pagi.

Selamat malam Pak -> hapus, terlalu formal kayak mau bimbingan skripsi.

Pak udah tidur? -> hapus, lancang banget! Mau di-DO?

Makasih udah info fotokopi tadi Pak -> hapus, kayak kurang effort...

Pada akhirnya tidak ada satu pun pesan yang terkirim. Kila malah sibuk mengganti nama kontaknya dari "Pak Rhaegar" menjadi "Bapak Kulkas ❄️" lalu panik sendiri dan cepat-cepat diganti lagi menjadi "Bapak Dosen Rhaegar (JANGAN DI-CHAT SEMBARANGAN!!! BAHAYA!!!)" dengan huruf kapital.

Pagi ini, jam 09.55, Kila sudah berdiri di depan kios fotokopi langganan di dekat gerbang kampus dengan dua kantong kresek hitam besar di tangan kiri dan kanan. Berat banget. 50 rangkap kuesioner itu ternyata setebal skripsi 3 bab, tangannya sampai merah karena berat.

"Pas ya Dek, 50 rangkap. Sudah saya hitung dua kali, sudah saya steples semua," kata bapak fotokopi yang baik hati itu.

"Makasih banyak Pak! Berkah selalu Pak!" Kila mengangguk dengan napas ngos-ngosan. Dia melirik jam di ponselnya. 09.58.

Oke Kila, kamu punya 12 menit untuk sampai ke ruang dosen jam 10 lewat 10. Jangan telat. Ingat pesan Bapak. Jangan lari-lari. Nanti jatuh.

Kata-kata Pak Rhaegar semalam terngiang lagi di kepalanya dengan suara beratnya itu. Kila jadi berjalan dengan super hati-hati, seperti membawa bayi kembar, bukan kertas, takut jatuh beneran dan dilihat lagi dari jendela.

09.59 - masih di gerbang kampus, jalannya pelan-pelan.

10.03 - masih di tengah lapangan, disalip mahasiswa lain.

10.07 - sudah di koridor lantai 2, keringat mulai muncul.

Napasnya ngos-ngosan karena kreseknya berat dan dia menahan diri untuk tidak lari.

10.09 - dia sampai di depan pintu ruang dosen yang sedikit terbuka itu, pintunya sama seperti kemarin.

Pas! 10 lewat 9! Aku tidak telat! Aku on time! Jalan kaki, tidak lari!

Kila mengatur napas dulu, mengelap keringat di pelipis dengan punggung tangan, lalu mengetuk pintu dengan sopan.

"Permisi Pak, saya Kila," katanya pelan, suaranya masih ngos-ngosan.

"Masuk," jawab suara dari dalam.

Di dalam, Pak Rhaegar sudah rapi sempurna. Kemeja putih bersih disetrika licin, lengan digulung rapi sampai siku, kacamata baca sudah terpasang, laptop sudah menyala, dan... di atas mejanya ada dua gelas.

Satu gelas kopi hitam pekat miliknya yang khas, masih mengepul. Dan satu gelas lagi... teh hangat? Yang masih mengepul juga? Dengan warna coklat muda dan sedikit gula di bawahnya?

Kila meletakkan dua kresek hitam itu di samping meja dengan bunyi bruk yang cukup keras karena berat, sampai lantai bergetar sedikit.

"Ini Pak, 50 rangkap. Sudah saya ambil, sudah dihitung, pas 50," kata Kila dengan bangga.

Pak Rhaegar melirik kresek itu, lalu melirik Kila dari atas sampai bawah. Napas ngos-ngosan, keringat di pelipis, rambut agak berantakan, wajah merah.

"Kamu lari lagi?" tanya Pak Rhaegar langsung, to the point, tanpa basa-basi.

"Enggak Pak! Saya jalan! Jalan cepat Pak! Beneran! Sumpah saya jalan! Nggak lari sama sekali!" Kila langsung defensif, tangannya mengipas-ngipas wajahnya yang merah karena panik dan capek.

Pak Rhaegar mendesah pelan, napasnya terdengar. Lalu tanpa banyak bicara, dia menggeser gelas teh hangat itu di atas meja, dari sisi mejanya ke sisi Kila, sampai di depan Kila.

"Minum dulu. Napas kamu berantakan. Berisik," katanya.

Kila membeku menatap gelas itu. Matanya membulat.

Teh. Hangat. Masih ngebul. Untuknya? Disiapkan?

What? What? Bapak Kulkas nyiapin teh buat aku? Bapak Rhaegar yang dingin itu bikinin teh? Untuk aku?

"Untuk... untuk saya Pak?" tanya Kila tidak percaya, suaranya pelan, menunjuk dirinya sendiri.

"Memang untuk hantu di belakang kamu?" jawab Pak Rhaegar dingin, tapi kali ini tidak setajam biasanya, ada nada... ya ampun, ada nada gemas di situ.

