Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Apakah Langit Juga Menangis?
"Pecahkan papan nama keluarga ini dan pergi dari rumahku, Bennosuke!"
Suara Shinmen Munisai memecah keheningan pagi yang membeku. Kata-kata itu meluncur tidak dengan teriakan murka biasa, melainkan dengan nada dingin, datar, dan tajam bagaikan sembilu yang ditancapkan perlahan ke dada.
Di dalam ruangan utama rumah keluarga Shinmen, bau kayu tua dan asap dupa yang biasa menenangkan kini terasa sangat mencekik. Di luar, awan mendung tebal berwarna keabu-abuan menggelayut rendah di atas perbukitan Mimasaka. Cahaya matahari tertutup rapat, membiaskan rona kelam yang menimpa wajah kedua pria beda generasi itu.
Bennosuke berdiri terpaku di tengah ruangan. Di tangannya, ia masih memegang dua pedang kayu buatan sendiri yang biasa digunakannya untuk berlatih. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, cengiran liar dan tatapan menantang yang biasanya menghiasi wajah bocah sebelas tahun itu sirna tanpa bekas.
Mata bulatnya menatap sang ayah dengan kebingungan murni.
"Ayah... apa maksudmu?" bisik Bennosuke, suaranya parau.
"Aku bilang, pergi!" bentak Munisai, membalikkan badannya dengan kasar. Tangannya meraih papan kayu berukir lambang klan Shinmen yang tergantung di dinding utama, lalu melemparkannya hingga terhempas keras tepat di depan kaki Bennosuke.
BRAM!
Papan kayu tua itu retak di bagian sudutnya.
"Perintah Katanagari dari ibu kota sudah jelas," lanjut Munisai, suaranya dipenuhi rasa jijik yang dibuat-buat, meskipun rahangnya mengeras dan buku-buku jarinya memutih akibat mengepal begitu kuat di balik lengan bajunya. "Klan Shinmen adalah klan pahlawan terhormat yang taat pada hukum istana! Aku tidak akan membiarkan seorang bocah liar, bajingan kecil tanpa tata krama yang kerjaannya hanya merusak nama baik keluarga ini, mencelakakan seluruh klan kita!"
"Aku tidak pernah berniat mencelakakan keluarga ini!" potong Bennosuke, dadanya naik-turun oleh napas yang memburu. "Aku bertarung di dojo-dojo itu karena aku ingin membuktikan bahwa pedang kita tidak lemah! Aku bertarung agar tidak ada orang yang meremehkan nama Shinmen!"
"Bohong!" potong Munisai dingin. Pria tua itu melangkah mendekat, menatap lurus ke dalam mata anak tunggalnya dengan tatapan asing yang begitu asing dan menusuk.
"Kau bertarung hanya demi kesenangan liarmu sendiri," bisik Munisai, setiap kata yang meluncur dari bibirnya terasa bagaikan cambuk yang dirancangnya sendiri untuk menghancurkan hati anaknya. "Kau bukan seorang samurai. Kau hanyalah binatang buas yang kebetulan lahir dari rahim keluargaku. Aku menyesal pernah mengajarimu cara memegang pedang."
Deg.
Bennosuke merasakan ada sesuatu yang pecah di dalam dadanya. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras ketimbang tebasan katana atau hantaman jitte besi yang pernah diterimanya. Ia menatap ayahnya, mencari sedikit saja kilatan tawa atau amarah jenaka yang biasa mewarnai perkelahian mereka.
Namun di wajah Munisai, yang tersisa hanyalah dinding batu yang tak tertembus.
Bennosuke tidak tahu—dan tidak boleh pernah tahu—bahwa di balik dinding batu itu, jiwa Munisai sedang menjerit kepedihan yang teramat sangat.
Semalam suntuk, Munisai tidak memejamkan mata. Sang jenderal veteran sadar bahwa selama Bennosuke tetap menyandang nama klan Shinmen dan tinggal di Mimasaka, mata-mata Kyoto yang mengawasi pelaksanaan Katanagari akan terus mengincar anak itu. Sifat Bennosuke yang terlalu jujur, terlalu liar, dan terlalu berbakat tidak akan pernah bisa ditundukkan oleh hukum ironis Hideyoshi.
Satu-satunya cara agar Bennosuke bisa selamat, bertahan hidup, dan tumbuh menjadi pedang sejati yang tak terikat oleh rantai kekuasaan mana pun... adalah dengan mencabut nama klan dari punggungnya dan mengusirnya jauh-jauh dari rumah ini. Munisai harus menjadi iblis di mata anaknya agar anak itu mau melangkah pergi.
