NovelToon NovelToon
Cegil Berhenti Terobsesi

Cegil Berhenti Terobsesi

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Balas Dendam
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

"Gue capek jadi badut. Mulai hari ini, lo bebas dari gue."

Selama tiga tahun di SMA Nusantara, semua orang tahu kalau Elsa Nur Cahyani adalah cegil (cewek gila) garis keras yang bucin mati-matian ke Muhammad Firdaus, Ketua OSIS sempurna yang sedingin es. Elsa rela dipermalukan, jadi seksi sibuk OSIS tanpa dibayar, sampai dihukum lari keliling lapangan demi cari perhatian Firdaus. Hasilnya? Nol besar. Firdaus tetap menganggap Elsa gangguan yang tidak punya harga diri.

Titik balik itu datang di hari ulang tahun Firdaus. Setelah kuenya dihancurkan dan cintanya ditolak mentah-mentah di depan satu sekolah, Elsa sadar: dia sudah selesai. Elsa memutuskan pensiun jadi budak cinta. Dia berubah total—menjadi cuek, fokus pada ujian, dan benar-benar menganggap Firdaus tidak ada.

Tapi anehnya, saat Elsa melangkah pergi, justru Firdaus yang mulai kehilangan arah. Cowok yang tadinya antipati itu mendadak sadar kalau dunia tanpa gangguan Elsa ternyata terasa sangat sepi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan Ditolak 05.

Aroma ruang rapat OSIS sore itu terasa lebih berat dari biasanya.

Padahal, pendingin ruangan sudah disetel ke suhu paling rendah.

Di ujung meja oval, Firdaus duduk dengan punggung tegak, jemarinya mengetuk-ngetuk pulpen di atas map laporan bulanan.

Matanya fokus pada kertas di depannya, tetapi telinganya diam-diam menangkap setiap suara geseran kursi di ujung ruangan.

Tepat lima menit sebelum rapat dimulai, pintu ruang rapat terbuka.

Elsa masuk. Dia tidak lagi memakai bando merah muda menyala yang biasanya membuat dia langsung menonjol di kerumunan.

Rambutnya diikat kuda dengan rapi. Dan yang paling membuat dada Firdaus berdenyut aneh: Elsa langsung mengambil kursi di barisan paling belakang, tepat di samping Sherly.

Biasanya, Elsa akan dengan tidak tahu malunya menggeser kursi anggota lain hanya demi bisa duduk di sebelah Firdaus. Dia akan meletakkan sekotak tisu atau permen di dekat tangan Firdaus sambil berbisik, "Semangat rapatnya, Ketua!"

Hari ini, Elsa bahkan tidak melirik ke arah ujung meja tempat Firdaus berada. Dia sibuk tertawa kecil mendengarkan bisikan Sherly.

"Baik, bisa kita mulai?" Suara Firdaus memecah keheningan. Dingin, tegas, seperti biasa. Namun, Reno yang duduk di sebelahnya sempat menangkap sedikit nada serak yang tidak biasa dari sang ketua. Reno hanya melirik sekilas, lalu tersenyum tipis tanpa suara.

Rapat akbar berlangsung selama satu jam penuh. Pembahasan fokus pada evaluasi Bulan Bahasa dan persiapan class meeting akhir semester. Selama itu pula, Firdaus mencoba mempertahankan fokusnya.

Namun, setiap kali dia melempar pandangan ke forum, matanya tanpa sadar selalu berakhir pada Elsa.

Gadis itu menyimak dengan tenang. Dia mencatat beberapa poin penting di buku tulisnya. Tidak ada lagi interupsi konyol dari Elsa yang biasanya sengaja memotong pembicaraan Firdaus hanya untuk mencari perhatian.

Perubahan itu begitu drastis hingga beberapa kepala divisi lain sesekali melirik Elsa dengan tatapan heran. Elsa yang penurut dan tenang justru terasa asing bagi semua orang di ruangan itu.

"Sekian evaluasi hari ini. Ada yang mau ditambahkan sebelum rapat resmi ditutup?" tanya Firdaus, matanya menyapu ruangan.

