NovelToon NovelToon
Gadis Desa Kesayangan Mafia

Gadis Desa Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:35.5k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

​“Paman, kenapa ini besar sekali?” tanya Lucia bingung.

​“Kau menyukainya?”

​“Memangnya itu apa?”

​“Jadi kau tidak tahu ini apa? Kau yang membangkitkannya dan kau tidak tahu cara menidurkannya?!”

Lucia polos hanya menggeleng lugu, membuat sang mafia paling ditakuti di seluruh Italia itu menepuk jidatnya kuat-kuat.

****

Disiksa kemiskinan di desa terpencil Calabria dan dijual oleh pamannya sendiri ke sebuah klub malam, Lucia pasrah menunggu takdir kelamnya.

Namun, sebuah penggerebekan menyelamatkannya dan membawanya bekerja sebagai pelayan di mansion megah milik Alessandro Frederick–bos mafia dingin berdarah dingin yang menderita alergi parah terhadap sentuhan manusia.

Satu sentuhan dari orang lain bisa membunuh Alessandro. Tetapi, saat jemari Lucia tak sengaja menyentuhnya, tidak ada rasa terbakar.

Bagaimana bisa seorang mafia kejam menaklukkan hati gadis lugu hingga mengira elusan in-tim adalah usapan rasa kasihan dan ciuman adalah penyembuh rasa sakit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3

Mobil hitam berlapis baja itu meluncur membelah kegelapan malam pinggiran kota Napoli, meninggalkan jejak kekacauan di klub malam sebelumnya.

Kendaraan itu akhirnya berhenti di pelataran sebuah mansion megah bergaya klasik Italia yang dikelilingi pohon cypress menjulang tinggi.

Vincent turun lebih dulu, lalu membuka pintu belakang dan menarik Lucia keluar.

“Turun. Berdiri di sini, jangan menyentuh apapun dan demi kewarasanku, jangan membuat masalah. Aku akan membawamu ke dapur pelayan lewat pintu belakang.”

Lucia tidak merespons peringatan itu. Ia berdiri kaku, menatap bangunan raksasa dari batu marmer putih di hadapannya dengan mulut menganga lebar.

“Paman, ini istana raja, ya?” tanya Lucia takjub, menoleh pada Vincent sambil menarik-narik ujung jas pria itu.

“Rumah ini besar sekali! Pasti butuh sepuluh ribu domba untuk menukarnya, kan? Dan lihat, pasti lampu minyak di dalam sana ada sejuta. Siapa yang bertugas menyalakannya satu-satu setiap malam?”

Vincent memejamkan mata, memijat pangkal hidungnya yang mendadak berdenyut nyeri.

“Dengar, Gadis Udik. Pertama, berhenti memanggilku Paman. Umurku baru dua puluh delapan tahun. Kedua, tidak ada yang menukar rumah ini dengan domba. Ketiga, ini pakai listrik, bukan lampu minyak,” rutuk Vincent kehabisan kesabaran.

“Tapi, Paman. Di desaku–”

“Sudah, diam dan ikut aku!”

Saat mereka melangkah menaiki undakan teras utama, mata Lucia tertuju pada deretan patung pahlawan Romawi kuno yang menghiasi pilar.

“Paman, kenapa orang-orang batu itu tidak pakai baju? Paman tuan rumah pasti sangat pelit sampai tidak membelikan mereka celana, ya? Kasihan, mereka pasti kedinginan di malam hari.”

“Itu seni, astaga! Seni era renaissance. Kecilkan suaramu sekarang juga atau aku akan benar-benar membungkam mulutmu.”

Lucia langsung membekap mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangan dan mengangguk patuh, membuat Vincent akhirnya bisa membuang napas lega.

Mereka memasuki ruang utama. Tidak ada satu pun pelayan yang terlihat berlalu-lalang.

Tiba-tiba, dari arah ruang kerja utama di lantai dua, terdengar suara erangan menahan sakit yang teramat dalam, disusul suara barang-barang yang dibanting ke lantai.

Langkah Vincent terhenti seketika. Raut wajahnya yang tadi kesal mendadak pucat pasi.

“Tuan Alessandro!” Vincent bergumam panik.

Tanpa memedulikan Lucia lagi, pria berjas hitam itu langsung berlari kencang menaiki tangga. Lucia yang ketakutan setengah mati ditinggal sendirian di tempat asing, refleks berlari terbirit-birit membuntuti di belakang Vincent.

“Paman! Tunggu aku! Jangan tinggalkan aku dengan patung-patung telan-jang ini!” rengek gadis itu sambil mengangkat ujung gaunnya yang kepanjangan agar tidak tersandung.

Di dalam ruangan bernuansa gelap yang pintunya sedikit terbuka, kekacauan terjadi. Berkas dokumen berserakan di atas karpet. Seorang pria berbadan tegap dengan kemeja putih yang kini bersimbah darah tampak bersandar lemas di balik meja kerjanya.

“Tuan, luka tembak anda terbuka lagi?” tanya Vincent cemas.

Namun, Vincent langsung mengerem langkahnya, berhenti tepat pada jarak aman dua meter dari sang bos. Vincent sangat paham aturan mutlak di mansion ini, tidak ada yang boleh mendekati atau menyentuh Alessandro.

Bukan tanpa alasan, Alessandro mengidap haphephobia parah sekaligus reaksi psikosomatis ekstrem terhadap sentuhan manusia. Sentuhan sekecil apa pun akan memicu reaksi alergi mengerikan. Kulit melepuh, sesak napas, hingga syok anafilaktik.

“Panggil dokter pribadiku!” titah Alessandro. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Tangannya yang gemetar memegangi perut bagian kanannya yang terus mengeluarkan darah segar.