"Ambil pedang kayumu," ujar Munisai pelan, membalikkan punggungnya kembali agar Bennosuke tidak melihat setitik air mata yang mulai menggenang di sudut mata tuanya. "Mulai detik ini, kau bukan lagi bagian dari keluarga Shinmen. Jika kau menampakkan wajahmu lagi di rumah ini atau memakai nama keluarga ini di luar sana... aku sendiri yang akan memenggal lehermu sebagai pembangkang."
Keheningan yang amat berat merayap di antara mereka.
Bennosuke berdiri diam selama beberapa hitungan napas. Perlahan, jemari mungilnya yang penuh kapalan meremas gagang pedang kayunya. Rasa sakit di dadanya perlahan bertransformasi menjadi sebuah keheningan dingin yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia tidak menangis. Anak babi hutan dari Mimasaka itu tidak meneteskan satu pun air mata.
Bennosuke berlutut perlahan di atas lantai kayu. Ia meletakkan kedua pedang kayunya di samping tubuhnya, lalu membungkukkan kepalanya dalam-dalam—sebuah penghormatan formal paling sempurna dan paling santun yang pertama kali dan terakhir kali ia berikan kepada ayahnya.
"Terima kasih... atas makanan dan pelajaran pedang selama sebelas tahun ini, Munisai-dono," ucap Bennosuke, suaranya begitu tenang, melepas sebutan 'Ayah' untuk selamanya.
Bennosuke berdiri. Tanpa menyentuh papan nama keluarga yang retak di lantai, ia membalikkan badan dan melangkah menuju pintu depan.
Srekk...
Pintu kayu disingkap.
Tepat ketika kaki bertelanjang Bennosuke melangkah melewati ambang pintu menuju pelataran tanah, rintik-rintik hujan pertama jatuh dari langit mendung Mimasaka.
Tik... tik... tik...
Tetesan air hujan yang dingin menyiram bahunya, membasahi rambut hitam liarnya yang terurai, dan menghapus jejak-jejak tanah bekas pijakannya di halaman rumah. Hujan musim panas yang lebat perlahan turun mencurah, membungkus seluruh desa dalam tirai air yang kelabu.
Bennosuke melangkah maju tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Di bawah guyuran hujan yang kian deras, tubuh mungilnya berjalan sendirian menyusuri jalan setapak perbukitan, memegang erat dua pedang kayunya—melangkah keluar dari naungan klan Shinmen menuju belantara dunia yang luas dan kejam sebagai seorang pengembara tanpa nama.
Di dalam rumah, Munisai tetap berdiri kaku di tengah ruangan. Ketika derap langkah kaki Bennosuke telah sepenuhnya hilang ditelan gemuruh suara hujan, sang jenderal veteran merosot jatuh berlutut di atas tatami. Ia merengkuh papan nama kayu yang retak itu ke dadanya, membiarkan bahunya yang tegap bergetar hebat dalam Isak tangis tanpa suara yang pecah di tengah dinginnya hujan Mimasaka.
***
Sementara hujan lebat di Mimasaka membasuhi jejak langkah Bennosuke yang berjalan sendirian, ratusan ri di belahan timur, di puncak Gunung Kurama, gerimis tipis menyelimuti pelataran batu tempat pertapaan rahasia berada. Kabut putih merayap tebal di antara dahan-dahan cedar tua, menciptakan suasana yang seolah terisolasi dari ruang dan waktu.
KLANG!
Dua bilah pedang kayu berlapis kain rami beradu keras di udara, memuntahkan percikan getaran yang memecah keheningan pegunungan suci.
Mumei melompat mundur tiga langkah. Kaki telanjangnya mendarat tanpa suara di atas lantai batu yang basah oleh embun. Di usianya yang baru menapak duabelas tahun, perawakannya tampak langsing dan ramping, namun postur tubuhnya memancarkan keseimbangan yang nyaris sempurna. Kimono latihan berwarna biru pudar yang dikenakannya berkibar ditiup angin dingin, sementara rambut hitamnya diikat rapi di belakang leher.
Di hadapannya, berdiri Ogen. Sang ibu—menatap putrinya dengan mata yang tajam bagaikan belati. Baju zirah kulit hitam yang melekat di tubuh Ogen tampak memantulkan rona air gerimis. Di tangan kanannya, Ogen menggenggam sebilah pedang latihan dengan kelenturan dan kepresisian yang mengerikan.
