Tiga tahun menjadi istri Anugrah Pratama, Cynara hanya dianggap sebagai beban. Pernikahan mereka bahkan disembunyikan karena Anugrah mengaku lajang demi mendapatkan pekerjaan. Ketika Anugrah memilih membuka hati untuk perempuan lain, Cynara menyerah dan perceraian pun terjadi.
Dua bulan kemudian, Cynara mengetahui dirinya hamil.
Lima tahun berlalu. Cynara kembali sebagai pemimpin Narendra Group, bersama putranya, Naren. Takdir mempertemukannya kembali dengan Anugrah, kini menjadi seorang manajer di perusahaan besar. Namun, bukan Anugrah yang akan mengubah hidupnya.
Ada Alvin Mahendra, CEO dingin yang diam-diam menyimpan luka kehilangan istrinya.
Pertemuan mereka membuka kembali rahasia masa lalu yang seharusnya terkubur.
#anakrahasia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Istri yang Disembunyikan
Pagi itu, usai waktu Subuh, tak seperti biasanya Cynara yang selalu menunggu suaminya bangun. Ia justru langsung turun ke dapur.
Wajahnya terlihat dingin, seakan sudah terlalu lelah dengan segala hal yang terjadi selama tiga tahun menjadi istri dari pria bernama Anugrah Pratama.
Selama tiga tahun menikah, Cynara hanya menjadi istri di atas kertas.
Tidak ada satu pun orang di luar rumah ini yang tahu bahwa Cynara Rizkia Fitri adalah istri dari pria yang bekerja sebagai karyawan di perusahaan ternama, JM Corporation.
Seperti pagi-pagi sebelumnya, ia menyiapkan sarapan untuk semua orang yang tinggal di rumah itu.
Tidak hanya memasak.
Ia mencuci pakaian, membersihkan rumah, lalu mengurus Liam (putra Danisha, kakak Anugrah) ketika ibunya pergi bekerja.
Semuanya ia lakukan seolah-olah memang itulah kewajibannya.
Sebab di rumah ini, Cynara hanya dianggap sebagai perempuan yang menumpang. Tidak memberikan kontribusi materi. Tidak memiliki pekerjaan.
Dan karena itu, keberadaannya seolah harus dibayar dengan seluruh tenaga yang dimilikinya.
Ketika Anugrah turun, Cynara langsung menuangkan kopi ke dalam cangkir.
Pria itu duduk di kursi meja makan.
Cynara meletakkan sarapan tepat di hadapannya. “Mas.”
“Hm?”
“Ini sarapanmu.”
“Terima kasih.”
Cynara sedikit tertegun. Sudah lama sekali ia tidak mendengar suaminya mengucapkan dua kata itu.
Tanpa Anugrah sadari, Cynara menatapnya dengan seribu bahasa yang tidak mampu ia ungkapkan.
Kemudian perempuan itu kembali ke dapur.
“Cynara.”
Langkahnya berhenti. Namun, ia tidak menoleh. “Ya?”
“Kamu marah?”
Cynara menggeleng. “Tidak.”
“Semalam kamu tidur lebih cepat.”
“Iya.”
Anugrah menatap punggung istrinya. Meski Cynara bisa merasakan tatapan itu, ia tidak berbalik.
“Ada yang ingin kau tanyakan?”
“Tidak.” Cynara mengambil piring yang berada di dekatnya.
“Kalau begitu, makanlah sarapanmu sebelum dingin.”
Anugrah hanya diam. Ada sesuatu yang berbeda dari istrinya sejak semalam. Sesuatu yang tidak ia mengerti.
Namun, Anugrah tidak tahu bahwa perubahan sikap Cynara itu bermula dari percakapan yang didengarnya sendiri pada malam sebelumnya.
Malam sebelumnya.
Pintu ruang keluarga tidak tertutup sempurna. Cynara yang hendak mengambil minum berhenti ketika mendengar suara dari ruang tengah.
“Jadi bagaimana dengan Gadiza?”
Langkah Cynara seketika terhenti. Nama itu. Ia mengenalnya. Nama yang beberapa kali muncul di notifikasi ponsel Anugrah.
Gadiza.
Perempuan yang merupakan adik CEO tempat suaminya bekerja.
Terdengar suara Anugrah menjawab pelan. “Dia baik-baik saja.”
“Kalau begitu, jangan terlalu lama.”
Jantung Cynara seolah berhenti berdetak. Itu suara ibu mertuanya.
“Bu…”
“Anugrah, Ibu tidak ingin kau menyesal. Cynara bukan perempuan yang bisa membantumu berkembang.”
Cynara menggeleng pelan. Tangannya refleks menutup mulut. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia baru sadar, seburuk itu dirinya di mata keluarga sang suami.
“Kau lihat sendiri. Selama tiga tahun, apa yang berubah?”
