Rara, seorang gadis yang gemar membaca kisah pria tampan, tiba-tiba terbangun di dalam novel yang baru saja dibacanya. Namun, bukan sebagai pemeran utama yang baik hati, ia justru menjadi Zelara Sabiru, istri arogan, sombong, dan kejam dari seorang bos mafia bernama Bashkar Deluca. Dalam cerita asli, Zelara selalu membenci Bashkar dan ikut keluarganya menuduh sang suami sebagai dalang di balik kematian kedua orang tuanya. Bahkan, Zelara berakhir dengan nasib tragis. Namun Rara mengetahui satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun Bashkar tidak pernah membunuh orang tuanya. Semua tuduhan itu hanyalah fitnah. Berbekal pengetahuan tentang alur cerita, Rara memutuskan mengubah takdir Zelara. Ia meninggalkan sifat buruk sang istri, memilih untuk bertaubat, dan mulai membela Bashkar yang selama ini hidup dalam kesepian serta penuh kecurigaan. Tetapi semakin Rara berusaha mengubah akhir cerita, semakin banyak rahasia keluarga Deluca yang terbongkar. Dan yang paling membuatnya bingung… Mengapa sang mafia dingin yang seharusnya membencinya justru mulai melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Perubahan raut wajah Zela yang mendadak redup dan murung tak luput dari pengamatan Bashkar. Dari sudut matanya yang kelabu, sang penguasa Deluca menyadari bagaimana wanita yang biasanya berkicau tanpa henti itu kini duduk terdiam di ujung sofa, menunduk memandangi jemarinya sendiri tanpa melontarkan omelan atau godaan konyol seperti biasanya. Kopi hangat di atas mejanya pun kini sudah benar-benar dingin, membeku sama seperti atmosfer di antara mereka.
Namun, Bashkar memilih untuk diam. Bagi pria berdarah dingin yang terbiasa hidup dalam paranoia dan pertumpahan darah, perubahan emosi seorang wanita bukanlah hal yang perlu dipertanyakan atau dipedulikan. Ia mengalihkan pandangannya kembali ke layar laptop, bersikap acuh tak acuh seolah suasana hati istrinya sama sekali tak berdampak pada dirinya.
TOK! TOK! TOK!
Ketukan di pintu ruang kerja memecah keheningan yang mencekam itu.
Klek.
Rian melangkah masuk dengan wajah kaku dan profesional. Langkah kakinya yang terukur membawanya mendekati meja kerja Bashkar. Sang asisten sempat melirik tipis ke arah Zela yang duduk murung di sofa sebelum akhirnya menyampaikan laporannya.
"Tuan," suara Rian terdengar rendah, memecah kesunyian ruangan. "Nona Clarissa baru saja tiba di lobby utama. Beliau mengatakan ada dokumen penting terkait investasi luar negeri yang ingin diserahkan secara langsung, dan beliau memohon izin untuk bertemu dengan Anda sekarang."
Mendengar nama Clarissa diucapkan secara gamblang oleh Rian, tubuh Zela seketika menegak! Jantungnya berdegup kencang, dan kepala Zela refleks terangkat, menatap lurus ke arah meja kerja Bashkar. Gosip dari para staf di pantry tadi rasanya seperti dihantamkan tepat di depan wajahnya dalam wujud nyata.
Bashkar tidak menunjukkan ekspresi terkejut. Garis rahangnya tetap tegas dan dingin.
"Biarkan dia naik," perintah Bashkar singkat.
"Baik, Tuan," sahut Rian patuh.
Sebelum Rian berbalik, Bashkar mengangkat wajahnya. Manik mata kelabunya yang sepi tanpa emosi mengarah lurus pada Zela yang masih menatapnya dengan binar mata terluka dan penuh tanya.
"Rian, bawa Zelara pulang sekarang," ucap Bashkar datar, suaranya mengandung nada perintah mutlak yang tak bisa diganggu gugat. "Mobil sudah siap di pelataran."
Dada Zela mendadak terasa sesak dan panas. Pengusiran secara halus ini tepat saat wanita bernama Clarissa itu akan masuk terasa bagaikan tamparan keras bagi harga dirinya. Zela meremas ujung mantel tebalnya, mencoba mengumpulkan keberanian. Ia bangkit berdiri dari sofa, menatap langsung ke dalam mata kelabu suaminya.
"Aku enggak mau pulang," tolak Zela dengan suara yang sedikit bergetar, namun penuh penekanan.
Bashkar menyipitkan matanya, kilatan dingin dan mengintimidasi terpancar makin pekat dari matanya. "Zelara. Jangan membantah."
"Aku bilang aku enggak mau pulang, Bashkar!" seru Zela lagi, kali ini nada suaranya sedikit memburu. "Aku ke sini ikut Kamu dari pagi, dan Kamu usir aku cuma karena wanita itu mau naik ke sini?! Aku istri Kamu! Kenapa aku yang harus disingkirkan?!"
Ketegangan di dalam ruangan itu mendadak berada di titik didih. Rian yang menyadari situasi akan makin keruh jika Nona Clarissa keburu sampai dan melihat perdebatan ini, langsung mengambil tindakan cepat.
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Nyonya Zelara," ujar Rian tegas namun penuh kehati-hatian.
Rian melangkah cepat mendekati Zela. Tanpa memberi kesempatan bagi wanita itu untuk melayangkan protes lebih jauh atau mendekati meja Bashkar, Rian mencekal lengan mantel Zela dengan cengkeraman yang kuat namun terukur.
"Lepasin, Rian! Lepasin aku!" Zela mencoba memberontak, menarik tangannya seraya menatap Bashkar dengan raut wajah kecewa yang amat mendalam. "Bashkar! Kenapa Kamu jahat banget sih?! Lepasin, Rian!"
