Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai yang Terluka
Angin bertiup tidak wajar di pelataran Kastil Adiwangsa. Udara yang tadinya pengap oleh asap mesin uap kini tersapu bersih oleh hembusan badai buatan yang membawa bau ozon dan embun beku. Di atas sana, awan kelabu bergulung liar, membentuk pusaran raksasa yang menutupi sisa-sisa sinar matahari pagi.
Kaelen melangkah keluar dari sayap perpustakaan, disambut oleh kepanikan yang terstruktur.
Di bawah komando Rexor, para preman Sektor Empat berteriak kasar sambil mendorong meriam-meriam anti-udara bertenaga uap ke posisi tembak. Di sisi lain, Komandan Kael berdiri di atas reruntuhan patung pualam, meneriakkan perintah baris-berbaris kepada mantan ksatria Ignis yang kini memanggul senapan laras panjang buatan pandai besi bawah tanah. Gesekan antara kedua kubu menghilang seketika, digantikan oleh insting primitif untuk bertahan hidup dari ancaman yang jauh lebih besar di atas kepala mereka.
Dari balik pusaran awan kelabu, moncong-moncong kapal kayu raksasa mulai menembus langit. Sky-Galleon milik Klan Aero. Lambung kapal-kapal itu memancarkan pendar hijau zamrud dari ukiran rune angin yang menopang mereka di udara. Layar-layar sutra putih mereka berkibar menantang badai, membawa lambang elang bermata satu.
"Jarak dua ribu meter!" teriak salah satu pengintai Rexor dari menara penjaga. "Mereka membuka palka bawah!"
Titik-titik hijau kecil berjatuhan dari perut kapal-kapal tersebut. Bukan anak panah, melainkan bom mana angin bertekanan tinggi.
"Berlindung!" raung Komandan Kael.
Ledakan pertama menghantam menara pengintai di sayap barat. Tidak ada api, melainkan gelombang kejut udara murni yang sangat brutal. Menara batu itu hancur dari dalam, pecahannya terlempar ke segala arah seperti pecahan peluru raksasa. Angin puting beliung mini tercipta di titik-titik jatuhnya bom, menyedot beberapa preman malang dan melemparkan mereka puluhan meter ke udara sebelum jatuh membentur aspal.
"Isi meriam! Tembak jatuh bajingan-bajingan terbang itu!" teriak Rexor, memutar tuas senapan mesinnya sendiri dan memuntahkan peluru timah ke langit.
Suara dentuman meriam mesiu bersahutan dengan senapan uap. Ratusan peluru logam melesat mengoyak udara menuju lambung kapal Klan Aero. Namun, saat peluru-peluru fisik itu berjarak sepuluh meter dari target, sebuah kubah angin transparan berpendar hijau menahan semuanya. Bola-bola besi seberat puluhan kilogram memantul layaknya kerikil yang dilempar ke dinding karet, lalu jatuh kembali ke bumi tanpa menimbulkan kerusakan sedikit pun.
Suara tawa bernada ejekan terdengar samar dari geladak armada di udara. Sihir melawan peluru fisik adalah pertarungan yang tidak seimbang.
Lyra berlari menghampiri Kaelen, merunduk menghindari serpihan batu pualam yang terbang di atas kepalanya. "Perisai Aero-Aegis mereka terlalu padat, Kaelen! Senjata Sektor Empat tidak dirancang untuk menembus sihir pelindung militer kelas atas. Jika kita tidak menjatuhkan perisai itu, mereka hanya akan membombardir kita sampai rata dengan tanah!"
Kaelen menatap armada udara itu dengan wajah datar. Peringatan Silas di perpustakaan tadi masih terngiang di kepalanya. Benda itu akan memakan kemanusiaanmu. Dan Kaelen menyadarinya saat ini juga. Di tengah pembantaian dan ledakan yang memekakkan telinga, jantungnya berdetak dengan ritme yang terlalu tenang. Ia tidak merasakan kepanikan. Ia tidak merasakan belas kasihan melihat orang-orangnya tewas. Ia hanya merasakan kalkulasi dingin yang mematikan.
"Rexor!" Kaelen berjalan menembus hujan peluru batu dan badai, suaranya diperkuat oleh resonansi Inti Leviathan hingga mengatasi kebisingan perang. "Bawa rantai jangkar dari mesin uap penarik gerbong! Kaitkan pada tombak meriam terbesar yang kau miliki!"
Rexor yang wajahnya dipenuhi jelaga langsung memahami maksud Kaelen. Ia meneriakkan perintah kepada krunya. Dalam hitungan detik, sebuah tombak baja raksasa seukuran tubuh manusia diikat dengan rantai rantai derek tambang yang sangat tebal, lalu dimasukkan ke dalam laras meriam uap utama.
Kaelen melompat naik ke atas laras meriam raksasa itu. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di permukaan peluru tombak baja yang dingin.
"Kau gila?!" teriak Komandan Kael, yang baru saja berlari mendekat sambil memegangi bahunya yang berdarah. "Tombak baja murni tetap tidak akan menembus perisai angin mereka!"
"Tombak biasa, benar," Kaelen memejamkan mata, memutar polaritas di dalam dadanya. Pendar biru berubah menjadi ungu kelam. "Tapi ini bukan tombak biasa."
Kaelen memompa energi Null miliknya, bukan untuk menyerap, melainkan membalut seluruh permukaan tombak baja itu dengan aura ketiadaan. Logam baja itu bergetar hebat, berubah warna menjadi hitam pekat yang menyerap cahaya di sekitarnya.
"Tembakkan ke kapal utama!" perintah Kaelen, melompat turun dari laras meriam.
