NovelToon NovelToon
Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:352
Nilai: 5
Nama Author: EMPIRE RAJA

**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**

Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.

Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.

Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 festival panen

Setelah mendengar cerita Erin semalam, Veronica bangun dengan semangat yang kembali seperti semula, seolah kemurungan kemarin hanyalah mimpi buruk yang sudah lama berlalu. Ia duduk di depan cermin dengan punggung tegak sementara Emma menyisir rambut merahnya, dan sesekali bersenandung pelan, nada-nada tak beraturan yang ia karang sendiri. Emma teringat betapa pucat dan diamnya Veronica kemarin malam, dan perbedaan itu membuat dadanya hangat. Emma tersenyum lega melihat majikannya tampak begitu bersemangat untuk mempelajari hal baru, dan ia menyisir lebih pelan agar bisa menikmati suasana pagi yang akhirnya terasa hangat lagi.

"Emma, apakah kau tahu tentang Dewa Lazarus, sang pencipta?" tanya Veronica sambil menoleh sedikit ke arah pelayannya, hingga sisir di tangan Emma nyaris tersangkut.

"Tentu saja, Duchess," jawab Emma sambil membetulkan arah kepala majikannya dengan sentuhan lembut. "Sejak kecil kami dididik untuk menyembah beliau. Hampir semua orang di wilayah ini mengenal doa-doa untuk Dewa Lazarus sebelum bisa membaca. Ibu saya bahkan mengajarkannya sambil menidurkan saya setiap malam."

"Apakah kau pernah bertemu dengannya? Seperti apa wujudnya?" Veronica memutar badan sepenuhnya dengan mata berbinar, seperti anak kecil yang menunggu dongeng sebelum tidur.

Emma tertawa kecil sambil menggeleng. "Tidak ada manusia yang pernah bertemu langsung dengan beliau, Duchess. Dewa Lazarus berada di dunia yang berbeda dengan kita. Tetapi di kuil ada patung beliau yang sedang menggenggam dunia manusia di telapak tangannya. Dan pada hari-hari tertentu ada perayaan, ketika orang-orang membawa hasil panen mereka ke kuil untuk dipersembahkan kepada beliau."

Veronica mengangguk pelan sambil memutar ujung rambutnya di jari, jelas sedang membayangkan patung yang menggenggam dunia itu. "Seluruh dunia manusia dalam satu telapak tangan," gumamnya takjub sambil merentangkan telapak tangannya sendiri. "Pasti patungnya sangat besar." Ia lalu menoleh dengan wajah penuh harap. "Kalau begitu, apakah aku bisa menemuinya suatu hari nanti?"

"Mungkin saja, Duchess," jawab Emma sambil menaruh sisir di meja rias. "Konon semua orang yang telah tiada akan bersama dengan beliau. Hanya saja, bagi mereka yang jahat, Dewa Lazarus akan membuang mereka ke jurang kehampaan yang tak berdasar."

Alis Veronica berkerut, dan ia menunduk menatap kedua tangannya yang terkatup di pangkuan. "Jadi kalau aku berbuat jahat, aku juga akan dibuang ke sana?" tanyanya dengan suara yang jauh lebih kecil dari sebelumnya.

Emma terdiam sejenak, lalu tersenyum sambil menyentuh bahu majikannya dari belakang. "Bisa saja terjadi, Duchess, kalau Anda memang berbuat jahat. Tetapi menurut saya Anda majikan yang baik, jadi saya rasa Anda tidak perlu terlalu khawatir."

Veronica tersenyum lebar mendengarnya, pipinya sedikit memerah, dan ia menggumamkan terima kasih yang nyaris tak terdengar, lalu buru-buru berdiri merapikan gaunnya agar Emma tak melihat wajahnya yang malu. Setelah selesai bersiap, ia berjalan menyusuri lorong menuju perpustakaan dengan langkah yang masih anggun namun jelas lebih cepat dari biasanya, ujung gaunnya berdesir di atas lantai marmer.

Erin sudah menunggu di ruang perpustakaan yang beraroma kertas tua dan kayu, duduk di kursi dekat jendela besar yang membiarkan cahaya pagi jatuh di atas meja baca. Begitu Veronica masuk, ia menepuk kursi di sebelahnya sambil tersenyum, lalu berdiri menuju rak tinggi di dinding dan mengambil sebuah buku bersampul kulit yang tampak sering dibuka. "Ini buku tentang Dewa Lazarus," ujarnya sambil meletakkannya di hadapan Veronica dengan hati-hati, seolah benda itu sesuatu yang suci. "Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku membukanya bersama seseorang. Hari ini aku akan membacakannya untukmu, dan kau boleh bertanya kapan pun kau mau."

Veronica mengangguk cepat dan menarik kursinya lebih dekat hingga lengan mereka hampir bersentuhan, lalu mencondongkan badan, kedua sikunya bertumpu di meja dengan sikap yang jelas bukan lagi sikap seorang duchess yang anggun. Erin membuka halaman pertama dan mulai bercerita dengan suara tenang. "Pada awalnya Lazarus muncul dari jurang kehampaan. Ia merasa ruang itu terlalu kosong, maka ia mulai menciptakan sebuah dunia. Tetapi tak lama kemudian muncul Inggor, makhluk dari jurang kehampaan yang menginginkan dunia buatan Lazarus untuk dirinya sendiri."

