Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.
Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.
Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tolak Angin Taktis dan Mesin Bor Rasa Vodka
Ruang bawah tanah Kastil Schloss von Hapsburg yang berfungsi sebagai gudang persenjataan utama (Armory) itu biasanya dipenuhi oleh ketegangan layaknya markas militer sebelum Perang Dunia. Namun malam ini, suasana di ruangan berlapis baja itu lebih mirip dengan toko pakaian saat musim diskon Lebaran.
Xander berdiri dengan punggung tegak, kedua tangannya disilangkan di depan dada, mencoba mempertahankan sisa-sisa wibawanya sebagai Dominus Umbrae. Di depannya, di atas meja perak, terhampar sebuah Stealth Suit—baju zirah taktis berbahan serat nano karbon berwarna hitam pekat yang dirancang khusus untuk misi penyusupan tingkat tinggi. Harga satu setelnya setara dengan PDB sebuah negara kecil di kepulauan Pasifik.
"Ini adalah Phantom-V," jelas Xander dengan nada berat dan dramatis. "Materialnya sanggup menahan tembakan peluru kaliber 50 dari jarak sepuluh meter, menyerap panas ledakan granat, dan menyesuaikan suhu tubuh di lingkungan ekstrem. Aku secara khusus memesannya untukmu, Tania."
Tania mengambil baju zirah hitam yang sangat ketat dan tipis itu. Ia membolak-baliknya dengan dahi berkerut, mengendus bahannya, lalu menatap Xander dengan pandangan penuh keraguan.
"Xander, ini bahannya tipis sekali. Celananya juga ketat minta ampun," protes Tania sambil berkacak pinggang. "Kita mau menyusup ke lorong bawah tanah yang dingin dan berair, kan? Kalau aku pakai ini, aku pasti masuk angin parah. Susah lho cari orang yang bisa kerokan di kedalaman dua ribu meter di bawah Pegunungan Alpen!"
Dirga yang sedang memeriksa senapan laras panjang di sudut ruangan langsung tersedak ludahnya sendiri, berusaha keras menahan tawa. Freya melotot tajam ke arah Dirga, meski sudut bibir pengawal wanita yang dingin itu tampak sedikit berkedut.
"T-Tania," Xander berdehem, sedikit gagap karena ini pertama kalinya ada seseorang yang mengeluhkan baju anti-peluru miliaran rupiah demi menghindari masuk angin. "Baju ini memiliki pengatur suhu internal—"
"Tidak bisa," potong Tania tegas. Ia meletakkan kembali Phantom-V itu ke atas meja, lalu berjalan menuju tas ranselnya yang dibawa dari Bogor. Ia mengeluarkan sebuah jaket parasut tebal berwarna hijau lumut dan dua saset jamu tolak angin cair. "Aku akan pakai jaket ini sebagai luaran. Dan kalian semua wajib minum tolak angin ini sebelum kita berangkat. Jangan sampai misi gagal gara-gara ada yang bersin pas lagi ngumpet dari penjaga."
Xander menatap saset jamu herbal berwarna kuning hijau di tangannya dengan pandangan kosong. Sang penguasa dunia bawah tanah yang ditakuti mafia Rusia dan kartel Meksiko itu kini dipaksa minum jamu masuk angin oleh istrinya. Di sampingnya, Dea sudah merobek ujung saset miliknya dan meminumnya dengan santai.
"Minum saja, Ayah," ucap Dea sambil mengunyah keripik tempe buatannya Kakek Suratman. "Itu bagus untuk perut. Ayah kelihatannya agak pucat sejak si Valerius itu datang bawa ancaman."
Xander menghela napas pasrah, merobek saset itu, dan menenggak isinya. Matanya seketika membelalak saat rasa semriwing mint dan pedas jahe meledak di tenggorokannya, membuat pria itu terbatuk kecil. Dirga akhirnya tak sanggup menahan tawa dan tertawa terbahak-bahak, sebelum akhirnya terdiam seketika saat Xander melempar tatapan tajam mautnya.
"Baiklah, persiapan logistik medis lokal... sudah selesai," kata Xander cepat, berusaha mengembalikan suasana serius. Ia menekan tombol di panel dinding. "Mari kita lihat kendaraan yang akan membawa kita menembus fondasi Olympus."
Lantai baja di bawah mereka bergetar pelan saat mereka turun menggunakan elevator barang berukuran raksasa menuju Hangar Sub-Level 6—area terdalam kastil yang belum pernah dibuka selama satu dekade terakhir.
Saat pintu elevator terbuka, lampu-lampu sorot kuning menyala satu per satu, menerangi sebuah monster besi raksasa yang tertidur. Kendaraan itu berbentuk silinder panjang berlapis baja tebal, dengan mata bor raksasa terbuat dari paduan tungsten yang memenuhi seluruh bagian depannya. Rel-rel roda rantainya tampak begitu kokoh, dirancang untuk merobek batuan beku.
