NovelToon NovelToon
Tahta, Dahaga, Dan Mahkota

Tahta, Dahaga, Dan Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Enemy to Lovers / Cinta Istana/Kuno / Wanita perkasa
Popularitas:365
Nilai: 5
Nama Author: Laygraph

"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."

Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.

"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."

Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.

Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Penghormatan Berdarah di Balai Agung

Belati pertama menyentuh pintu biliknya tepat saat ayam jantan berkokok ketiga kalinya.

Bukan untuk mendobrak. Ujung logam itu hanya mengetuk kayu jati tiga kali, pelan dan berirama. Sepanjang malam Dyah Ayu mendengar mereka berdiri di luar, enam pasang kaki yang tidak pernah bergeser, enam bilah belati yang sesekali beradu dengan gelang lengan.

Ia tidak tidur sedetik pun.

"Selir Ampil Dyah Ayu." Suara perempuan di balik pintu datar dan dingin. "Gusti Permaisuri menunggu Sembah Sowan-mu. Jangan membuat beliau menunggu lebih lama dari matahari."

____________________

Pergelangan tangan kanannya membiru. Empat bekas jari sang Raja tercetak jelas di kulitnya, keunguan di tepi.

Dyah Ayu melilitkan selendang tipis di sana sebelum melangkah keluar. Kemben lurik yang robek semalam sudah diganti dengan yang baru, sama kasarnya, sama pucatnya. Seseorang bahkan sengaja memberinya jarik yang terlalu sempit, sehingga langkahnya terpaksa pendek-pendek.

Enam Prajurit Estri mengapitnya di sepanjang selasar Keputren. Mereka mengenakan kemben hitam berikat kain merah di pinggang, rambut digelung ketat, dan setiap pinggang menyelipkan belati berluk tiga. Tidak satu pun menatapnya. Itu lebih mengancam daripada tatapan sinis.

Keputren di pagi hari berbau melati basah dan minyak kenanga. Kolam-kolam teratai berkilau. Burung perkutut bersahutan dari sangkar gading.

Dan di setiap pintu paviliun yang mereka lewati, ada wajah yang mengintip lalu menghilang.

Dyah Ayu mendengar bisikan-bisikan itu dengan jelas.

Itu dia.

Semalam penuh, katanya.

Sinuwun keluar dengan rambut tergerai...

Ia terus berjalan. Lututnya masih kebas setelah berjam-jam berlutut di tikar pandan, dan setiap langkah mengirim nyeri tumpul sampai ke pinggul. Ia menegakkan punggungnya lebih tinggi.

____________________

Balai Agung Keputren berlantai batu andesit hitam yang dipoles sampai memantulkan cahaya.

Di ujungnya, di atas panggung bertingkat tiga, Gusti Prabaswari duduk di singgasana kayu cendana berukir naga dan teratai. Ia mengenakan kemben sutra hijau zamrud berhias prada emas. Mahkota kecil berbentuk kelopak bunga menancap di sanggulnya, dan untaian mutiara jatuh sampai ke dada.

Ia cantik. Cantik dengan cara yang tenang, rapi, tanpa satu helai rambut pun yang keluar dari tempatnya.

Di kiri-kanan panggung, dua belas Prajurit Estri berdiri dengan tangan di gagang belati. Di bawahnya, di atas tikar-tikar sutra, delapan selir senior duduk bersimpuh dalam busana warna-warni. Kipas bulu merak bergerak pelan. Aroma dupa gaharu mengambang tipis.

Dyah Ayu harus menyeberangi seluruh balai itu dengan laku dodok. Berjalan jongkok, lutut ditekuk, kedua tangan menyembah di depan dada.

Dengan jarik sesempit ini, dan lutut sekebas ini.

Ia menurunkan tubuhnya dan mulai bergerak.

"Oh." Suara seorang perempuan, jernih dan manis, memecah keheningan. "Jadi ini dia, jarahan dari timur yang membuat Sinuwun lupa jalan pulang."

Perempuan itu duduk paling dekat dengan panggung. Kemben merah delima. Gelang emas bertumpuk di kedua lengan. Wajahnya bulat dan jelita, dengan bibir yang terlalu merah untuk pagi hari.

"Kangmbok Ratna," tegur selir di sebelahnya, pura-pura berbisik. "Jangan begitu. Kasihan. Dia pasti lelah sekali."

Tawa kecil menjalar di antara kipas-kipas.

"Lelah?" Selir Ratna Kanigara memiringkan kepala, menatap Dyah Ayu yang terus merangkak mendekat. "Aku dengar di Watugaluh perempuan dilatih menanam padi dan memeras susu kambing. Tentu saja dia kuat. Tapi, Adik, lihat caranya berjalan. Kakinya gemetar."

"Mungkin karena semalam," sahut suara lain.

Tawa kali ini lebih keras.

Dyah Ayu tidak mempercepat gerakannya. Ia juga tidak memperlambatnya. Matanya menatap lantai hitam yang memantulkan wajahnya sendiri, dan ia menghitung. Delapan selir. Dua belas prajurit. Tiga dayang di samping singgasana. Satu nampan perunggu dengan cawan tertutup.

