Lima tahun mencintai Hansen diam-diam membuat Jihan langsung menerima saat mereka dijodohkan. Hansen pun terpaksa menikahi Jihan karena merasa bertanggung jawab atas kecelakaan yang membuat kaki Jihan cacat.
Atas permintaan Hansen, pernikahan mereka disembunyikan. Selama sepuluh tahun, Jihan menjalani perannya sebagai istri tanpa pernah menuntut cinta dari Hansen yang selalu bersikap dingin.
Namun semuanya berubah ketika putra mereka yang berusia sembilan tahun mengatakan bahwa ia malu memiliki ibu yang pincang.
Hati Jihan hancur.
Di saat yang sama, Hansen mengaku sudah lelah dengan pernikahan pura-pura mereka dan mengajak Jihan bercerai.
Jihan hanya terdiam.
Tanpa air mata, tanpa protes, dan tanpa memohon agar Hansen tetap bersamanya.
Karena kali ini, Jihan memilih berhenti mencintai pria yang tak pernah benar-benar menginginkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bingung Inginnya Apa
Di dalam mobil, Hansen tampak melamun sembari menatap keluar jendela. Beberapa kali Juan melirik dari kaca spion depan.
"Siapa laki-laki yang berani membawa istriku pergi?" tanya Hansen, Tiba-tiba teringat dengan kejadian sebelum mereka pergi.
"Beliau bernama Yudha, Pak. Seseorang yang pernah ibu tolong."
"Dadi mana kamu tau?"
"Bukankah Bapak yang menyuruh saya cari tau tadi."
"Ck, kamu ini. Terus mereka ke mana?"
"Mereka hanya makan, Pak."
"Hanya... makan? kamu pikir aku nggak mampu kasih makan istriku?"
"Bukan begitu, Pak. Maksud saya, mungkin Pak Yudha hanya ingin berterima kasih sama ibu."
"Bagaimana kamu tau?" Hansen menatap kesal.
"Menurut informasi yang saya Terima, Pak Yudha mengalami kecelakaan empat tahun silam dan beliau kehilangan banyak darah. Beliau butuh transfusi darah dan golongan darah beliau sama dengan ibu. Ibu pun mau menolong beliau."
"Dermawan sekali dia, sampai darah pun rela dia bagi-bagi." Hansen kembali sewot.
Juan hanya diam. Namun hatinya bergejolak ingin membantah ucapan bosnya ini. Memang ya, kalo udah cemburu, akal sehat pun nggak terpakai.
"Lalu, apa mereka makan berdua?"
"Tidak, Pak. Mereka makan berempat. Di dalam mobil itu ada istri Pak Yudha dan juga putrinya."
"Owhhh.... " Wajah Hansen tampak memerah. Sepertinya dia malu. Malu karena sudah salah sangka.
"Besok-besok bilang sama Jihan, nggak usah mau kalo di ajak makan sama seseorang. Bilang, kalo dia mau makan, suruh WA aku. Biar, ku belikan."
Juan tak mengiyakan perintah itu, namun juga tak menolak. Jujur Juan merasakan ini perintah paling aneh yang pernah ia terima.
Selama ini, Hansen adalah sesosok manusia yang selalu memberikan perintah yang masuk akal. Tapi kali ini penilaian itu berubah. Dan hal tersebut terjadi tak lain karena seorang wanita bernama Jihan.
***
Setelah Hansen menyelesaikan semua pekerjannya, ia pun kembali ke rumah utama. Bukan ke apartemen seperti biasa.
Entah apa alasannya ia tak pulang ke apartemen. Bahkan dia sendiri pun tak tau.
Saat masuk ke dalam rumah ia melihat Jihan sedang merapikan beberapa baju di ruang TV. Biasanya ia melakukan hal itu di ruangan etika, tapi kali ini justru dia membawa peralatan setrika ke ruang TV. Jihan memilah dan memilih baju yang hendak ia setrika. Namun satu hal yang membuat Hansen geram, di samping Jihan ada koper berukuran sedang. Dan di dalamnya ada dua tumpuk baju, tapi belum memenuhi koper.
"Lagi ngapain?" tanya Hansen, Tiba-tiba.
"Ini, lagi merapikan barang-barangku yang masih tersisa," jawab Jihan, santai.
"Aku kan udah bilang, kamu nggak perlu pergi dari sini."
"Kita sudah bahas itu."
"Jadi kamu akan tetap pergi?"
"Ya."
"Ninggalin anak-anak?"
"Nggak lah, mereka tetap boleh ke tempatku."
"Lalu bagaimana dengan ku?"
Jihan menghentikan aktivitasnya sesaat, merasa aneh dengan pertanyaan itu. Bukanlah, selama ini dia tidak pernah peduli dengan pernikahan ini, lalu kenapa malah bertanya seolah dia takut kehilangan.
"Ya nggak bagaimana-bagaimana. Perpisahan ini sudah kita sepakati, setelah putusan pengadilan nanti, ya kita jalani hidup kita masing-masing." Jihan tersenyum. Senyuman yang ia paksakan.
Namun tidak dengan Hansen. Pria ini marah dan memilih pergi meninggalkan Jihan yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
Di ruang TV, Jihan tampak melamun beberapa saat. Ia masih tidak mengerti dengan sikap Hansen akhir-akhir ini.
Sikapnya itu seolah mulai peduli, namun dia juga tetap kekeh ingin bercerai dan Jihan tak punya pilihan lain selain menuruti apa yang pria itu inginkan.
***
Di lain pihak...
Hansen menatap kosong pada langit-langit kamarnya. Hatinya gundah, pikirannya gelisah. Hansen tak tau apa yang sebenarnya ia inginkan, terkadang ia ingin Jihan, terkadang juga ingin sendiri.
Kadang ia merasa pernikahan ini hanyalah beban, namun ia juga tidak bisa berubah bahwa kadang ia juga menganggap pernikahan ini adalah tempatnya pulang.
Kesal dengan perasaan yang tak ia mengerti ini, Hansen memutuskan untuk kembali ke apartemen.
Bersambung...