Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.
Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 5
***
Kepulangan mereka dari kebun anggur siang itu ditutupi rapat oleh Wiliam seolah tidak ada peristiwa besar yang baru saja terjadi. Namun bagi Lyn, jejak kecupan hangat di pelipisnya serta aroma sandalwood yang menempel seakan menjadi tanda kepemilikan yang terus membakarnya. Perasaan bersalah kepada Clara makin menumpuk, menggerogoti sudut hatinya yang paling dalam.
Saat makan malam tiba di ruang makan utama yang diterangi lampu kristal gantung bergaya klasik, atmosfer terasa amat pekat. Clara, yang duduk di seberang Lyn, menyipitkan mata dengan garpu yang terhenti di udara.
"Lyn," panggil Clara tiba-tiba, memecah denting pisau dan piring porselen.
Lyn tersentak kecil, nyaris menjatuhkan serbet di pangkuannya. "I-iya, Clara?"
"Kamu terlihat beda sejak pulang jalan-jalan siang tadi," ujar Clara curiga, matanya bergantian menatap Lyn dan ayahnya yang duduk tenang di ujung meja. "Maksudku... kenapa wajahmu merona begitu? Dan Papa... biasanya Papa tidak pernah mau mengantar tamu siapa pun keliling kebun anggur sendiri. Ada yang kalian sembunyikan dariku?"
Jantung Lyn berdegup k校 kencang, darah seakan berhenti mengalir dari wajahnya. "T-tidak ada, Clara! Tuan Wiliam hanya... hanya menunjukkan area kebun sebentar karena aku tampak tegang," sahut Lyn terbata-bata, tak berani menatap mata sahabatnya.
Di ujung meja, Wiliam menyesap red wine dari gelas kristalnya dengan ketenangan luar biasa. Matanya yang gelap melirik Lyn yang tampak gemetar panik, sebelum beralih dingin pada putrinya.
"Jangan bertingkah picik, Clara. Sahabatmu adalah tamu di rumah ini. Sudah kewajibanku memastikan dia merasa aman," potong Wiliam dengan suara berat yang mutlak.
"Bukan begitu, Pa..." Clara menggigit bibir, gelisah. "Tatapan Papa pada Lyn... tidak seperti tatapan Papa pada teman-temanku yang lain. Terlalu... intens."
Mendengar bisikan curiga Clara, Lyn makin dihinggapi ketakutan hebat. Sepanjang sisa makan malam, Lyn memilih menunduk dalam-dalam. Usai makan, ia bertekad bulat: ia harus menarik diri. Pria matang di ujung meja ini adalah ayah dari sahabatnya sendiri—pria di usia yang pantas menjadi ayahnya, namun memiliki daya pikat dan dominasi yang sanggup meruntuhkan seluruh pertahanan dirinya. Lyn tidak boleh terjerat lebih jauh.
Malam makin larut. Villa megah di Tuscany itu diselimuti keheningan yang mencekam.
Lyn, yang sengaja menghindari area lantai bawah sejak jam makan makan usai, menyelinap keluar kamar menuju perpustakaan pribadi di lantai dua untuk mencari buku bacaan agar bisa mengalihkan pikirannya yang kacau. Perpustakaan itu begitu luas, beraroma kertas tua, kayu mahoni, dan kulit jilidan buku yang mahal. Hanya ada satu lampu meja bersemburat keemasan yang menyala di sudut ruangan.
Dengan gaun tidur sutra tipis berwarna krem yang lembut membalut tubuh rampingnya, Lyn menyusuri rak-rak buku yang menjulang tinggi.
"Buku sejarah seni... mungkin ini bisa," gumam Lyn pelan, meraih sebuah buku tebal dari rak.
Namun, belum sempat jemarinya menarik buku tersebut, sebuah bayangan tinggi tegap menutupi cahaya lampu di belakangnya. Gesekan halus kain jas dan langkah kaki tanpa suara seketika membuat bulu kuduk Lyn berdiri tegak. Aroma khas sandalwood yang amat familier menyeruak hebat, mengurung oksigen di sekitarnya.
Lyn berbalik cepat, namun terlambat.
BRUK.
Sebelah lengan kokoh terangkat dan mengunci sisi kanan rak buku di belakang Lyn, sementara lengan lainnya mencengkeram pinggang rampingnya dengan sentakan penuh dominasi. Dalam hitungan detik, Lyn sudah tersudut rapat di antara dinding rak kayu tebal dan dada bidang Wiliam yang mengintimidasi.
"W-Wiliam...!" cicit Lyn terperanjat, napasnya tertahan saat menemukan wajah tampan bergaris tegas itu berada hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya.
