“Pernikahan ini hanya ikatan di atas kertas. Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu.”
Duka membeku di hati Arjuna. Sejak kepergian istri tercintanya, jenderal muda yang disegani itu mengubur rapat hatinya untuk siapa pun. Namun, sebuah wasiat terakhir memaksanya menikahi Arunika, perempuan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan menjadi pendamping hidupnya.
Di mata Arjuna, Arunika hanyalah wanita bertubuh gemuk, sederhana dan tak pantas berjalan di sisinya. Ia menerima pernikahan itu semata demi menghormati pesan terakhir mendiang istrinya dan memberikan seorang ibu bagi putra kecil mereka.
Saat Arunika perlahan menaklukkan hati putra kecilnya, sang Jenderal pun mulai goyah.
Bisakah Arjuna mempertahankan dinding esnya ketika wanita yang ia remehkan justru menjadi satu-satunya alasan jantungnya berdetak kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12
Arunika mengembuskan napas panjang dengan kasar, lalu menyandarkan punggungnya di balik pintu kamar.
"Ya Tuhan, hari ini benar-benar menguras emosi dan tenaga," keluhnya pelan.
Ia berjalan mondar-mandir di dalam kamar yang luas itu sambil menggerutu seorang diri melampiaskan sisa kekesalannya.
"Rasanya ingin sekali kujambak rambut Kak Wina sampai botak. Terus mulut pedas ibu mertuaku itu kugembok rapat-rapat pakai lakban hitam!"
Membayangkan ekspresi terkejut Wina saat tercebur bebas ke dalam kolam renang membuat Arunika mendadak nyengir sendiri.
"Hahaha... pasti air kolamnya tadi jadi mendidih panas karena dia kebanyakan ngomel."
Namun, beberapa detik kemudian ia menggelengkan kepalanya pelan, mencoba menetralkan pikiran jahilnya.
"Sudahlah, Arunika. Jangan sampai kau ikut-ikutan jadi orang menyebalkan seperti mereka."
Arunika membuka lemari pakaian, mengambil handuk hangat dan beberapa helai pakaian bersih untuk berganti. "Anggap saja adegan tadi sebagai hiburan komedi gratis di pagi hari. Lagipula kalau aku terus-menerus marah, nanti wajahku cepat tua sebelum waktunya."
Sambil melangkah membawa pakaian menuju kamar mandi, ia kembali bergumam lirih.
"Entah kapan suamiku yang super sibuk itu akan pulang. Baru sah menikah kemarin, langsung ditinggal tugas militer. Hm... seperti menikah sama negara."
Baru saja tangannya menyentuh gagang pintu kamar mandi, ponsel pribadinya yang tergeletak di atas meja nakas berbunyi nyaring. Arunika melirik sekilas ke arah layar ponsel.
Matanya langsung membelalak lebar melihat nama penelepon. Jenderal Es Batu.
Tanpa sadar, senyum lebarnya langsung mengembang menghiasi bibirnya. "Pucuk dicinta ulam pun tiba," gumamnya gembira. Ia buru-buru meletakkan handuk, mengusap sekilas rambutnya yang masih agak basah, lalu mengangkat panggilan itu dengan antusias.
"Halo, suamiku."
Uhuk... uhuk!
Dari seberang sambungan telepon, terdengar suara orang tersedak begitu hebat hingga terbatuk-batuk.
Arunika seketika panik. "Eh? Astaga! Anda baik-baik saja, Jenderal?"
Beberapa detik berlalu dalam batuk kecil, suara bariton Arjuna yang berat akhirnya kembali terdengar.
"Aku... aku tidak apa-apa."
"Yakin tidak apa-apa? Kok batuk-batuk begitu?"
"Hanya tersedak air minum."
Padahal pada kenyataannya, Arjuna sama sekali tidak sedang memegang gelas atau minum air putih apa pun. Ia hanya benar-benar terkejut dan tidak siap mendengar wanita itu memanggilnya suamiku dengan begitu santai dan manis.
Entah mengapa, jantung sang jenderal yang biasanya tenang menghadapi medan perang kini justru berdetak aneh di dalam dada.
"Untuk apa anda menelepon? Ada yang penting?" tanya Arunika mengubah nada bicaranya sedikit lebih serius.
Arunika mendengar Arjuna berdehem pelan di seberang, berusaha keras kembali terdengar setenang dan sedatar biasanya.
"Tidak perlu memakai bahasa formal. Panggil saja seperti biasa."
Arunika terkekeh kecil mendengarnya. "Baiklah, Jenderal."
Suasana mendadak hening beberapa detik. Arjuna berdeham lagi sebelum membuka suara utama.
