NovelToon NovelToon
DETEKTIF INDRA KE 6

DETEKTIF INDRA KE 6

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Misteri / TKP
Popularitas:951
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Bagi publik dan media, Reno Devano adalah pendiri agensi Vanguard Private Crime Investigation (VPCI) sekaligus detektif swasta paling jenius yang selalu bisa membongkar kasus pembunuhan paling mustahil. Namun, di balik deduksinya yang tajam, Reno menyimpan satu rahasia besar: ia memiliki indra ke-6. Melalui sentuhan pada barang bukti di tempat kejadian perkara, ia mampu melihat kilas balik detik-detik sebelum korban meregang nyawa.

Ketika sebuah kasus pembunuhan pengusaha besar ditutup oleh polisi dengan dugaan pelaku tunggal, Reno yang menyentuh kancing kemeja korban di TKP mendapati penglihatan mengerikan korban sebenarnya dieksekusi secara terencana oleh dua orang pelaku.

Karena paham bahwa "penglihatan gaib" tidak akan pernah diterima di meja hijau, Reno harus menyembunyikan kemampuannya dari tim forensik dan tim hukumnya sendiri yang terbiasa berpikir logis. Reno bertarung dengan waktu: menggunakan penglihatannya untuk 'memandu' dokter forensik dan ahli siber menemukan bukti fis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: LUKA YANG BERBICARA

BAB 19: LUKA YANG BERBICARA

Matahari pagi di Kota Zurich menerobos dinginnya kabut tipis, memancarkan pendar keemasan di atas permukaan Danau Zurich yang tenang.

Dua minggu telah berlalu sejak penangkapan Raymond Devano di atap Grand Hotel Dolder.

Berita tumbangnya jaringan kejahatan medis internasional "Mata Timbangan" guncang mendominasi media massa global, menempatkan nama Vanguard Private Crime Investigation (VPCI) di puncak reputasi dunia investigasi modern.

Namun, di dalam jet taktis VPCI yang sedang terbang melintasi Samudra Hindia menuju Jakarta, suasana di kabin utama terasa begitu tenang dan lengang.

Dion 'Zero' Prasetya dan Widya Kusuma tampak tertidur lelap di kursi penumpang belakang, kelelahan setelah berhari-hari mengurus proses ekstradisi Raymond Devano serta pembersihan arsip rahasia bersama Interpol.

Sementara di area lounge bagian depan, Reno Devano duduk bersandar di kursi kulit dekat jendela, memandangi hamparan awan putih di bawahnya.

Kemeja hitam yang dikenakan Reno membalut ketat tubuhnya, namun perban di bahu dan lehernya sudah jauh lebih menipis.

Untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, raut wajah sang detektif tidak lagi dihiasi oleh bayangan bayang-bayang kegelapan yang pekat.

Tatapannya jernih, meski fokus dan ketajamannya tetap tak berkurang sedikit pun.

Klek.

Pintu kompartemen medis terbuka. dr. Sara Maheswari melangkah keluar sambil membawa nampan berisi dua cangkir teh chamomile hangat dan stetoskop yang tergantung di lehernya.

Jas laboratorium putihnya yang anggun tampak berkibar halus diterpa embusan pendingin udara kabin.

"Nadi dan tekanan darahmu sudah kembali normal sejak tadi pagi, Detektif," ujar dr. Sara tersenyum tipis, merapatkan duduknya di samping Reno dan meletakkan cangkir teh di atas meja lipat.

"Tapi kalau kamu nekat melakukan latihan fisik berat sebelum jahitan di bahumu kering total, saya tidak ragu untuk memberikan instruksi istirahat total selama sebulan penuh."

Reno menoleh, memandangi wajah anggun dr. Sara yang kini memancarkan ketenangan hangat. Senyum tipis mengukir bibirnya.

"Instruksi medis darimu adalah satu-satunya hal yang tidak pernah berani kubantah, Sara," sahut Reno pelan, meraih cangkir tehnya dan meresapi kehangatan yang menjalar ke jemarinya.

dr. Sara terkekeh halus, menghirup aroma tehnya. "Bagus kalau kamu sadar. Sejak peristiwa di Zurich, dokter forensikmu ini resmi menaikkan status pengawasan kesehatanmu dari siaga dua menjadi siaga satu."

