NovelToon NovelToon
PERLAWANAN ISTRI YANG DIDZALIMI KELUARGA SUAMI

PERLAWANAN ISTRI YANG DIDZALIMI KELUARGA SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Tantya Ambardhita hanya lulusan SMA. Bagi keluarga suaminya, itu cukup menjadi alasan untuk merendahkannya.

Mereka menganggap Tantya tak punya apa-apa. Namun anehnya, setiap kebutuhan mertua dan tiga iparnya selalu dibebankan kepada perempuan itu. Tantya diperlakukan seperti ATM berjalan—diminta memberi, tetapi tak pernah dihargai.

Sampai suatu hari, Rendra, suaminya, membawa mantan kekasihnya pulang kampung. Bukan hanya mengajak perempuan itu masuk ke mobil, Rendra bahkan menyuruh Tantya duduk di kursi belakang.

Ironisnya, mobil yang mereka banggakan itu adalah milik Tantya.

Di sebuah rest area, Tantya akhirnya meninggalkan mereka. Dan sejak hari itu, Tantya bukan lagi istri yang selalu mengalah.

Keluarga Rendra mengira mereka sedang kehilangan seorang istri yang hanya lulusan SMA.

Mereka belum tahu…

perempuan yang selama ini mereka remehkan menyimpan identitas dan kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Dompet Berjalan Keluarga Rendra

Bu Martha duduk nyaman di kursi depan, tepat di samping Rendra. Senyum puas masih menghiasi wajahnya. Tangannya sesekali menyentuh tas yang kini terletak manis di pangkuannya. Tas idamannya sudah berada di tangannya—dan yang lebih menyenangkan, dia mendapatkannya tanpa perlu mengeluarkan uang sepeser pun.

Seolah baru teringat sesuatu, Bu Martha melirik ke arah dashboard mobil.

"Mobilmu ini sudah tua, Ren. Sudah selayaknya kamu ganti.” Nada suaranya terdengar seperti sedang memberi nasihat, padahal lebih mirip sindiran. “Lihat tuh, mobil kakak-kakakmu. Masih pada baru.”

Rendra hanya diam. Tatapannya tetap lurus ke jalan, seakan tidak mendengar ucapan ibunya.

Di kursi belakang, Tantya justru tersenyum miring. Ada dua hal yang membuatnya ingin tertawa mendengar perkataan mertuanya itu.

Pertama, mobil yang sedang mereka tumpangi sama sekali bukan milik Rendra. Mobil itu milik Tantya. Bahkan dia sudah membelinya jauh sebelum menikah dengan Rendra.

Kedua, kalau Bu Martha mau membandingkan, mobil Farah dan Niken memang masih baru, tetapi harganya bahkan tidak seberapa dibandingkan mobil yang sekarang mereka tumpangi.

Namun Tantya memilih diam. Tidak ada gunanya menjelaskan sesuatu kepada orang yang memang hanya ingin melihat dirinya rendah.

"Oh iya,” Bu Martha tiba-tiba kembali bersuara. Kali ini dia menoleh ke belakang. "Mana uang sumbangan kalian yang sepuluh juta itu?” Tatapannya langsung tertuju kepada Tantya.

Tantya menjawab tenang, “Nanti saya transfer lima juta, Bu. Yang lima juta lagi sudah di tangan Mas Rendra.”

"Ya sudah, transfer sekarang!”

Tanpa banyak bicara, Tantya meraih ponselnya dari dalam tas. Baru saja jarinya hendak membuka aplikasi perbankan, Rendra menyela.

"Sekalian aja sepuluh juta, Tya. Nanti yang lima jutanya aku bayar.”

Tantya menghentikan gerakannya."Gak ada, Mas. Adanya cuma lima juta.”

Rendra langsung menoleh. “Jangan bohong kamu. Kalau nanti uangnya benar-benar jadi gak ada, gimana?”