Elsa mengangkat tangannya. Gerakannya tenang, tidak terburu-buru. "Gue, Daus. Ada satu hal di luar agenda program kerja."

Seluruh pasang mata di ruangan itu langsung tertuju pada Elsa. Atmosfer mendadak berubah tegang.

Di sekolah ini, semua orang tahu bagaimana dinamisnya hubungan sepihak antara Elsa dan Firdaus.

"Ya, Elsa. Silakan," jawab Firdaus, berusaha menjaga suaranya tetap formal.

Elsa berdiri dari kursinya. Dia berjalan memutari meja oval dengan langkah mantap. Di tangannya, ada selembar amplop putih polos.

Firdaus memperhatikan setiap langkah gadis itu. Ada rasa tidak nyaman yang mendadak merayap di tengkuknya, membuat lambungnya yang kosong sejak siang kembali terasa melilit.

Plak.

Amplop putih itu diletakkan dengan pelan di depan Firdaus.

"Gue, Elsa Nur Cahyani, per hari ini menyatakan mengundurkan diri dari posisi staf sukarelawan OSIS untuk sisa masa bakti tahun ini," ucap Elsa. Suaranya tidak keras, tetapi terdengar sangat jelas di setiap sudut ruangan yang mendadak hening bak kuburan.

Reno langsung menghentikan kegiatannya membolak-balik berkas.

Beberapa anak divisi humas saling berpandangan dengan mata terbelalak.

Firdaus menatap amplop itu, lalu menatap wajah Elsa. Gadis di depannya tidak menunjukkan ekspresi marah, sedih, atau penuh drama.

Elsa hanya menatapnya dengan sepasang mata jernih yang kosong dari binar kekaguman yang biasanya selalu ada di sana.

"Alasannya?" Firdaus bertanya. Nada suaranya turun beberapa oktav, terdengar berat dan menuntut.

"Fokus akademik," jawab Elsa lancar, seolah sudah melatih kalimat itu di depan cermin ratusan kali. "Gue udah kelas dua belas, Daus. Nilai try out gue kemarin mepet KKM. Gue butuh waktu lebih banyak di kelas dan tempat bimbel daripada pulang sore buat ngurusin dekorasi panggung sekolah."

Alasan yang sangat logis.

Sangat aman. Sampai-sampai tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang bisa membantahnya.

Namun, Firdaus tahu ada alasan lain yang tidak diucapkan. Dia tahu ini ada hubungannya dengan meja kosong tadi siang. Ini ada hubungannya dengan tawa lepas Elsa bersama Aris di kantin yang sempat dia lihat dengan matanya sendiri.

"Tugas divisi dekorasi buat class meeting belum selesai, Elsa. Lo gak bisa lepas tangan gitu aja di tengah jalan," cetus Firdaus. Kalimatnya terdengar seperti seorang ketua yang profesional, tetapi Reno tahu itu hanyalah keputusasaan yang dibungkus dengan ego.

Elsa tersenyum. Sebuah senyuman sopan yang justru terasa berjarak ribuan kilometer bagi Firdaus. "Gue udah handover semua konsep dan kontak vendor ke Sherly kemarin malam. Sketsa dekorasi juga udah gue kelarin sampai opsi cadangan. Sherly dan anak-anak humas yang lain udah setuju buat ambil alih. Jadi, mundurnya gue nggak bakal ngehambat kerja OSIS sama sekali."

Firdaus kehabisan kata-kata.

Elsa benar-benar menyiapkan ini dengan rapi. Dia tidak meninggalkan celah bagi Firdaus untuk menahannya atas nama profesionalitas kerja.

"Gue rasa semuanya udah jelas," kata Elsa lagi sambil melihat jam tangannya. "Kalau gitu, gue permisi duluan ya, teman-teman. Mau ngejar angkot sore. Makasih buat pengalamannya selama ini."