Wiliam tidak mengenakan jas mewahnya; pria paruh baya itu hanya mengenakan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya terbuka, memperlihatkan rahang tegas serta urat lehernya yang jantan. Tatapan mata sehitam jelaga milik Wiliam berkilat tajam, penuh rasa lapar dan kemarahan posesif yang tertahan.
"Kenapa menghindar dariku sepanjang malam, Little Lady?" bisik Wiliam. Suaranya yang dalam dan berat bergetar tepat di depan bibir mungil Lyn.
Lyn meremas kemeja hitam Wiliam di bagian dada, mencoba mendorong pria itu lemas, namun dadanya yang kokoh tak bergeser sedikit pun. "Tuan Wiliam... tolong lepaskan saya. Ini di perpustakaan... Clara bisa masuk kapan saja!"
"Biarkan dia masuk," balas Wiliam dingin tanpa keraguan sedikit pun. "Biarkan dia melihat kepada siapa kamu sebenarnya milik."
"Tidak! Wiliam, ini salah!" air mata ketakutan dan kepasrahan mulai menggenang di mata jernih Lyn. "Clara sahabatku... dan Anda... Anda adalah ayahnya! Anda pria yang terpaut usia sangat jauh dari saya... ini terlarang!"
Wiliam terkekeh pelan—sebuah tawa rendah dan berbahaya yang makin menghimpit dada Lyn. Tangannya yang berada di pinggang Lyn merengkuh lebih erat, menempelkan tubuh mungil nan lemas itu tanpa celah pada tubuh tinggi tegapnya.
"Terlarang?" bisik Wiliam, jemari tangannya yang besar dan hangat terangkat menyusup ke balik rambut tebal Lyn, memiringkan kepala gadis 21 tahun itu ke atas. "Daya pikat pria matang yang kamu sebut seusia ayahmu ini... bukankah hal itu yang membuat jantungmu berdegup gila setiap kali aku menyentuhmu, Lyn?"
"T-tidak... saya..."
"Jangan berbohong pada pria yang bisa membaca setiap helaan napasmu," potong Wiliam mutlak.
Wiliam menundukkan kepalanya. Tanpa memberikan Lyn kesempatan untuk memprotes lagi, bibir tebal nan hangat milik pria tua itu langsung mengunci dan menyesap bibir mungil Lyn yang manis.
"Mmph...!" Lyn melenguh tertahan.
Sentuhan itu tidak kasar, melainkan begitu dalam, pekat, dan mendominasi. Wiliam menyesap bibir atas dan bawah Lyn secara bergantian dengan kelihaian pria dewasa yang tak tertandingi, menuntut rasa manis dan kepatuhan mutlak dari gadis lugu di kungkungannya. Daya pikat dan pengalaman pria di usia Wiliam melumpuhkan seluruh logika Lyn dalam sekejap. Tangan Lyn yang tadinya mendorong dada Wiliam perlahan kehilangan tenaga, jemari lentiknya justru meremas kain kemeja hitam pria itu demi mencari tumpuan.
Merapatkan kungkungannya, Wiliam memindahkan hisapannya dari bibir manis Lyn menuju rahang bawah, lalu turun perlahan menyesap kulit leher jenjang Lyn yang mulus dan wangi.
"Ah... W-Wiliam..." bisik Lyn tertahan, kepalanya terlempar ke belakang, membiarkan lehernya menjadi sasaran kehangatan bibir pria itu. Rasa nikmat yang asing dan getaran terlarang menjalar hebat hingga ke ujung kakinya.
Wiliam memberikan kecupan-kecupan basah dan gigitan kecil yang posesif di leher Lyn, meninggalkan jejak kemerahan terselubung di sana.
"Ingat ini baik-baik, Lyn," bisik Wiliam di dekat telinga Lyn yang memerah panas, napasnya yang berat dan memburu menyapu kulit leher gadis itu. "Semakin kamu mencoba lari dan menjauh dariku karena alasan Clara atau usia... semakin keras aku akan mengurungmu di sisiku. Kamu tidak akan pernah bisa lepas dari genggamanku."
Lyn memejamkan mata erat-erat, tubuhnya gemetar pasrah dalam pelukan posesif sang tuan. Di dalam kegelapan perpustakaan yang sunyi, di bawah bayang-bayang pengkhianatan terhadap sahabatnya, Lyn tahu bahwa dirinya telah benar-benar jatuh dan tenggelam ke dalam pelukan terlarang pria paruh baya yang tak kenal ampun ini.
Bersambung....
itu kata william🙂
enak bacanya
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