Tantya menatap suaminya melalui pantulan kaca spion. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya mulai berubah. "Iya. Masalahnya, kan, uangnya sudah Mas ambil dua hari lalu.”

Suasana di dalam mobil mendadak terasa berbeda.

Senyum di wajah Bu Martha perlahan menghilang.

Rendra pun terdiam.

Sementara Tantya kembali menunduk menatap ponselnya, seolah tidak ada yang baru saja terjadi. Dia hanya mengatakan fakta. Dan kali ini, fakta itu mulai membuat mereka tidak nyaman.

Tantya menghela napas pelan sebelum membuka aplikasi perbankan di ponselnya. Dengan gerakan tenang, dia memasukkan nomor rekening Bu Martha, lalu mengetik nominal transfer sebesar lima juta rupiah. Setelah memastikan semua data benar, dia menekan tombol konfirmasi dan menunggu beberapa saat hingga transaksi berhasil.

"Sudah saya transfer, Bu," ujar Tantya sambil menunjukkan bukti transfer di layar ponselnya.

Bu Martha sama sekali tidak menanggapi. Perempuan itu justru buru-buru meraih ponselnya sendiri, membuka aplikasi perbankan, lalu memeriksa saldo rekeningnya. Dahinya langsung berkerut begitu melihat jumlah uang yang masuk tidak sesuai dengan harapannya.

"Kok hanya lima juta?" protesnya sambil mengangkat wajah. "Tadi katanya kamu akan menyumbang sepuluh juta?"

Tantya menatap ibu mertuanya dengan ekspresi datar. Dia sudah menduga pertanyaan itu akan muncul.

"Iya, kan, yang lima juta sudah di Mas Rendra," jawabnya tenang.

Bu Martha mendecakkan lidah, seolah-olah jawaban Tantya sama sekali tidak masuk akal. "Kamu perhitungan banget, Tya! Harusnya langsung saja transfer sepuluh juta. Nanti yang lima juta aku transfer ke kamu." Rendra terdengar marah.

Tantya nyaris tertawa mendengar alasan itu. Janji yang terdengar sederhana, tetapi entah mengapa selalu berakhir dengan uangnya yang tidak pernah kembali. Bukan sekali dua kali Rendra melakukan hal serupa. Suaminya itu kerap meminta Tantya mengeluarkan uang lebih dahulu dengan berbagai alasan, tetapi ketika tiba waktunya mengembalikan, selalu saja ada alasan untuk menghindar.

"Ya, apa bedanya transfer ke aku atau ke Ibu? Sama saja, kan?" Tantya balik bertanya. Suaranya tetap terdengar sopan, tetapi ada ketegasan yang tidak bisa disembunyikan.

"Ngeyel!" bentak Rendra tiba-tiba.

Laki-laki itu tampak kesal karena Tantya tidak menuruti keinginannya. Rahangnya mengeras, sementara tatapannya menunjukkan ketidaksenangan. Seolah-olah Tantya telah melakukan kesalahan besar hanya karena tidak mau mengirimkan uang sesuai permintaan mereka.

Tantya memilih diam. Dia tidak ingin memperpanjang perdebatan yang ujung-ujungnya hanya akan membuat dirinya disalahkan. Bagaimanapun, dia sudah terlalu sering mengalami kejadian serupa. Berkali-kali dia percaya pada perkataan Rendra, berkali-kali pula dia harus menelan kekecewaan karena uang yang dijanjikan akan dikembalikan tak kunjung diterimanya.

Kali ini, dia tidak mau jatuh ke lubang yang sama.

Lima juta rupiah yang baru saja ditransfernya sudah cukup. Dia tidak akan mengeluarkan uang tambahan hanya demi memenuhi keinginan Bu Martha, apalagi dengan janji pengembalian yang belum tentu ditepati.

Biarlah Rendra marah. Biarlah ibu mertuanya menganggap dirinya pelit dan perhitungan. Tantya sudah tidak terlalu peduli dengan penilaian mereka.

