“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Pagi itu, langit Jakarta tampak cerah seperti biasa panas, riuh, dan tak pernah benar-benar tidur. Kayla melangkah masuk ke area kampus dengan langkah santai, ransel tersampir di satu bahu. Wajahnya terlihat biasa saja, tapi sisa kelelahan semalam masih tertinggal di matanya.
Begitu memasuki halaman kampus, ia langsung melihat tiga sosok yang sangat ia kenal.
Adelia duduk di bangku taman sambil memainkan ponsel. Ditha berdiri di sampingnya dengan kopi dingin di tangan. Dan Zayn duduk agak menjauh, bersedekap, wajahnya datar seperti orang yang belum berdamai dengan hidup.
Kayla mendekat.
“Kalian gapapa?” tanyanya, nada suaranya refleks berubah sedikit serius.
Adelia langsung berdiri.
“Gapapa, aman.” Ia mengulurkan sebuah kunci. “Nih, kunci mobil lo!”
Kayla cepat-cepat meraihnya. “Astaga… hp gue?”
“Masih di dalem,” jawab Adel santai. “Sama tas lo juga.”
Hembusan napas panjang langsung keluar dari dada Kayla. Bahunya terasa lebih ringan.
“Syukurlah,” gumamnya. “Gue kira ilang semua.”
Ditha menyeruput kopinya. “Kalau ilang, lo bisa ngamuk seminggu penuh.”
Kayla mendelik. “Apaan sih. Emang gue se lebay itu !’’
‘’Lo gak nyadar Kay ?’’
‘’Udah gak usah di bahas !’’ ucap Kayla menghindar, Lalu ia menatap mereka bertiga bergantian. “Semalem kalian ngumpet ke mana? Gue nungguin di pinggir jalan dua jam, tau!”
Adel tertawa kecil. “Polisinya cuma gertak doang, Kay. Gak lama. Muter bentar, terus pergi.”
“Iya,” sambung Ditha sambil menahan senyum. “Masalahnya…”
Kayla mengangkat alis. “Masalahnya apa?”
Ditha menoleh ke arah Zayn. “Zayn udah capek-capek manjat pohon… tapi gak bisa turun!”
Sejenak hening.
Lalu—
Kayla dan Adelia spontan menoleh ke arah Zayn. Zayn menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras. Dari raut wajahnya, jelas ia sedang menahan kesal sekaligus harga diri yang runtuh.
“Zayn… lo gapapa kan?” tanya Kayla, berusaha serius meski sudut bibirnya sudah bergetar.
Zayn menoleh pelan. “Lo nanya apa mau ngetawain gue?”
Dan itu… jadi pemicu.
“HAHAHAHAHAHA!”
Kayla langsung membungkuk sambil tertawa terbahak-bahak. Adelia sampai memegang perut. Ditha hampir menumpahkan kopinya sendiri.
“Anjir Zayn!” Adel tertawa sambil terengah. “Lo kira lo Tarzan?!”
“Pohon apa, Zayn?” tanya Kayla di sela tawa. “Pohon mangga? Atau beringin sekalian?”
Zayn berdiri. “Kalian kejam,” katanya datar. “Gue bisa trauma sama pohon mulai sekarang.”
“Tapi serius,” Ditha masih terkekeh, “lo akhirnya turun gimana?”
Zayn menghela napas panjang. “Satpam komplek. Jam tiga pagi. Gue turun pake tangga.”
Dan tawa mereka kembali pecah lebih keras.
Sama sekali tidak pernah terpikir di kepala mereka. Seorang Zayn bisa memanjat pohon. Sekali lagi, memanjat pohon dan tidak bisa turun.
Dia memang laki laki, mungkin harusnya terdengar biasa untuk di kalangan umum. Tapi ini Zayn, dia berbeda. Sejak kecil, dia tidak pernah melakukan hal seperti anak laki laki pada umumnya.
Bahkan, Zayn baru mulai berbaur, memiliki teman. Yakni sejak dia mengenal Kayla. Gadis bar bar yang selalu membuat rusuh di sekitar. Barulah, Zayn seperti membuka jendela perlahan. Sedikit demi sedikit dia mulai tahu dunia luar.
