NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Tuan Arvin

Pernikahan Rahasia Tuan Arvin

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Ujian di Bawah Pengawasan

Pintu berpanel kayu mahoni penthouse tergeser terbuka. Rian melangkah masuk terlebih dahulu, memberikan gestur hormat sebelum mempersilakan pria tua berambut putih di belakangnya untuk melangkah ke dalam ruang tamu.

Tuan Sanjaya, pengacara senior sekaligus ketua tim pengawas independen wasiat Almarhum Kakek Wijaya, melangkah dengan tongkat kayunya yang berdenting halus di atas lantai marmer. Matanya yang tajam dan berpengalaman langsung menyapu sekeliling ruangan bernuansa monokrom tersebut.

Arvin melangkah maju dengan tenang, mengulurkan tangannya. "Selamat pagi, Tuan Sanjaya. Suatu kehormatan menerima kunjungan Anda."

Tuan Sanjaya menyambut jabat tangan Arvin dengan cengkraman yang kuat, mengangguk pelan. "Selamat pagi, Arvin. Maafkan kunjungan mendadak ini. Sesuai dengan draf klausul nomor empat wasiat Almarhum Wijaya, tim pengawas wajib melakukan verifikasi faktual berkala atas keharmonisan dan keabsahan domisili pernikahan kalian setiap empat bulan sekali."

Dania melangkah mendekat dari arah dapur bersih, membawa nampan berisi cangkir teh hangat dan camilan kue kering. Ia menyunggingkan senyum anggun yang sangat terkontrol.

"Selamat datang di rumah kami, Tuan Sanjaya," sapa Dania dengan suara lembut dan berwibawa. "Silakan duduk."

Tuan Sanjaya menatap Dania dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu tersenyum tipis seraya mendudukkan tubuhnya di sofa kulit ruang tamu. "Terima kasih, Nyonya Dania. Saya sangat senang melihat Anda dalam kondisi sehat setelah berita mengejutkan terkait insiden di lokasi proyek minggu lalu."

Arvin mendudukkan tubuh tegapnya di atas sofa yang sama, tepat di samping Dania. Tanpa ragu dan dengan gerakan yang sangat alami, Arvin melingkarkan lengan kirinya di belakang sandaran sofa tempat Dania duduk, mengikis jarak di antara mereka hingga bahu mereka saling bersentuhan.

Dania sempat merasakan desir halus di dadanya saat aroma parfum woody Arvin menyergap indra penciumannya, namun dengan cepat ia menyesuaikan diri. Dania menyandarkan sedikit tubuhnya pada bahu tegap Arvin, menyatukan jemari tangannya di atas pangkuan.

Tuan Sanjaya membuka map kulit tebal di pangkuannya, merapikan kacamata baca di hidungnya.

"Saya sudah menerima laporan penangkapan Dion dan Ibu Helen dari pihak kepolisian," kata Tuan Sanjaya memulai audit lisan. "Konspirasi mereka terbukti sangat membahayakan. Namun, tugas saya di sini adalah memastikan bahwa pernikahan kalian bukan sekadar 'alat taktis' yang kalian ciptakan bersama hanya untuk menyingkirkan mereka dari dewan komisaris."

Atmosphere di ruang tamu mendadak menegang halus. Tatapan mata Tuan Sanjaya memancarkan kecurigaan khas pengacara senior yang sudah puluhan tahun menangani kasus sengketa warisan keluarga konglomerat.

"Pernikahan ini didasari oleh amanat almarhum Kakek dan kesepakatan sah kami berdua, Tuan Sanjaya," sahut Arvin dingin namun mantap. "Bukan rekayasa taktis."

"Bagus jika demikian," jawab Tuan Sanjaya datar. "Tapi laporan dari beberapa staf internal mengindikasikan bahwa kalian berdua tetap bersikap sangat kaku dan terpisah saat berada di lingkungan kerja maupun di luar kantor. Bahkan ada rumor yang menyebutkan bahwa kalian membagi penthouse ini menjadi dua area terpisah."

