**Isteri Sah di Balik Bayangan**
Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.
Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.
Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Keterangan Lahir
"Kemarin sore."
Dua kata itu membuat halaman parkir kantor kepegawaian mendadak terasa sunyi. Suara kendaraan di jalan raya seolah menjauh. Matahari sore yang baru saja muncul dari balik awan tidak lagi terasa hangat.
Raka menatap Hamdan dengan wajah tidak percaya. "Tidak mungkin. Kemarin Ibu ada di Kawo. Ibu berlutut di depan Ibu Sumi. Ibu menangis meminta maaf."
"Itu hari Sabtu Mas," kata Aina pelan. "Kemarin hari Minggu."
Raka terdiam. Ia menghitung hari di dalam kepalanya, lalu wajahnya berubah pucat.
Sekar menggendong Arsya lebih erat. Ia menatap Aina dengan sorot mata cemas. Aina tahu apa yang sedang dipikirkan perempuan itu. Mereka berdua sudah terlalu sering dibohongi. Setiap permintaan maaf kini terasa seperti kemungkinan jebakan baru.
"Polisi juga bilang apa lagi Kak?" tanya Aina.
"Belum banyak." Hamdan menggeleng. "Zainuddin hanya bilang Lale Rukmini memberinya uang dalam jumlah besar. Untuk apa, dia belum mau menjelaskan."
Raka mengeluarkan ponselnya dengan tangan gemetar. Ia menekan nama ibunya. Sambungan tersambung pada dering ketiga.
"Ibu," katanya tanpa salam. "Kemarin Ibu mengirim uang kepada Lalu Zainuddin?"
Aina tidak bisa mendengar jawaban di seberang. Ia hanya melihat Raka diam lama. Rahangnya mengeras, lalu perlahan mengendur.
"Ibu di mana sekarang?" tanya Raka. Ia mendengarkan, lalu mengangguk. "Baik. Kami ke sana."
Ia menutup telepon dan menatap mereka semua.
"Ibu tidak menyangkal," katanya. "Ibu bilang dia memang mengirim uang. Tapi Ibu minta kita datang ke rumah. Ibu bilang ada sesuatu yang harus kita lihat sendiri sebelum kita menghakiminya."
Lalu mereka pun bergerak menuju rumah ibu Lale Rukmini.
Rumah keluarga Lale Rukmini berdiri di tepi jalan menuju Pantai Kuta. Rumah itu besar dan berhalaman luas, dengan pagar besi bercat hitam dan dua pohon kamboja di depan pintu. Aina belum pernah menginjakkan kaki di sana selama sepuluh tahun menikah dengan Raka.
Sekarang ia datang bersama suaminya, istri pertama suaminya, anak tiri yang tertidur di pangkuan Sekar, kakaknya, dan ibunya. Rombongan yang aneh. Rombongan yang tidak akan pernah ia bayangkan sebulan yang lalu.
Lale Rukmini menunggu di ruang tamu. Ia mengenakan kebaya sederhana berwarna krem. Wajahnya lelah, tetapi tenang. Di atas meja di depannya terletak sebuah map plastik cokelat yang sudah lusuh.
"Duduklah," katanya. "Semuanya."
Mereka duduk. Tidak ada yang berbicara. Lale Rukmini menatap mereka satu per satu, lalu berhenti pada Raka.
"Sabtu malam, setelah kita pulang dari Kawo, Lalu Zainuddin datang ke rumah ini," katanya. "Dia bilang dia punya sesuatu yang pasti ingin aku beli."
"Apa, Itu?" tanya Raka.
Lale Rukmini mendorong map cokelat itu ke tengah meja.
"Dulu, sebelum diberhentikan, Zainuddin bekerja di bagian arsip. Rupanya dia diam-diam mengambil berkas-berkas lama yang menurutnya bisa dijual suatu hari nanti. Termasuk berkas ini."
Raka membuka map itu dengan hati-hati. Di dalamnya ada selembar kertas yang sudah menguning. Tulisannya diketik dengan mesin tik tua. Di bagian atas tertulis Surat Keterangan Lahir, dengan kop sebuah puskesmas pembantu di Desa Kawo.
Aina mencondongkan tubuh dan ikut membaca.
Telah lahir seorang bayi laki-laki.
Nama bayi: Bayu.
Nama ibu: Sumiati.
Nama ayah: Lalu Wiradana.
Di bagian bawah ada tanda tangan seorang bidan desa dan cap puskesmas yang mulai pudar.
Raka menatap kertas itu tanpa berkedip. Tangannya gemetar.
