Dua puluh lima tahun Ryu Jin mengurung jiwanya di dasar jurang terlarang demi menahan kebangkitan Pedang Tulang Hitam. Namun, Aliansi Tiga Sekte membantai seluruh warga desanya demi menguras darah jiwa murni. Tetesan darah warga merobek segelnya. Sang Iblis Purba terbangun dengan mata membara. Mereka tidak tahu bahwa desa itu bukanlah pemukiman biasa, melainkan penjara tempat dikurungnya bencana abadi. Kini, pintunya telah terbuka, dan Ryu Jin siap menagih jiwa para penguasa benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERAHU KAYU HITAM
Bau garam yang tajam bercampur aroma amis ikan busuk bertiup dari arah laut lepas. Gelombang ombak kehitaman bergulung-gulung menghantam tiang-tiang kayu dermaga yang telah melapuk. Setelah berjalan selama dua hari menembus Pegunungan Es yang dingin, jalur darat akhirnya terputus di ujung selatan benua.
Di hadapan Ryu Jin, terhampar Kota Pelabuhan Awan Kelabu—sebuah pemukiman pesisir yang riuh oleh teriakan para kuli angkut, derap langkah kuda, dan dentingan keping emas dari para pedagang antar-benua.
Kota ini adalah tempat berkumpulnya para buronan, pelaut nekat, dan pedagang gelap. Namun, di tengah hiruk-pikuk manusia yang lalu lalang di jalanan berbatu yang becek, kehadiran Ryu Jin langsung menciptakan gelombang keheningan yang aneh.
Ryu Jin melangkah santai menyusuri dermaga kayu. Jubah kelabunya yang kusam berkibar perlahan ditiup angin laut. Lima pola ukiran mata merah pada sarung Pedang Tulang Hitam di punggungnya tersembunyi di balik kain tebal, namun hawa membeku yang memancar dari tubuhnya tak bisa disembunyikan.
Setiap kali Ryu Jin melangkah melewati kerumunan pedagang atau kuli panggul, orang-orang di sekitarnya secara tidak sadar mundur beberapa langkah. Tanpa tahu alasannya, bulu kuduk mereka berdiri tegak, napas mereka terasa berat, dan percakapan riang mereka terhenti seketika sampai pemuda bertangan dingin itu berlalu jauh dari hadapan mereka.
Ryu Jin tidak memedulikan tatapan heran dan gelisah di sekelilingnya. Matanya yang merah redup menatap lurus ke arah lautan luas di mana kabut tebal berwarna merah keemasan membentang di ujung horizon—Badai Kabut Teratai, batas alami yang memisahkan benua ini dengan Benua Barat.
Di tepi dermaga kayu yang menjorok ke laut, berdiri sebuah kedai kecil yang beratap jerami lapuk: Kedai Nelayan Tua. Bau asap kayu bakar dan gurihnya ikan memanggang menguar tipis dari dalam kedai.
Ryu Jin mendorong pintu kayu kedai yang setengah terbuka, lalu melangkah masuk.
Suasana di dalam kedai tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pelaut bertubuh kekar dan pedagang paruh baya yang duduk mengelilingi meja kayu. Ryu Jin berjalan menuju sudut paling sepi di tepi jendela yang menghadap langsung ke lautan luas, lalu duduk dengan tenang.
Seorang pelayan wanita muda mendatangi mejanya dengan langkah gemetar. Langkah kakinya terasa berat, ketakutan tanpa alasan menyergap dadanya saat berjarak dua meter dari Ryu Jin.
"P-Pelanggan... ingin memesan apa?" tanya pelayan itu dengan suara pelan dan menundukkan kepala.
"Satu teko teh hangat dan ikan bakar," jawab Ryu Jin datar. Suaranya halus, tanpa ada nada menakutkan, namun sanggup membuat pelayan itu mengangguk cepat dan melangkah mundur terburu-buru menuju dapur.
