Zivana dan Aidil sudah menikah tiga tahun. Dan saat itu Aidil adalah seorang duda anak dua, sedangkan Zivana merupakan wanita yang pernah bekerja di salah satu butik ibu Aidil. Selama pernikahan mereka, Aidil memang belum mencintai Zivana, terlebih saat itu mereka menikah karena keinginan ibu Aidil yang kasihan melihat kedua cucunya yang masih kecil. Amora yang saat itu baru berusia dua tahun dan Khaisar lima tahun.
Selama tiga tahun Zivana menjadi sosok ibu dan istri yang begitu mencintai kedua anak-anak Aidil. Namun sayangnya, Zivana belum bisa mendapatkan hati Aidil, walau pria itu selama tiga tahun selalu bersikap baik padanya. Hanya saja, selama itu pula Aidil belum berani menyentuh Zivana.
Hingga menjelang tiga tahun pernikahan mereka akhirnya Stela, mantan istri Aidil yang pernah meninggalkannya kembali. Dan berusaha merebut perhatian kedua anak dan mantan suaminya.
Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Zivana dan Aidil? Akankah mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zivana 14
Di tengah keheningan malam yang makin larut, dekapan Aidil di tubuh Zivana perlahan berubah. Isak tangis panik pria itu surut, berganti dengan napas yang makin berat dan tidak teratur. Nostalgia sensasi fisik saat berada di apartemen Stela beberapa jam lalu, kehangatan yang mendadak bangkit namun terputus kini menuntut penuntasan. Dalam kerapuhan emosinya dan kebingungan yang berkecamuk, Aidil justru memindahkan sisa gejolak gairah yang sempat tersulut oleh Stela kepada Zivana.
Dada Aidil menempel makin rapat di punggung Zivana. Ia menyusupkan wajahnya di leher Zivana, mendaratkan kecupan-kecupan basah dan terburu-buru di sepanjang garis rahang wanita itu. Jemari Aidil yang tadinya hanya menggenggam lembut, kini perlahan merayap naik ke pinggang Zivana, mencoba menyingkap kain gaun tidur tipis yang dikenakannya.
"Ziva..." bisik Aidil parau, suaranya dipenuhi desakan kebutuhan fisik yang menyiratkan keputusasaan.
"Mas butuh kamu malam ini, Sayang... Tolong, biarkan Mas memiliki kamu utuh malam ini."
Zivana membeku seketika. Setiap sentuhan jemari dan sapuan bibir Aidil di kulit lehernya tidak lagi mendatangkan desir hangat seperti biasanya. Sebaliknya, sentuhan itu terasa bagai lelehan racun yang membakar dan menjijikkan. Zivana tahu, jika suaminya menginginkan penuntasan hasrat yang tertunda dari Stela, bukan karena benar-benar menginginkannya sebagai seorang istri. Bagaimana bisa Aidil sejahat itu padanya, semua perlakuan manis dan kata cintanya hanyalah ,eluncur dari bibir bukan dari hatinya yang terdalam. Karena hati suaminya masih milik mantan istrinya, Stela.
Dada Zivana bergemuruh oleh rasa cadas yang menghantam ulu hatinya. Dia baru saja menikmati ciuman panas dengan Stela, batin Zivana menjerit, matanya terpejam erat sementara air mata kembali meleleh membasahi bantal. Dan sekarang, dia ingin menuntaskan sisa gairahnya dariku? Dia pikir aku ini apa? Tempat pelampiasan dari wanita yang sesungguhnya dia cintai?
Zivana tak sebodoh itu. Ia tahu betul tabiat Aidil. Jika malam ini ia menyerahkan tubuhnya, Aidil hanya akan merasa lega untuk sementara, menganggap semua kebohongan dan dosanya telah terhapus oleh keintiman fisik, lalu besok akan kembali berpaling pada Stela. Zivana tidak akan pernah membiarkan harga dirinya diinjak-injak sejauh itu.
Saat jemari Aidil makin berani menyentuh kulit perutnya, Zivana memegang pergelangan tangan pria itu. Gerakannya lembut, namun dorongan yang berikan sangat tegas untuk menghentikan pergerakan Aidil.
"Mas... jangan," bisik Zivana pelan, suaranya begitu bergetar namun sarat penolakan yang mutlak.
Aidil menghentikan ciumannya di leher Zivana, napasnya memburu di dekat telinga sang istri.
"Kenapa, Ziva? Kamu masih marah pada Mas? Mas butuh kamu... Mas mau membuktikan kalau cuma kamu istri Mas. Dan cuma kamu satu-satunya wanita yang mas cintai..."
Zivana menghela napas panjang yang terasa sangat patah-patah. Ia perlahan menggeser tubuhnya menjauh, menciptakan jarak di atas ranjang sempit itu lalu berbalik menatap wajah Aidil di tengah kegelapan temaram.
"Maafkan aku, Mas..." ucap Zivana lirih dengan pandangan mata yang redup dan hampa.
"Aku sedang datang bulan. Baru saja tadi sore halangannya keluar."
Aidil mematung. Penolakan halus namun berbenteng alasan biologis itu bagaikan siraman air es yang mendadak memadamkan seluruh gejolak di dadanya. Pria itu menatap Zivana dengan riak kekecewaan dan kebingungan yang tak tertutupi.
"Datang bulan...?" ulang Aidil dengan suara serak, tenggorokannya mendadak terasa kering.
"Kenapa... kenapa baru bilang sekarang?"
"Aku lupa memberi tahu Mas karena situasi seharian ini cukup melelahkan," jawab Zivana datar.