"Mari saya antar ke mobil, Nyonya. Ini demi kebaikan Anda dan kelancaran urusan Tuan Deluca," Rian menarik tubuh ramping Zela secara perlahan namun pasti menuju pintu keluar. Kekuatan fisik Zela jelas tidak ada apa-apanya dibandingkan Rian yang terlatih.
Zela terus terseret mundur. Tatapan matanya tidak lepas dari sosok Bashkar yang tetap duduk tenang di kursi kebesarannya pria itu bahkan tidak bergeming, tidak membela dirinya, dan tidak melarang Rian saat menariknya keluar.
BLAM!
Pintu ruang kerja tebal itu tertutup rapat di depan wajah Zela, memutus pandangannya dari sang suami dan menguncinya dalam rasa sesak yang membakar dada di koridor gedung yang dingin.
Rian mengemudikan mobil sedan mewah itu membelah jalanan kota yang masih dihujani rintik salju. Keheningan di dalam kabin terasa begitu pekat dan menekan. Di kursi belakang, Zela menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin. Mantel bulu tebal yang melingkupi tubuhnya sama sekali tidak mampu mengusir rasa dingin dan sesak yang kini menjalar meremukkan dadanya.
Pikiran Zela berputar liar. Nama itu—Clarissa—terus bergema seperti hembusan angin malam yang menyayat.
Tak sanggup lagi menahan gejolak di dadanya, Zela menegakkan posisi duduknya. Manik matanya yang biasanya berbinar ceria kini menatap lurus ke arah cermin tengah, menembus pandangan Rian yang fokus mengemudi.
"Rian," panggil Zela, suaranya terdengar serak dan tertahan.
Rian melirik tipis melalui cermin tengah. "Ya, Nyonya Zelara?"
"Siapa Clarissa?" tanya Zela tanpa basa-basi, menuntut kejujuran dari pria yang menjadi tangan kanan suaminya itu.
Rian mengatupkan bibirnya kaku. Jemarinya yang terbalut sarung tangan kulit mengencang di atas lingkar kemudi. "Nona Clarissa adalah putri tunggal dari salah satu mitra bisnis utama Deluca Corp di luar negeri, Nyonya. Beliau mengurus investasi—"
"Aku nggak nanya soal jabatan atau status keluarganya, Rian!" potong Zela memburu. Napasnya terengah tipis saat ia memajukan tubuhnya mendekati sandaran kursi depan. "Aku mau tahu... siapa dia buat Bashkar? Kenapa semua staf di pantry tadi bicarain dia? Dan kenapa Bashkar harus usir aku cuma demi nemuin wanita itu?!"
"Nyonya, itu bukan kapasitas saya untuk menjawab—"
"Rian, tolong!" seru Zela dengan suara bergetar, tatapannya memohon sekaligus menuntut tegas. "Jangan balik badan dan pura-pura kaku kayak biasanya! Aku ini istrinya Bashkar! Walaupun kamu atau Bashkar nggak pernah menganggap aku ada, setidaknya kasih aku jawaban yang jelas! Siapa wanita itu sebenarnya?!"
Mendengar ketegasan bercampur keputusasaan dalam nada suara Zela, Rian menarik napas panjang. Asisten pribadi yang biasanya sangat dingin dan berjarak itu menghembuskan napas pelan melalui hidungnya. Ia menatap jalanan yang memutih di depan, menimbang-nimbang batas kerahasiaan sang majikan.
"Nona Clarissa... adalah wanita yang sudah mengenal Tuan Bashkar sejak lama," ujar Rian akhirnya dengan suara rendah, memilih setiap kata dengan sangat hati-hati. "Sebelum Anda menikah dengan Tuan, Nona Clarissa adalah satu-satunya wanita yang diizinkan berada di dekat Tuan Bashkar. Beliau selalu menemani Tuan dalam acara-acara penting di luar negeri."
Dada Zela berdesir hebat, namun ia tetap menatap Rian, menunggu kelanjutan kalimat yang paling ia takuti.
"Apakah... mereka berpacaran? Atau ada hubungan spesial?" bisik Zela, suaranya hampir tak terdengar, tenggelam oleh deru mesin mobil.
Rian jeda sejenak, melirik ragu ke arah Zela melalui cermin.
"Saya tidak tahu pasti mengenai perasaan Tuan Bashkar yang sebenarnya, Nyonya," aku Rian jujur. "Tuan adalah orang yang sangat tertutup. Tapi... tidak bisa dimungkiri bahwa hubungan mereka memang sangat dekat. Entah di antara mereka ada sesuatu yang lebih dari sekadar mitra bisnis atau tidak... hanya Tuan Bashkar dan Nona Clarissa yang mengetahuinya."
Deg.
Jawaban samar namun sarat kepastian itu menghantam dada Zela tanpa ampun. Kalimat Rian seolah mengunci rapat prasangka yang sejak tadi menghantuinya. Jadi, gosip para staf itu tidak sepenuhnya salah. Clarissa memang punya tempat khusus tempat yang bahkan tak pernah bisa disentuh oleh Zela sekeras apa pun ia berusaha mencairkan es di hati Bashkar.
Zela tak lagi melontarkan pertanyaan. Bibirnya terkatup rapat, membuang semua omelan lucu dan celetukan riang yang biasanya selalu menghiasi harinya.
Ia perlahan menyandarkan kembali tubuhnya ke sandaran kursi belakang. Kepalanya miring, menempel pada kaca mobil yang berembun dan dingin. Manik matanya menatap kosong ke luar jendela, menyaksikan deretan pepohonan dan bangunan kota yang perlahan tertutup salju putih yang dingin dan membeku persis seperti hatinya saat ini.