NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Era Majapahit

Terlempar Ke Era Majapahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: MF015

Raka melewati gapura misterius di Laweyan dan terbangun di hutan zaman Majapahit. Tiba-tiba ia bertemu Sekar dan mengetahui bahwa ia terlempar ke tahun 1350 M saat Hayam Wuruk baru dinobatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Murid yang Tak Pandai Menyembah

Pelajaran pertama Mpu Kalandara pada hari pertama adalah cara menyembah dengan benar.

"Tangan di depan dada, jari-jari rapat," katanya, memperagakan sikap itu dengan anggun. "Kepala menunduk sedikit, mata ke bawah. Jangan menatap langsung orang yang lebih tinggi derajatnya. Kalau kau menatap, kau dianggap menantang."

Raka mengikuti. Ia menempelkan telapak tangan, menunduk, lalu mengintip.

"Mata ke bawah."

"Saya sudah ke bawah."

"Kau mengintip."

"Saya hanya memastikan saya melakukannya dengan benar."

Mpu Kalandara menghela napas panjang. Di sebelahnya, seorang anak lelaki berusia sekitar empat belas tahun, murid yang kemarin membawakan teh, menahan tawa sampai bahunya berguncang.

"Gandra," tegur Mpu Kalandara.

"Maaf, Mpu. Tapi dia menyembah seperti orang yang sedang menghitung uang di kantong sendiri."

Raka tertawa duluan, dan seketika suasana mencair.

Begitulah hari-hari pertama Raka di pertapaan: separuh belajar, separuh dipermalukan. Namun ia menyadari bahwa itu cara yang sehat. Di tempat ini, tak ada yang menuntutnya menjadi pahlawan. Ia boleh salah, boleh terlihat bodoh, dan itu justru yang ia butuhkan setelah dua hari yang terasa seperti dua tahun.

Gandra ternyata anak yang jauh lebih cerdas daripada kesan pertamanya. Ia yatim piatu yang ditemukan Mpu Kalandara di tepi hutan bertahun-tahun lalu, dan sejak itu menjadi cantrik, murid sekaligus pembantu pertapaan. Ia bisa membaca tiga macam aksara, menghafal ratusan bait kakawin, dan tahu cara membedakan jamur beracun dari yang bisa dimakan hanya dengan mencium baunya.

Dan ia penasaran pada segalanya tentang Raka.

"Benarkah di tempatmu orang bisa terbang?" tanyanya suatu pagi sambil menumbuk kunyit.

"Dengan pesawat. Semacam burung besi."

"Burung besi?" Gandra membelalak. "Burung dari besi bisa terbang? Bagaimana kalau jatuh?"

"Kadang jatuh. Tapi jarang."

"Dan kau naik burung itu?"

"Beberapa kali."

"Hebat." Gandra menatapnya dengan pandangan kagum yang membuat Raka merasa agak bersalah, karena ia hanya pernah naik pesawat tiga kali, dan satu di antaranya hanya demi mengunjungi pernikahan sepupu di Medan.

"Kau tahu apa yang paling kuinginkan?" lanjut Gandra, menurunkan suaranya. "Aku ingin melihat negerimu. Walau hanya sekali."

Raka tidak langsung menjawab. Ia memandangi anak itu, yang masih sangat muda, masih percaya bahwa dunia yang jauh pasti lebih ajaib.

"Negeri saya tidak seindah yang kamu bayangkan," katanya akhirnya. "Banyak yang hilang di sana. Tidak ada hutan seperti ini, tidak ada langit seperti ini. Orang-orang selalu terburu-buru."

"Tetapi ada burung besi."

"Itu benar."

"Berarti tetap hebat."

Raka tersenyum. Ia tak punya jawaban untuk logika sesederhana itu.

Latihan berjalan keras namun menyenangkan. Pagi hari ia belajar aksara dan bahasa Jawa Kuna dengan Mpu Kalandara. Di sini, anehnya, Raka justru unggul. Pengetahuannya tentang kosakata dan tata bahasa membuat Mpu sering mengangguk puas, meski sesekali ia mengerutkan dahi ketika Raka mengucapkan kata dengan cara yang terlalu seperti pelafal buku teks.