“Bu, jangan sekarang.”
“Kenapa?”
“Cynara masih istriku.”
Ibu mertuanya tertawa kecil. “Istri yang bahkan tidak kau akui di kantor?”
Cynara membeku, kini tangannya mengepal dengan erat.
“Justru karena itu,” lanjut perempuan tersebut, “tidak ada seorang pun di sana yang tahu kamu itu sudah menikah.”
Cynara mundur satu langkah. Dadanya terasa semakin sesak.
“Kalau kau benar-benar ingin bersama Gadiza, apa sulitnya?”
Hening. Anugrah tidak langsung menjawab. Beberapa detik kemudian, suaranya terdengar lirih.
“Aku tidak tahu.”
Kepala Cynara tertunduk. Air matanya akhirnya semakin deras membasahi pipi. Ia tidak ingin mendengar lebih banyak lagi. Cynara berbalik dan berjalan menuju kamar.
Pelan. Sangat pelan. Ia takut seseorang mengetahui bahwa dirinya mendengar semuanya.
Begitu sampai di kamar, Cynara menutup pintu. Kemudian bersandar di belakangnya. Tubuhnya bergetar. Selama ini ia selalu takut jika Anugrah meninggalkannya.
Ternyata ketakutannya bukan tanpa alasan. Cynara berjalan menuju cermin. Menatap pantulan wajahnya sendiri. Wajah seorang perempuan yang sudah tiga tahun menjadi istri seorang pria yang bahkan tidak berani mengakuinya di hadapan dunia.
Tangannya menyentuh cincin pernikahan.
“Kalau memang kau sudah tidak menginginkanku lagi…”
Suaranya bergetar.
“Kenapa kau masih membiarkanku berharap?”
Hari-hari selanjutnya berjalan dingin.
Cynara tidak lagi bertanya kapan Anugrah pulang.
Tidak lagi mengirim pesan ketika suaminya lembur.
Tidak lagi bertanya dengan siapa Anugrah makan siang.
Bahkan ketika pria itu pulang larut malam, Cynara tetap tidur.
Ia pikir dengan begitu hatinya akan lebih tenang.
Ternyata ia salah.
Sebab semakin berhenti bertanya, semakin ia menyadari bahwa selama ini hanya dirinya yang menjaga agar hubungan mereka tetap hidup.
Anugrah hanya mengikutinya.
Sampai suatu malam, Anugrah pulang membawa aroma parfum yang asing.
Cynara sedang melipat pakaian.
Anugrah meletakkan jasnya di sandaran kursi. Aroma itu kembali tercium.
Cynara menahan napas. Ia tidak mampu lagi mengabaikannya. “Mas.”
“Hm?”
“Kamu habis bertemu dengan Gadiza?”
Anugrah menatapnya. “Iya.”
Hanya satu kata. Cynara mengangguk pelan. Tidak bertanya lebih jauh.
Namun, Anugrah justru terlihat gelisah. “Kami hanya makan malam.”
Cynara menatapnya. “Aku tidak bertanya.”
Anugrah terbungkam. Seolah baru menyadari bahwa dialah yang tanpa sengaja mengakui pertemuan tersebut.
Cynara kembali melipat pakaian. Namun, hatinya terasa semakin beku.
“Cynara.”
“Ya?”
“Gadiza tahu aku lajang.”
Tangan Cynara berhenti. Perlahan, ia mengangkat wajah. “Lalu?”
“Aku tidak pernah memberitahunya tentang pernikahan kita.”
Cynara tersenyum getir. “Aku tahu.”
“Dia tidak tahu.”
“Aku tahu.”
Anugrah tampak ingin mengatakan sesuatu.
Namun, Cynara lebih dahulu bertanya. “Masih akan terus begitu?”
Anugrah diam.
“Menjadi pria lajang di luar rumah?”
Anugrah mengusap wajah. “Aku belum bisa mengubah semuanya dengan mendadak.”
Cynara tertawa kecil. Tawa tanpa kebahagiaan. “Tidak perlu.”
Anugrah menatapnya dengan tanda tanya. “Aku tidak akan memaksamu.”
“Cynara…”
“Karena aku sudah mengerti.”
Cynara memasukkan pakaian terakhir ke dalam lemari. Kemudian menutup pintunya. Ia berbalik dan menatap suaminya.
“Pernikahan ini mungkin hanya penting bagiku.” Tatapan Cynara mulai berkaca-kaca.
“Tapi tidak bagimu.”
Anugrah terdiam. Cynara menarik napas panjang.
Kemudian, untuk pertama kalinya selama tiga tahun pernikahan mereka, ia mengucapkan kalimat yang bahkan menghancurkan hatinya sendiri.
“Bagaimana kalau kita akhiri saja?”
*bersambung*