Elsa membungkuk tipis pada forum, memberikan senyuman perpisahan kepada anggota yang lain, lalu berbalik arah menuju pintu keluar. Langkah kakinya terdengar santai, seringan beban yang tampaknya baru saja terangkat dari pundaknya.

"Rapat hari ini selesai. Kalian bisa bubar," potong Firdaus cepat, bahkan sebelum Elsa sempat menyentuh gagang pintu.

Tanpa menunggu reaksi dari anggota lain yang masih syok, Firdaus langsung menyambar amplop putih di atas mejanya dan berdiri. Dia melangkah lebar, memotong jarak, dan berhasil keluar dari ruang rapat tepat beberapa detik setelah Elsa menutup pintu dari luar.

"Elsa, tunggu."

Di koridor sekolah yang sudah sepi karena jam pulang sekolah telah lewat satu jam lalu, suara Firdaus menggema.

Elsa menghentikan langkahnya. Dia berbalik, mendapati Firdaus berdiri tiga langkah di depannya dengan napas yang sedikit memburu. Di tangan kanan cowok itu, amplop surat pengunduran dirinya sudah sedikit remuk karena dicengkeram terlalu kuat.

"Ada yang kurang dari suratnya?" tanya Elsa, nadanya tetap kasual. Dia melipat kedua tangan di depan dada, menatap Firdaus dengan sikap tenang yang belum pernah Firdaus lihat selama tiga tahun mereka saling mengenal.

"Lo gak perlu sampai keluar dari OSIS, Sa," kata Firdaus, berusaha meredam gejolak aneh di dadanya. "Kalau lo butuh waktu buat bimbel, gue bisa kasih lo kelonggaran dispensasi. Lo gak harus datang tiap rapat harian."

Elsa menghela napas pendek. Dia menatap langit-langit koridor sebentar sebelum kembali menatap cowok di depannya. "Daus, lo pinter. Lo ketua OSIS, juara umum paralel. Masa lo nggak paham maksud gue?"

"Maksud lo apa?"

"Gue keluar bukan cuma dari OSIS," kata Elsa, suaranya melembut namun setiap katanya memukul telak ego Firdaus. "Gue keluar dari kehidupan lo. Gue berhenti, Daus. Berhenti ngikutin lo, berhenti buatin lo bekal, berhenti nyari-nyari perhatian lo, dan berhenti jadi beban di hidup lo yang selalu lo anggap pengganggu."

Jantung Firdaus serasa berhenti berdetak selama satu detik. Kata-kata itu diucapkan Elsa tanpa nada tinggi, tanpa air mata, seolah itu hanyalah sebuah laporan cuaca harian. Justru ketenangan itulah yang membuat Firdaus merasa tercekik.

"Gue gak pernah bilang lo beban," bela Firdaus, suaranya agak bergetar.

"Tapi sikap lo yang bilang gitu selama tiga tahun ini," sahut Elsa cepat, matanya menatap Firdaus lurus-lurus. "Tiap kali gue kasih bekal, muka lo datar kayak lagi dihukum. Tiap kali gue samperin ke kelas, lo pura-pura sibuk sampai gue harus pulang sendiri. Lo gak pernah minta semua itu, kan? Lo sendiri yang bilang tadi siang ke Reno. Gue denger, Daus. Gue kebetulan lewat depan ruang OSIS pas lo lagi ngomong gitu."

Firdaus membeku. Kalimat defensifnya di ruang OSIS tadi siang ternyata didengar oleh orang yang bersangkutan. Rasa bersalah yang teramat sangat mendadak menghantam dadanya, menyisakan rasa sesak yang tak tertahankan.

"Sa... gue gak bermaksud—"

"Nggak apa-apa," potong Elsa sambil tersenyum tulus. "Lo bener kok. Lo gak salah. Yang salah itu gue yang bego karena gak tahu diri selama tiga tahun ini. Makanya, sekarang gue udah sadar. Gue mau balik jadi Elsa yang normal. Yang punya waktu buat belajarnya sendiri, yang bisa makan bakso di kantin dengan tenang tanpa mikirin cowok yang bahkan gak peduli gue udah makan atau belum."

