NovelToon NovelToon
Takut Nikah

Takut Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cintamanis / Romansa
Popularitas:363.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

"Kapan nikah?"

"Udah mau 30 loh."

"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."

Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.

3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.

Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?

Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

Jena baru saja turun dari taksi ketika matanya menangkap sosok seorang gadis yang baru saja melesat pergi dengan motor. Ia mengernyit. Entah kenapa, dari samping tadi, gadis itu terasa familiar.

"Seperti pernah lihat..."

Jena masih berdiri di pinggir jalan, berusaha mengingat, ketika suara seseorang membuyarkan lamunannya.

"Jena?"

Jena menoleh.

Budi berdiri di balik gerobak roti bakarnya. Wajah laki-laki itu tampak jelas menunjukkan keterkejutan.

"Jena." Panggilnya sekali lagi, seolah memastikan bahwa perempuan yang berdiri di depan gerobak roti bakarnya benar-benar Jena.

Ia sama sekali tidak menyangka Jena akan datang ke tempatnya. Bukankah beberapa hari lalu perempuan itu sudah mengatakan bahwa urusan mereka selesai? Tidak ada lagi alasan untuk bertemu. Tapi malam ini, Jena justru muncul di depan gerobaknya.

"Kamu...kesini." Budi tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya.

Jena mengangkat bahu. "Tadi nggak sengaja lewat, terus pingin mampir."

Budi melirik jalanan di belakang Jena, kemudian kembali menatapnya. "Emang dari mana kok lewat sini?"

"Adalah."Jena mendekati gerobak Budi, memperhatikan deretan roti dan toping di gerobak kaca tersebut.

"Mau roti bakar?"

"Nggak."

"Gratis."

"Nggak mau."

"Yang mahal juga boleh."

Jena menatapnya sinis. "Siapa bilang aku nggak mampu beli?"

Budi tertawa. "Nah, berarti mau?"

"Nggak."

Jena kemudian berjalan menuju kursi plastik di depan gerobak dan duduk.

"Masalahnya...kursi itu hanya untuk pelanggan, yang boleh duduk cuma yang beli aja."

Jena mendengus.

"Mau rasa apa? Gratis, tenang aja." Budi terkekeh pelan. "Suka macha kan?"

"Bolehlah."

Budi segera membuatkan roti bakar dengan toping macha dan coklat. Varian yang merupakan best seller.

Jena memperhatikan Budi yang sedang membuat roti bakar. Gerakan tangannya cekatan. Mengoleskan margarin, memanggang roti, kemudian menambahkan topping,

Laki-laki itu terlihat begitu menikmati pekerjaannya. Tidak ada pakaian mewah. Tidak ada ruangan ber-AC. Tidak ada meja besar penuh orang yang membicarakan bisnis. Hanya gerobak sederhana, lampu kecil, dan aroma roti bakar.

Budi yang sedang memotong roti meliriknya "Kamu kenapa, kusut banget mukanya?"

"Aku habis kabur."

Tangan Budi berhenti. "Kabur?"

Jena akhirnya terkekeh kecil. "Iya, dari acara makan malam. Awalnya gak tahu mau kemana, karena kalau pulang, pasti habis dimarahi bokap. Lewat jalanan ini, langsung keinget kamu."

Budi mengangkat alis. "Kenapa harus kabur dari acara makan malam, bukannya enak ya?"

"Orang-orangnya yang bikin aku stres. Gila gak, zaman sekarang, masih aja ada acara perjodohan."

"Perjodohan!" pisau di tangan Budi hampir terlepas. Ia terdiam.

Jena kemudian menghela napas panjang. "Tadi aku dikenalin sama anak temannya Papa. Semua orang di sana sibuk ngomongin bisnis. Aku malah merasa seperti barang yang sedang dinegosiasikan."

Budi kembali melanjutkan pekerjaannya, tetapi kali ini jauh lebih pelan. "Terus kamu kabur?"

"Iya."

"Gimana orangnya, ganteng?"

"Siapa?"

"Yang dijodohin sama kamu."

"Mayanlah."

"Oh..." Budi tersenyum kaku. Entah kenapa, kabar Jena dijodohkan, membuatnya tak nyaman, apalagi mendengar ternyata calonnya lumayan.

"Eh, Mbak bukannya cewek yang dulu nabrak gerobak Budi ya?" tanya Mang Udin.

Jena menoleh pada penjual nasi goreng di samping gerobak Budi. "Masih ingat, Pak."

"Saya mah, kalau sama orang cantik, susah lupa."

