Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27Nasib Derita Istri pekerja kuli bangunan
Rasa syukur tak henti-hentinya diucapkan Anisa. Hawa dingin ruang ICU yang selama ini mencekam dada, perlahan berganti menjadi kehangatan lega .
Pihak kontraktor dan perusahaan tempat Burhan bekerja akhirnya bertanggung jawab penuh melunasi seluruh biaya perawatan rumah sakit.
Tidak hanya itu, sebagai bentuk kompensasi atas kecelakaan kerja yang menimpa Burhan, perusahaan juga memberikan uang santunan yang jumlahnya cukup besar bagi keluarga kecil mereka.
Hari itu, dokter akhirnya mengizinkan Burhan dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Wajah Burhan masih pucat, dan tubuhnya masih lemah dengan balutan perban di beberapa bagian, namun binar matanya mulai kembali saat melihat Anisa duduk di samping tempat tidurnya.
"Mas... kita bisa bernapas lega sekarang," bisik Anisa pelan sambil menggenggam jemari suaminya yang kasar dan penuh bekas kerja keras. "Semua biaya rumah sakit sudah ditanggung perusahaan. Mas fokus sembuh saja, tidak usah memikirkan biaya lagi " ucap Anisa kepada Burhan suaming
Burhan menatap istrinya dengan mata berkaca-kaca. Dilihatnya wajah Anisa yang tampak semakin tirus dan lingkaran hitam di bawah matanya bukti betapa berat beban mental yang dipikul sang istri selama dirinya tak berdaya.
"Maafkan Mas ya, Nisa... Mas cuma kuli bangunan, selalu saja bikin kamu susah dan menderita," ucap Burhan lirih, suaranya parau.
Anisa menggeleng cepat, air matanya menetes bukan karena sedih, melainkan karena rasa syukur. "Jangan bicara begitu, Mas. Mas bekerja membanting tulang demi aku dan anak kita. Apapun ujiannya, kalau kita hadapi bersama, aku ikhlas."
Namun, di balik kebahagiaan dan kelegaan mereka, roda kehidupan tak pernah berhenti berputar tanpa kerikil tajam. Kabar tentang kompensasi besar yang diterima Burhan dari perusahaan rupanya menyebar cepat hingga ke telinga tetangga dan kerabat di kampung.
Sore itu, pintu kamar rawat Burhan terbuka. Ibu mertua Anisa Ibu Ratna bersama Mbak Maya, kakak ipar Anisa, melangkah masuk. Bukannya menunjukkan rasa cemas atau menanyakan kondisi kesehatan Burhan terlebih dahulu, pandangan Mbak Maya justru menyapu sekeliling ruangan dengan tatapan sinis.
"Wah, enaknya ya dapat kamar bersih begini. Katanya dapat ganti rugi ratusan juta dari pabrik?" celetuk Mbak Maya tanpa basa-basi.
Anisa terkejut dengan kedatangan mereka yang tiba-tiba. Ia langsung berdiri dan menyalami ibu mertuanya. "Ibu, Mbak Maya... silakan duduk. Mas Burhan baru saja tertidur setelah minum obat."
Ibu Ratna duduk di kursi samping tempat tidur, menatap anak laki-lakinya sejenak sebelum beralih menatap Anisa dengan pandangan menuntut.
"Nisa, Ibu mendengar dari orang-orang kalau uang kompensasi Burhan sudah cair ke rekeningmu. Benar begitu?" tanya Ibu Ratna dengan suara ditekan.
"Iya, Bu. Pihak kontraktor tadi pagi mengurus administrasi dan mengirimkan uang santunan untuk masa pemulihan Mas Burhan, karena Mas Burhan belum bisa bekerja untuk beberapa bulan ke depan," jawab Anisa jujur dan sopan.
Mbak Maya melipat tangannya di dada sambil tersenyum miring. "Nah, benar kan, Bu! Lagipula Burhan itu anak Ibu. Harusnya uang itu dipegang Ibu saja atau dibagi ke keluarga. Jangan cuma dipegang Anisa sendirian. Nanti malah habis dipakai yang tidak-tidak!"
Mendengar tuduhan itu, dada Anisa terasa sesak. Di saat suaminya baru saja berjuang melewati masa kritis antara hidup dan mati, mengapa kerabat sendiri justru lebih tergiur oleh uang kompensasi daripada keselamatan jiwa Burhan?
"Mbak Maya, uang ini untuk biaya terapi dan makan kami selama Mas Burhan tidak bisa memegang sekop dan semen," tentang Anisa lembut namun tegas. "Saya tidak akan menyalahgunakan uang suaminya saya sendiri."
"Halah! Kamu kan cuma istri, jangan serakah!" potong Mbak Maya dengan nada meninggi.
"Cukup, Mbak!"
Suara parau namun tegas menembus ketegangan ruangan. Burhan rupanya telah terbangun dan mendengar seluruh percakapan itu. Matanya menatap ibu dan kakaknya dengan rasa kecewa yang mendalam.
(Bagaimana reaksi Ibu Ratna dan Mbak Maya saat Burhan membela istrinya? Apakah Anisa mampu menjaga hak suami dan anak mereka dari rongrongan keluarga mertua?)