"Kau berbicara seperti Kitab Ramayana," ujarnya. "Orang biasa tidak begitu."

"Lalu bagaimana orang biasa berbicara?"

"Lebih pendek. Lebih kasar. Dan lebih sering menyumpah."

"Saya bisa menyumpah juga."

"Coba."

Raka mengucapkan satu kata makian dalam bahasa Jawa modern. Mpu Kalandara menatapnya datar, lalu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, sampai terbatuk-batuk dan harus menyeka air mata dengan ujung kainnya.

"Bukan itu maksudku," katanya terengah-engah. "Tapi tetap, lumayan. Aku belum pernah mendengar kata itu selama dua puluh tahun."

Siang hari, giliran Wirabhaya. Ia datang setiap tiga hari sekali, bergantian dengan Tarub, membawa kabar dari desa dan mengajari Raka dasar-dasar menunggang kuda dan memegang senjata.

"Kau tidak harus pandai berperang," kata Wirabhaya di hari pertama latihan, menyerahkan sebilah pedang kayu padanya. "Tapi kau harus tahu cara bertahan. Kalau suatu hari kau terjebak di antara dua orang yang saling bunuh, aku tidak mau kau berdiri bengong seperti tiang."

Raka menggenggam pedang itu dengan canggung dan, dua detik kemudian, pedangnya sudah terlempar ke semak-semak.

"Lagi."

Ia memungutnya. Dua detik kemudian, pedang itu terbang lagi.

"Lagi."

Pada hari ketiga, Raka mulai bisa menahan serangan sebelum pedangnya terlepas. Pada hari kelima, ia berhasil menyentuh bahu Wirabhaya satu kali, dengan keberuntungan murni. Wirabhaya mengangkat satu alisnya dan, untuk pertama kalinya, tersenyum lebar.

"Tidak buruk, orang asing. Tidak buruk sama sekali."

"Itu tadi kebetulan."

"Kebetulan atau bukan, itu tetap sentuhan." Wirabhaya menarik pedang kayunya dan mengacungkannya lagi. "Sekali lagi."

Malam hari adalah waktu paling sulit.

Setelah Gandra tertidur dan pertapaan senyap, Raka biasanya duduk sendirian di tangga pondok, memandangi bintang. Dalam gelap, ia tak lagi bisa mengalihkan pikiran. Wajah ibunya. Kamarnya yang berantakan. Suara kereta api yang lewat setiap pagi di dekat kontrakan lamanya. Bahkan suara klakson yang dulu ia benci.

Ia mengeluarkan ponsel dari ranselnya dan menatap layar hitamnya. Sudah hampir tiga minggu sejak ia tiba. Layar itu sudah tak pernah menyala lagi, tapi ia membawanya ke mana-mana seperti jimat. Foto-foto di dalamnya, kenangan, pesan dari teman-teman, semuanya terkunci di balik kaca yang gelap.

"Kau belum tidur," kata Mpu Kalandara dari belakangnya.

"Belum bisa."

"Aku tahu perasaan itu." Pertapa itu duduk di sampingnya, membawa dua cangkir teh seperti biasanya. Untuk beberapa saat mereka hanya duduk diam. "Dulu aku juga begitu. Setiap malam, aku menatap arlojiku."

"Arloji yang berhenti di jam tiga lewat sepuluh."

"Ya." Mpu Kalandara mengangguk. "Itu waktu terakhir aku melihatnya sebelum aku melewati gapura. Aku sempat melirik jam tanganku karena kupikir sudah terlalu malam untuk berkeliaran sendirian. Jam tiga lewat sepuluh dini hari. Tapi anehnya, saat itu langit masih sore."

Raka berhenti menyesap tehnya.

"Tunggu. Maksud Mpu, arloji itu mati tepat saat Mpu melewati gerbang?"

"Begitu yang kuingat."