Jena tertawa, begitu pula dengan Budi.

"Belum selesai urusan sama Budi?"

"Udah kok."

"Kelihatannya kok dekat sama Budi?" Mang Udin menatap Jena dan Budi bergantian. "Jangan-jangan...setelah jatuh dari motor...eh jatuh hati."

"Hah!" Jena melongo beberapa saat, lalu tertawa. "Ada-ada aja si Bapak."

Budi yang sedang memotong roti, diam-diam mengaminkan ucapan Mang Udin.

Budi memasukkan roti bakar milik Jena ke dalam kotak, tanpa menutup, memberikan pada Jena. Sekalian, dia memberi sarung tangan plastik agar tangan Jena tidak kotor saat memakannya.

"Cobain. Kali aja habis dikasih gratisan gini, kamu jadi pelanggan setia aku."

"Aromanya enak." Jena mengambil sepotong setelah memakai sarung tangan plastik.

"Penjualnya juga ganteng," celetuk Budi.

"Dih, narsis."

Budi menarik kursi ke dekat Jena, baru mau duduk, ada pelanggan datang. Ia terpaksa kembali ke gerobaknya, membuatkan pesanan.

Sambil menikmati roti bakar yang ternyata lumayan enak itu, Jena kembali memperhatikan Budi bekerja.

Awalnya ia mengira gerobak sederhana di pinggir jalan itu hanya sekadar usaha kecil. Ternyata dugaannya salah. Semakin malam, semakin ramai pelanggan yang datang, bahkan sampai antri.

Dan yang membuat Jena sedikit heran, sebagian besar pelanggan Budi adalah perempuan. Apa ini yang namanya, good looking menyelesaikan setengah masalah hidup. Ia yakin, dagangannya bisa seramai ini, salah satu faktornya ya karena yang jualan ganteng.

Budi berjualan di tepi jalan, berjejer dengan penjual makanan lainnya. Ada penjual nasi goreng, sate taichan, dimsum, martabak, dan minuman. Tapi entah kenapa, gerobak Budi yang paling ramai.

Jam di ponsel Jena menunjukkan pukul sepuluh lebih dua puluh ketika pelanggan terakhir pergi.

Budi membersihkan alat panggang sambil menghela napas lega. "Habis."

Jena menatap gerobak yang sudah kosong. "Gila, baru jam sepuluh lebih udah habis."

"Alhamdulillah rame. Mungkin karena ada kamu, bawa hoki."

Jena tersenyum. "Setiap hari kayak gini?"

"Gak selalu habis jam segini, kadang sampai jam 12." Budi mulai membereskan gerobaknya.

Jena masih duduk di kursinya.

"Kamu belum mau pulang?" Budi menatap Jena.

"Udah gak boleh disini lagi ya? Ini kursi mau diberesin?" Jena buru-buru berdiri.

"Santai aja, aku masih beresin gerobak. Tapi... kalau kamu belum mau pulang, gimana kalau nemenin aku?"

"Kemana?"

"Ngopi. Mau gak? Tapi gak di coffee shop mahal, cuma di angkringan sana." Menujuk angkringan yang tak jauh dari tempat ia jualan.

Jena melihat ke arah yang ditunjuk. Sebuah angkringan lesehan dengan beberapa meja kayu pendek. lampu kuning temaram, dan kepulan asap dari tungku.

Jena lalu tersenyum. "Boleh."

Setelah membereskan gerobak dan kursi, Budi mengambil jaket lalu mereka berjalan berdampingan menuju angkringan.

Jena tidak tahu kenapa ia merasa jauh lebih nyaman berada di tempat sederhana seperti ini dibandingkan restoran mewah beberapa jam sebelumnya.

Di restoran tadi, semua orang membicarakan bisnis dan pernikahan. Di sini, hanya ada aroma kopi, suara kendaraan yang sesekali lewat, dan obrolan orang-orang biasa.

Mereka duduk lesehan di tikar, meja paling ujung, karena hanya meja itu yang kosong.

Budi kemudian memesan dua kopi, kopi hitam untuk dirinya, dan kopi susu untuk Jena.

"Sate-sateannya disini juga enak loh. Gak pengen nyobain?"

"Boleh deh."

Mereka kembali berdiri, menuju gerobak angkringan untuk memilih sate. Ada banyak pilihan, mulai dari sate usus, jeroan, hingga telur puyuh. Setelah mengambil beberapa, mereka kembali ke tempat duduk, menunggu sate mereka dipanggang.