Baginya, menjaga uang hasil jerih payahnya sendiri bukanlah sebuah kesalahan. Terlebih, selama ini dia sudah terlalu sering mengalah, sementara kebaikannya justru dianggap sebagai kewajiban.

Dan mulai sekarang, Tantya tidak akan lagi semudah itu mempercayai janji suaminya.

Mobil yang mereka tumpangi akhirnya tiba di mal. Setelah mendapatkan tempat parkir, Rendra mematikan mesin mobil, lalu membuka pintu dan turun lebih dulu. Satu per satu anggota keluarganya menyusul keluar. Tantya juga turun dari mobil sambil menenteng tumbler kesayangannya. Dengan langkah tenang, dia mengikuti Rendra dan keluarganya yang sudah berjalan lebih dulu menuju pintu masuk mal.

Begitu memasuki gedung, mereka langsung menuju lantai tempat bioskop berada. Suasana di sekitar bioskop cukup ramai. Beberapa pengunjung tampak mengantre di loket pembelian tiket, sementara yang lainnya berdiri di depan poster-poster film sambil mendiskusikan pilihan tontonan.

Farah, Niken, dan Selina terlihat sedang berkumpul di depan bioskop. Ketiganya asyik berbincang sambil memperhatikan daftar film yang sedang tayang. Sesekali, mereka menunjuk salah satu poster, lalu kembali berdebat kecil, seolah keputusan tentang film mana yang akan ditonton merupakan perkara yang cukup penting.

Begitu melihat Tantya datang bersama Rendra, Farah langsung menoleh. Tanpa basa-basi, dia menunjuk salah satu poster film yang tampaknya sudah menjadi pilihannya.

"Tya, beli tiketnya gih. Filmnya yang ini!" perintah Farah seenaknya.

Tantya mengikuti arah telunjuk Farah, lalu membaca keterangan yang tertera di bawah judul film tersebut. Dahinya sedikit berkerut ketika mengetahui bahwa film itu ditujukan untuk penonton dewasa.

"Kalau filmnya ini, anak-anak nggak bisa nonton, dong? Itu kan film dewasa," jawab Tantya, berusaha mengingatkan.

Farah justru mengangkat bahu, seolah persoalan itu sama sekali bukan urusannya. "Ya kamu yang asuh mereka. Kamu nggak usah nonton."

Tantya terdiam sesaat. Dia menatap Farah, memastikan bahwa perempuan itu benar-benar serius dengan ucapannya. Rupanya, bagi Farah, keberadaan Tantya di sana memang hanya untuk melayani kebutuhan mereka. Soal Tantya bisa menikmati waktu bersama atau tidak, itu bukan sesuatu yang perlu dipikirkan.

Senyum tipis terbit di bibir Tantya. Namun, senyum itu sama sekali tidak mencerminkan kegembiraan. Justru ada nada getir yang terselip di baliknya.

"Nggak usah nonton? Tapi aku yang harus beli tiket?" tanyanya, diiringi tawa sinis yang sulit disembunyikan.

Farah mendelik, tampak tidak suka mendengar Tantya mulai mempertanyakan perintahnya.

"Sudahlah, jangan banyak protes! Cepetan beli, keburu habis tiketnya!" desaknya, seolah Tantya memang tidak punya hak untuk mengajukan keberatan.

Tantya tidak langsung beranjak. Dia justru menatap Farah dengan wajah polos, lalu mengulurkan telapak tangannya sedikit.

"Uangnya mana?" tanyanya ringan.

Pertanyaan sederhana itu membuat wajah Farah seketika berubah. Sementara itu, Niken yang sejak tadi ikut mendengarkan langsung menyambar dengan nada ketus.

"Ya dari kamu, lah! Jangan perhitungan kalau sama keluarga!" sergahnya nyolot.

Tantya mengalihkan pandangan kepada Niken. Sudut bibirnya kembali terangkat, kali ini membentuk senyum miring yang sarat akan sindiran.

