Satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada membobol brankas mafia... adalah jatuh cinta pada pemiliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Pukul delapan malam. Ruang aula dansa yang luas di sayap utara markas klan Argantara diterangi oleh pendar redup dari dua buah lampu gantung kristal yang menggantung tinggi di langit-langit berukir. Lantai marmer hitam yang dipoles sempurna memantulkan bayangan dua sosok yang berdiri berhadapan di tengah ruangan.
Alunan musik klasik bertempo lambat mengalun halus dari sistem suara tersembunyi, menciptakan ketegangan yang kontras dengan suasana ruangan yang sunyi dan luas.
Aria masih mengenakan gaun satin sutra berwarna emas gelap yang disiapkan untuk penyamarannya sebagai Gisele Vance. Sepatu hak tingginya menapak tegak di atas marmer. Di depannya, Devan Argantara berdiri tegap dalam balutan tuksedo hitam tanpa dasi, kancing teratas kemejanya terbuka santai, menampilkan aura dominan yang siap memikat sekaligus mengintimidasi siapa pun di sekitarnya.
"Di lantai dansa dan meja judi VIP Kasino Royale Vane, cara berjalannmu dan cara kamu menatapku akan dinilai oleh puluhan pasang mata agen intelijen klan Vane," ujar Devan, suaranya berat dan bergema halus di dalam aula. "Kalau kamu ragu-ragu satu milimeter saja, atau kalau bahasa tubuhmu menunjukkan bahwa kamu canggung berada di dekatku... identitas Gisele Vance akan terbongkar dalam hitungan detik."
Aria menyilangkan tangannya di dada, menatap Devan dengan alis terangkat. "Aku ahli dalam manipulasi psikologis, Devan. Aku tahu cara bersikap anggun di depan orang kaya."
"Memerankan wanita kaya itu mudah, Aria," potong Devan datar, melangkah maju satu tahap. "Tapi memerankan wanita dari seorang bos mafia terkaya di duniaku... itu hal yang berbeda. Kamu harus terlihat berbahaya, tenang, dan sepenuhnya yakin bahwa seluruh ruangan itu berada di bawah kendalimu."
Devan mengulurkan tangan kanannya ke udara, menatap Aria rapat-rapat. "Dansa. Mari kita lihat sejauh mana kamu bisa memosisikan dirimu di sisiku."
Aria menatap uluran tangan tegap itu sejenak. Ia menghembuskan napas pelan, mengikis sisa gengsinya, lalu mengulurkan jemari halusnya yang terbalut hena samar untuk menyambut tangan Devan.
SLIDE.
Dalam satu gerakan mulus dan tegas, Devan menarik tubuh Aria mendekat. Tangan kiri Devan yang lebar dan kokoh melingkar rapat di pinggang belakang Aria—persis di area gaun yang terbuka, membuat telapak tangan hangat Devan bersentuhan langsung dengan kulit mulus punggung wanita itu. Sengatan panas seketika menyengat di sepanjang tulang belakang Aria, membuat napasnya tertahan sejenak.
Tangan kanan Devan menggenggam jemari Aria, menautkan jari-jari mereka dengan tekanan yang protektif namun mendominasi.
"Jarakmu terlalu jauh," bisik Devan di atas kepala Aria. Tangannya di pinggang Aria makin mempererat jepitan, menarik tubuh sensitif Aria hingga dada mereka menempel erat tanpa menyisakan celah.
"Devan..." tegur Aria pelan, matanya menyipit menatap dada bidang pria itu.
"Satu pelajaran pertama, Little Bird," bisik Devan rendah, menundukkan kepalanya hingga hembusan napas hangatnya yang beraroma woody dan mint menyapu lembut kulit leher Aria. "Pasangan seorang bos mafia tidak pernah menjaga jarak dari pria-nya ketika berada di area musuh. Kamu adalah belahan jiwanya sekaligus perisainya. Sentuhan ini bukan sekadar formalitas dansa, tapi pernyataan kekuasaan kepada seluruh ruangan."
Aria menyandarkan tangan kirinya di atas bahu tegap Devan. Mengikuti alunan musik yang mengalir lambat, Devan mulai memandu langkah kaki mereka. Gerakan Devan begitu mantap, lincah, dan penuh kepastian khas seorang pria yang terbiasa mengendalikan pergerakan orang lain.
Aria mengimbangi langkah itu dengan ketangkasan alaminya. Namun, setiap kali tubuh mereka bergesekan seirama musik, jantung Aria berdesir kencang secara tak terkendali.