Reno terkekeh pelan. Ia menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke arah cangkir teh di tangannya.

"Sara..." panggil Reno dengan nada suara yang perlahan berubah menjadi lebih dalam dan sarat akan kesungguhan.

"Setiap kali aku menyentuh barang bukti dulu, yang kudengar hanya jeritan dan ketakutan dari detik-detik terakhir hidup para korban. Tapi saat di atap Grand Hotel kemarin... saat Raymond tersungkur di hadapan kita... gema suara-suara penderitaan itu perlahan menjadi tenang."

dr. Sara menatap Reno dengan pendar mata yang begitu lembut dan dipenuhi rasa empati yang murni. Tangannya yang hangat terangkat, mengusap pelan jemari tangan kanan Reno yang tergeletak di atas meja.

"Karena kamu sudah memberikan keadilan yang pantas untuk mereka, Reno," bisik dr. Sara lembut, merapatkan jemarinya di atas punggung tangan Reno.

"Kemampuanmu bukan lagi pengingat akan tragedi orang tuamu, melainkan kompas yang menyelamatkan ribuan nyawa lain dari kegelapan. Kamu bukan lagi seorang anak laki-laki yang terjebak di dalam reruntuhan mobil dua belas tahun lalu... kamu adalah Reno Devano, mitra terbaik VPCI."

Reno memandangi jemari dr. Sara yang saling bertaut erat dengan tangannya. Sentuhan hangat itu tidak membawa rasa sakit, pusing, atau bayangan kilas balik yang mengerikan hanya rasa percaya, kehangatan, dan cinta yang tulus dari seorang wanita yang selalu berdiri di sampingnya melewati badai terdahsyat.

"Terima kasih, Sara," kata Reno tulus, membalas genggaman tangan sang dokter forensik dengan erat.

"Untuk semuanya."

Enam belas jam kemudian.

Gedung markas VPCI di Jakarta menyambut kepulangan mereka di bawah naungan fajar yang cerah.

Lampu-lampu indikator di ruang operasional lantai dua berkedip jernih, dan seluruh sistem siber agensi telah pulih sepenuhnya tanpa ada celah ancaman yang tersisa.

Bara Aksara yang sudah tiba lebih dulu di markas langsung menyambut mereka di area parkir basement, membawa sebuah bundel berkas baru bersampul merah dengan stempel resmi dari Markas Besar Kepolisian Negara.

"Selamat kembali di tanah air, Bos, Dokter Sara," panggil Bara seraya memberikan hormat ringkas, meski senyum lega terpancar dari wajah tegasnya.

"Interpol dan Kejaksaan Agung baru saja mengirimkan surat apresiasi tertinggi atas penyelesaian kasus 'Mata Timbangan'."

"Simpan surat itu di arsip kehormatan, Bara," kata Reno seraya membenahi posisi mantelnya.

"Bagaimana dengan kondisi markas?"

"Semua aman dan berjalan normal, Bos," jawab Bara.

"Tapi... ada satu hal. Dua jam lalu, sebuah paket kargo khusus berlabel pengiriman diplomatik dari Kedutaan Besar Inggris tiba dan dialamatkan langsung ke meja otopsi Dokter Sara."

dr. Sara mengernyitkan dahi heran. "Paket diplomatik ke laboratorium forensik? Dari siapa?"

"Tidak ada nama pengirimnya, Dok," terang Bara seraya melangkah mendahului mereka menuju elevator.

"Hanya ada catatan bahwa paket itu berisi spesimen medis langka dari sebuah kasus pembunuhan yang terjadi di atas kapal pesiar mewah internasional yang sedang berlabuh di perairan Selat Malaka."

Reno dan dr. Sara saling pandang. Rasa lelah akibat penerbangan panjang mendadak menguap seketika, digantikan oleh naluri investigasi yang membakar tuntas.

Suasana laboratorium forensik bawah tanah VPCI terasa sangat bersih dan steril. Lampu neon putih berpendar terang di atas Meja Otopsi 01.

Di atas meja stainless steel tersebut, sebuah kotak pendingin berbahan serat karbon hitam berstempel diplomatik telah dibuka oleh Nadia.