"Pakai ini." Budi menyodorkan jaketnya pada Jena.

"Gak usah, aku gak kedinginan kok."

"Bukan itu. Untuk menutupi kaki kamu, takut digigit nyamuk, kamu kan pakai rok pendek. Nyamuk disini nakal, sukanya sama yang cantik-cantik."

Jena terkekeh, lalu dengan ragu, menutupi kakinya dengan jaket hitam milik Budi. "Gak papa nih? Di bawah loh? Gak takut jaketnya kotor?"

Budi tersenyum. "Aku lebih takut kamu digigit nyamuk. Takut diminta pertanggungjawaban, yang ajak kesini kan aku."

Keduanya tertawa bersama.

1
Shee_👚
tar habis nikah kapan punya anak, heh berasa di teror banget😪
Shee_👚
sombong jen mulai kumat, hajar jen tunjukan kesombonganmu🤣
Shee_👚
hajar jen mulut orang² julid, sebel kalau da orang begini sok paling banget
Shee_👚
ini pas acara lamaran may, jena nabrak budi🤣
juwita
emg bener klo pny penyakit hati iri dengki semua di omongin smua di masalah buat jatuhin org. pdhl mrk saudara harusnya sailing dukung ini malah julid
Shee_👚
kamu pikir semudah itu membatalkan pernikahan orang lain, hanya karena praduga mu😏
Linda Gunawan
besok nikah lancar² ya Bud Jen. kalo ada perusuh kecil dan besar Jena pasti tau lah harus lakuin apa. lemparkan saja ke jalanan
Linda Gunawan
ntar kalo kamu udah nikah ditanyain kapan punya anak, udah punya anak 1 ditanyain lagi kapan nambah anak. terus aja begitu..
Bunda Idza
dihidupmu banyak sekali ranjau ya Jen ... tapi kamu sudah kuat dan tegar...selalu seru kalo ketemu Budi ya Jen ....💪💪💪 menuju halal
Ummu Shafira
🌟🌟🌟🌟🌟❤️❤️❤️❤️❤️
Dhiany Annas
Thoorrr, Pleassssse....update nya dipanjangin doongng...🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Ari Atik
suka cara kamu nyentil sepupumu jen.....
Kar Genjreng
masyaallah tabarakallah banget ya Jena
Alhamdulillah Budi sangat suka Jena berhijab tapi memang cantik beneran Jen
biasa nya juga camti tetapi kali lebih cantik abis 😂 Jena keluar Mama Mu memang. bikin iri ya. kan. dari Mama cuma Jena Anak sah nya,,,, yang lain terserah lah ya,,,, kalau keluarga Papa mu mungkin dari keluarga mampu semuanya,,, yang paling panas Naura haha ko jadi nikah justru harus jadi dan jangan harap bisa mendekati Budi kembali kelak bisa kena cambuk kuda lumping dari Jena,,,ga sabar nunggu besok pagi ya Jen ❤️🌹❤️🌹
Ari Atik
rasakno ....
jena provokasimu ternyata berhasil...😁
L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦
Nanti udah nikah pasti di tanya kpn punya anak 😂😂😂
udah biasa Jen....sabar y
Oiya si Naura lagi mode patah hati 😁😁
g kaya Jenna mode happy
Sugiharti Rusli
dan sepupu Jena hanya melihat Budi saat sedang jualan roti bakar di pinggir jalan, dia belum pernah melihat Budi secara saat santai yah, si Naura saja juga kesengsem sama Budi, karena dia melihat Budi saat jadi pelatih paskibranya dulu yah,,,
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
makanya smapai juwita kegatalann sama papa kamu jen, laki2 kaya raya apalagi royall, selalu jadi incaran para kuntilanak dan incaran saudara buat lapak hutang 🤣🤣 makanya kamu harus cepat hamil dan kalau bisa anak kamu laki2, coba kamu request sama author supaya di kasih anak laki2 🤭 biarr semua asett papa kamu jatuh ke tangan anak kamu.
Sugiharti Rusli
karena mama Asri beda karakter dari Jena yang seperti ayahnya yang keras dan ga akan mau mengalah kalo dia merasa benar,,,
Sugiharti Rusli
benar sih kalo Jena akhirnya jengah juga sama ucapan tante dan sepupu" nya dari pihak mama Asri,,,
Sugiharti Rusli
apalagi bagi keluarga" yang terkadang tidak memiliki bahan omongan yang manfaat dan hanya melihat apa yang ingin mereka dengar saja,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!