Dania menyunggingkan senyum tipis yang sangat natural, lalu menoleh menatap wajah Arvin dari samping sebelum kembali menatap Tuan Sanjaya.

"Di kantor, kami adalah CEO dan arsitek profesional, Tuan Sanjaya," kata Dania dengan nada suara yang begitu meyakinkan. "Kami berdua sepakat bahwa mencampuradukkan urusan rumah tangga dengan pekerjaan di depan para karyawan adalah bentuk ketidakprofesionalan. Arvin sangat menghormati posisi saya sebagai kepala tim desain, dan saya menghormati otoritasnya sebagai pimpinan perusahaan."

Arvin meraih telapak tangan Dania yang berada di pangkuannya, menggenggam jemari wanita itu dengan erat. Ibu jarinya mengusap lembut punggung tangan Dania—sebuah sentuhan spontan yang terasa begitu hangat dan nyata, jauh melampaui batas instruksi sandiwara.

"Mengenai area terpisah di rumah ini," potong Arvin, suaranya merendah dan pekat seraya menatap mata Dania. "Setiap pasangan butuh ruang pribadi untuk berpikir dan bekerja. Dania memiliki studio kecilnya di koridor barat, dan aku memiliki ruang kerja di koridor timur. Tapi ketika malam tiba... rumah ini sepenuhnya milik kami berdua."

Dania menatap mata pekat Arvin yang berada beberapa sentimeter dari wajahnya. Tatapan pria itu begitu dalam dan intens, membuat dada Dania berdebar kencang tak beraturan. Untuk sejenak, Dania hampir lupa bahwa mereka sedang berada di depan seorang pengawas warisan.

Tuan Sanjaya mengamati interaksi dan kontak mata di antara kedua anak muda di depannya secara saksama. Senyum puas perlahan terukir di wajah mewahnya yang keriput.

"Gestur dan cara kalian menatap satu sama lain tidak bisa dibohongi oleh dokumen hukum apa pun," ujar Tuan Sanjaya seraya menutup map kulitnya dengan bunyi plak yang renyah. "Almarhum Tuan Wijaya tidak salah memilihkan pendamping untukmu, Arvin. Kalian saling melengkapi dengan sangat seimbang."

Tuan Sanjaya menandatangani lembar verifikasi berkala di depannya, lalu menyerahkannya pada Rian.

"Laporan verifikasi empat bulanan ini resmi saya nyatakan bersih dan valid," tegas Tuan Sanjaya seraya berdiri, menyangga tubuhnya dengan tongkat. "Hak pengelolaan saham lima puluh satu persen mutlak berada di tangan kalian tanpa syarat sampai evaluasi tahunan mendatang."

Arvin dan Dania ikut berdiri. Arvin tetap tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemari Dania hingga mereka mengantar Tuan Sanjaya sampai di depan pintu privat elevator.

"Terima kasih atas kepercayaannya, Tuan Sanjaya," kata Arvin formal.

"Jaga istri dan rumah tanggamu baik-baik, Tuan CEO," bisik Tuan Sanjaya dengan tawa kecil sebelum pintu elevator tertutup rapat.

Begitu pintu elevator menghilang dan hening kembali menyelimuti penthouse, suasana mendadak berubah menjadi sangat canggung.

Dania perlahan menarik tangannya dari genggaman Arvin. Bekas kehangatan jemari Arvin masih terasa jelas di kulit tangannya.

Dania melangkah mundur satu pijakan, merapikan pakaiannya. "Pemeriksaan yang cukup menegangkan. Tapi setidaknya laporan empat bulanan kita aman."

Arvin memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, berdiri mematung menatap Dania. Raut wajahnya kembali kaku, namun tatapan matanya tetap pekat dan tak berpaling.