Rexor menarik tuas pelatuk. Dentuman uap bertekanan tinggi meledak. Tombak baja berlapis aura Null itu melesat ke langit meninggalkan jejak kabut hitam keunguan.
Di udara, perisai Aero-Aegis milik kapal utama Klan Angin tampak bersinar terang menyambut serangan itu. Namun, saat ujung tombak Kaelen menyentuh perisai magis tersebut, tidak ada benturan. Aura ketiadaan di ujung tombak mengurai sihir angin itu di tingkat molekuler, merobek perisai hijau tersebut layaknya jarum panas menembus selembar mentega.
Tombak baja itu melesat lurus, menghantam dan menembus lambung kayu Sky-Galleon utama hingga berderak hancur.
"Kena!" raung Rexor. "Tarik rantainya! Nyalakan mesin derek!"
Mesin uap raksasa di pelataran meraung saat gigi-giginya berputar mundur. Rantai tambang menegang ekstrem, menarik paksa kapal udara raksasa itu. Klan Aero panik. Mereka mencoba meningkatkan daya apung sihir mereka, namun tarikan mesin uap Sektor Empat yang dirancang untuk menarik berton-ton bijih besi dari perut bumi jauh lebih bertenaga.
Kapal utama itu terseret turun dari langit. Badannya miring tajam, menabrak menara sayap timur kastil hingga hancur berantakan, sebelum akhirnya terbanting ke pelataran pualam dengan suara kayu patah yang mengerikan.
Debu dan asap hijau mengepul dari bangkai kapal raksasa tersebut.
Kaelen tidak membuang waktu. Sebelum para ksatria Angin di dalam kapal itu sempat merangkak keluar dari puing-puing, Kaelen sudah melesat masuk ke dalam lubang lambung kapal yang hancur.
Di dalam geladak yang remang-remang dan miring, selusin ksatria Klan Aero dengan zirah hijau muda mencoba bangkit. Mereka melihat Kaelen dan langsung menembakkan sabit-sabit angin setajam silet dari telapak tangan mereka.
Kaelen tidak menghindar. Inti Leviathan di dadanya berdenyut lapar. Ia melangkah maju, membiarkan sabit-sabit sihir angin itu menghantam tubuhnya. Namun sebelum menyentuh kulitnya, pusaran hitam terbuka, menyedot seluruh energi magis itu tanpa sisa. Sensasi dingin nan hampa menyebar di pembuluh darah Kaelen.
Ia bergerak dengan kecepatan yang tak bisa diikuti mata. Tangan kirinya mematahkan leher ksatria pertama, sementara kaki kanannya menendang dada ksatria kedua hingga tulang rusuknya meremuk. Tanpa pedang, tanpa sihir elemen, Kaelen membantai mereka murni dengan keunggulan fisik dan tangan kosong. Gerakannya efisien, tanpa sedikit pun emosi atau keraguan.
Hanya butuh waktu satu menit hingga seluruh geladak itu dipenuhi mayat.
Di ujung ruangan kapten, seorang pria paruh baya dengan jubah mewah Klan Angin merangkak mundur, wajahnya pucat pasi melihat pasukannya dibantai oleh satu orang tanpa sihir.
"Kau... monster pemakan dewa..." kapten Klan Angin itu tersedak, punggungnya membentur dinding kayu yang hancur.
Kaelen melangkah mendekat, sepatu botnya menginjak darah yang menggenang. Langkahnya terhenti saat mendengar sebutan itu. Monster pemakan dewa.
Kaelen mencengkeram kerah jubah kapten itu, mengangkatnya hingga kakinya melayang. "Dari mana kau tahu sebutan itu?" tanyanya, suaranya sedingin lapisan es abadi.
Kapten itu tersenyum dengan gigi berdarah, matanya memancarkan keputusasaan yang bercampur dengan fanatisme. "Kau pikir kami datang ke sini hanya karena kalian melemah? Bodoh... Kekaisaran Pusat telah mengetahui kebangkitanmu. Titah rahasia telah disebar ke seluruh klan bangsawan di benua ini. Siapa pun yang bisa membawa jantungmu kepada Kaisar Agung... akan diberikan kursi di Dewan Tinggi."
Inti Leviathan di dada Kaelen berdenyut menyakitkan, merespons amarah kelam yang perlahan meracuni pikiran rasionalnya. Kekaisaran Pusat telah menjadikannya buronan dunia.
"Bagus," bisik Kaelen, matanya sepenuhnya menggelap. "Katakan pada kaisarmu, dia tidak perlu mencariku."
Kaelen menancapkan telapak tangannya tepat di tengah dada sang kapten. Ia tidak membunuhnya dengan pukulan fisik. Kaelen membiarkan artefak kunonya bekerja, membalikkan hisapannya, menyedot sisa-sisa mana dan percikan tenaga kehidupan langsung dari dalam jiwa sang kapten. Tubuh kapten itu menegang, layu seketika, dan berubah menjadi sekam kering sebelum Kaelen melemparkannya ke lantai.
Kaelen melangkah keluar dari bangkai kapal, berdiri di atas geladak yang terbuka, menatap sisa belasan Sky-Galleon di udara yang kini membeku dalam formasi mereka, menyaksikan kapal utama mereka dihancurkan dengan mudah.
Kaelen mengangkat tangannya yang berlumuran darah ke arah langit, memperlihatkan aura hitam keunguan yang kini bergolak semakin masif, memancarkan ancaman mutlak kepada dunia yang memburunya. Perang saudara klan Adiwangsa telah selesai, digantikan oleh perang melawan seluruh dunia sihir.