Dan satu pasang mata di atas singgasana yang belum berkedip sejak ia masuk.

Ia berhenti di bawah panggung, lalu bersujud sampai dahinya menyentuh batu yang dingin.

"Hamba, Dyah Ayu dari Watugaluh, menghaturkan sembah bakti kepada Gusti Kanjeng Permaisuri."

Diam sejenak. Hanya bunyi kipas.

"Angkat kepalamu, Adik."

Suara Prabaswari lembut sekali. Hangat. Suara seorang kakak perempuan yang menyambut adiknya pulang.

Dyah Ayu mengangkat kepala. Permaisuri sedang tersenyum kepadanya. Senyum itu sempurna, kecuali matanya yang turun sesaat ke selendang di pergelangan tangan Dyah Ayu, lalu kembali naik.

"Kau pasti letih setelah melayani Sinuwun." Prabaswari memberi isyarat dengan dua jari. "Keputren punya adat. Setiap selir baru yang sowan diberi secawan Darma Tirta dari tanganku sendiri. Air suci untuk membersihkan tubuh dan memberkati rahim, agar kelak kau memberikan keturunan yang sehat untuk Kagendra."

Salah satu dayang menurunkan nampan perunggu. Ia mengangkat tutup cawan tanah liat itu.

Uap tipis mengepul.

Aromanya menyentuh Dyah Ayu lebih dulu sebelum cawannya. Manis. Gula aren yang pekat, daun pandan yang disangrai, sedikit kayu manis. Aroma yang membuat perut kosongnya berbunyi.

Lalu, di bawah manis itu, sesuatu yang lain.

Langu. Getir. Samar sekali, seperti bau tanah basah di dasar sumur yang lama tidak ditimba.

Dyah Ayu mendengar suara ibunya sepuluh tahun lalu di dapur belakang kediaman yang penuh toples tanah liat. Kalau manisnya berlebihan, Nduk, jangan tanya apa yang ditambahkan. Tanyakan apa yang sedang disembunyikan.

Ibunya meremas rimpang temu ireng dan biji kluwak mentah di telapak tangan, lalu mendekatkannya ke hidung Dyah Ayu kecil. Ingat bau ini. Dicampur dan direbus lama, perempuan yang meminumnya setiap bulan tidak akan pernah menggendong anak. Diminum sekaligus dalam cawan besar, ia akan muntah darah sampai subuh.

Cawan di nampan itu besar.

"Adik?" Prabaswari masih tersenyum. "Kau tidak mau menerima berkahku?"

Seisi balai menunggu.

Dyah Ayu tahu aturan mainnya. Menolak pemberian Permaisuri di depan seluruh Keputren sama dengan meludahi wajahnya. Hukumannya cambuk, paling ringan. Menuduh teh itu beracun tanpa bukti sama dengan mengundang belati ke lehernya sendiri.

Ia menyembah sekali lagi.

"Hamba tidak pantas menerimanya dari bawah, Gusti. Izinkan hamba menerimanya dengan sujud di kaki Gusti."

Senyum Prabaswari tidak bergeser. "Naiklah."

Dyah Ayu mengulurkan kedua tangan, menerima cawan panas itu dari dayang. Panasnya menembus tanah liat dan membakar telapak tangannya. Ia menggenggamnya erat.

Lalu ia bergerak naik ke anak tangga pertama dengan laku dodok. Pelan. Jarik sempit menahan lututnya.

Di sudut matanya, ia melihat kaki Selir Ratna Kanigara bergeser. Jari-jari kaki bercincin emas itu menjulur diam-diam keluar dari lipatan kain merah, tepat di jalur anak tangga kedua.

Ratna ingin ia jatuh. Ingin ia menumpahkan berkah Permaisuri dan dihukum karena kecerobohan.

Dyah Ayu tidak menghindari kaki itu.

Ia menginjaknya.

Lututnya yang kebas sungguh-sungguh goyah. Ia membiarkan tubuhnya terhuyung ke samping, jarik sempit menjeratnya, dan cawan itu terlempar dari tangannya dengan gerakan yang terlihat sepenuhnya tak sengaja.

Teh mendidih itu tumpah tepat ke pangkuan Selir Ratna Kanigara.

Jeritan melengking memenuhi Balai Agung.

Ratna melompat berdiri, menyibak-nyibak kemben merahnya yang basah kuyup. Cawan tanah liat pecah di lantai batu. Kipas-kipas berjatuhan. Dua selir di dekatnya mundur tergesa-gesa. Dua belas Prajurit Estri serentak mencabut belati, dan bunyi logam yang ditarik dari sarung terdengar serempak.

Dyah Ayu tersungkur di anak tangga. Ia segera bersujud, dahinya menempel ke batu.

"Ampun, Gusti! Ampun beribu ampun!" Suaranya bergetar, cukup keras untuk didengar seisi balai. "Kaki Kangmbok Ratna terjulur di tangga, hamba tidak melihatnya. Hamba yang salah. Hamba yang lancang."