Ryu Jin bersandar pada kursi kayu tua, menuangkan sedikit air dingin ke dalam cangkir di mejanya. Untuk pertama kalinya sejak ia membantai Tiga Sekte Besar, Ryu Jin duduk diam tanpa mengayunkan pedang atau mengalirkan aura kematiannya. Ia menikmati momen jeda yang tenang ini, membiarkan tubuhnya beristirahat sejenak sambil mendengarkan bisik-bisik dari meja sebelah.
Di meja tengah kedai, empat orang pelaut bertubuh tegap sedang meneguk anggur murah dengan wajah tegang.
"Kau sudah mendengar beritanya?" bisik pelaut berjanggut tebal sambil menoleh ke kiri dan kanan. "Puncak Gunung Langit Merah... runtuh total! Sekte Pedang Suci sudah musnah!"
"Jangan bicara sembarangan!" sergah rekannya dengan mata melotot. "Sekte Pedang Suci memiliki Tetua Agung Duan Feng di ranah Soul Formation! Siapa yang sanggup meratakan tempat itu dalam semalam?!"
"Aku tidak bohong!" balas pelaut berjanggut itu panik. "Kemarin sore, kapal pengangkut bahan bangunan melihat Benteng Melayang Sekte Awan Putih juga jatuh dan hancur berkeping-keping di Pegunungan Es! Katanya... ada iblis dari desa terpencil yang datang mencabut nyawa seluruh pimpinan sekte!"
"Iblis Desa Sunyi..." gumam pedagang di sudut lain dengan wajah pucat pasi. "Sekarang tidak ada lagi pemilik kapal yang berani berlayar ke selatan. Semua ketakutan jika iblis itu tiba di kota pelabuhan ini!"
Ryu Jin yang duduk di dekat jendela hanya mendengarkan percakapan itu tanpa ekspresi. Ia mengangkat cangkir teh hangat yang baru saja diantarkan oleh pelayan, lalu meneguknya perlahan. Hawa hangat dari cairan teh itu mengalir di tenggorokannya, menyelaraskan aliran energi murni di dalam tubuhnya yang terus memadat.
"Tapi yang paling parah adalah Sekte Teratai Emas," lanjut pelaut berjanggut itu. "Dewi Lian Ji telah menutup seluruh jalur lautan menuju Benua Barat dengan Badai Kabut Teratai. Siapa pun kapal yang nekat melintas akan hancur menjadi debu oleh racun teratai!"
Saat Ryu Jin sedang menikmati ikan bakarnya dengan tenang, pintu kedai mendadak ditendang terbuka dari luar dengan keras.
DUAARR!
Tiga orang pria bertubuh besar dengan pakaian zirah kulit buaya melangkah masuk dengan gaya arogan. Di pinggang mereka, tergantung parang beracun bermata dua. Dialah Bao Lu, penguasa pasar gelap Pelabuhan Awan Kelabu yang berada di ranah Foundation Establishment tingkat puncak, beserta dua pengawalnya.
"Mana uang perlindungan hari ini?!" teriak Bao Lu dengan suara kasar seraya memukul meja terdekat hingga retak.
Pemilik kedai yang sudah tua berlari keluar dari dapur, berlutut gemetar di hadapan Bao Lu. "M-Master Bao... hari ini kedai sangat sepi... tolong beri kami waktu sampai besok..."
"Banyak alasan!" bentak Bao Lu, menendang dada pemilik kedai hingga tua bangka itu tersungkur memuntahkan darah.
Para pengunjung kedai mendadak bungkam dan menundukkan kepala, tidak ada yang berani ikut campur dengan urusan penguasa lokal yang kejam itu.
Bao Lu menyapu pandangannya ke seluruh isi kedai, dan matanya langsung tertuju pada sudut dekat jendela—tempat Ryu Jin duduk sendirian sambil menikmati makanannya tanpa memedulikan keributan di depan pintu.
Kesombongan Bao Lu tersulut melihat ada orang asing yang acuh tak acuh dengan kehadirannya. Ia melangkah mendekati meja Ryu Jin, lalu menghantamkan telapak tangannya ke atas meja makan Ryu Jin hingga cangkir teh bergetar.
