Alena berdiri dengan gugup di depan cermin rias yang memantulkan wajahnya yang begitu cantik memukau. Gaun pengantin yang membalut tubuhnya menambah kecantikan gadis itu. Hari itu adalah hari pernikahannya dengan Reno, pria yang sudah 3 tahun menjalin cinta dengannya.
Namun, hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia itu hancur karena satu telepon dari calon suaminya.
“Alena… aku tidak bisa datang. Selena pingsan dalam perjalanan ke hotel. Kita tunda pernikahannya ya”
Wajah Alena mengeras, bukan satu dua kali hal ini terjadi, dia hafal betul seperti apa kakaknya itu. Bahkan kedua orang tuanya juga selalu memihak pada Selena.
Dengan wajah tegas, Alena berdiri di depan semua orang.
"Saya, Alena Bagaskara, menyatakan pernikahan antara saya dan Reno Sebastian dibatalkan!"
Aula pernikahan menjadi riuh, namun Alena tak peduli. Dia melangkah keluar bahkan mengabaikan ancaman dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
.
Dua hari telah berlalu sejak kekalahan Sebastian Group dalam perebutan proyek besar Vantage International.
Lebam di sudut wajah Reno yang sempat membiru akibat pukulan papanya kini sudah hampir sepenuhnya menghilang. Hanya tersisa sedikit bayangan samar yang nyaris tidak terlihat jika tidak diperhatikan dengan saksama. Namun, luka di harga dirinya justru belum sembuh.
Ancaman papanya masih terngiang jelas di kepalanya. Jika ia tidak berhasil membawa Alena kembali, maka dirinya tidak akan bisa lagi menikmati fasilitas Sebastian Group.
Reno benar-benar menyadari bahwa masa depannya sebagai pewaris perusahaan sedang terancam. Dan satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan semuanya adalah Alena. Karena itu Reno harus mencari Alena dan meyakinkan gadis itu untuk kembali padanya.
Hati pria itu sedang sama saat ini memikirkan Alena yang sama sekali tidak bisa diajak bicara. Namun kata-kata Selena yang mengatakan bahwa Alena pasti masih sangat mencintainya dan Alena hanya sedang merajuk menumbuhkan kembali semangat dalam hati pria itu. Alena masih mencintainya, setidaknya itulah yang ia yakini hingga saat ini. Pria itu percaya jika terus dibujuk Alena pasti akan luluh. Dan posisinya sebagai pewaris Bastian grup akan aman.
Karena itulah sore itu, mobil yang dikendarai oleh Reno berhenti tidak jauh dari gerbang utama Wijaya Kusuma Group. Reno duduk di balik kemudi sambil sesekali melihat jam tangannya. Pria itu sengaja datang lebih awal agar bisa menunggu Alena pulang. Pria yang selamat berpacaran tak pernah bersikap romantis itu kali ini bahkan membawa sebuah buket bunga. Dia akan menjemput wanita itu pulang bagaikan seorang pria yang sangat menyayangi kekasihnya.
Di dalam mobil Reno tersenyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana reaksi Alena ketika melihat dirinya menunggu di depan perusahaan.
“Alena pasti terkejut melihat aku datang," gumamnya sambil tersenyum menatap ke arah spion, merapikan rambutnya demi memastikan wajahnya begitu tampan sempurna. "Melihat aku rela menunggu, pasti hatinya akan sedikit melunak.”
“Apalagi sekarang Alena tidak lagi memiliki mobil perusahaan seperti dulu. Aku dengar dari Selena mobil yang dulu dikendarai oleh Alena telah dicabut oleh tante Miranda. Jadi, melihat aku datang menjemputnya ia pasti akan sangat gembira. Dengan begitu ia tidak perlu lama-lama menunggu taksi.” Lagi-lagi Reno berbicara sendiri sambil mematut wajahnya di depan spion.
Detik demi detik berlalu, hingga waktu menunjukkan pukul lima sore. Reno kembali melihat jam di dashboard. Sudah waktunya jam pulang untuk para pekerja di perusahaan. Dan Reno bisa melihat.beberapa karyawan yang keluar satu per satu.
Reno duduk dengan jantung berdegup kencang. Kedua matanya tak lepas memperhatikan pintu gerbang di mana banyak mobil ataupun karyawan yang berduyun-duyun keluar.
Lima belas menit berlalu, lalu tiga puluh menit, kemudian satu jam. Pintu gerbang sudah terlihat sepi, hanya beberapa petugas keamanan yang keluar masuk. Tetapi bayangan Alena tidak juga terlihat. Reno mulai gelisah. Kening pria itu tampak berkerut.