"Ucapanmu tentang profesionalisme di kantor tadi..." kata Arvin pelan, suara baritonnya bergema di ruang tamu yang luas. "Kamu menyampaikannya dengan sangat baik."

"Itu hanya bagian dari strategi untuk meyakinkan Tuan Sanjaya," balas Dania datar, mencoba membangun kembali dinding pertahanannya. "Kita harus memastikan tidak ada celah sekecil apa pun."

Arvin melangkah satu pijakan lebih dekat, menatap Dania lurus-lurus. "Lalu... genggaman tangan dan cara kamu menatapku tadi? Apakah itu juga cuma bagian dari strategi?"

Dada Dania berdesir hebat mendengar pertanyaan langsung tanpa basa-basi itu. Ia menaikkan dagunya, membalas tatapan Arvin dengan keteguhan yang dipaksakan.

"Bukankah Anda sendiri yang memulainya duluan, Tuan Arvin?" tantang Dania dingin. "Saya hanya menyesuaikan diri agar sandiwara kita terlihat sempurna."

Arvin menatap bibir dan mata Dania cukup lama. Rahagnya berkedut tipis, seolah ada kalimat besar yang hendak dilontarkannya namun tertahan kencang oleh gengsi tingginya.

"Bagus kalau begitu," sahut Arvin akhirnya dengan nada dingin yang kaku. "Pastikan kamu terus 'menyesuaikan diri' dengan baik sampai masa kontrak kita selesai."

Arvin berbalik, melangkah tegap menuju ruang kerjanya di koridor timur dan menutup pintunya rapat-rapat.

Dania berdiri sendirian di tengah ruang tamu lantai 45. Ia memegang dadanya yang masih berdetak kencang, menyadari satu kenyataan membahayakan: sandiwara di antara mereka perlahan-lahan telah bergeser menjadi sesuatu yang nyata dan tak lagi bisa dikendalikan hanya dengan aturan di atas kertas.

1
sunaryati jarum
Tetap waspada dan cinta kalian saling mengustkan
sunaryati jarum
Cinta yang datang alami tanpa paksakan, semoga manis
sunaryati jarum
Akhirnya Arvin kan yang memulai menjadi pasangan tanpa kontrak
sunaryati jarum
Arvin berani merangkul pinggang Dania di tempat umum yang penuh tokoh pebisnis kalangan eksekutif dan penuh jurnalis
Rhea Vey: terima kasih banyak atas dukungannya, selalu memberikan komentar dan like🥰🙏. bikin author tambah semangat 🤗🤗
total 1 replies
sunaryati jarum
Nah baru berpisah sebentar sudah rindu, pilihan kakekmu kok ditolak
sunaryati jarum
Nah harus ada penjelasan seperti itu agar tidak terjadi salah paham
sunaryati jarum
Karena pemaparan kamu seolah kamu tidak mau berinteraksi dengan Dania,seakan kau malu dengannya
sunaryati jarum
Dania terperangkap maksud terselubung CEO yang mulai jatuh cinta padanya 🥰🥰
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 Arvin mulai menyadari perasaannya
sunaryati jarum
Ternyata Ny Helen dan Dion, hanya perusak perusahaan dan menginginkannya uangnya
sunaryati jarum
Arvin mulai perhatian dan peduli pada Dania
sunaryati jarum
Nanti kamu makin lama terpesona dengan kepiawaian Dania, Arvin
sunaryati jarum
Apa Arvin meminta seluruh pakaian Dania di bawa ke kamarnya
sunaryati jarum
Itu kan dinding yang kau buat,emak sumpahin kamu jatuh cinta duluan
sunaryati jarum
Wow sandiwara sempurna Arvin
sunaryati jarum
Dion membuat pernikahan kontrak jadi pernikahan sesungguhnya
sunaryati jarum
Yang kamu benci akan menyelamatkan kamu,Arvin
sunaryati jarum
Mantap tekatmu Dania
sunaryati jarum
Emak suka karakter Dania yang tidak lemah.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!