"Hei, Bocah kusam!" bentak Bao Lu dengan nada mengancam. "Kau orang baru di sini? Tunjukkan rasa hormatmu dan serahkan seluruh keping emas yang kau punya di dalam kantongmu!"
Ryu Jin tidak mendongak. Ia meletakkan sumpitnya ke atas piring kayu secara perlahan.
Suasana di dalam kedai mendadak berubah menjadi sangat dingin. Lilin-lilin di atas meja meredup, dan uap dari teko teh hangat milik Ryu Jin seketika membeku menjadi serpihan es di udara.
"Jangan mengganggu makan siangku," kata Ryu Jin pelan. Suaranya datar, namun sanggup membuat jantung Bao Lu berdegup kencang secara tidak wajar.
Bao Lu yang merasa terhina di depan anak buahnya menjadi merah padam. "Kepala batu! Bunuh dia!"
Dua pengawal di belakang Bao Lu mencabut parang beracun mereka dan melesat maju, mengayunkan senjata mereka untuk memenggal leher Ryu Jin!
Ryu Jin bahkan tidak menghentikan gerakan tangannya. Ia hanya menjentikkan ibu jari tangan kirinya secara sepele ke udara.
KLIK.
Sebuah titik aura hitam seukuran biji beras meluncur dari ujung jarinya, membelah udara dan menembus dahi kedua pengawal tersebut dalam sekejap.
SSSTTT!
Kedua pengawal itu seketika membeku di tempat. Parang mereka terlepas dari genggaman dan hancur menjadi abu besi sebelum mendarat di lantai. Matanya melotot putih, dan dalam hitungan satu detik, seluruh energi kehidupan dan darah mereka padam tanpa sisa.
BRUGH! BRUGH!
Dua pengawal bertubuh besar itu roboh kaku ke atas lantai kayu, menjadi dua mayat kering yang tak lagi bernyawa.
Bao Lu terlonjak mundur tiga langkah, matanya melotot lebar hingga pembuluh darahnya hampir pecah. Dua pengawal tingkat Foundation Establishment tewas secara mendadak hanya karena jentikan jari yang tidak kasat mata!
"K-Kau... kau siapa?!" jerit Bao Lu histeris dengan bibir yang gemetar hebat.
Ryu Jin mengangkat pandangannya secara perlahan. Mata merah darahnya menatap datar ke arah Bao Lu.
"Kau ingin emas?" tanya Ryu Jin datar.
Ryu Jin mengibaskan tangannya, melempar sekeping Batu Spiritual Tingkat Tinggi berwarna biru murni yang bernilai ratusan ribu keping emas ke atas meja pemilik kedai yang tergeletak di lantai.
"Itu untuk membayar teh, ikan bakar, dan ganti rugi mejanya," kata Ryu Jin pelan.
Kemudian, Ryu Jin menatap kembali ke arah Bao Lu yang sudah basah kuyup oleh keringat dingin.
"Sedangkan untukmu..." Ryu Jin berdiri dari kursinya. "...kau sudah mengganggu ketenanganku."
SSSTTT!
Tanpa perlu menggerakkan tangan, gelombang tekanan jiwa dari mata merah Ryu Jin menghantam dada Bao Lu secara langsung!
CRES!
Bao Lu bahkan tidak sempat berteriak. Seluruh organ dalamnya hancur berkeping-keping di balik zirahnya, memuntahkan sekantong darah hitam dari mulutnya sebelum tubuhnya roboh tak bernyawa di atas lantai kedai.
Seluruh pengunjung kedai terperangah dengan mata melotot lebar. Tidak ada satu pun suara yang berani keluar. Mereka menatap pemuda berpakaian kelabu itu dengan rasa horor yang tak terbayangkan. Tiga penguasa lokal yang ditakuti di kota pelabuhan ini tewas secara mendadak tanpa perlu pemuda itu mencabut senjata di punggungnya!