Elsa memundurkan langkahnya satu tapak. "Jadi, tolong tanda tanganin surat itu. Biar kita sama-sama enak."

Firdaus menatap surat di tangannya, lalu menatap Elsa yang sudah bersiap untuk berbalik pergi lagi. Di dalam kepalanya, bayangan Elsa yang tertawa lepas bersama Aris di kantin tadi siang mendadak berputar kembali. Pemikiran bahwa Elsa tidak akan pernah lagi mengetuk pintu ruang OSIS, tidak akan ada lagi sticky notes kuning di mejanya, dan tidak akan ada lagi gadis berisik yang selalu berjalan dua langkah di belakangnya... membuat Firdaus merasakan ketakutan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Dengan gerakan cepat, Firdaus menyambar pergelangan tangan Elsa sebelum gadis itu sempat berbalik. Kulit Elsa terasa hangat di telapak tangannya yang dingin.

Elsa terkejut. Dia menatap tangan Firdaus yang mencengkeram pergelangannya, lalu menatap wajah cowok itu dengan kening berkerut. "Daus, lepas. Nanti dilihat anak-anak lain."

Firdaus tidak melepaskannya. Dia justru mempererat cengkeramannya—tidak sampai menyakiti, tetapi cukup kuat untuk menegaskan bahwa dia tidak akan membiarkan Elsa pergi begitu saja.

Dengan tangan satunya, Firdaus mengangkat amplop putih itu tepat di depan mata Elsa. Tanpa ragu, dia merobek amplop beserta isinya menjadi dua bagian, lalu merobeknya lagi menjadi serpihan-serpihan kecil hingga kertas itu tidak berbentuk lagi.

Sret! Sret!

Serpihan kertas putih itu berjatuhan ke lantai koridor seperti salju buatan.

Elsa terbelalak, menatap serpihan kertas di lantai dengan tidak percaya, lalu menatap Firdaus dengan kemarahan yang mulai tersulut. "Lo apa-apaan sih, Daus?! Lo kekanak-kanakan banget!"

Firdaus menatap Elsa tajam, napasnya memburu, egonya yang setinggi langit runtuh total sore itu di koridor sekolah.

"Gue nggak bakal tanda tangan," kata Firdaus, suaranya rendah namun penuh penekanan yang mutlak. "Dan gue nggak mengizinkan lo keluar dari OSIS. Ataupun dari hidup gue, Elsa."

......................

...****************...

Tbc,

1
Clara
Damn kata”nya elsa nyelekit mampus lu daus
falea sezi
🤣🤣 lagii kurang q kirim sebanyak-banyaknya bunga🤭 buat Elsa gk menye
falea sezi
kurang kejam thor buat donk cegil di sukai cogan lain🤣
Queen Aisyah
/Drool//Drool/
falea sezi
🤣🤣 kasian di cuekin
Rofiwan: cegil ini lebih kejam dari pada Livy
total 1 replies
falea sezi
lanjut q krim hadiah
falea sezi
lanjut q kirim hadiah
falea sezi
btw author nya cwek apa cowok🤭
falea sezi
🤣 suka deh jangan jd cegil ngenes ya move on🤣
falea sezi
jangan ngemis ke cowok ya girl jd cwek mahal👍
Luna
US,,,US sadar woy , jangan dipaksa nanti malah kabur 🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
jujur penasaran dengan author nya umur berapa yh? tema cerita novel nya semua kebanyakan sekolah,,,GK apa apa sih malah lebih enak gitu GK terlalu berbobot lebih ceritanya ( mafia, pelakor,drama warisan,) ,jadi bisa mengenang masa putih abu-abu dulu,🤭🤭🤭🤭
Luna: jujur yh semua novel mu yg aku baca keren keren,GK terlalu ribet dan drama anak sekolah itu keren,,,sudah sering baca novel sejenis ini tapi yg bener bener sesuai dengan kehidupan anak sekolah yh novel mu ini,,, semangat Thor ,,,saya tunggu kelanjutannya💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!