"Ke mana dia?" Gumamnya sambil kembali melihat jam yang mana jarum pendek sudah menunjuk di angka enam. Bahkan ketika matanya memperhatikan sekeliling, pria itu menyadari bahwa hari telah mulai gelap.
Tidak mau terus gelisah, Reno akhirnya membuka pintu mobil lalu berjalan menuju pos keamanan yang berada di dekat gerbang. "Permisi," ucap Reno.
Seorang penjaga yang sedang berjaga segera menoleh ke arah Reno dan mengangguk sopan. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
"Saya ingin bertanya." Reno berusaha menjaga suaranya tetap tenang. "Alena, asisten pribadi Tuan Nathan. Apakah dia belum waktunya pulang?"
“Nona Alena?" Penjaga itu terlihat sedikit bingung.
"Ya. Saya sudah menunggu lebih dari satu jam."
Penjaga keamanan itu menatap Reno dari atas sampai bawah sebelum kemudian menjawab, "Oh, kalau Nona Alena, beliau sudah pulang sejak tadi."
"Sudah pulang?” tanya Reno benar-benar terkejut. "Kapan?" Tanya Reno sedikit tak percaya. Apa jangan-jangan petugas keamanan ini membohonginya?
"Kurang lebih satu jam yang lalu."
Reno terdiam. Pasalnya sejak tadi ia menunggu di depan gerbang tetapi sama sekali tidak melihat Alena keluar. Bukankah itu artinya Alena masih di dalam? Kenapa penjaga mengatakan Alena sudah pulang?
Namun, ucapan dari petugas keamanan selanjutnya membuatnya lebih terkejut lagi.
"Nona Alena pulang bersama Tuan Nathan."
Seketika itu juga raut wajah Reno berubah. Matanya memindai wajah petugas keamanan tersebut, namun sama sekali tidak kebohongan. Akhirnya tanpa mengatakan apapun bahkan tidak mengucapkan terima kasih Reno membalikkan badannya begitu saja pergi meninggalkan pos keamanan itu lalu berjalan menuju mobilnya.
Brak!
Pintu mobil ditutup dengan keras. Begitu pintu mobil tertutup, Reno langsung menghantam setir dengan kedua tangannya.
"Brengsek!" teriaknya dengan rahang mengeras dan dada yang terlihat turun naik menahan amarah.
Demi apa? Dirinya sudah menunggu lebih dari satu jam bagaikan orang bodoh, tetapi ternyata sama sekali tidak bertemu dengan Alena. Dan yang lebih menyakitkan adalah ucapan petugas yang mengatakan bahwa Alena pulang bersama dengan Nathan Wijaya Kusuma. Kenapa? Kenapa selalu ada Nathan di antara dia dan Alena?
Reno mengepalkan tangannya, mengambil nafas berkali-kali mencoba menahan supaya amarahnya tak meledak. Setelah merasa lebih tenang pria itu mengambil ponselnya lalu mencari nama Alena. Namun, ketika hendak menekan tombol panggil, Reno kembali teringat bahwa nomor itu sudah diblokir. Ingin mendatangi Alena di tempatnya juga tidak mungkin, karena dia tidak tahu di mana kini Alena tinggal. Dan hal itu membuat Reno semakin frustasi.
"Ah!"
“Sial!"
"Awas kau Nathan Wijaya Kusuma! Awas kau Alena! Aku pasti akan membalas penghinaan ini!”
Pria itu menyandarkan kepala ke kursi sambil menatap kosong ke depan. Selama ini ia selalu berpikir Alena akan tetap berada di tempat yang sama. Tetap menunggunya meskipun dirinya memang agak mengabaikannya. Namun, sekarang Reno menyadari bahwa Alena benar-benar sudah berjalan pergi.
Dan yang lebih membuatnya marah lagi, wanita itu sudah memiliki seseorang yang selalu berada di sisinya. Nathan Wijaya Kusuma. Seketika itu juga kedua mata Reno terbelalak. Apakah mungkin Alena menjalin hubungan dengan Nathan Wijaya Kusuma?
"Tidak.” Reno mengepalkan kedua tangannya dengan kepala yang menggeleng kuat. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
Ada sesuatu yang tiba-tiba mengusik hatinya. Jika awalnya ia mencari Alena hanya karena ketakutan bahwa dirinya akan kehilangan posisi sebagai pewaris Sebastian Group. Kini ia merasakan sesuatu yang berbeda dalam hatinya. Ia benar-benar takut kehilangan Alena.
si bos cemburu tuh.... 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