"Seranganmu terlalu banyak menggunakan pikiran, Mumei!" tegur Ogen, suaranya tenang namun dingin bagaikan es malam. "Di medan pertempuran sungguhan, lawanmu tidak akan memberimu waktu satu kedipan mata pun untuk menimbang arah mata angin atau pijakan kaki."
Sebelum getaran kata-katanya usai, sosok Ogen mendadak melesat maju. Gerakannya bukan sekadar langkah kaki biasa, melainkan teknik Shinobi-aruki—bergerak cepat tanpa menggeser beban tubuh, membuat wujudnya tampak membayang ganda di dalam kabut tipis.
SWAT! SWAT!
Dua tebasan silang beruntun mengincar leher dan lambung kiri Mumei dalam beberapa detik.
Mumei menahan napas. Mata kanannya—yang menyembunyikan kekuatan segel Raja Tengu Sojobo—berdenyut halus, memancarkan pendaran warna keunguan yang samar di balik lingkaran pupilnya. Dalam penglihatan spiritual Mumei, aliran energi dan arah angin tebasan ibunya terhampar jelas bagaikan garis-garis cahaya ungu yang melayang di udara.
Mumei memiringkan tubuhnya ke kanan, membiarkan bilah kayu Ogen lewat hanya seujung kuku dari pipinya. Pada saat yang sama, ia memutar pedang kayunya dari bawah, mengincar pergelangan tangan Ogen dengan teknik pangkas pendek khas klan Iga.
KLANG!
Ogen membalikkan pegangannya secara instan, menangkis serangan Mumei dengan punggung bilah, lalu menggunakan momentum benturan itu untuk mendesak Mumei hingga ke bibir tebing batu.
"Bagus," puji Ogen tipis, matanya mengunci mata Mumei dari jarak beberapa inci. "Kau mulai sanggup membaca jejak gerakanku menggunakan mata Sojobo. Tapi ingat... kekuatan magis itu hanyalah alat. Jiwa dan nalarmu yang harus menjadi majikannya, bukan sebaliknya."
Ogen melepaskan tekanan pedangnya dan melangkah mundur, membiarkan Mumei menghela napas panjang untuk menetralkan detak jantungnya yang memburu.
Mumei menurunkan pedang kayunya, menyapu bulir-bulir air gerimis di dahinya. "Ibu... saat kita beradu pedang tadi, aku merasakan sesuatu yang aneh."
Ogen menaikkan sebelah alisnya, menatap putrinya dengan penuh rasa ingin tahu. "Sesuatu?"
"Di barat..." Mumei berpaling menatap ke arah horizon pegunungan yang tertutup rapat oleh kabut dan awan mendung. Mata keunguannya berkedip pelan. "Ada benang ikatan yang baru saja terputus. Seseorang di sana... baru saja kehilangan tempatnya berpulang, dibalut oleh hujan yang sangat dingin."
Dari bawah naungan atap aula pertapaan, Biksu Tenkai melangkah keluar perlahan seraya memutar tasbih kayu hitam di tangannya. Senyuman tipis yang sarat akan makna terukir di wajah sang biksu tua.
"Itu adalah getaran dari jiwa muda yang sama yang pernah kau rasakan lima tahun lalu, Mumei," ujar Tenkai, suaranya dalam dan menenangkan. "Anak dari Mimasaka telah melangkah keluar dari naungan klannya. Seperti halnya dirimu yang hidup dalam bayang-bayang sejarah Oda, anak itu kini resmi menjadi kelana tanpa nama yang berjalan sendirian menembus badai zaman."
Mumei menundukkan kepalanya, mengamati telapak tangannya yang memegang erat gagang pedang kayu. Rasa dingin dari gerimis Kurama seolah menyatu dengan rasa dingin dari hujan jauh di barat tempat Bennosuke melangkah.
"Apakah jalur kami akan bertemu suatu hari nanti, Guru?" tanya Mumei lirih.
Tenkai mendongak menatap langit sore Kurama yang kian gelap.
"Langit telah menenun takdir kalian sejak malam runtuhnya Odawara, Mumei," jawab Tenkai penuh kepastian. "Latihlah pedangmu, kuasai energimu, dan teguhkan jiwamu. Sebab ketika zaman Toyotomi ini mulai retak, kalian berdua akan menjadi dua bilah pedang yang menentukan apakah tanah Jepang ini akan tenggelam dalam kegelapan... atau menyambut fajar yang baru."
Mumei menggenggam gagang pedang kayunya lebih erat. Ia menatap ke arah barat sekali lagi, meneguhkan tekad di dalam dadanya di bawah siraman gerimis suci Gunung Kurama.