Hening.

Semua mata kini tertuju pada kaki Selir Ratna. Kaki yang tadi berada di jalur tangga, yang seharusnya terlipat rapi di bawah kain sesuai adat selir yang bersimpuh.

Ratna menatap Dyah Ayu dengan wajah pucat. Tetapi bukan karena panas teh itu.

Dyah Ayu melihatnya dari balik bulu matanya. Tangan Ratna tidak menyeka luka bakar di pahanya. Tangan itu justru panik menyeka bibirnya sendiri, lalu jari-jarinya, lalu kembali ke bibir. Seolah takut ada setetes pun yang terciprat ke mulutnya.

Salah satu dayang di samping singgasana melirik ke arah Permaisuri. Sekilas. Lalu menunduk dalam-dalam.

Prabaswari tidak bergerak sama sekali.

Ia duduk tegak di singgasananya, jemari yang dihiasi cincin giok bertumpu tenang di lengan kursi. Tetapi Dyah Ayu melihat kuku ibu jarinya menekan ukiran naga di bawahnya. Menekan cukup keras sampai ujung kukunya memutih.

"Sarungkan senjata kalian," ucap Permaisuri pelan.

Dua belas belati kembali ke sarungnya dalam satu bunyi.

"Ratna. Kembali ke paviliunmu dan panggil tabib." Suaranya masih semanis tadi. "Dan lain kali, lipat kakimu dengan benar di hadapanku."

Wajah Ratna memerah, dari leher sampai dahi. Ia menyembah dengan kaku, lalu dituntun keluar oleh dayangnya, meninggalkan jejak tetesan teh cokelat di lantai hitam.

Prabaswari kembali memandang Dyah Ayu. Senyumnya kembali, utuh dan sempurna.

"Sayang sekali. Berkahku terbuang." Ia memberi isyarat kepada dayangnya. "Kita buatkan yang baru."

"Gusti." Dyah Ayu mengangkat wajah, matanya basah dan penuh sesal. "Hamba sudah menghina kemurahan Gusti sekali pagi ini. Hamba tidak sanggup menerima kemurahan yang sama untuk kedua kalinya sebelum hamba menebus kesalahan hamba."

Balai itu begitu senyap sampai terdengar bunyi tetes teh yang jatuh dari tepi anak tangga.

Lalu Prabaswari tertawa. Tawa kecil, jernih, dan menyenangkan.

"Kau benar, Adik. Kesalahan memang harus ditebus." Ia bersandar di singgasananya. "Tiga hari lagi, pada purnama Kasanga, Keraton akan menggelar Maha Pujawali. Persembahan agung kepada leluhur Wangsa Kagendra, disaksikan Sinuwun, para brahmana, dan seluruh dewan menteri."

Beberapa selir berhenti mengipas.

"Aku memberimu kehormatan untuk menyiapkan seluruh sesajinya. Dupa, bunga, minyak suci, hingga air pembasuh arca." Prabaswari tersenyum lebih lebar. "Anggaplah itu hadiah pernikahanmu dariku."

Dyah Ayu mendengar seseorang di belakangnya menarik napas tajam.

Ia tidak perlu menoleh untuk memahaminya. Ia sudah mendengar cerita itu dari para tawanan lain di pedati, dari mulut penjaga yang mabuk. Setiap cacat dalam persembahan Maha Pujawali adalah penghinaan kepada leluhur raja. Dua tahun lalu, seorang selir dari Kadipaten Lasem menyiapkan persembahan yang sama. Satu kelopak bunga layu ditemukan di kaki arca.

Kepalanya dipajang di gerbang Keputren selama tujuh hari.

"Hamba menerima kehormatan ini, Gusti," jawab Dyah Ayu, dan menyembah hingga dahinya menyentuh batu lagi.

"Bagus." Prabaswari bangkit dari singgasananya. Untaian mutiaranya berdenting pelan. "Oh, satu hal lagi. Minyak suci untuk membasuh arca leluhur harus diperas dari kembang wijayakusuma yang mekar tepat tengah malam."

Ia melangkah turun, berhenti tepat di samping Dyah Ayu yang masih bersujud, lalu membungkuk hingga bibirnya dekat dengan telinga Dyah Ayu.

"Dan satu-satunya Wijayakusuma di keraton ini tumbuh di Taman Larangan," bisiknya. "Siapa pun yang masuk tanpa izin Sinuwun akan dipancung di tempat."

1
Agus Tina
Bagus ceritanya
Agus Tina
Sepertinya semua cerita tentang istana memang penuh dengan intrik dan kepalsuan
Laygraph: Iya kak, bahkan banyak sejahrawan mencatat banyak relief yang membuktikan Konspirasi sudah ada sejak zaman kerajaan kuno. bahkan sampai sekarang. 😄
total 1 replies
Agus Tina
Cerita, alur, cara menukis ceritq ini bagus semua ... kenapa yg like sedikit? Ayo pembaca
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..
Laygraph: Terimakasih masukannya kak, semoga setia sampai ceritanya selesai yah 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!