Kila duduk pelan di kursi yang kemarin. Kursi yang sama persis. Di samping Pak Rhaegar. Jaraknya masih sejengkal, masih terlalu dekat. Parfum kayu maskulin itu masih sama, masih bikin pusing.

Tangannya gemetar meraih gelas kaca itu. Hangat di tangan. Manis wanginya.

"Ma-makasih Pak," katanya pelan, menyeruput sedikit. Teh manis hangat, pas manisnya. Tenggorokannya yang kering karena bawa kresek berat langsung lega, hangatnya menjalar sampai perut.

Pak Rhaegar tidak menjawab. Dia mulai membuka kresek dan menghitung kuesioner satu per satu dengan teliti, dengan jari-jarinya yang panjang. Ruangan itu hening, hanya suara kertas yang dibolak-balik srek srek dan suara Kila yang menyeruput teh pelan-pelan, berusaha tidak berisik, tapi jantungnya berisik.

Setelah selesai menghitung dan mengecek steplesan, Pak Rhaegar mengangguk puas, satu anggukan kecil.

"50. Bagus. Tidak kurang. Rapi steplesnya," kata Pak Rhaegar, pujian langka.

"Syukurlah, lega saya Pak," gumam Kila lega, senyumnya keluar.

"Tugas kamu selanjutnya," kata Pak Rhaegar sambil menutup laptopnya dengan pelan, menatap Kila, "besok ikut saya. Ada penelitian lapangan di desa binaan. Kamu yang bantu sebar kuesioner ini ke warga. Butuh asisten."

Kila hampir tersedak teh manisnya. Batuk kecil.

"Besok? Ikut Bapak? Berdua? Ke desa? Penelitian lapangan?" Kila mengulang dengan mata melotot.

"Iya. Berdua. Naik mobil saya. Kenapa? Takut? Atau nggak mau?" Pak Rhaegar menatapnya, alisnya naik sedikit. Tatapan menantang yang bikin Kila tidak bisa menolak.

"Bukan takut Pak! Cuma... cuma kaget Pak! Soalnya tiba-tiba, saya kira tugas saya selesai sampai fotokopi aja," Kila meletakkan gelasnya dengan cepat. Jantungnya yang tadi sudah tenang karena teh hangat, mulai berdetak kencang lagi seperti drum, lebih kencang dari tadi.

Seharian berdua sama Pak Rhaegar di desa? Di mobil? Gimana jantung ini bisa tenang? Bisa pingsan di desa nanti.

"Say jemput jam 7 pagi di depan gerbang kampus. Jangan telat. Pakai baju yang sopan, yang rapi, jangan pakai rok pendek. Sepatu, bukan sendal," kata Pak Rhaegar merinci.

"Siap Pak! Jam 7 pagi! Saya pasti on time Pak! Pakai baju sopan! Sepatu!" Kila mengangguk semangat seperti prajurit.

Pak Rhaegar berdiri, mengambil kunci mobil. Laptop dimasukkan tas.

"Saya pulang dulu. Ada rapat di rektorat. Kamu habiskan tehnya, terus kreseknya buang di tempat sampah depan. Kunci ruangannya titip di TU, bilang dari saya," perintahnya jelas.

Dia sudah berjalan menuju pintu, langkahnya cepat dan tegap, ketika Kila memanggilnya pelan, memberanikan diri.

"Pak..."

Pak Rhaegar berbalik di ambang pintu, menoleh.

"Tehnya enak. Makasih ya Pak, beneran enak," kata Kila dengan suara kecil, tapi matanya berbinar tulus, senyumnya manis.

Untuk sepersekian detik, Pak Rhaegar terdiam di pintu. Menatap Kila. Lalu dia hanya mengangguk singkat, sangat singkat.

"Hmm."

Dan pergi, menutup pintu pelan.

Tapi Kila melihatnya. Jelas sekali, sejelas siang. Sebelum berbalik dan pergi, di bawah cahaya lampu koridor, telinga Pak Rhaegar yang putih itu... merah. Merah jambu. Merah seperti habis kepanasan.

Eh? Eh? Bapak Kulkas telinganya merah? Merah? Karena aku bilang tehnya enak?

Kila menyeruput tehnya lagi, kali ini dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan sama sekali, senyumnya lebar sampai ke telinga. Teh yang tadi manis, sekarang jadi manis banget, manisnya beda.

Besok. Jam 7 pagi. Berdua. Ke desa.

Jantungnya mana bisa tenang.

1
Rini Hanindya Salma Nurazizah
bagus
Linda Natalia
lanjut kak,crita nya bagus
Rian Moontero
mampiiirr😍👍
Wien Ibunya Fathur
ceritanya lumayan seru...
ayok ada dibaca🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!