“B-baik, Tuan! Saya akan segera memangil dokter!”

Saat Vincent hendak berbalik untuk meraih telepon darurat, sebuah siluet kecil tiba-tiba melangkah maju melewatinya.

Melihat ada seseorang yang merintih kesakitan dan bersimbah darah, jiwa penolong Lucia murni mengambil alih.

Lucia lupa pada rasa takutnya, lupa pada tembakan di klub malam dan lupa pada teguran Vincent.

Yang Lucia lihat hanyalah seorang manusia yang sedang terluka parah.

“Paman Tampan, Paman berdarah!” seru Lucia berlari mendekati meja kerja.

“Jangan mendekat, Gadis Udik! Mundur! Berhenti di sana!” teriak Vincent panik, tangannya terulur hendak menggapai kerah baju Lucia.

Tapi semuanya terlambat. Lucia sudah lebih dulu berlutut tepat di samping kursi kebesaran Alessandro.

Mendengar suara asing, mata Alessandro menajam. Insting mafianya bereaksi lebih cepat dari rasa sakitnya. Tangan kanannya bergerak kiat meraih pistol di atas meja dan bersiap menarik pelatuk ke arah penyusup yang berani mendekatinya.

Namun, sebelum moncong senjata itu terangkat sempurna, jemari mungil Lucia yang halus dan hangat sudah lebih dulu melingkar erat di pergelangan tangan Alessandro.

Vincent menahan napas dan memejamkan matanya rapat-rapat. Bersiap mendengar jeritan murka bosnya atau lebih buruknya lagi, melihat kepala gadis desa itu ditembus peluru.

Lima detik berlalu.

Tidak ada jeritan kesakitan, tidak ada ruam merah yang muncul di kulit Alessandro dan tidak ada suara tembakan. Napas Alessandro yang tadi memburu, entah bagaimana perlahan-lahan mulai berangsur stabil.

Alessandro membelalakkan mata. Pistol di tangannya terlepas. Ia menatap ke bawah, melihat pergelangan tangannya yang sedang digenggam erat oleh seorang gadis bergaun lusuh di hadapannya.

Sensasi yang Alessandro rasakan bukanlah rasa terbakar seperti tertusuk ribuan jarum api yang menyiksa seperti biasanya. Melainkan sebuah kehangatan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

“Tangan Paman dingin sekali, seperti balok es di musim salju. Pasti Paman kesakitan sekali, ya?”

Mata Lucia yang jernih menatap lurus ke dalam netra biru Alessandro.

“Jangan bergerak dulu, Paman. Darahnya bisa keluar lebih banyak,” tegur Lucia layaknya seorang ibu memarahi anak kecil yang nakal.

Alessandro membeku. Suara dinginnya yang sanggup membuat seluruh petinggi mafia berlutut, kini mendadak goyah.

“Kau siapa?” tanya Alessandro tak berkedip menatap wajah polos di dekatnya.

“Namaku Lucia, Paman. Paman jangan takut dan jangan menangis, ya. Aku pandai mengobati luka. Kalau domba peliharaan bibiku terluka karena serigala, aku selalu menempelkan daun jarak yang ditumbuk. Lukanya langsung cepat kering,” oceh Lucia bangga sembari mengusap lengan Alessandro dengan lembut.

Melihat itu, rahang Vincent seolah akan jatuh ke lantai. Manusia berdarah dingin yang selama dua puluh delapan tahun ini sama sekali tidak bisa disentuh oleh siapapun, kini membiarkan tangannya diusap dan diajak bicara soal domba serta daun jarak oleh seorang gadis udik. Yang bahkan tidak tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan iblis nomor satu paling ditakuti di seluruh daratan Italia.

1
tinie
ya ya inikah genetik dari kakek Diego
😁😁
Ita rahmawati
GK peduli depan ortu ya Alesandro dari pada metong 😂
tinie
Alexander adalah bocah kematian
mana bisa dibohongi
apalagi sekarang dewasa akut😁😁😁
tinie
nah Alex yg tegas
mana mungkin dia langsung percaya
dgn ucapan gadis itu
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
anjaaayyyy... absurd tapi bener sih
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
astogehhhh
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
mampos
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
jd inget masa lalu y alex?
lovely_day
lanjut thor... ttp semangat ya. 2 bab aja nih😂
Endang Sulistiyowati
Sabar ya Tuan Alex, calon mantumu itu emang paling bisa bikin kita hipertensi dadakan.
falea sezi
🤣🤣 ngakak liat lucia
🇦 🇵 🇷 🇾👎
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣nth lh alex... mikir sndr
🇦 🇵 🇷 🇾👎
😅😅😅😅😅😅😅
🇦 🇵 🇷 🇾👎
jgn kn kau.... aq yg bc mules

. mumet tp kock
🇦 🇵 🇷 🇾👎
luci keren😅
Sri Rahayu
bingung Alex menghadapi Lucia...dulu Malika jg polos tp tdk separah Lucia... rezeki Alessandro dpt istri seperti Lucia 🤩🤩🤩....lanjut Thorr😘😘😘
🇦 🇵 🇷 🇾👎
😅😅😅😅
Bunda SalVa
itulah uniknya calon menantumu Tuan Alex 🤣🤣🤣🤣
+82
ugh🌚
Muft Smoker
alexander tu ketua mafia Isabella ,, pasti tau mana yg asli dan mana yg palsu ,,
kecuali Alexander tukang gorengan ,, pasti lebih milih minyak murah biar hemat meski palsu ,,
dibandingkan minyak mahal yg lebih sehat ,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!