Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24: Mencari dukungan
Cerita berlanjut...
Di dalam rumah megah milik Yoga, suasana serba canggung dan senyap masih menggelayut tebal. Setiap detik terasa bagaikan helaan napas yang tertahan di balik dinding-dinding tinggi yang dingin.
Di dalam kamarnya di lantai dua, Lea duduk di tepi tempat tidur dengan kedua kaki terlipat. Tangannya menggenggam ponsel pintar erat-erat, sementara matanya yang sembab menatap nanar ke arah foto berbingkai kayu di meja belajarnya, foto almarhumah ibunya, Ratna, yang sedang tersenyum anggun memangku dirinya sewaktu kecil.
Rasa amarah, keputusasaan, dan cemburu yang menggelegak sejak insiden di tempat wisata kemarin belum sedikit pun mereda.
Hati Lea membara, melihat bagaimana ayahnya terus membela Ayu, dan bagaimana Moana seolah-olah makin bergantung pada wanita itu, Lea merasa posisinya dan ingatan tentang ibunya makin terancam.
Ia merasa butuh sekutu, sosok pelindung yang memiliki wewenang lebih besar untuk menekan ayahnya dan menyingkirkan Ayu dari rumah itu.
Dengan jemari yang sedikit gemetar oleh luapan emosi, Lea menggeser layar ponselnya, mencari nama kontak yang sudah lama tidak ia hubungi secara mendalam, yaitu Nenek Farida.
Hanya dalam tiga kali nada panggil, suara wanita paruh baya yang penuh kehangatan dan keanggunan menyapa dari seberang telepon.
"Halo, Cucu Nenek yang cantik... Lea? Ya Allah, kangen sekali Nenek sama kamu, Nak. Gimana kabar kamu, Kenzo, sama Moana di Jakarta?"
Mendengar suara lembut ibu dari almarhumah ibunya itu, pertahanan diri Lea seketika runtuh. Air mata yang sejak pagi ditahannya luruh membasahi pipi. Isakan kecil pun lolos dari tenggorokannya.
"Hiks hiks..."
"Lea? Nak, kamu kenapa menangis?!" Suara Nenek Farida seketika berubah tegang dan dipenuhi kecemasan. "Ada apa, Lea? Coba cerita sama Nenek! Kenzo kenapa? Papa kamu kenapa?!"
"N-Nenek..." bisik Lea sesenggukan, dan sengaja membiarkan suaranya terdengar makin parau dan merana. "Moana, Nek... Moana kecelakaan..."
"APA?!" Jeritan kaget Nenek Farida terdengar melengking di seberang telepon. "Moana kecelakaan?! Ya Allah, Gusti... Kecelakaan gimana, Lea?! Coba ngomong yang jelas sama Nenek!"
Lea mengusap air matanya dengan ujung lengan baju, lalu menata intonasi suaranya agar terdengar bagaikan korban yang teraniaya.
"Kemarin kita diajak jalan-jalan ke tempat wisata gunung, Nek... Terus... terus Moana ditinggal sendirian sama ibu tiri kita. Moana jatuh dari tempat tinggi, Nek! Kepalanya bocor, darahnya banyak banget... Sampai harus dibawa ke rumah sakit dan dijahit lima jahitan di jidatnya!" cerita Lea dengan nada dramatis, dan sengaja membumbui narasi untuk menyudutkan Ayu sepenuhnya. "Dia lalai banget, Nek! Dia gak mau jaga Moana dengan bener! Dan sekarang Papa malah ngebela perempuan itu..."
Keheningan yang mencekam mendadak menyergap di seberang telepon selama beberapa detik, sebelum akhirnya terdengar suara napas memburu dan nada bicara Nenek Farida yang bergetar hebat oleh amarah dan kekhawatiran.
"Gusti Nu Agung... Anak sekecil itu sampai luka di kepala?! Kenapa Papa kamu tidak mengabari Nenek sama sekali?! Ya Allah, cucuku... Ratna..." Nenek Farida menghentikan kalimatnya sejenak, terdengar suara gersekan kain dan panggilan tegas wanita tua itu kepada suaminya. "Papi! Sintia! Siapkan mobil sekarang! Kita ke Jakarta hari ini juga! Cucu kita Moana celaka!"