Raka merasakan sesuatu yang dingin merayap di tengkuknya. Ia menunduk menatap ponselnya. Perlahan, dengan jari yang gemetar, ia menekan tombol daya lama-lama.

Tidak terjadi apa-apa.

Ia menekannya lagi. Dan lagi.

"Raka?"

"Tidak apa-apa. Saya hanya..."

Layar itu berkedip.

Sebuah cahaya redup, hijau pucat, muncul sesaat di tengah kegelapan, sangat samar sampai Raka mengira ia berhalusinasi. Tapi di sana, jelas terbaca di tengah layar, ada deretan angka kecil:

03:10

Lalu layar itu padam. Tidak lagi menyala, sekeras apa pun ia menekan.

Mereka berdua menatap ponsel itu dalam diam.

"Itu juga jam saat saya masuk," bisik Raka akhirnya. "Saya melihat jam tangan sebelum melewati gapura. Saya ingat sekali."

"Dua orang," kata Mpu Kalandara pelan, matanya menyipit. "Tiga puluh lima tahun terpisah. Waktu yang sama."

"Itu bukan kebetulan."

"Tidak mungkin kebetulan." Pertapa itu berdiri, tubuhnya tiba-tiba tegang. "Gerbang itu tidak hanya terbuka sembarang waktu. Ada pola di baliknya. Dan sekarang kita punya satu kunci pertama."

Di kejauhan, burung hantu berbunyi, dan angin malam membawa aroma hutan basah. Raka menggenggam ponsel mati itu erat-erat.

Untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini, ia merasa sesuatu yang lama tak ia rasakan.

Harapan.

1
mimief
berarti...jalan nya waktu sama disana dengan yg disini
jadi emang mesti buru" kembali. apakabar sama gurunya ya.. berarti dia juga udah hilang lebih dari 20 th juga🥹
mimief
cemburu dia rak..
perempuan mah gitu kalau merajuk 🤣🤣
mimief
wah....siapa kah itu?
Kam1la
tuntutan sama dengan syarat...
mimief
mang sial
pinter bet dia🫣
mimief
ya..mau sebesar apapun jabatan mu
dia tetap anak remaja yg belum banyak pengalaman 🥹
mimief
oooooooo....MG
wahhhhhh
mimief
sang ratu bukan?
eh pas Hayam Wuruk naik tahta,ratu nya masih hidup ga si Thor?
wkwkwkwkwkwk
kyk nya aku pas ini kena remedial ni🤣🤣
mimief: mungkin beliau yg nyari ya, bagaimana pun ttp darah dari saudara sendiri 🥹
total 2 replies
mimief
tapi kayaknya,kalau bukan sama yg punya
dia ga akan bereaksi deh
coba aja
yah...Raka ga jadi pulang 🥹
Kam1la
Sekar akhirnya bakal menemukan keluarga kandungnya
Kam1la
Hendar punya ambisi yg membahayakan seseorang
Ranti Calvin
👍
mimief
wah....pulang Raka
apakah ada yg kebawa juga🥹
Kam1la
apakah akan terbuka seperti duaan, malam jumat Kliwon..
Kam1la
Sekar diculik. kebakaran modus nya untuk pengalihan saja...
Kam1la
Pernikahan itu akhirnya bakal tetap terjadi...
Kam1la
Raka berhadapan langsung dengan hayam Wuruk....
mimief
apakah Raka akan membawa sekar ke masa depan?
itu sebabnya namanya juga ga tercatat di sejarah?
apakah keruntuhan Majapahit ttp terjadi...
mimief
apakah sebenarnya Hayam Wuruk tau keberadaan Sekar
dan menghilangkan nya langsung,itu sebabnya Sekar ga pernah tercatat dalam sejarah?🥹
mimief
tapi emang pada saat itu
gajah Mada kekuasaan nya bener bener menyamai raja si ya
di satu pihak karen Hayam Wuruk terlalu muda buat mangku jadi seorang raja.
tapi.... harusnya 🥹🥹🥹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!