"Aku menghubungimu hanya untuk memberi kabar cepat. Operasi militer berjalan sesuai rencana. Kalau tidak ada perubahan mendadak di lapangan mungkin besok atau lusa aku sudah kembali pulang. Maaf jika—"
Arunika langsung memotong ucapannya dengan lembut. "Tidak apa-apa, suamiku."
Sekali lagi, di markas nun jauh di sana, Arjuna memejamkan matanya rapat-rapat sejenak. Wanita itu benar-benar sengaja menggodanya habis-habisan, atau memang tidak punya filter rasa canggung sama sekali?
"Aku hanya menjalankan tugasku sebagai abdi negara," lanjut Arjuna.
"Aku tahu. Negara memang jauh lebih membutuhkanmu di sana sekarang," balas Arunika.
Kalimat sederhana yang terluncur dari bibir Arunika itu membuat Arjuna terdiam cukup lama. Selama bertahun-tahun hidupnya mendedikasikan diri pada militer, tak pernah ada satu pun orang yang mengatakan hal menenangkan seperti itu kepadanya. Kecuali Alana.
Kebanyakan orang justru akan mengeluh panjang lebar setiap kali ia harus pergi bertugas.
Arjuna mengembuskan napas pelan lewat hidungnya. "Ada masalah apa lagi di rumah?"
Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Arunika spontan melirik pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Gaunnya masih sedikit lembap karena air kotor siraman Wina. Ia tersenyum tipis menutupi.
"Tidak ada masalah apa-apa. Semua terkendali."
Arjuna mengangguk pelan, meski iatrinya tak bisa melihatnya.
"Baguslah kalau begitu, aku titip Nakula padamu. Dia pasti sangat kesepian selama aku pergi bertugas."
Arunika menatap ke arah pintu kamar, seolah dapat membayangkan wajah kecil Nakula yang selalu menyembunyikan rasa takutnya seorang diri di sudut rumah besar itu.
"Tenang saja. Aku akan menjaga dan melindunginya dengan sangat baik."
Untuk pertama kalinya sejak percakapan mereka dimulai, Arjuna benar-benar merasakan gelombang kelegaan yang luar biasa di dadanya.
"Terima kasih banyak."
Ucapan terima kasih itu keluar begitu saja tanpa rekayasa. Arunika sampai tersenyum lebar sendiri mendengarnya. Jenderal sedingin es batu seperti Arjuna ternyata masih tahu cara mengucapkan terima kasih.
"Oh, ya, apa kalian sudah saling bertemu?"
Arunika tertawa kecil renyah. "Menurutmu bagaimana?"
Tidak ada jawaban dari Arjuna.
Arunika mengernyit heran karena di ujung sana Arjuna terdiam. Sebelum sempat bertanya lebih jauh, tiba-tiba hidung Arunika menangkap bau tak sedap yang menguar dari pakaiannya yang tadi terkena air comberan Wina.
"Hoek!" Arunika refleks menutup hidungnya rapat-rapat dengan sebelah tangan. "Ya ampun, bau sekali,"
Bau tidak sedap itu mendadak memicu asam lambungnya naik. Perutnya terasa mual luar biasa. Tanpa berpikir panjang lagi, karena rasa mual yang teramat sangat, tangan Arunika langsung menekan tombol warna merah di layar ponselnya.
Tut!
Sambungan telepon langsung terputus sepihak begitu saja.
Di markas, Arjuna menatap nanar layar ponselnya yang mendadak gelap.
"Dimatikan begitu saja?" Ia mengerutkan dahi kebingungan. "Aneh sekali." Padahal percakapan penting mereka belum benar-benar selesai.
Ia berniat menelepon balik. Namun seorang perwira muda buru-buru menghampirinya dengan langkah cepat.
"Jenderal! Seluruh tim pasukan khusus sudah bersiap dan menunggu instruksi Anda di lapangan."
Aejuna akhirnya memasukkan ponselnya ke dalam saku seragam dinasnya. "Baik, aku segera ke sana."
Meski kembali memusatkan seluruh atensinya pada tugas negara, entah mengapa bayangan wanita bertubuh besar yang dengan santainya memanggilnya suamiku itu terus berputar-putar di dalam benaknya.
"Suami ya? Sudah lama aku tak mendengar panggilan itu," gumamnya.
Dan tanpa disadarinya sendiri, sebuah senyum tipis yang hangat sempat terukir di sudut bibir sang jenderal, sebelum kembali menghilang tertelan ekspresi dingin berwibawa miliknya.
ya elahhhhhhh..... bner" benalau tak tau diri.... 😄😄😄
Sejak awal penasaran, kemana bapaknya Damar
kl Wina kakak kandung atau kakak tiri Arjuna ya 😇😇😇...lanjut Thorr😘😘😘
Bantai aja Nika, mumpung Arjuna lagi tugas, jadi ga perlu akting2an kalian