"Matamu, Aria," tegur Devan lagi, suara beratnya begitu dekat. "Kamu terlalu sering menatap lantai dan langkah kakiku. Seorang wanita seperti Gisele Vance tidak pernah cemas soal langkah kaki. Tatap mataku. Selalu kuncikan pandanganmu padaku saat kita bergerak."
Aria menegakkan kepalanya, mendongak untuk menatap lurus ke dalam iris mata kelam Devan. Di dalam keremangan lampu kristal, mata Devan memancarkan intrik yang begitu pekat—campuran antara kewaspadaan taktis, proteksi mutlak, dan percikan daya tarik magnetis yang kian sulit ditutupi.
"Seperti ini?" tanya Aria dengan nada menantang, mempertahankan tatapan matanya tanpa berkedip.
"Lebih baik," pungkasi Devan, bibirnya terukir menjadi senyum tipis yang sarat kepuasan. "Sekarang, bayangkan situasi di kasino nanti. Hector Vane melangkah mendekati meja kita untuk menguji identitasmu. Bagaimana reaksimu?"
Aria menyunggingkan senyum dingin—sebuah ukiran senyum anggun, mahal, dan penuh jarak yang sengaja ia ciptakan untuk sosok Gisele Vance. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menyandarkan jemari tangannya di rahang tegap Devan, mengusap garis cambang halus pria itu dengan gerakan yang teramat mesra namun sarat dominasi terselubung.
"Aku akan menyentuhmu seperti ini," bisik Aria, suaranya melembut menjadi nada yang teramat memikat. "Lalu aku akan menatap Hector dengan pandangan bosan, seolah-olah seluruh kekayaan dan gertakan klan Vane cuma hiburan murah yang tidak sepadan dengan waktuku."
Devan membeku sejenak di tempatnya. Gerakan jemari lembut Aria di wajahnya seketika mematikan fokus taktis Devan selama beberapa mikrodetik. Binar mata kelam sang bos mafia meredup pekat, memancarkan gejolak emosi mentah yang membuat napas pria itu ikut memburu.
Devan menghentikan langkah dansa mereka di tengah aula.
Tangan Devan di punggung bawah Aria bergeser melingkar ke pinggang depannya, mengangkat tubuh ramping Aria sedikit hingga ujung sepatu hak tinggi wanita itu melayang tipis di atas marmer. Devan memangkas jarak yang tersisa di antara wajah mereka hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan.
"Eksekusi yang sangat berbahaya, Aria," bisik Devan, suara rendahnya menggetarkan dada Aria. "Kalau kamu menyentuhku seperti itu di depan Hector Vane... dia bukan cuma bakal mempercayai identitasmu, tapi dia juga bakal menyadari bahwa aku tidak akan ragu membunuh siapa pun yang berani menatapmu terlalu lama."
Aria menahan napasnya, terkunci dalam dekap erat dan tatapan memabukkan Devan. Di dalam keheningan aula yang megah itu, batas antara latihan penyamaran dan realitas perasaan di antara mereka makin terkikis habis. Sensasi hangat dari dada tegap Devan dan cengkeraman protektif jemari pria itu di pinggangnya membuat benteng pertahanan diri yang dibangun Aria perlahan runtuh.
"Kamu terlalu pintar berakting, Devan," desis Aria pelan, mencoba mempertahankan nada tegas di suaranya meski detak jantungnya berdegup liar.
"Siapa bilang aku sedang berakting?" balas Devan dengan kepastian mutlak yang membuat udara di sekitar mereka terasa makin membakar.
Devan menurunkan tubuh Aria perlahan hingga tumit sepatu wanitanya kembali menyentuh lantai. Namun, Devan tidak melepaskan cengkeraman tangannya dari pinggang Aria. Pria itu mengulurkan jemarinya, merapikan helai rambut hitam Aria yang terurai mengagumkan di bahu terbukanya.
"Latihan selesai," pungkasi Devan pelan, suaranya melembut secara drastis saat ibu jarinya mengusap lembut bibir bawah Aria sebelum menarik tangannya kembali. "Bahasa tubuhmu sudah sempurna. Malam esok... seluruh isi Kasino Royale Vane akan berada di bawah genggaman kita."
Aria menyentuh bibirnya sendiri yang baru saja diusap Devan, menatap punggung tegap sang bos mafia yang melangkah perlahan meninggalkan aula dansa. Di bawah pendar temaram lampu kristal, Aria mengepalkan tangannya kencang, menyadari sebuah kenyataan yang makin mematikan: dalam pertempuran taktik dan penyamaran yang akan mereka hadapi besok malam, ancaman terbesar bagi kebebasannya mungkin bukan berasal dari klan Vane—melainkan dari perasaan berbahaya yang kian membara untuk Devan Argantara.