Zareena sungguh tidak menyangka jika kedatangannya ke rumah sang kakak malah bertemu sosok pria menyebalkan bernama Tristan. Lebih parahnya lagi, saudaranya malah menitipkan dirinya kepada pria itu. Lantas, apa yang terjadi? Tristan yang merupakan casanova dan Zareena yang ingin melepaskan kegadisannya. Siapa di antara mereka yang akan takluk lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miracle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin Bersama
"Apa yang kau lakukan, Nak?" tanya Mary.
"Aku tidak melakukan apa pun," sanggah Zareena.
"Kau bermesraan bersama Tristan tadi. Mama tidak setuju jika kau bersamanya. Kebiasaannya itu tidak bisa dihilangkan begitu saja. Mama akan menyuruh Papamu untuk mencarikan pria baik. Kau juga harus menikah."
"Valdo juga sama seperti Tristan. Mama malah menikahkannya dengan wanita baik-baik."
"Tristan itu berandalan. Apa dia mau menikahimu?"
"Kami cuma saling bersentuhan bibir. Mama sudah seperti menganggapku tengah hamil saja," protes Zareena.
"Mama harap kau memang tidak hamil dengannya. Mama tidak mau kau terluka. Itu saja, Sayang," ucap Mary.
"Mama tenang saja. Aku tidak akan terluka. Aku dan Tristan hanya teman."
Zareena pergi setelah mengatakan hal itu. Ia kira ibunya akan setuju karena Tristan punya usaha yang bagus, tetapi itu saja tidak cukup. Kebiasaan buruk Tristan menjadi nilai minus bagi kedua orang tuanya.
"Kenapa aku malah merasa kecewa atas ketidaksukaan mama pada Tristan?" gumamnya.
Zareena kembali ke kamarnya. Ia harus segera berberes pakaian untuk pulang ke London. Sementara Valdo akan berbulan madu di negara ini, dan orang tuanya akan terbang ke Amerika untuk menghadiri acara bisnis rekan sesama pengusaha.
Terdengar pintu diketuk. Zareena berharap itu adalah Colin yang akan membantunya mengepak barang. Kunci diputar, lalu gagang ditarik. Rupanya pria idamannya yang berkunjung.
"Jangan kaget aku tau kamarmu," ucap Tristan. "Boleh aku masuk?"
Zareena mengangguk, lalu bergeser sedikit mempersilakan Tritan masuk kamar. Ia mengintip sisi kiri dan kanan area luar untuk memastikan jika tidak ada orang yang melihat mereka berada dalam bilik yang sama.
"Ada apa?" tanya Zareena dengan menutup pintu.
"Aku khawatir saat kau dipanggil mamamu," jawab Tritan yang berjalan mendekat, lalu mengecup sekilas bibir Zareena.
"Seperti yang kau duga. Mamaku marah."
"Apa karena kita yang bermesraan di tepi kolam renang tadi?" tanya Tristan.
Zareena menggeleng. "Bukan itu. Mama tidak suka aku dekat denganmu. Kebiasaan burukmu itu yang membuat mama berpikir kau tidak pantas untukku. Kau tau sendiri jika mamaku menganggap pria yang dekat dengan putrinya adalah calon menantunya."
"Apa itu yang membuat hubunganmu selalu kandas dengan banyak pria?"
"Aku menginginkan pria baik untukku. Aku setuju mama mencarikanku calon suami."
"Apa?" Tristan tercengang. Kaget dan heran atas ucapan Zareena. "Kau setuju? Kita baru bersama?"
"Sejak kapan? Aku kira kita hanya bermain-main. Aku tidak berharap terlalu banyak padamu."
"Aku sudah tidak tidur bersama wanita sejak awal pertemuan kita. Aku berani bersumpah," ucap Tristan.
"Aku, 'kan tidak tau kau berbohong atau tidak. Kau juga membawa teman kencanmu kemari," balas Zareena.
"Itu karena aku tidak punya teman," sahut Tristan jujur dengan kebohongan yang terselip di dalamnya.
Ia mengajak Stacy ke Italia, selain untuk menemaninya ke pesta pernikahan Valdo juga untuk memanasi Zareena. Niatnya masih berlangsung untuk membuat marah gadis itu.
Namun, Tristan menyadari jika Zareena adalah wanita yang luar biasa. Ia menginginkan gadis itu berada di sisinya.
"Aku ingin kita bersama," ujar Tristan.
"Sebagai apa?" tanya Zareena.
Tristan terdiam. Ia bingung untuk menjawab pertanyaan itu. Tristan tidak pernah punya pacar, melainkan ia menganggap wanita yang bersamanya adalah teman kencan. Mereka tidak akan marah jika Tristan menggandeng tangan perempuan lain karena memang tidak ada ikatan.
Zareen sudah tahu jika akhirnya akan begini. "Aku hanya ingin bersama pria yang serius."
Bersambung