Di dalam kotak yang dikelilingi es kering berasap tipis itu, terbaring sebuah spesimen jaringan organ jantung manusia yang telah dimasukkan ke dalam tabung akrilik transparan berisi cairan formalin cair.

Namun, hal yang membuat dr. Sara dan Reno terpaku saat mendekati meja otopsi adalah tekstur dan penampakan dari spesimen jantung tersebut.

Jantung manusia itu tidak berwarna merah kecokelatan seperti organ mati biasa, melainkan berwarna kebiruan berkilau dengan kristal-kristal mikro halus yang membeku di sepanjang jaringan pembuluh darah koronernya.

"I-ini bukan proses kristalisasi biasa akibat es kering, Dok," kata Nadia dengan suara gemetar seraya menyesuaikan mikroskop elektron di samping meja.

"Suhu dalam kotak ini dijaga pada empat derajat Celsius. Kristal-kristal mikro di dalam jaringan jantung ini terbentuk dari dalam sel saat korban masih bernapas!"

dr. Sara segera memasang sarung tangan latex-nya, menyalakan sinar ultraviolet berdaya tinggi dan mengarahkannya lurus ke spesimen jantung di dalam tabung akrilik.

Di bawah paparan pendar sinar ultraviolet, kristal-kristal mikro di dalam pembuluh darah jantung tersebut memancarkan pendar cahaya biru neon yang sangat indah namun mengerikan.

Dan yang lebih mengejutkan, pola pembekuan kristal di permukaan atrium jantung membentuk sebuah lambang mahkota berduri yang sangat presisi.

"Pembekuan kristal molekuler dari dalam pembuluh darah..." analisis dr. Sara dengan kepresisian ilmu medisnya yang luar biasa, mata cantiknya membelalak heran.

"Ini bukan senyawa buatan 'Mata Timbangan' maupun racun Project Phoenix. Ini adalah penggunaan zat racun protein krio-toksin murni yang baru pertama kali muncul dalam sejarah kedokteran forensik!"

Reno melangkah mendekati tabung akrilik tersebut. Sinar ultraviolet yang memantul di pendar kristal biru itu seolah memanggil ketajaman nalurinya.

Di samping tabung akrilik tersebut, tergeletak sebuah surat panggilan otopsi resmi bersampul perak tebal. Di sudut kanan bawah surat itu, tertulis sebuah kalimat pengantar singkat dengan tinta perak:

"Untuk Reno Devano dan dr. Sara Maheswari. Dunia mengira kalian telah menghentikan seluruh kejahatan medis di Zurich. Namun, sains yang sebenarnya baru saja dimulai dari Selat Malaka. Bisakah penglihatanmu membaca rahasia jantung yang membeku ini?"

Reno menatap surat perak itu, lalu beralih menatap dr. Sara yang sedang menyiapkan jarum ekstraksi spesimen.

"Seseorang sedang menantang kita lagi, Sara," bisik Reno dengan suara rendah, dalam, dan dipenuhi ketajaman yang tak pernah surut.

dr. Sara menatap Reno, menyunggingkan senyuman tegas dan penuh rasa percaya yang abadi. Tidak ada lagi ketakutan atau keraguan di mata sang dokter forensik.

"Maka kita akan menjawab tantangan itu di atas meja otopsi ini, Detektif," sahut dr. Sara mantap, memegang instrumen bedahnya dengan kepresisian tingkat tinggi.

Reno perlahan melepas sarung tangan kulitnya, mengulurkan jemari bertelanjangnya menuju permukaan tabung akrilik berisikan jantung kristal biru tersebut.

Luka dari masa lalu telah sembuh, konspirasi dua belas tahun telah terungkap, namun bagi VPCI, meja otopsi kebenaran tidak akan pernah benar-benar dingin.

Dengan perpaduan abadi antara ketajaman indra ke-6 sang detektif dan keandalan kepresisian sains medis sang dokter forensik, Reno Devano dan dr. Sara Maheswari siap melangkah menerjang misteri baru yang telah menanti di hadapan mereka.

1
Sativa Kyu
👍👍👍
Windi Triana
Ceritanya bagus, aku pikir karena judulnya ada tulisan 'indera keenam' pasti ada makhluk astral nya, tapi ternyata tidak ada. Gak tahu nanti bab selanjutnya, apakah ada atau tidak, belum sampai kesana bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!