Ryu Jin melangkah keluar dari kedai secara tenang, meninggalkan tiga bangkai berzirah yang terbujur kaku di dalam.
Ia berjalan menuju ujung dermaga kayu yang sepi, di mana ombak laut kehitaman bergulung keras. Di sana, terikat sebuah perahu kayu kecil berukuran lima meter dengan warna hitam legam tanpa layar.
Di atas perahu kayu hitam itu, terduduk seorang pria tua kurus berpakaian caping jerami yang sedang mengisap pipa tembakau. Tangannya yang keriput menggenggam sebuah dayung kayu tua yang terukirkan barisan mantra penolak racun.
Pria tua itu mendongak perlahan saat melihat Ryu Jin mendekat. Matanya yang kabur menatap lurus ke arah kain pembungkus Pedang Tulang Hitam di punggung Ryu Jin.
"Lama sekali aku tidak melihat pedang itu berkeliaran di bawah langit..." kata nahkoda tua itu dengan suara serak, hembusan asap tembakaunya melayang tertiup angin laut. "Anak muda... kau ingin menyeberangi Badai Kabut Teratai?"
Ryu Jin berhenti di tepi dermaga, menatap nahkoda tua itu dengan tenang. Ia menyadari bahwa nahkoda tua di hadapannya bukan praktisi biasa—tubuhnya tidak memancarkan energi murni, namun jiwanya begitu menyatu dengan lautan lepas.
"Bawa aku ke Benua Barat," jawab Ryu Jin singkat.
Nahkoda tua itu terkekeh pelan, mengibaskan debu tembakau dari pipanya. "Kabut racun yang dipasang oleh Sekte Teratai Emas sanggup melelehkan kapal besi dalam waktu lima menit. Tak ada nahkoda di pelabuhan ini yang berani mempertaruhkan nyawanya."
Ryu Jin merogoh kantong dimensinya, lalu melempar lima keping Batu Spiritual Tingkat Tinggi ke atas papan perahu kayu hitam tersebut.
"Ini bukan tentang uang, Anak Muda," kata nahkoda tua itu seraya memungut batu-batu kristal biru itu dengan senyuman tipis. "Ini tentang dendam. Dewi Lian Ji telah membantai keluarga lautku puluhan tahun lalu... dan aku sudah menunggu orang yang tepat untuk mengantarkannya menuju kematian."
Nahkoda tua itu menepuk papan kayu perahunya. "Naiklah. Perahu Kayu Hitam ini dibuat dari kayu pohon terlarang yang tak akan membusuk oleh racun teratai."
Ryu Jin melompat ringan dari dermaga, mendarat di atas perahu kayu kecil tersebut tanpa menimbulkan riak air sedikit pun.
Nahkoda tua itu melepaskan tali pengikat dermaga, lalu mulai mendayung perahu kayu hitam itu bergerak perlahan meninggalkan daratan kota pelabuhan, meluncur tenang menembus gelombang ombak malam menuju kegelapan lautan lepas.
Di tengah kegelapan lautan yang membisu, perahu kayu hitam kecil itu bergerak lurus menembus kabut tebal berwarna merah keemasan yang membentang di depan mereka.
Ryu Jin berdiri di ujung perahu, menatap lurus ke ufuk barat melalui gulungan kabut racun. Jubah kelabunya terkibas ditiup angin badai laut, sementara lima pola ukiran mata merah pada sarung pedangnya berdenyut lambat, menyelaraskan detak jantungnya dengan kehausan darah yang makin meluap.
Tiga Sekte Besar yang dulu menguasai benua lama telah musnah. Kini, target perburuannya tinggal menyisakan dua pimpinan terakhir yang bersembunyi di Benua Barat: Master Yun Cang dan Dewi Lian Ji.
Perahu kayu hitam terus bergerak melintasi lautan racun, membawa Sang Pendekar dari Desa Sunyi menuju ajang pembantaian berikutnya di benua yang baru.