Balapan, diskotik, bahkan sampai berani memanjat pohon. Bukankah itu kemajuan luar biasa, batin Kayla.
**
Selesai dari kampus, Kayla langsung melajukan mobilnya ke bengkel langganan. Setir terasa agak berat, suara mesin pun tidak senyap seperti biasanya. Setiap kali melewati jalan berlubang, mobilnya mengerang seolah ikut mengeluh.
“Fix, ini mobil ngambek,” gumam Kayla sambil memarkir kendaraan di depan bengkel.
Bengkel itu cukup ramai. Bau oli bercampur asap tipis memenuhi udara. Beberapa montir lalu-lalang, suara besi dipukul terdengar bersahutan. Kayla turun dari mobil, menyampirkan tas di bahu, lalu melangkah masuk.
“Kak Adi!” panggilnya lantang. Seorang pria berusia akhir dua puluhan menoleh dari balik kap mobil yang terbuka.
“Eh, Kayla. Kenapa lagi?” tanyanya sambil menyeka tangan dengan lap kain.
Kayla menyeringai, menyerahkan kunci mobil. “Semalem abis adu banting.”
Adi mengernyit, lalu segera mengecek kondisi mobil Kayla. Ia berjongkok, melihat bagian bawah, lalu berdiri lagi dengan ekspresi tak terlalu meyakinkan.
“Astaga… separah ini?”
Kayla terkekeh kecil, jelas merasa bersalah. “Hehehe… tolong ya, Kak.”
“Kai, ini gak bisa buru-buru,” kata Adi serius. “Parah ini. Beberapa part harus dicek, mungkin diganti.”
Kayla menghela napas, lalu mengangguk pasrah. “Ya udah, gapapa lah. Yang penting bisa balik normal lagi.”
“Oke deh,” jawab Adi. “Nanti aku kabarin.”
Kayla hendak berbalik, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti. Dari sudut matanya, ia melihat sosok yang sangat ia kenal atau lebih tepatnya, yang belakangan ini terlalu sering muncul di pikirannya.
Seorang laki-laki duduk di bangku panjang di sudut bengkel. Koko polos, celana gelap, peci hitam. Posturnya tegap, tangannya menggenggam tas kecil, matanya menunduk membaca sesuatu entah buku atau ponsel. Tenang. Rapi. Dan sangat kontras dengan suasana bengkel yang bising.
Jantung Kayla berdetak sedikit lebih cepat.
Ia mendekat ke Adi, lalu berbisik, “Oh ya, Kak Adi… kok dia di sini?”
Adi mengangkat alis. “Siapa?”
“Itu,” Kayla memberi kode dengan dagu. “Yang duduk di sana.”
“Oh,” Adi menoleh sekilas. “Ustadz Hanan.”
“Dia ustadz?” Kayla mengulang, nyaris tak percaya.
“Iya,” jawab Adi santai. “Kamu gak lihat penampilan dia?”
Kayla hanya mengangguk pelan. Tiba-tiba ia merasa bajunya hari ini kembali ‘salah’. Kaos santai, celana jeans robek sedikit di lutut, rambut dibiarkan tergerai tanpa aturan.
Tidak ada yang baru, itu dirinya sejak lama. Tapi entah kenapa, setiap berada satu ruang dengan Hanan, Kayla selalu merasa seperti sedang berdiri di tempat yang tidak seharusnya.
“Ya udah,” katanya cepat, seperti ingin segera menghindari perasaan itu. “Aku cabut dulu deh, Kak. Nanti kabarin aja ya.”
Adi mengangguk. “Siap.”
Kayla langsung berbalik dan melangkah keluar tanpa menoleh ke arah bangku itu. Ia tidak menyapa. Tidak tersenyum. Tidak berkata apa-apa.
'Nyapa juga paling dikacangin. mending kabur aja pura-pura gak lihat!'
apa aj umi.... Kayla pasti ikut aj