"Ini satu-satunya bukti tertulis bahwa kamu lahir dari rahim Sumiati," kata Lale Rukmini pelan. "Tiga puluh tahun lalu, mertuaku membuat akta kelahiran baru yang menyebutkan aku sebagai ibumu. Surat keterangan yang asli ini seharusnya sudah dimusnahkan. Ternyata masih tersimpan di gudang arsip, sampai Zainuddin menemukannya."
"Lalu kenapa Ibu membayarnya?" tanya Sekar. Suaranya tidak marah, hanya ingin tahu.
Lale Rukmini menatap Sekar. "Karena Zainuddin mengancam akan menjual kertas ini kepada orang lain. Dia bilang, ada orang yang mau membayar lebih mahal untuk memusnahkannya." Ia terdiam sejenak. "Orang itu ayahmu, Sekar."
Sekar seketika membeku.
"Kenapa ayahku ingin memusnahkannya?" bisik Sekar.
"Aku juga tidak tahu waktu itu," jawab Lale Rukmini. "Aku hanya tahu satu hal. Kertas ini milik Sumiati dan milik Raka. Bukan milikku, bukan milik Mustiadi, dan bukan milik Zainuddin. Aku sudah merampas anaknya. Aku tidak mau ia juga kehilangan satu-satunya bukti bahwa ia pernah melahirkan."
Ia menundukkan kepala.
"Jadi aku membayar. Sabtu malam aku memberi setengah. Kemarin sore aku mengirim sisanya, setelah dia menyerahkan kertas ini kepadaku." Lale Rukmini menarik napas. "Aku tahu itu salah. Aku tahu membayar orang seperti Zainuddin sama saja dengan memberi makan kejahatan. Tapi aku tidak tahu cara lain untuk menyelamatkan kertas ini dalam satu malam."
Ruang tamu itu hening. Aina menatap perempuan tua di depannya. Ia teringat amplop cokelat yang dulu diletakkan di meja rumahnya. Uang yang dipakai untuk menyingkirkannya. Hari ini, uang yang sama dipakai untuk mengembalikan sesuatu kepada orang yang pernah dirugikan.
Caranya tetap salah. Tetapi niatnya sudah berbeda.
"Ibu," ucap Aina pelan. "Ibu harus menceritakan ini kepada polisi, Semuanya termasuk soal uang itu."
Lale Rukmini mengangguk tanpa ragu. "Aku tahu. Besok pagi aku akan ke kantor polisi. Kalau aku harus menanggung akibatnya, aku akan menanggungnya."
Raka menatap ibunya lama. Lalu ia bangkit, berjalan mengitari meja, dan berlutut di samping kursi perempuan itu. Ia meraih tangan ibunya yang keriput dan menciumnya.
"Terima kasih Ibu," bisiknya.
Lale Rukmini menangis tanpa suara. Itu pertama kalinya Aina melihat Raka mencium tangan ibunya bukan karena kewajiban, tetapi karena rasa terima kasih.
Hamdan mengambil surat keterangan lahir itu dengan hati-hati. Ia memeriksanya di bawah cahaya lampu, seperti kebiasaannya setiap kali memegang dokumen penting.
"Dokumen ini harus diamankan," katanya. "Kalau Mustiadi sampai rela membayar untuk memusnahkannya, pasti ada sesuatu di dalamnya yang membahayakan dirinya."
"Tapi apa?" tanya Raka. "Di situ tidak ada nama Mamik Mustiadi."
Hamdan tidak langsung menjawab. Ia membalik kertas itu.
Di bagian belakang, ada tulisan tangan dengan tinta biru yang sudah pudar. Tulisan itu tidak ada hubungannya dengan isi surat di bagian depan. Rupanya seseorang dulu menulis catatan tambahan di sana.
Hamdan membacanya dengan suara keras, pelan-pelan, kata demi kata.
"Bayi diserahkan kepada keluarga Lalu Wiradana pada hari ketiga. Ibu kandung menolak menyerahkan, tetapi dipaksa. Penyerahan disaksikan oleh petugas pencatat nikah setempat, yang menjamin semua berkas pengganti akan diurus".
Di bawahnya ada sebuah tanda tangan kecil dan sebuah nama.
Hamdan berhenti membaca. Ia menatap Sekar dengan wajah ragu.
Sekar menyerahkan Arsya yang tertidur kepada Aina, lalu meraih kertas itu dari tangan Hamdan. Ia membaca nama di bagian bawah. Bibirnya bergetar.
"Lalu Mustiadi," ucapnya hampir tanpa suara. "Tiga puluh tahun yang lalu, ayahku juga ada di sana."