"Lea, kamu dengar Nenek ya," lanjut Nenek Farida di telepon dengan nada tegas yang tak terbantahkan. "Nenek, Kakek, sama Tante Sintia berangkat sekarang dari Bandung. Jangan takut ya, Nak. Nenek gak bakal biarkan anak-anak Ratna disia-siakan di rumah itu!"
"Iya, Nek... Lea tunggu..." bisik Lea seraya mengulas senyum tipis di balik derai air matanya.
Saat panggilan terputus, Lea meletakkan ponselnya di atas kasur. Sebuah binar kemenangan yang dingin pun terpancar dari matanya.
Ia menyapu air matanya hingga bersih, berdiri dari tempat tidur, lalu melangkah keluar kamar menuju kamar Kenzo di seberang lorong.
Sementara itu, di lantai bawah, Ayu sedang sibuk di dapur. Wajahnya masih memancarkan keletihan yang pekat akibat tidak tidur semalaman di rumah sakit, namun jemarinya tetap lincah mengiris bahan-bahan makanan.
Ia membuatkan sup ceker dan kaldu ayam lembut untuk Moana, serta memasak beberapa lauk pauk segar untuk makan siang keluarga.
Tak lama, Yoga turun dari lantai dua setelah memastikan Moana tidur dengan tenang. Pria itu menghampiri Ayu di dapur, seraya melingkarkan lengannya di pinggang Ayu dari belakang, lalu menyandarkan dagunya di bahu istrinya dengan penuh kasih.
"Ayu... kamu belum istirahat dari tadi," bisik Yoga lembut, sembari menghirup aroma harum dari rambut Ayu. "Biar Bi Minah yang teruskan masaknya. Kamu tiduran di kamar ya?"
Ayu membalikkan badannya sedikit, dan menatap wajah suaminya seraya mengulas senyum teduh yang menenangkan. "Saya tidak apa-apa, Mas. Lagipula, kalau saya sibuk begini, rasa cemas saya soal Moana jadi agak berkurang. Mas sendiri gimana? Sudah telepon kantor?"
"Sudah. Pekerjaan di kantor bisa ditangani staf dulu hari ini. Aku mau fokus mendampingi kamu dan menjaga Moana di rumah," sahut Yoga, lalu mengecup kening Ayu dengan lembut.
Momen kehangatan itu terputus tatkala Kenzo dan Lea turun bersamaan dari tangga. Namun kali ini, tidak ada raut masam atau wajah ditekuk yang biasa mereka tampilkan. Ada pendar percaya diri dan antusiasme yang aneh pada wajah kedua remaja itu.
Kenzo melangkah santai menuju lemari es, mengambil sebotol air dingin, lalu menatap ayahnya.
"Pa," panggil Kenzo datar. "Nanti sore Nenek Farida, Kakek Subroto, sama Tante Sintia mau datang ke sini."
Yoga tersentak kaget. Ia melepaskan pegangannya dari Ayu dan menatap anak sulungnya itu dengan alis bertaut rapat. "Nenek datang? Dari Bandung? Kok tidak ada yang mengabari Papa? Tahu dari mana Nenek soal Moana?"
Lea maju satu langkah sambil bersedekap dada dengan dagu terangkat menantang. "Lea yang telepon Nenek tadi. Lea cerita kalau Moana masuk rumah sakit dan dapat lima jahitan gara-gara dijatuhin."
Raut wajah Yoga seketika berubah tegang. "Lea! Kenapa kamu bikin Nenek panik?! Nenek itu punya riwayat darah tinggi! Kenapa harus dibesar-besarkan?!"
"Lea gak membesar-besarkan, Pa! Itu kenyataan!" tembak Lea sinis. Matanya lalu melirik tajam ke arah Ayu yang berdiri terpaku di depan kompor. "Nenek berhak tahu kondisi cucu-cucunya. Nenek itu ibu kandungnya Mama Ratna. Keluarga Mama berhak tahu gimana nasib kita di rumah ini sejak Papa nikah lagi!"
Ayu menelan ludahnya yang terasa sangat pahit. Ia bisa merasakan gelombang ancaman yang amat besar sedang mengarah padanya.
Kedatangan keluarga besar almarhumah Ratna bukanlah sekadar kunjungan menjenguk biasa, Ayu tahu betul, ini adalah panggung pembuktian yang disiapkan oleh Kenzo dan Lea untuk menghancurkannya.
Bersambung...