"Perkenalkan," ucap Xander, kembali menemukan suaranya yang karismatik, "Proyek Krot, atau Ghost-Train. Mahakarya teknik pengeboran bawah tanah Uni Soviet era Perang Dingin. Dirancang untuk menembus bunker nuklir lawan dari bawah tanah. Kendaraan ini tidak bisa dilacak oleh radar, sonar, maupun detektor panas."
Tania dan Dea menatap takjub pada mesin raksasa tersebut. Namun kekaguman mereka terhenti ketika Dirga melangkah maju dan menepuk perlahan lambung besi Ghost-Train itu.
KLTANG!
Sebuah pelat besi penutup knalpot tiba-tiba lepas dan jatuh berdentang ke lantai beton, diikuti kepulan debu yang tebal dan bau menyengat alkohol dari dalam mesin.
"Maaf, Tuan," Dirga nyengir kuda, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Terakhir kali mesin ini dipanaskan waktu tembok Berlin runtuh. Teknisi bilang tangki pendinginnya dulu sering dipakai prajurit Soviet untuk menyelundupkan Vodka. Makanya baunya agak... unik."
Xander memijat pelipisnya perlahan. "Selama mata bornya bisa berputar, aku tidak peduli baunya seperti apa. Freya, nyalakan sistemnya."
Freya memanjat masuk ke dalam ruang kemudi, diikuti oleh Xander, Tania, Dea, dan Dirga. Ruang kemudi itu sempit, dipenuhi tuas-tuas mekanik besar, tombol-tombol analog berlabel huruf Sirilik Rusia, dan lampu indikator yang berkedip-kedip hijau redup.
Freya menarik sebuah tuas merah besar di tengah dasbor.
GRRR-GRRR-BAM!
Mesin diesel hibrida raksasa di belakang mereka meraung hidup, menggetarkan seluruh rangka kereta bor tersebut. Lampu-lampu menyala terang. Namun, bersamaan dengan menyalanya mesin, radio komunikasi antik di sudut ruangan tiba-tiba menyala dengan sendirinya pada volume maksimum.
Lagu rakyat Rusia, Kalinka, mengalun dengan irama akordeon yang sangat keras dan riang gembira, memenuhi ruangan yang sempit itu hingga memekakkan telinga.
"KALINKA, KALINKA, KALINKA MOYA!"
"Freya! Matikan musiknya!" teriak Xander, suaranya nyaris tenggelam oleh suara penyanyi paduan suara Soviet yang kelewat antusias.
"Saya tidak bisa, Tuan!" balas Freya berteriak, jari-jarinya panik memutar-mutar kenop radio yang ternyata sudah karatan dan macet total. "Sistem radionya terhubung langsung dengan sistem pengapian! Kalau radionya dimatikan, mesin utamanya ikut mati!"
Dirga menutup kedua telinganya. "Kita mau menyusup secara diam-diam atau mau buka hajatan sirkus di bawah tanah, Tuan?!"
Xander mendengus marah, bersiap memukul radio itu dengan gagang pistolnya. Namun sebelum ia bertindak, Tania melangkah maju dengan wajah datar. Ia melepas sandal gunung dari kaki kanannya, lalu menghantamkan sol karet tebal itu tepat ke bagian atas kotak radio.
PLAK!
Musik berhenti seketika. Tersisa suara deru mesin bor yang kini terdengar jauh lebih stabil dan halus. Semua orang di ruang kemudi terdiam, menatap Tania dengan mulut setengah terbuka.
Tania memakai kembali sandalnya dengan tenang, menepuk-nepuk tangannya seolah baru saja menepuk nyamuk. "Teknik reparasi standar televisi tabung di kampung," ucap Tania santai. Ia lalu duduk di kursi co-pilot, mengenakan sabuk pengaman silangnya, dan menoleh pada Xander yang masih mematung. "Tunggu apa lagi, Komandan? Katanya kita punya dewa-dewa yang harus dihajar di atas sana."
Xander menggelengkan kepalanya pelan, sebuah senyuman geli akhirnya pecah di wajahnya. Ia tidak pernah membayangkan misi paling bunuh diri dan berbahaya dalam hidupnya akan dimulai dengan jaket penolak angin dan sandal gunung ajaib. Ia mengambil posisi di kursi kemudi utama, menarik tuas navigasi ke posisi turun.
"Dea, pegangan yang erat," perintah Xander, matanya kini berkilat penuh tekad. "Kita akan menggali ke neraka terlebih dahulu, sebelum kita menjatuhkan Olympus dari langit."
Kereta raksasa Ghost-Train itu bergerak maju. Mata bor tungsten di depannya berputar perlahan, lalu semakin cepat hingga menghasilkan suara lengkingan yang memekakkan telinga saat bertemu dengan dinding lantai beton. Dalam hitungan detik, mesin raksasa berbau Vodka itu amblas menembus tanah Swiss, membawa sebuah keluarga unik asal Bogor menuju pertempuran yang akan mengubah sejarah dunia, satu putaran bor pada satu waktu.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor