Lula, bocah 5 tahun yang hidup luntang-lantung di kerasnya jalanan Jakarta, mendadak jadi putri bungsu kesayangan keluarga konglomerat Ayodhya setelah kekuatan supernya menyelamatkan nyawa sang istri CEO. Kini, dengan kemampuannya berbicara dengan hewan dan melihat kabut nasib buruk, Lula bukan cuma jadi jimat penyelamat Grup Lentera, tapi juga pusat dunia bagi empat kakak laki-lakinya yang kelewat protektif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Teng teng teng.
Lonceng sekolah Taman Kanak-Kanak Pelita Hati berbunyi nyaring.
Anak-anak berhamburan keluar dari kelas dengan wajah gembira karena jam pelajaran sudah selesai.
Lula berjalan keluar kelas sambil menggandeng tangan Bu Risa.
Di depan gerbang sekolah, tidak ada sosok Cakra yang biasanya melambai heboh.
Hanya ada Dewa yang berdiri bersandar pada tembok dengan wajah ditekuk dan tangan di saku celana.
"Loh, Kak Dewa yang jemput? Kak Cakra mana?" tanya Lula saat menghampiri kakak bungsunya itu.
Dewa mengambil tas punggung Lula dan menyampirkannya di bahu kanannya.
"Kakakmu yang berisik itu sedang dihukum guru karena tidur di kelas," jawab Dewa ketus.
"Jadi terpaksa aku yang harus membolos jam terakhir untuk menjemputmu."
Bu Risa hanya tersenyum canggung mendengar ucapan blak-blakan anak SMP di depannya ini.
"Terima kasih sudah menjemput Lula, hati-hati di jalan ya Dewa," sapa Bu Risa ramah.
Dewa hanya mengangguk sekilas lalu menggandeng tangan kecil Lula menjauh dari gerbang.
Sopir van hitam keluarga Ayodhya sudah menunggu di seberang jalan.
"Kak Dewa bolos sekolah itu artinya nakal ya?" tanya Lula polos sambil mendongak menatap Dewa.
Dewa mendecih pelan dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Aku tidak nakal, aku cuma malas mendengar guru matematika yang bicaranya seperti obat tidur," elak Dewa mencari alasan.
"Lagipula aku sudah pintar, tidak perlu belajar lagi."
Lula tertawa pelan mendengar alasan kakak galaknya itu.
Mobil van mulai melaju meninggalkan area sekolah menuju jalan raya.
Udara siang ini terasa sangat panas menyengat.
Dewa melihat Lula terus mengusap keringat di dahinya meskipun AC mobil sudah menyala.
"Pak Sopir, berhenti di mall depan sebentar," perintah Dewa tiba-tiba.
Sopir itu mengangguk dan membelokkan mobil menuju area parkir sebuah mall besar.
"Kita mau beli apa Kak Dewa? Lula mau pulang saja, mau main sama beruang," kata Lula bingung.
Dewa membuka pintu mobil dan langsung mengangkat tubuh Lula untuk turun.
"Udara panas begini paling enak makan es krim, jangan banyak protes," kata Dewa sambil menggandeng tangan Lula lagi.
Mereka berdua berjalan masuk ke dalam mall yang sejuk.
Dewa langsung membawa adiknya ke sebuah kedai es krim besar di lantai dasar.
"Lula mau rasa apa? Cokelat, stroberi, atau vanila?" tanya Dewa di depan kasir.
"Lula mau stroberi pakai taburan cokelat yang banyak!" seru Lula bersemangat.
Dewa memesan satu es krim stroberi ukuran besar untuk Lula dan satu kopi dingin untuk dirinya sendiri.
Mereka duduk di kursi sudut yang menghadap langsung ke area mesin permainan arcade.
Lula memakan es krimnya dengan sangat lahap sampai sudut bibirnya celemotan.
Dewa mengambil selembar tisu dan mengusap mulut adiknya dengan agak kasar namun teliti.
"Makan pelan-pelan bocah, es krimnya tidak akan lari ke mana-mana," omel Dewa.
Lula hanya cengengesan lalu kembali menjilati es krimnya.
Mata bulat Lula tiba-tiba menatap ke arah area permainan arcade di depan mereka.
Di sana ada mesin permainan bola basket yang sedang dimainkan oleh tiga orang anak SMA berwajah nakal.
Tiga anak SMA itu memakai seragam yang urakan dengan kancing terbuka.
"Kak Dewa, itu ada abang-abang main bola basket," tunjuk Lula menggunakan sendok es krimnya.
Dewa melirik sekilas lalu kembali meminum kopinya dengan malas.
"Itu cuma anak-anak kurang kerjaan yang suka taruhan koin," komentar Dewa tidak peduli.
Namun tiba-tiba salah satu anak SMA itu melihat ke arah Dewa dan tersenyum meremehkan.
Anak SMA berambut jabrik itu berjalan mendekati meja Dewa dan Lula.
"Hei bocah SMP, kau Dewa dari SMP Garuda kan?" sapa anak jabrik itu dengan nada mengejek.
Dewa meletakkan gelas kopinya dan menatap tajam anak itu.
"Siapa kau? Aku tidak kenal," balas Dewa dingin.
Anak jabrik itu tertawa keras memanggil dua temannya untuk ikut mendekat.
"Kudengar kau jagoan di sekolahmu, bagaimana kalau kita tanding masukin bola basket?" tantang anak jabrik itu.
"Kalau kau menang, aku kasih seratus koin emas untuk main di sini sepuasnya."
"Tapi kalau kau kalah, kau harus sujud minta maaf padaku di depan semua orang."
Dewa mendengus geli mendengar tantangan konyol itu.
Dia sama sekali tidak tertarik membuang waktunya meladeni preman sekolah murahan.
"Minggir, aku sedang menemani adikku makan, jangan ganggu," usir Dewa sambil mengibaskan tangannya.
Namun anak jabrik itu malah mengebrak meja Dewa dengan cukup keras.
Brak.
Lula sampai terlonjak kaget dan es krimnya sedikit menetes ke meja.
"Kenapa? Kau takut kalah dari anak SMA ya?" ejek anak itu lagi memanas-manasi.
"Ternyata jagoan SMP Garuda cuma pengecut yang bersembunyi di balik adik kecilnya."
Rahang Dewa mulai mengeras dan matanya berubah menjadi sangat gelap.
Dewa paling benci jika ada yang merendahkan harga dirinya apalagi di depan Lula.
Dewa baru saja mau berdiri untuk menghajar anak itu.
Tiba-tiba tangan kecil Lula menarik ujung seragam Dewa dengan kuat.
"Kak Dewa jangan main sama dia, abang itu pembohong," bisik Lula pelan namun terdengar jelas.
Anak jabrik itu melotot marah menatap Lula.
"Heh anak kecil, sembarangan kau bilang aku pembohong!" bentak anak itu kasar.
Lula tidak takut sama sekali dan malah menunjuk ke arah tangan anak jabrik tersebut.
"Lula lihat ada asap abu-abu bau gosong di tangan abang," ucap Lula jujur.
"Abang pasti curang karena mesin bola basketnya sudah dirusak pakai magnet dari bawah kan?"
Mendengar ucapan polos itu, wajah anak jabrik dan dua temannya langsung berubah pucat pasi.
Mereka memang menempelkan magnet kecil di sensor mesin basket itu agar skor mereka selalu bertambah.
Tidak ada satupun orang di mall ini yang tahu rahasia itu.
Bagaimana mungkin anak balita ini bisa tahu hanya dengan sekali lihat?
Dewa yang awalnya berniat memukul langsung menghentikan gerakannya.