Sebuah kebohongan yang ia ciptakan demi melindungi sisa-sisa martabatnya sebagai seorang wanita dan istri. Zivana menarik selimut tebalnya hingga menutupi sebatas dada, membentengi tubuhnya rapat-rapat dari jangkauan Aidil.
Aidil mendesah berat, mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dan sisa air mata. Ada rasa hampa yang membakar jiwanya, gairah yang tersisa dari bayangan Stela mengendap menjadi kekecewaan yang tertahan, sementara rasa bersalah pada Zivana kembali merayap menggerogoti nuraninya.
"Ya sudah..." bisik Aidil akhirnya, suaranya terdengar pasrah dan layu. Ia kembali berbaring miring, menarik Zivana masuk ke dalam dekapannya lagi, walau kini terasa kaku dan canggung.
"Maafkan Mas ya, Ziva... Mas cuma tidak tahu lagi harus bagaimana cara membuktikan kalau Mas takut kehilangan kamu."
Zivana membiarkan tubuhnya kembali dalam pelukan Aidil, menatap kosong pada kegelapan dinding kamar. Di dalam hatinya, sebuah tembok pembatas telah terbangun kokoh dan tak tergoyahkan.
"Tidurlah, Mas..." bisik Zivana pelan, menatap lurus ke kegelapan malam saat air matanya kembali menetes tanpa suara.
"Besok Mas harus kerja lagi."
Di balik kehangatan pelukan Aidil yang terasa makin bertopeng kebohongan, Zivana menghitung detik demi detik yang tersisa dari malam panjang itu. Malam di mana ia menyadari bahwa cinta Aidil untuk Stela tak pernah benar-benar padam, dan masa depan pernikahan mereka baru saja menemui titik tergelapnya.
Pagi harinya, suasana rumah terasa sepi dan membeku. Aidil berangkat ke kantor setelah berpamitan dengan canggung, membawa cemas yang masih bergumpal di dadanya. Khaisar dan Amora pun telah dijemput mobil jemputan sekolah. Zivana berdiri sendirian di teras, menatap jalanan kompleks yang mendadak sunyi.
Saat Zivana hendak melangkah masuk untuk mulai membereskan rumah, suara langkah sepatu berhak tinggi yang ketukannya ritmis menapak di atas jalan setapak kayu menghentikan geraknya.
Zivana berbalik.
Di sana, berdiri Stela. Wanita itu tampil memukau dengan kemeja sutra pastel dan celana bahan yang elegan. Senyum di bibirnya tipis, penuh kemenangan yang sama sekali tidak disembunyikan. Matanya menatap Zivana dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan nada merendahkan yang sangat jelas.
"Selamat pagi, Zivana," sapa Stela, suaranya halus namun sarat akan racun.
"Atau... aku harus memanggilmu 'Bunda'?"
Zivana berdiri tegak di ambang pintu. Meski matanya sembab dan wajahnya pucat karena kurang tidur, ia tidak membiarkan bahunya merosot. Ia menatap mantan istri suaminya itu dengan tatapan dingin dan tenang.
"Ada urusan apa kamu datang ke sini, Stela?" tanya Zivana datar, tanpa sedikit pun nada gentar.
"Anak-anak sudah berangkat sekolah, dan Aidil sudah ke kantor."
Stela tertawa pelan, suara tawa yang begitu renyah namun menyayat telinga. Ia melangkah maju dua tapak, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma parfum mewahnya menyeruak tajam.
"Aku tahu Aidil sudah pergi. Dan aku justru datang bukan untuk bertemu anak-anak atau Aidil," ujar Stela, melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aku datang khusus untuk bertemu denganmu."
"Aku tidak punya urusan denganmu," balas Zivana dingin, hendak memutar badan untuk masuk ke dalam rumah.
"Yakin tidak punya urusan?" potong Stela cepat. Tangannya merogoh tas tangan bermerek miliknya, mengeluarkan sebuah ponsel, lalu memutarkan sebuah video pendek tepat di hadapan wajah Zivana.
"Bahkan setelah melihat apa yang dilakukan suamimu di apartemenku semalam?"
Di layar ponsel itu, rekaman ciuman panas antara Aidil dan Stela terpampang jelas, rekaman yang sama yang telah dikirimkan Stela semalam.
Zivana memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang untuk menguasai gemetar di dadanya, lalu kembali membuka mata. Wajahnya tetap tenang, tidak ada ledakan emosi seperti yang diharapkan Stela.
"Aku sudah melihatnya semalam," sahut Zivana lurus, tatapannya menghantam langsung ke dalam bola mata Stela.
"Kamu sengaja mengirimi aku video itu, kan?"
bahagia selalu ziva ,,
urusan amora Dan khaisar tdk perlu di pikirkan ,, kalo mereka udh dewasa ,, mereka akan mencari km ,, meski km bukan ibu kandung ny ,,
tp mereka tau km tulus menyayangi Dan mengurus mereka dulu
papa bagas yg urus tuh s pewangi ruangan stela, buka semua borok nya k publik, bayi yg d kandung jg pat bkn bayi nya aidil kan
kasian khaisar n Amora jd broken home
hrusnya tegas saat stella datang .... tiba" mngusik keluargamu...
bukan mlah ngasih tempat & mmbuka pintu krusakan lebar"
kmunya aja yg suka trgoda nafsu setan🙄🙄
gmn lgi ya..... kmunya hobi asal main celup sih... jdi g salah lah klo km di jdikn tumbal ayah pengganti anknya stella
🤣🤣🤣🤣