Jangan perhitungan kalau sama keluarga, begitu katanya. Lucu sekali. Mereka bisa dengan mudah menyebut diri sebagai keluarga ketika membutuhkan sesuatu darinya. Namun, ketika harus memikirkan kenyamanan Tantya, bahkan untuk sekadar memberinya kesempatan menonton film yang sama, tak seorang pun merasa perlu mempertimbangkannya.

Tantya mengeratkan genggaman pada tumbler yang dibawanya. Dia belum menjawab ucapan Niken. Bukan karena tidak punya kata-kata untuk membalas, melainkan karena dia mulai menyadari bahwa berdebat dengan orang-orang yang merasa berhak atas segala miliknya hanya akan membuang tenaga.

Dia menatap sekali lagi poster film pilihan Farah, kemudian melirik antrean di loket tiket. Baiklah. Kalau memang mereka menginginkan tiket, dia akan membelinya.

Namun, bukan berarti Tantya harus berpura-pura tidak menyadari bagaimana keluarganya memperlakukannya. Ada banyak hal yang selama ini dia biarkan begitu saja. Dan entah sampai kapan dia akan terus bersikap seolah semuanya baik-baik saja.

1
Heny
What lagi asyik baca thor.. Lanjut
Heny
Jng mau di bujuk di rayu tya jng banyak mengalah
Heny
Gercap tya jng tunggu lama2 amankan aset ygkm punya
Heny
Sudah lah tya lbh baik pisah dr pada dimanfaatkan
Heny
Duh tantya besok2 klau diajak jng mau lbh baik jln sendiri
Ma Em
Keluarga Rendra rencananya mau permalukan Tantya eh ga taunya malah mereka yg malu sendiri karena baju yg dipakai Tantya lbh bagus dari mereka pakai , lbh baik Tantya cepat berpisah dgn Rendra .
Mundri Astuti
bis acara lamaran...hempasin laki" mokondo itu tantya
stela aza
kurang gercep terlalu mengalah trs ,,, di hina di injak injak harga dirinya diem Bae balas donk ,,,, g seru bgt
Mundri Astuti
hempasin aja laki modelan gini
Putri Wulandari
lanjut
stela aza
lemmot
mama
kelamaan,kurang sat set.. tinggal in aj suami macam kyk gitu..
Suhaida Tania
menantu kurang ajar, tidak ada sopan santun kepada ibu mertua
Ma Em
Tantya jgn mau bila diajak pulang sama Rendra biar saja Rendra pulang sendiri , Tantya jgn mau lagi disuruh suruh karena Tantya bkn pembantu apalagi Tantya selalu dihina dan diremehkan sama keluarganya Rendra biar mereka sadar tanpa bantuan dari Tantya Rendra dan keluarganya tdk punya apapa .
Ma Em
Tantya saja yg bodoh kenapa kamu mau saja bantu Rendra dan keluarganya meskipun selalu dihina dan direndahkan karena Tantya selalu diam tdk melawan makanya mereka berani menghina dan menginjak injak harga dirimu Tantya , lbh baik mulai sekarang tdk usah bantu lagi orang orang yg tdk tau diri tdk tau terima kasih biarkan mereka hdp nya susah tanpa bantuan Tantya , Rendra dan keluarganya pasti akan menderita
Ma Em
Tantya kamu jgn istri bodoh mau saja diperlakukan seperti pembantu dihina dan dikucilkan , bangkit Tantya kamu hrs berani melawan Rendra dan keluarganya dan kalau Rendra atau ibunya minta uang sama Tantya jgn kasih biar saja Rendra yg kasih uang untuk ibunya , Tantya jgn mau diremehkan lagi tinggalkan saja suami modelan si Rendra untuk apa dipertahan kan kalau tantya cuma jadi bahan ejekan dan hinaan .
ros
Tunggu byk episode Dan hampir end baru baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!