"Lalu apa yang terjadi?" bisik Veronica tanpa sadar menahan napas, jari-jarinya mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih.

"Mereka bertempur dengan sengit, dan pada akhirnya Lazarus menang," lanjut Erin sambil membalik halaman. "Inggor hancur dan berubah menjadi iblis, lalu menyusup masuk ke dunia ciptaan Lazarus, membawa dendam yang tak pernah padam. Di sana ia menciptakan monster-monster untuk menguasai dunia itu. Tetapi ia tidak berhasil, karena ada naga yang menjaga dunia itu dari mereka."

"Kalau aku ada di sana, aku akan membakar Inggor sebelum dia sempat bicara," gumam Veronica sambil mengepalkan tangan, matanya sempat berkilat seperti mata naga. Erin mengangkat sebelah alis dengan tatapan penuh arti, dan Veronica buru-buru berdehem dan merapikan duduknya. "Maksudku, aku akan menghadapinya dengan cara yang pantas."

Veronica menegakkan dadanya, dan senyum bangga terbit di wajahnya seperti matahari yang menyingkap awan. "Para naga yang melindungi dunia dewa?" ulangnya dengan suara yang hampir bergetar karena senang. "Berarti nenek moyangku pahlawan?"

"Begitulah yang tertulis," jawab Erin sambil menahan senyum geli, lalu menunjuk sebuah ilustrasi di halaman itu, gambar naga bersayap lebar yang berdiri di depan gerbang sebuah desa kecil. Ia geli melihat betapa cepatnya murung semalam berubah menjadi kebanggaan. Veronica menatap gambar naga itu lama-lama, mengelus tepi halamannya dengan ujung jari seolah takut merusak, lalu tiba-tiba mengerutkan kening. "Kalau begitu, kenapa para naga tidak menyembah dewa? Kalau naga melindungi dunianya, bukankah seharusnya mereka dekat dengannya?"

Erin menutup buku itu sebentar sambil berpikir, jarinya mengetuk-ngetuk sampul kulit yang hangat terkena sinar matahari. "Aku rasa melindungi dunia dewa adalah bentuk bakti mereka pada Lazarus, dengan caranya sendiri. Mungkin itu juga alasan mengapa para naga tidak pernah menghancurkan kuil ketika berperang dengan manusia. Dan di setiap musim panen, para naga datang ke kuil untuk memberikan persembahan, sebagai ucapan terima kasih atas hasil panen yang melimpah."

Mata Veronica membulat penuh rasa ingin tahu, dan ia sampai lupa menyandarkan punggung seperti yang diajarkan. "Persembahan panen? Kapan itu diadakan? Apakah aku boleh melihatnya?"

"Festival panen diadakan setiap tahun, dan dua bulan lagi akan dimulai," jawab Erin sambil menyandarkan punggung di kursi. Ia memperhatikan wajah Veronica sejenak, lalu menambahkan dengan nada ringan, seolah baru teringat sesuatu. "Karena itu aku ingin mengajakmu meninjau ladang gandum kita, juga ladang buah dan padang ternak kalau sempat. Kita perlu tahu bagaimana hasilnya, apakah bagus atau kurang. Itu juga bagian dari tugas seorang duchess."

Veronica langsung menegakkan duduknya, hampir menjatuhkan buku dari meja, dan Erin sigap menahan tepi sampulnya sebelum buku itu jatuh ke lantai. "Kapan kita akan meninjaunya?" tanyanya dengan mata berbinar dan kedua tangan mengepal di atas lutut.

"Besok pagi," jawab Erin sambil tertawa melihat kegembiraannya, tawa yang membuat kerutan halus di sudut matanya tampak lebih dalam dan lebih hangat. "Setidaknya kita harus memberi tahu pengurus wilayah yang kita percaya lebih dulu, supaya mereka bisa menyiapkan tempat untuk kedatangan kita. Kita tidak bisa datang begitu saja tanpa kabar."

"Besok pagi," ulang Veronica sambil menarik napas dalam-dalam, seperti ingin menyimpan kata-kata itu dalam dadanya. "Aku tidak sabar, Ibu. Aku ingin melihat ladang gandum itu secepatnya, dan kalau perlu aku akan menghitung setiap bulirnya."

"Cukup melihat hasilnya saja, Veronica," sahut Erin dengan senyum geli. "Hitungannya biar menjadi tugas para pengurus."

Erin menatap menantunya yang kembali ceria dengan mata berbinar dan pipi merah karena semangat, persis seperti pada hari pertama mereka bertemu, dan dadanya terasa lega seakan beban kemarin telah terangkat. Ia mengulurkan tangan dan menyentuh pipi Veronica sekilas, lalu membuka kembali buku itu pada halaman berikutnya, membiarkan cahaya pagi dari jendela menyelimuti keduanya, sementara Veronica kembali mencondongkan badan dengan mata yang tak lepas dari halaman bergambar itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!